KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab VII (Pangeran Cacing Part II)


__ADS_3

Karena baju Siti sudah tidak ada lagi yang layak pakai, akhirnya Siti memakai gaun tersebut.


Siti pun bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian. Setelah beberapa menit keluarganya menunggu, ia pun muncul dengan aura yang berbeda, wajah cantiknya semakin terpancar berkat gaun indah yang ia kenakan.


“Cantik sekali,” batin si cacing.


“Kakak cantik sekali memakai gaun itu.” seru Ahmat, yang senang melihat kakaknya tampil anggun di hadapan mereka semua.


“Iya Siti, ibu hampir saja tidak mengenali kamu nak.” ucap bu Fatimah seraya memeluk putrinya Siti.


Setelah perbincangan bahagia pagi itu telah usai, Siti pun bersiap-siap menuju ke sawah, tentunya degan perasaan yang riang, karena sudah bertahun-tahun Siti tak pernah memakai baju baru.


Si cacing yang turut bahagia pun mulai mengasah kembali kemampuan sihir yang ia miliki dengan begitu giat di dapur, selama semua orang tidak ada di rumah.


Banyak mantra yang ia ucapkan dengan berbagai fungsi masing-masing. Ada untuk mendatangkan baju, ayam cepat saji, ikan, dan masih banyak lainnya.


Sementara itu, Siti yang sedang menyusuri hutan di bawah sinar mentari yang begitu cerah, berjalan sembari melompat-lompat kecil, lalu menari-nari dengan indah di temani banyak kupu-kupu yang beterbangan di sekitarnya, ia pun berhenti sejenak dari aktivitas kekanak-kanakannya untuk mencium bau bunga edelweiss yang berjajar di jalan setapak yang ia pijak.


“Wanginya menyegarkan,” gumam Siti.


Dengan rasa bahagia yang masih bergejolak di dalam dada, Siti pun berjalan seraya menembangkan sebuah lagu yang amat ia sukai seraya memetik bunga-bunga liar lainnya yang ada di dalam hutan.


Ketika Siti ingin mendaratkan bibirnya ke sebuah bunga yang berada di dekat sawahnya, tiba-tiba ia mendengar ada suara mendesis.


“Ular!!!!,” Sontak Yalisa mengeluarkan api dari mulutnya karena merasa kaget melihat seekor ular besar yang sedang bernaung di antara batang-batang bunga yang bermekaran.


Sementara si ular yang merasa terancam langsung melarikan diri dari hadapan Siti.


“Ya Tuhan, untung saja ular itu mendesis, kalau tidak, mungkin tadi aku sudah beradu mulut dengannya.” gumam Yalisa dengan perasaan merinding.


Sesampainya Siti ke sawah, ia mulai melihat jalan aliran air yang ia cangkul kemarin, setelah itu, Siti mulai turun ke sawah untuk mengambil keong-keong yang sedang menyantap persemaian nya.


Setelah beberapa jam ia bekerja, ia pun memutuskan untuk beristirahat karena merasa lelah. Pinggangnya juga serasa sakit dan ngilu, akibat kebanyakan membungkuk.


Dari hasil kerjanya, Siti mendapatkan keong sebanyak empat ember, kemudian Siti membawanya menuju ke saung kecilnya. Dan tak berlama-lama, Siti mengeluarkan keong dari dalam ember lalu menumbuknya dengan kayu balok berukuran sedang sampai halus.


“Hewan apa pun boleh di bunuh, dengan catatan, yang mengganggu dan memberatkan kita saja, oh iya hari ini aku harus memancing ikan dengan baik, agar keluarga ku bisa makan nanti malam.” ucap Siti pada dirinya, saat ia akan mencari umpan, seketika ia merasa bodoh sendiri.


“Seharusnya tadi aku enggak tumbuk semua keongnya,” gumam Siti.


Dengan perasaan malas, Siti harus mencari keong baru lagi untuk umpan, setelah ia mendapatkannya, Siti bergegas menuju sungai besar yang ada di dekat sawahnya untuk memancing.


Setibanya ia di sungai, Siti memilih duduk di atas batu besar yang ada di tepih sungai, kemudian Siti mengeluarkan umpan yang akan di kaitkan ke mata pancing, setelah selesai Siti melempar umapannya ke tengah-tengah sungai.


Sembari menunggu, Siti kembali memikirkan baju yang sedang ia pakai saat ini, dan ia juga merasa heran dengan cacing yang ia tolong.


“Apa mungkin, cacing yang aku tolong adalah cacing siluman? Karena enggak mungkin bangat tiba-tiba ada gaun di atas meja, dan enggak mungkin juga kalau ada warga yang datang dari desa untuk mengantarkan aku gaun seindah dan semahal ini,” Gumam Siti.


Karena lelah akan aktifitasnya, mata Siti menjadi ngantuk, saat ia akan merebahkan tubuhnya ke atas batu, tiba-tiba tiang pancingnya bergerak, alhasil mata Siti kembali liar, karena sepertinya ia mendapatkan seekor ikan.


Dengan sekuat tenaga Siti menarik tiang pancingnya, dengan penuh perjuangan akhirnya Siti berhasil mendapatkan ikan mas besar, kira-kira beratnya mencapai 2 kg.


Karena sudah merasa cukup dengan ikan yang ia dapagkan, Siti pun memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, hari sudah sangat gelap, lalu tiba-tiba ia mendengar suara teriakan ibunya Fatimah, karena merasa kwatir, Siti pun buru-buru masuk ke dalam rumah dan menuju dapur.


“Ada apa bu?!” ucap Siti dengan panik.


Ketika Siti melihat ke atas meja bambu mereka, Siti juga ikut berteriak histeris.


“Astaga! Dari mana datangnya semua ini? Enggak mungkin ibu yang masakkan?” tanya Siti.


“Ibu juga enggak tahu,” jawa ibunya sambil melihat dengan teliti satu persatu hidangan mewah yang ada di atas meja.


Dini dan Ahmat yang baru saja pulang dari suangi bergegas ke dapur, setelah mendengar suara gaduh dari ibu dan kakaknya.


“Akhhhh!!!!!” Keduanya yang melihat isi meja juga ikut-ikutan histeris.


Sekarang ini perasaan mereka bercampur aduk antara senang dan khawatir, karena mereka tidak tahu siapa yang mengantarkan hidangan misterius itu pada mereka.


“Kak, sepertinya ayam goreng itu enak sekali.” ucap Dini seraya menunjuk ke atas meja.


“Eits.., jangan di makan, siapa tahu saja ini jebakan,” sahut Siti.


“Siapa juga yang mau menjebak kita kak? sadarlah, kakak kan bukan putri dari raja Ha atau pun Si, jadi tidak akan ada yang mau repot-repot cari perkara dengan kakak yang tidak ada faedahnya?” ucap Ahmat.


“Tetap saja aneh, tiba-tiba saja ada makanan disini,” sahut Siti.


“Dari pada di perdebatkan, lebih baik kita makan sekarang saja!” Dini dan Ahmat pun menyerbu hidangan lezat di atas meja dengan penuh nikmat dan lahap.


Siti dan bu Fatimah yang merasa lapar memutuskan ikut bergabung untuk menyantap makanan yang entah datang darimana datangnya.


Dengan perasaan penuh tanya Siti melirik ke si cacing yang sedang berada di sampingnya.


“Apa yang melakukan semua ini adalah si cacing? Karena sejak dia ada disini keajaiban demi keajaiban pun terjadi, tapi apa semua itu masuk mungkin?” gumam Siti.


Sejak hari itu, kejadian-kejadian tak terduga lainnya pun datang beruntun setiap harinya, yang membuat keluarga Siti merasa tertolong, dan tak perlu khawatir soal lapar lagi.


Hingga pada suatu malam, saat Siti sedang tidur, tiba-tiba ia bermimpi pada si cacing yang sedang ia pelihara sekarang.


Di dalam mimpinya, si cacing menghampirinya yang sedang duduk di atas bukit di penuhi rerumputan hijau nan indah.


“Kamu wanita yang cantik dan berhati luhur, Siti apa kau mau aku persunting menjadi istriku?” ucap si cacing yang dengan tubuhnya yang seperti sosis.


Siti yang mendengar lamaran dari si cacing, langsung terperangak, tak percaya, jika dirinya harus berjodoh dengan seekor hewan tanpa kaki.


“Bagaimana dengan tawaran ku Siti?” ucap si cacing.


Siti yang syok langsung bangun dari tidurnya, saat ia memiringkan badannya ke sebelah kiri, ia melihat si cacing berada di hadapan wajahnya.


“Ya Tuhan! Kenapa cacing ini tiba-tiba jadi menyeramkan?” Pekik Siti.


Siti pun beranjak dari kasurnya meninggalkan si cacing dengan perasaan geli .


Pagi harinya Siti berangkat ke sawah, untuk melihat perseamaian nya , karena kalau tidak di pantau sehari saja, bisa-bisa habis di makan para keong.


Sesampainya Siti ke sawah, ia kembali memungut keong ke dalam ember, setelah itu ia melanjutkan dengan membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitaran jalan-jalan setapak yang ada di area persawahannya dengan parang.

__ADS_1


Hingga tak terasa matahari mulai senja, saat akan pulang tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras, di sertai petir yang menyambar kuat.


Karena takut kemalaman di jalan, dengan terpaksa Siti menerobos hujan yang mengguyur seluruh tubuhnya.


Sesampainya ia ke rumah, bu Fatimah menyambutnya seraya memberikan handuk untuk mengeringkan badan.


Setalah itu Siti masuk ke dalam kamar untuk berganti pakian, Siti yang merasa sangat lelah, merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk beristirahat.


“Aduh, kepala ku mendadak pusing, badan ku juga mulai panas ” gumam Siti seraya meletakkan telapak tangannya ke dahi untuk merasakan suhu badannya.


Huk uhuk uhuk!!! Hatciuh!!!


Siti yang malang sandaran keluarga seketika terkapar lemas, bu Fatimah yang melihat kondisi anaknya sedang sakit, memberikan Siti air panas agar badannya hangat, dan juga mengompres dahi Siti, agar panasnya cepat turun.


Di pagi harinya, Siti yang belum pulih memilih beristirahat sepanjang hari di kamarnya, ia yang duduk termenung melihat ke arah langit, tak sadar kalau ingusnya keluar dari hidungnya dan jatuh tepat mengenai badan si cacing yang tengah ada di bawah dagunya.


Seketika terpancar sinar merah yang sangat silau, yang semakin lama semakin besar.


Sontak Siti menutup matanya karena tak sanggup melihat cahaya itu dengan mata telanjang.


Dan dari cahaya merah itu, keluarlah sosok laki-laki yang sangat tampan, bertubuh tinggi kekar, kulitnya saomatang hidungnya mancung.


Siti yang mengintip dari sela-sela jemarinya menolak percaya dengan apa yang dia lihat, perlahan ia menyingkirkan tangan yang menutup matanya tadi.


Lalu lelaki tampan itu perlahan mendekati Siti yang sedang mematung melihat dirinya


“Ada apa Siti? Apa kamu terpesona dengan ketampanan ku?” ucap lelaki itu.


“Ka, kamu siapa? cacing ku, cacing ku dimana?” ujar Siti.


“Cacing yang kamu cari adalah aku,” sahut lelaki misterius yang ada di hadapan Siti.


“A, apa?” ucap Siti.


“Iya, akulah cacing yang kamu pelihara selama ini, nama ku Julian, 125 tahun yang lalu aku di kutuk oleh seorang penyihir perempuan, bernama Selia Ha, putri bungsu raja Redi Ha, dia salah satu penyihir berhati dingin dan kejam, dia juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan elemen es. Ya, bisa di bilang seperti putri salju multi guna, kalau dia tidak suka seseorang, ia akan membekukannya sampai mati, karena itu, dia di buang oleh sang raja dari istana dan negaranya.” ucap Julian menceritakan kronologi hidupnya.


“Tunggu, Selia Ha? Apa mungkin dia putri yang di cerita banyak orang? Di kerajaan marga Ha memang ada kisah putri yang di buang, tapi seiring berjalannya waktu, orang-orang menganggap itu hanya dongeng semata, dulu nenek ku juga pernah bercerita, kalau daerah Utara pernah ia kutuk, agar selalu bercuaca dingin, di sebabkan cinta sang putri di tolak oleh seorang pangeran,” ucap Siti.


“Ya, benar sekali, itulah kerajaan kami, Negeri Kalala bagian Utara. Sang putri bertolak ke kesana, untuk mengabdi pada ayahanda, ia menceritakan nasibnya yang di buang oleh raja Redi Ha, yang membuat ibunda merasa iba, itu pulalah awal pertemuan ku dengannya,” ujar ujar Julian yang ternyata adalah seorang pangeran.


“Lalu” sahut Siti.


“Kami mengijinkan dia tinggal, aku juga berteman baik dengan sang putri, hingga suatu ketika, dia menyatakan cintanya kepada ku, aku cukup terkejut dengan dengan keberaniannya itu, di sisi lain aku sudah punya orang yang aku sukai namanya adalah Magnolia seorang wanita biasa dari kalangan biasa pula. Karena aku tidak memiliki perasaan pada putri Selia, aku menolaknya menit itu juga.” ucap Julian.


“Terus? Apa putri Selia marah?” tanya Siti lebih lanjut karena penasaran.


“Tentu saja, dia bukan hanya marah, detik itu pula ia mengutuk ku menjadi seekor cacing, mengutuk negara ku dengan cuaca sedingin salju meski itu musim panas sekali pun. Sejak itu tiap hari hidup ku terancam oleh predator lain, dan Magnolia, dia kutuk menjadi seekor keong, entah bagaimana nasibnya sekarang, kami sudah tidak pernah bertemu, pernah tersiar kabar dari burung, dia telah di mangsa oleh ayam, semua anggota kerajaan Si juga di kutuk menjadi hewan Siti. Untung ada kamu, berkat mu, aku masih hidup sampai sekarang, dan berkat ingus mu, aku menjadi manusia lagi! Bukan hanya itu, seluruh anggota kerajaan juga akan menjadi manusia lagi.” tutur julian dengan perasaan bahagia.


“Apa? Berkat ku? Apa kamu bercanda? Aku tidak melakukan apa-apa, Tunggu, jangan-jangan kamu ya, yang memberikan kami makanan, baju dan bahkan uang yang muncul secara tiba-tiba?” ucap Siti meminta kejelasan.


“Iya Siti, seandainya kamu membiarkan ku waktu itu, dan tidak memelihara aku sampai sekarang, mungkin aku sudah mati, terimakasih Siti.” Sahut Julian.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2