KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XXIX (Death Day Part III)


__ADS_3

Setelah membunuh Mily, sosok wanita berbaju merah itu lenyap seketika.


Tak lama, Lyla yang membutuhkan charger memutuskan ke kamar Mily karena yang terakhir pakai adalah adiknya.


Cetek!


“Akhhhh!!!!!!!!”


Lyla berteriak kencang, karena melihat darah berceceran dimana-mana dalam kamar.


“Akhhh!!! Akhkkkk!!!!”


Lyla juga tambah histeris saat melihat kepala adiknya tergeletak di lantai berlumuran darah.


“Mama!!” Orang tua Lyla yang mendengar teriakan anaknya pun segera berlari ke sumber suara.


Sesampainya mereka ke kamar Mily, kedua orang tuanya ikut histeris.


“Akkhhh!!! Mily!!! Mily!!!!”


Para tetangga yang mendengar kegaduhan dalam rumah mereka langsung saja menelepon polisi.


_______________________________________________


Sementara itu, di dalam gelapnya malam, April yang sudah berlari lama tanpa tahu arah tujuan merasa lelah.


“Aku sudah enggak kuat lagi, aku sudah lari berjam-jam, tapi kenapa? Aku enggak lihat rumah atau orang satu pun?” April menangis lalu tergeletak lemas di atas tanah.


_______________________________________________


Pagi harinya, di kediaman keluarga Lyla, sudah banyak polisi dan warga yang mengerumuni, teman-teman Lyla juga berdatangan untuk berbelasungkawa kepada keluarga Lyla.


_____________________________________________


Sementara April yang baru saja terbangun dari tidurnya, langsung kaget karena melihat ada banyak kuburan di sekitarnya, April memegang tanah untuk berdiri, lalu tanpa sengaja April melihat kalau yang semalaman ia tidur di atas sebuah kuburan tua.


“Haaaa!!!!” sontak ia berlari dengan kencang, sampai akhirnya April bertemu dengan seorang warga.


“Kenapa neng, kok neng lari-lari?” tanya sang bapak.


“Gi-gini tadi pas saya bangun, saya sudah ada di kuburan pak!” terang April.


“Maksudnya apa ya nak? Bapak enggak ngerti.”


“Bapak warga sini?”


“Iya neng.”


“Semalam, pas saya mau pulang, ban mobil saya kempes pak, terus saya jalan mau minta bantuan, lalu saya ketemu sama bapak-bapak aneh, dan dia makan orang pak.” terang April seraya merinding.


“Kamu ketemu dengan orang itu?” tanya sang bapak.


“Iya pak, bapak kenal dengan bapak itu? Memang dia siapa pak?” tanya April penuh penasaran.


“Dia dulunya warga sini neng, tapi sudah meninggal.” terang si bapak.


“Me-meninggal pak? Tapi kok dia makan orang pak?”


“Begini ceritanya neng, dulu itu, putri satu-satunya merayakan ulang tahun, naasnya, putrinya di bunuh sama preman sini, karena anaknya cantik, banyak yang suka, tapi tak satupun yang ia terima, mungkin preman-preman itu merasa sakit hati, jadi mereka menyimpan dendam, pas di hari ulang tahun anak bapak itu, mereka datang menyerang rumahnya, mencabik-cabik tubuh anak gadis itu, serta mengambil jantungnya.” terang si bapak.


“Terus pak?”


“Jantungnya di cincang-cincang sampai halus seperti daging yang di giling mesin.”


“Terus gimana sama ayahnya?”


“Ayahnya kaget pas melihat putrinya seperti itu, lalu sang ayah mencoba melawan, tapi naas, si ayah malah kena gorok hingga kepalanya putus, matanya di congkel, mereka juga mencincang dagingnya, kemudian di berikan sebagai makanan para ikan yang ada di kolam samping rumahnya, sejak itu banyak kejadian aneh yang terjadi, tangisan, suara parang, teriakan sering terdengar.”


“Gimana sama nasib para preman itu?”


“Bagaimana kematian mereka berdua, begitulah yang terjadi pada mereka pula, siapa yang ulang tahun, dan membeli kaset ke situ, semua yang mendengarkan lagunya, akan mati dalam waktu yang tidak akan lama.” terang si bapak.


“Wah... kasihan bangat ya pak.”


“Ya sudah, mari bapak antar keluar dari desa ini.” ucap si bapak.


Akhirnya setelah di tuntun oleh si bapak keluar dari dalam desa, April pun dapat pulang dengan selamat ke rumahnya, saat taxy yang di tumpangi April melewati rumah Lyla, April heran melihat banyak orang dan polisi di rumah itu.


“Ada apa ini? berhenti pak?” setelah taxy berhenti, April bergegas turun dari dalam dan mulai memasuki kerumunan warga.


Lalu April melihat ada sebuah kantung mayat “Mayat siapa itu pak?” April bertanya pada salah satu warga.


“Itu mayat Mily, mau di bawa ke rumah sakit untuk di otopsi.” terang warga tersebut.


“Mily? Memangnya Mily kenapa pak?”


“Semalam dia di bunuh di dalam kamarnya.”


April merasa jantungan mendengarnya, ia pun masuk ke dalam rumah Lyla, dan di situ April melihat keluarga Lyla dan teman-temannya yang sedang menangis pilu. Lyla tanpa sengaja melihat April berdiri di depan pintu.


“Kamu dari mana saja?” tanya Lyla, lalu April bergegas memeluk Lyla dan ikut menangis juga.


“Ceritanya panjang La, pasti kalian semua enggak bakalan percaya sama apa yang aku alami.”


“Kamu juga pasti enggak akan percaya sama apa yang kami alami.” balas Lyla.


“Iya, iya yang sabar ya sayang.” ucap Lyla.


Mereka semua menangis dengan haru, tidak lama ibunya April datang.


“Yang sabar ya bu, April, Kamu disini juga?Kemana saja kamu semalam? Kenapa enggak pulang?” April memeluk ibunya lalu menangis

__ADS_1


“Kenapa sayang? Ada apa sayang sebenarnya?”


April pun mulai menceritakan apa yang terjadi padanya. Dan 3 jam kemudian mayat Mily pun di bawa ke rumah Lyla. Semua merasa berduka atas kepergian Mily yang tidak wajar.


Malam harinya Eca, April dan Deva menginap di rumah Lyla.


“Kamu jangan sedih lagi La.” ucap Eca.


“Makasih ya Ca, sudah mau nginap disini.” ujar Lyla.


“Kamu mending tidur duluan deh La, kamu kan capek, aku mau ke halaman bekang dulu.” ucap Deva.


“Iya Dev, hati-hati ya,” ujar Lyla.


“Oke, tenang,” ucap Deva.


Lyla pun naik ke kamarnya yang berada di lantai 2, sementara itu April berada di dapur rumah Lyla untuk membuat kopi.


Lyla pun masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuh di atas ranjang, tiba-tiba ia samar-samar mendengar lagu selamat ulang tahun.


Sontak Lyla melihat ke sekitanya, Lyla juga melihat DVD yang ada dalam kamarnya tidak menyala.


“Dari mana datangnya lagu itu?” Lyla melihat keluar jendela tidak ada apa-apa, yang dia lihat hanyalah Deva yang sedang menelpon, Deva juga melambaikan tangan kepadanya.


Semakin lama lagu itu semakin keras, lalu perlahan seprai dan selimut Lyla berubah menjadi warna hijau, Lyla yang melihat perubahan yang di luar nalar itu, langsung merasa ketakutan.


Lalu dari loteng, terdengar ada suara langkah kaki. Lyla mendongak ke langit-langit kamarnya, tapi tak ada apa-apa, namun langkah itu semakin besar saja.


Lyla berjalan mundur sampai tubuhnya membentur ke dinding kamarnya. Dan dari loteng muncul sosok wanita berbaju merah berjalan seperti laba-laba, sontak Lyla berlari menuju pintu keluar.


“Tolong! Tolong!” namun satu orang pun tak ada yang mendengar suara teriakan Lyla.


Hab!


Seketika sosok wanita itu ada di belakangnya, April yang terpikir akan Lyla memutuskan untuk melihat Lyla ke kamarnya.


“Kamu jangan bunuh aku, jangan... jangan!” ucap Lyla dengan berderai air mata, tapo sosok wanita itu tanpa belas kasih mencekik leher Lyla.


Lyla mencoba membela diri, namun Lyla tidak sekuat itu, sosok wanita berbaju merah pun mencongkel mata Lyla dengan kuku-kuku panjangnya.


“Aaaaaaa!” setelah mata Lyla terlepas, sosok wanita itu menyantap mata Lyla layaknya sebuah makanan.


Darah pun mengalir dari ke dua kantung mata Lyla.


“Aaaaa....!! Jangan! Jangan!” tak berhenti sampai di situ, pisau pun melayang ke tangan sosok wanita itu yang entah dari mana asalnya, dan sosok wanita itu tanpa fikir 2 kali, menyayat leher Lyla sampai putus.


Curr!!! Darah bercucuran dari leher Lyla, selanjutnya sosok wanita itu membelah perut Lyla, kemudian mengambil hati dan jantung Lyla untuk di lahap.


Tok tok tok!


“Lyla, Lyla!” April mengetuk pintu kamar Lyla.


“Kok dia enggak jawab sih? Apa sudah tidur ya?”


“Ha?” April kaget, saat ia melihat banyak darah di lantai kamar Lyla, kemudian April mencari keberadaan Lyla, saat sudah ketemu, April melihat ada sosok wanita berbaju merah yang duduk di atas perut Lyla, April menjadi syok menyaksikan pemandangan mengerikan itu.


Karena April teringat akan bapak-bapak yang memakan pemuda di dekat mobilnya.


“Si-siapa kamu!” sosok wanita itu pun melihat April dengan mata tajam.


“Kenapa kamu melakukan ini!” April mengambil sapu yang ada di kamar Lyla bermaksud untuk memukul sosok si wanita, saat April mendekat, sosok wanita itu terbang dengan cepat keluar dari dalam kamar Lyla.


“Lyla!!!” April menangis “Lyla!” April memungut darah Lyla yang berserakan, hingga badan April seperti mandi darah.


April juga mengambil kepala Lyla yang telah menggelinding jauh dari badan Lyla, saat dia melihat mata Lyla yang sudah tak ada, April bertambah sedih.


“Ly-Lyla!!!!”


Ketika seluruh orang yang ada dalam rumah mendengar teriakan April, mereka langsung datang ke kamar Lyla, dan semua orang menangis histeris untuk kesekian kalinya.


Kembali lagi rumah almarhum Lyla di kerumunan polisi dan juga warga.


Keesokan harinya, saat berdo’a di pemakaman Lyla, tanpa sengaja April melihat wanita berwajah pucat, tinggi cantik yang mengenakan gaun merah.


April seperti mengenal wanita itu, saat April mencoba berfikir siapa wanita itu, April baru ingat, poto yang ada di dalam toko kaset itu.


April menghampiri kedua sahabatnya Eca dan Deva.


“Ca, Dev, kalian ingat wanita berbaju merah yang aku ceritakan?” ujar April.


“Iya emang kenapa?” Jawab Deva.


“Itu yang disana! Dialah pembunuh dari Lyla dan Mily.” ujar April dengan sangat Yakin.


“Ngomong apa sih kamu?” ucap Eca.


“Eca, aku serius, kalau enggak ayo kita pulang duluan.” terang April.


“Tapi... masa kita mau ninggalin pemakan ini? Kan belum selesai April.” ungkap Eca.


“E..ca, kamu enggak mau kan kita semua selesai?” mendengar kata selesai membuat Eca dan Deva ketakutan.


“Oke... oke.. kita pulang.” mereka bertiga pun buru-buru untuk pulang ke rumah Lyla dengan mengendarai mobil April.


“Ngapain kita ke rumah Lyla lagi?” tanya Eca keheranan.


“Turun dulu, entar aku ceritain.” April membawa Deva dan Eca masuk ke kamar Lyla.


“Coba kalian berdua lihat, sebelumnya seprai Lyla enggak berwarna hijaukan?” kedua temannya pun mengangguk.


“Tapi ada apa dengan seprai ini? Kalian tahu enggak, di malam pesta ulang tahun Mily, ban aku kempes di tengah jalan, tapi aku enggak tahu, aku ada di mana malam itu, lalu aku bertemu dengan bapak-bapak di sebuah toko kaset yang di sana itu enggak ada warga lain sama sekali.”

__ADS_1


April pun menceritakan kembali semua yang di alaminya sampai teman-temannya mengerti.


“Dan wanita yang tadi adalah, anak pemilik toko kaset tersebut, dan asal kalian tahu saja, siapa saja yang mendengarkan lagu itu, maka dia akan mati.” Deva dan Eca langsung merinding dan ketakutan.


“Dengar, kematian Mily dan Lyla, sama dengan yang di ceritakan warga desa yang aku temui.”


“Jadi kita harus gimana dong?” tanya Deva dengan mulai menangis.


“Menurut ku, kita harus cari dimana kaset itu berada, dan membakarnya.” terang April.


“Ha? Kita harus cari dimana Pril?”


“Ya dimana saja, yang jelas kita cari, terakhir kaset itu ada di kamar Lyla kan? Jadi ayo kita cari sama-sama.” mereka bertiga pun sibuk mencari kaset itu, sampai mereka membongkar seluruh isi kamar Lyla.


“April, enggak mungkin deh kasetnya ada di sini, karenakan, giliran Lyla udah selesai, pasti orang selanjutnya antara kita semua yang ada di pesta.” ujar Eca.


“Kalian berdua tenang dulu, jangan panik.”


“Gimana enggak panik! Kita ini lagi nunggu giliran.” Deva menangis sejadi-jadinya, yang membuat April pun mondar mandir mencari ide.


“Aku yakin, orang selanjutnya adalah antara om dan tante.”


“Orang tua Lyla?” Eca bertanya pada April.


“Iya, jadi kita harus bantu mereka, jangan sampai mereka mati juga.” ujar April.


“Enggak, Enggak, aku enggak ikutan.” ucap Deva yang ketakutan.


“Deva, kok kamu gitu sih? Lagian kalau ini di biarkan, semua akan kena giliran.” Deva pun menundukkan kepalanya.


“Jadi gini rencananya, nanti malam jangan ada yang masuk kamar, karena kayaknya, hantu itu bunuh sasarannya pada saat di dalam kamar.”


“Terus, gimana kita mau hentikan hantunya?” Deva bertanya lagi pada April.


“Begini, nanti malam, aku saja yang ada di dalam kamar om dan tante, kalian coba cari kaset itu di seluruh ruangan rumah, kalau perlu, minta bantuan semua orang yang ada dalam rumah ini.”


Deva dan Eca pun setuju, setelah keluarga Lyla kembali ke rumah.


Mereka bertiga menceritakan rencana yang telah mereka susun.


Hingga pada malam harinya, April pun masuk ke dalam kamar orang tua Lyla, sementara semua orang bersiap untuk menjalankan rencana selanjutnya.


April naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut orang tua Lyla, perlahan hawa dingin pun terasa di dalam kamar itu.


Seketika lagu selamat ulang tahun pun terdengar, April yang melihat warna seluruh seprai dan selimut berubah menjadi warna hijau, langsung merasa takut.


Dari atas loteng terdengar langkah kaki.


Dukdukdukduk!


April mulai merasa tegang, jantungnya pun berdegup kencang, apa lagi saat sosok wanita itu mendarat di atas ranjang.


Bruk!


Sementara yang lainnya sibuk mencari kaset selamat ulang tahun itu.


Sosok wanita tersebut menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh April.


Si wanita marah, saat mendapati April yang berada dalam selimut.


Semua barang-barang yang ada di dalam kamar orang tua Lyla berterbangan ke udara, sosok wanita itu pun mengangkat tubuh April dengan kekuatan gaibnya lalu menghempaskan nya ke dinding.


“Kenapa! Kenapa kau mengacaukan segalanya!” sosok wanita itu terus berkata seperti itu pada April seraya mengangkat dan menghempaskan tubuh April ke dinding berkali-kali.


“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau harus membunuh orang-orang yang tidak bersalah? Harusnya kau sadar, ini tidak baik, orang-orang yang bersalah pada mu telah kau bunuh, hentikan semua ini!” pekik April.


“Lancang kau!” sosok wanita itu pun mencekik leher April dan melemparnya ke atas lantai, karena sudah tidak kuat, April berlari keluar dari kamar orang tua Lyla.


“Jangan pergi!” sosok wanita itu mengejar April yang keluar dari dalam kamar.


“Tante ingat!” ujar ibu Lyla.


“Apa tante?!” sahut Eca.


“Eca, tante punya DVD di dalam ruang kerja om mu, ayo ke sana, mana tahu kaset dvd selamat ulang tahun ada di sana.” ujar ibunya Lyla.


“Benar juga tante.” Eca dan ibunya Lyla berlari ke ruang kerja ayah Lyla.


Sementara April yang masih berlari di tangga langsung di tangkap oleh si wanita, dan wanita berbaju merah menjambak rambut April.


“Ha!!!!” Deva berteriak melihat sosok wanita itu memperlakukan April dengan sangat sadis, tubuh April juga berlumuran darah.


“Lepaskan April aku mohon!” ayah Lyla juga memohon untuk melepaskan April.


Sosok wanita itu tertawa dan melempar April sampai ke lantai bawah, Deva dan ayahnya Lyla berlari menuju April.


“Malam ini, kalian semua akan mati, hahahahahah!” ucap si wanita.


“Tidak akan ada yang mati lagi!” Eca dan ibunya Lyla datang membawa kaset selamat ulang tahun yang menjadi akar masalah.


“Malam ini, kamu yang akan berakhir.” Eca memegang kaset selamat ulang tahun berserta korek api, sedangkan ibunya Lyla membawa minyak tanah.


“Ya, malam ini kamu akan berakhir.” ucap ibunya Lyla. Lalu keduanya menumpahkan minyak tanah ke atas kaset, tanpa menunggu lama, Eca langsung menyalakan korek api dan membakar kaset itu.


“Jangan! Jangan! Aku tidak akan memaafkan kalian! Aku tidak akan berakhir sampai di sini!” sosok wanita itu pun lenyap setelah kasetnya terbakar hangus.


SELESAI.


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu

__ADS_1




__ADS_2