
Setelah pelajaran matematika usai, bel pun berbunyi tandanya istirahat. Andri yang ada di sudut kelas memperhatikan Naudira tiada henti.
Naudira adalah si gadis cantik nan baik hati yang akan menjadi incaran Andri selanjutnya.
Andri memang sudah lama mendekati Naudira, tapi Naudira tidak pernah menanggapinya, sebab Andri telah terkenal dengan julukan Play boy.
“Dira, bisa kita bicara sebentar?” ucap Andri seraya menggenggam tangan Naudira.
“Apa sih, kamu tidak lihat aku ingin keluar? lepaskan tangan ku!” pekik Naudira yang kemudian keluar kelas menuju kantin sekolah.
Hati Andri bertambah panas, dia tak mengerti, mengapa ia tak kunjung berhasil menaklukkan hati Naudira.
Saat dia berdiri di pintu kelas, Kania lewat dan melambaikan tangan kepadanya, Andri pun membalas dengan melontarkan senyum nakal dan menghampiri Kania.
“Hai beb, sudah lama kita tidak kencan, malam ini keluar yuk?” ajak Andri.
“Kamu sih beb, sibuk terus, aku kan selalu ada buat kamu.” Kania mencium pipi Andri dengan mesra, Naudira yang melihat peristiwa itu pun merasa jijik.
Setelah jam istirahat selesai, semua siswa dan siswi memasuki ruangan masing-masing.
Pelajaran selanjutnya adalah olah raga, semua siswa keluar untuk mengganti baju, Naudira yang ingin keluar di hadang oleh Andri.
“Malam ini mau kemana? Jalan yuk Dir, di bioskop lagi ada film bagus lo.”
“Ck, jalan?” ucap Naudira, Andri pun menganggukkan kepalanya.
“Kalan sama meong saja, Enggak usah mengajak manusia!” pekik Naudira.
Andri merasa marah mendengar hal itu, sontak ia langsung membanting pintu. Naudira hanya tersenyum menyaksikan kekonyolan Andri.
“Memangnya aku ini wanita macam apa? Perempuan giliran? Sok ganteng sekali dia.” gumam Naudira.
Setelah semua siswa dan Siswi selesai mengganti baju. Pak guru pun menyuruh semua anggota kelas berbaris di lapangan.
Usai semua berbaris dengan rapi, pak guru menyuruh Naudira untuk maju ke depan memimpin senam.
Dengan percaya diri Naudira maju dengan penuh senyum, ia pun mulai mengarahkan teman-temannya untuk senam, seraya musik di putar.
__ADS_1
Semua mengikuti gerakan Naudira, kecuali Andri, yang hanya duduk berdua dengan Desty di tengah siswa/i yang sedang senam. Naudira yang melihat sikap Andri langsung menghentikan musik.
“Berandalan!” teriak Naudira.
Sontak semua melihat ke arah Andri, “Kenapa tidak keluar saja dari barisan? Kamu pikir, kamu siapa? Seenak dirimu duduk, sementara yang lain senam, kamu jangan menularkan sifat kotor mu itu pada yang lain!” Andri pun berdiri dari duduknya dengan mimik wajah menyeramkan, kemudian ia berjalan ke arah Naudira.
“Hei perempuan sok suci! Jangan urusi aku!kamu pikir kamu siapa? Saudara, orang tua, atau pacar ku?” Andri menunjuk wajah Naudira.
“Aku tidak pernah menularkan sifat nakal ku pada yang lain ya!” Setelah mengatakan hal itu, Andri pun pergi dari lapangan.
Dira yang menerima perlakuan tersebut merasa tersentak dan tak percaya.
Satu jam kemudian, pelajaran olah raga telah selesai, semua siswa/i memasuki ruangan. Terlihat Andri sedang duduk tenang di sudut ruangan kelas, seraya menikmati sebatang demi sebatang rokoknya. Puntung rokoknya pun banyak berceceran di lantai.
Naudira yang melihatnya tidak tahan dan bertambah muak. “Andri, kalau ingin merokok jangan di ruangan ini, asap rokok mu kemana-mana, orang lain jadi tak nyaman dengan sikap mu itu!” ucap Naudira.
Andri yang masih marah tidak perduli dengan teguran Naudira tersebut.
Justru beberapa adik kelas mereka yang melihat gaya Andri tersebut merasa kagum, karena tidak ada yang bisa meniru Andri yang bebas, bahkan para guru juga telah angkat tangan terhadap sikap Andri yang selalu di luar batas.
“Tentu saja sayang, kenapa tidak?” mereka pun melakukan photo-photo, dan si adik kelas pun tak lupa meminta nomor telepon Andri.
“Mer, nanti malam ada acara tidak?”
“Enggak ada kak, kenapa kak?” tanya Mery.
“Kita jalan yuk say? Nanti malam kakak jemput, tunggu kabar dari kakak ya?”
Dira yang mendengarnya tercengang, ia pun tertawa getir, “Dasar buaya, bagaimana dia mengatur waktu? Nanti malam kan dia mau jalan dengan Kania.” gumam hati Naudira.
Keesokan harinya, pada saat jam pelajaran bahasa Indonesia, ibu guru menerangkan di depan kelas, semua orang mendengarkan penjelasan ibu guru dengan serius, kecuali Andri yang hanya memperhatikan wajah Naudira.
Bu guru yang melihatnya langsung melempar Andri dengan penghapus.
“Seharusnya kamu fokus dengan wajah saya, bukan wajahnya Naudira, memangnya leher mu tidak sakit menengok kebelakang terus?” Andri tersenyum dengan teguran gurunya, sedangkan Naudira yang mengetahuinya menundukkan kepala karena merasa malu, teman sekelas mereka jadi bersorak riang, karena ada tontonan baru.
“Baiklah anak-anak, ibu akan memberikan kalian semua tugas, yaitu membuat sebuah puisi bebas, terserah kalian mau membuat tema apa saja. Oh iya, apa kalian tahu kalau besok pelajaran di tiadakan?” semua siswa/i merasa menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Ya ampun, kalian kok bisa lupa sih? besok kan ulang tahun sekolah kita yang ke 40 tahun, jadi bapak kepala sekolah mengadakan pesta untuk kita semua, jadi kalian bersiap-siap besok ya, acaranya mulai pukul 17.00.”
Semua anggota kelas berteriak histeris karena gembira mendengar kabar tersebut, ibu guru pun keluar meninggalkan ruangan, yang di susul oleh para siswa/i lainnya.
Sementara Naudira masih ada dalam ruangan untuk mencatat yang di tulis bu guru di papan tulis.
Andri yang melihatnya langsung datang menghampiri.
“Dira, besok mau datang bersama siapa?” tanya Andri
Dan dengan mata sinis Naudira menjawab, “Dengan angkot lah, masa dengan kucing!”
Sontak Andri tertawa seraya menggaruk-garuk kepalanya.
“Maksud ku, apa kamu sudah punya teman untuk ke pesta sekolah besok? Hem, maksud ku pasangan?”
Naudira dengan wajah masamnya berkata,
“Heh! Kamu enggak bisa kalau enggak mengganggu ku sehari saja ya, kamu kan punya banyak teman wanita, ajak saja mereka, tidak usah mengajak ku, lagi pula aku sama kamu enggak selevel, kamu bukan kelas ku!” Andri merasa tersinggung dengan perkataan Naudira.
“Kamu kalau enggak mau, jangan segitunya berucap, aku kan mengajak mu dengan sopan, apa susahnya menjawab dengan baik, lagian kamu juga bukan tipe ku.” Mendengarnya Naudira tersenyum getir, kemudian ia berdiri dari tempat duduknya.
“Baguslah kalau sudah sadar aku bukan tipe mu, sekarang kamu lebih baik angkat kaki dari hadapan ku, lagi pula, kamu itu tidak ada apa-apanya di mata ku, laki-laki seperti kamu hanyalah seorang yang tidak punya malu, mengobral janji kesana kemari, hah! mungkin para pria bangga mempermainkan setiap wanita, tapi tidak sadar, betapa banyak dosa yang akan di peroleh nya.”
Mendengar perkataan Naudira, Andri langsung menggenggam erat tangan perempuan yang selalu menolaknya, selanjutnya Andri menarik Naudira ke sudut dinding kelas, dengan perasaan emosi Andri mendorong tubuh Naudira hingga mentok ke dinding.
“Ka-kamu mau apa!” pekik Naudira.
Andri mendekati le wajah Naudira dan memegang pundak perempuan tersebut.
“Lepas, apa yang ingin kamu lakukan? Apa kamu sudah tidak waras?” lalu Andri pun mengatakan.
“Aku pasti akan mendapatkan mu Dira.” Andri yang merasakan badan Naudira gemetaran langsung melepaskannya. Sontak Nadira berlari meninggalkan kelas karena takut.
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...
__ADS_1