KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab LV (Mantan)


__ADS_3

Rika yang baru saja lulus kuliah buru-buru membuat lamaran kerja, sebab ia yang tahu diri ingin membalas jasa-jasa orang tuanya selama ini telah merawat dan menyekolahkannya sampai sarjana.


Setelah surat lamaran kerjanya selesai ia kerjakan di komputernya, Rika pun mulia menjatuhkan lamarannya secara online di berbagai perusahaan.


3 hari pun berlalu, saat Rika sedang makan seblak di teras rumahnya, tiba-tiba ia mendapat notifikasi email panggilan interview kerja dari sebuah perusahaan ritel esok hari.


“Alhamdulillah, semoga aku di terima.” Rika senang bukan main, ia pun menaruh harapan agar ia di terima kerja di perusahaan ritel tersebut.


Keesokan harinya, Rika yang telah sedia dengan penampilan baju putih dan rok hitamnya pun masuk ke ruangan HRD.


“Halo, selamat datang di perusahaan Cinta Produk Lokal.” ucap HRD dengan ramah pada Rika


“Halo juga pak.”


“Silahkan duduk.” sang Hrd mempersilahkan Rika duduk di sebuah kursi tepat di hadapan sang Hrd.


Setelah Rika dalam posisi nyaman, dia pun menjabat tangan sang Hrd.


“Perkenalkan pak, nama saya Rika.”


“Saya Roma, bisa Rika jelaskan mengenai dirimu sendiri Rika?” ujar sang Hrd.


“Tentu pak.” Rika pun mulai mengatakan latar belakang dirinya, mulai dari pendidikan sampai dengan pengalaman kerja membantu ibu di dapur.


“Baiklah, cukup ya Rika, kamu di terima kerja disini.”


“Yang benar pak?” ucap Rika tak percaya.


“Tentu, mulai besok kau sudah bisa kerja.” kabar baik itu tentu membuat Rika senang.


Keesokan harinya, Rika masuk kantor dengan tepat waktu. Ia yang masih anak baru pun jadi target sasaran empuk para senior untuk di suruh-suruh.


Pada saat Rika sedang memotocopy berkas-berkas yang di berikan oleh seniornya, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.


“Rika.” sontak Rika menoleh ke arah sumber suara.


“Rido.” gumamnya tak percaya.


“Apa kabar Rika?” tanya Rido, yang merupakan mantan kekasih Rika 7 tahun yang lalu, yang mana saat itu keduanya menjalin hubungan di bangku SMA, Rido lebih tua 2 tahun dari Rika. Dan hubungan mereka kandas karena Ridho selingkuh saat telah duduk di bangku perguruan tinggi.


“Aku baik.” Rika yang masih memendam rasa sakit akan pengkhianatan Rido pun tak mau banyak bicara, karena kisah asmara masa lalu di hatinya belum usai. Sejak putus dari Rido, Rika belum juga mendapat kekasih baru, bukan karena ia sengaja menutup hati, melainkan para pria tak ada yang mendekatinya.


“Kau ada waktu nanti setelah pulang kerja?”


“Ehm, maaf, aku sangat sibuk, jadi ku rasa tak ada,” terang Rika.


Setelah tugas Rika selesai, Rika meninggalkan Rido di ruang photo Copy itu sendirian. Sore harinya, saat waktu pulang kerja telah tiba, Rika berjalan sampai ke ujung jalan untuk mendapatkan sebuah angkot.


Tak ada karyawan lain yang mau memberinya tumpangan, hingga saat Rika sedang berjalan santai sendirian ada sebuah mobil mewah berhenti di sebelahnya.


Tin tin!


“Hem? Siapa?” Rika merasa heran ada sebuah mobil yang tak ia kenal membunyikan klakson untuknya. Ketika kaca mobil mewah tersebut telah terbuka, ia sungguh tak menyangka, karena pemilik mobil adalah Rido sang mantan.


Astaga, ku pikir dia karyawan biasa di kantor, batin Rika.


“Ayo ku antar!” seru Rido.


“Ah, enggak usah, terimakasih banyak.” Rika menolak dengan halus tawaran dari Ridho.


“Ayolah, lagi pula disini luas kok,” ujar Rido.


Karena Rido terus memaksa, Rika pun akhirnya mau masuk ke dalam mobil mantan kekasihnya tersebut. Ia pun duduk di kursi bagian kedua mobil. Ia masuk dengan sangat hati-hati, karena baru kali itu ia naik mobil mewah.


Setelah Rika duduk dengan nyaman, Rido pun melajukan mobilnya.


“Akan sangat cape kalau kau yang baru bekerja seharian, harus jalan kaki lagi selama 10 menit,” ungkap Rido dengan senyuman.


“Enggak juga kok, lumayan untuk olah raga,” terang Rika.


“Hahaha, kau ini jawabnya judes sekali, apa kabar om dan tante?”


“Mereka sangat baik,” jawab Rika singkat.


“Oh... syukurlah kalau begitu, kapan-kapan boleh main ke rumah mu ya.” Rika sontak menatap lekat ke arah Rido.


Apa dia masih menaruh rasa pada ku? batin Rika.


Cit!! Tiba-tiba Rido memberhentikan mobilnya yang membuat Rika bingung.


Kok berhenti, batin Rika.


“Sudah sampai, kalau kau tunggu angkot disini, maka akan cepat dapat,” terang Rido.


“Oh iya, tentu, terimakasih banyak ya.” Rika pun turun dari mobil Rido dengan perasaan kesal. Namun ia berusaha menyembunyikan kekesalannya dihadapan Rido. Setelah Rido pergi, Rika pun mulai mengumpat.


“Dasar sialan! Masa dia menurunkan ku disini? Katanya mau antar, ternyata beneran antar sampai ujung jalan saja! Huh! Dia mau mempermainkan aku ya?! Awas saja, besok-besok aku enggak akan mau ikut mobilnya, baru juga punya mobil.”

__ADS_1


Keesokan harinya, tugas pertama pun di berikan oleh seorang senior wanita pada Rika.


“Tolong kau salin laporan penjualan yang ini, nanti kalau sudah selesai, minta tanda tangan di ruangan manager, kau mengerti?”


“Baik kak.” Rika pun mulai menyalin semua data yang di berikan sang senior, setelah selesai ia pun menuju ruang manager.


Tok tok tok, Rika yang sopan mengetuk pintu sebelum masuk.


“Silahkan masuk.” Rika pun membuka pintu, dan betapa ia terperanjat, karena Rido adalah manager menerka di kantor itu.


Astaga, nasib apa sih ini! batin Rika.


Ia yang awalnya tak ada sopan santun lada Rido pun kini jadi segan setelah mengetahui jabatan sang mantan.


“Ada apa Rika?”


“Saya mau meminta tanda tangan pak.” ucap Rika dengan perasaan dag dig dug.


“Oh, sini.” Rido pun memberi tanda tangan. saat Rika ingin pergi, Rido berkata padanya.


“Nanti malam kau ada acara enggak?”


Deg deg deg! Jantung Rika berdebar-debar mendengarnya.


“Ehm, enggak pak, saya langsung pulang ke rumah.”


“Oh, boleh aku antar sampai rumah mu? Karena aku ingin bertemu om dan tante,” pinta Rido.


“Tentu pak.” jawab Rika, setelah itu Rika pun keluar dari ruangan Rido.


Hatinya jadi berbunga-bunga, karena ia merasa Rido masih menaruh hati padanya, sama seperti dirinya juga.


Astaga, apa kami akan bersama lagi? Aku sih enggak akan menolak, secara dia sudah mapan sekarang, ya Tuhan, apa ini jawaban kenapa kau buat aku jomblo selama ini Tuhan??? batin Rika.


Sepulang kerja, Rika dan Rido pun berangkat menuju rumah Rika. Para karyawan lain yang melihat Rika masuk ke dalam mobil Rido mulai berbisik-bisik.


Pasti mereka iri pada ku, baru anak baru sudah dekat dengan manager, hehehe mereka enggak tahu, kalau pak manager ini adalah mantan ku, dan sebentar lagi kami akan balikan lagi, batin Rika.


Rika juga merasa sangat bangga akan nasib baik yang menghampirinya itu.


Sebelum sampai ke rumah, Rido dan Rija membeli martabak manis dan telor terlebih dahulu sebagai oleh-oleh, setelah itu baru mereka melanjutkan perjalanan kembali.


Sesampainya di rumah Rika, Rido di sambut hangat oleh kedua orang tua Rika, begitu pula dengan Nina, kakak perempuan Rika.


“Masya Allah Rido, kau gagah sekali sekarang, tante hampir enggak mengenali mu.” ungkap Rina, ibunya Rika.


“Kau juga sudah jadi manager sekarang?” tanya Rahmad.


“Alhamdulillah om.” kehadiran Rido benar-benar membuat suasana jadi hangat, namun di antara mereka semua, hanya Nina yang tak memberi komentar apapun.


“Tapi kenapa kau tiba-tba datang kemari nak?” tanya Rahmad.


“Katanya dia rindu yah,” jawab Rika.


“Oh ya?”


“Benar om, aku rindu kalian, dan sekaligus ingin mengatakan niat baik ku,” terang Rido.


Keluarga Rika mengernyit dengan arah pembicaraan Rido.


Apa dia mau melamar ku? batin Rika.


“Niat baik apa nak?” tanya Rina penasaran.


“Iya betul, apa nak?” timpal Rahmad.


“Aku ingin melamar putri kalian, om tante!” ucap Rido.


Rika tersenyum lebar, ia tak menyangka kalau perkiraannya benar.


“Kita sih setuju-setuju saja nak, bagaimana Rika?” tanya Rina.


“Aku....” saat Rika belum menyelesaikan perkataannya Rido pun memotongnya.


“Bukan Rika, tapi Nina om, tante.” duar!!! Bagai tersambar petir, hati Rika hancur untuk uang kedua kalinya karena Rido, ia benar-benar tak menyangka, kalau Rido akan melamar kakaknya.


“Kenapa Nina?” tanya Rahmad.


“Karena kita sudah pacaran sejak 4 tahun yang lalu,” terang Rido.


“Apa?!” Rika dan kedua orang tuanya lagi-lagi menerima kejutan dari Rido.


“Benar ayah dan ibu, kami berdua saling mencintai, mohon restui kami,” ucap Nina.


Rika benar-benar terpukul akan kenyataan yang ia terima, namun ia berusaha tetap keren di hadapan semua orang.


“Baiklah, kalau kalian memang saling mencintai, cocok satu sama lain,kami sebagai orang tua hanya bisa memberi restu.” ujar Rahmad.

__ADS_1


Rika makin merasa sakit, karena sang kakak tak meminta izinnya juga, pada hal selama ini Rika curhat mengenai perasaannya pada sang kakak, dan Nina tahu betul kalau Rika masih mencintai Rido.


Setelah Rido pulang, Rika masuk ke kamarnya, ia menangis sesungukan karena pil pahit yang baru ia telan barusan.


“Teganya kau mengkhianati Nina!” pekik Rika.


Saat ia masih berduka, tiba-tiba Nina masuk ke dalam kamarnya.


“Rika, kenapa kau menangis?” tanya Nina.


“Kenapa? Kau masih bertanya? Jelas-jelas kau tahu aku masih menyukai Rido selama ini, dan kau juga tahu bagaimana rasa sakit yang aku terima karena dia, eh... ternyata kau malah menjalin hubungan dengannya, kau benar-benar gila ya?!” hardik Rika.


“Maafkan aku Rika, dia yang terlebih dahulu mendekati ku, dan sejujurnya, selingkuhan dia selama ini adalah aku, yang membuat hubungan kajian hancur adalah aku, maafkan aku Rika, aku benar-benar menyesal,” terang Nina.


“Jadi itu kau! Pelakunya itu kau?!” Rika yang emosi langsung menjambak kakaknya, seraya memberi hinaan.


“Dasar murahan! Memangnya enggak ada orang lain selain Rido??!!!!” tenaga Rika yang unggul membuat Nina kewalahan.


Rika yang di kuasai emosi pun mengambil gelas kaca yang ada di dalam kamarnya.


Prang!! Ia membanting gelas tersebut ke kepala Nina, hingga Nina tak sadarkan diri. Setelah itu, perasaan Rika jauh lebih tenang.


Orang tua Rika yang mengetahui pertengkaran kedua anaknya pun langsung datang ke kamar Rika.


“Hah?! Nina!” Rahmad membantu Nina bangkit dari lantai.


“Apa-apaan kau Rika?!” pekik Rina pada putri bungsunya itu.


“Dia adalah selingkuhan Rido selama ini, bisa-bisanya dia menyakiti ku bu!”


“Tapi tidak dengan kekerasan kan penyelesaiannya?” ucap Rina.


“Aku enggak perduli, lagi pula dia yang cari gara-gara duluan,” terang Rika.


Akhirnya Nina pun di bawa ke rumah sakit. Rido yang mengetahui keadaan calon istrinya pun langsung menyusul.


Setelah mereka semua ada di rumah sakit, Rido yang tak terima mulai memarahi Rika.


“Tega sekali kau mencelakai kakak mu sendiri! Apa salahnya pada mu?”


“Itu karena dia sudah berkhianat!”


“Tapi kami saling mencintai, lagi pula kita juga sudah putus!” pekik Rido.


“Aku enggak perduli!” hardik Rika.


Rika yang marah meninggalkan Rido dan keluarganya di ruang rawat Nina, Rido yang masih belum terima mengikuti Rika.


Rika yang merasa hancur pun naik ke atas atap rumah sakit.


“Kenapa kau mengikuti ku?” tanya Rika.


“Pokoknya kalau sampai Nina kenapa-napa, habis kau!” ancam Rido.


Rika yang sudah muak pun mengeluarkan pulpen dari sakunya secara diam-diam.


“Memangnya kau akan melakukan apa pada ku kalau Nina sampai celaka?” Rika mendekat pada Rido.


“Ku bubuh kau!” pekik Rido.


“Oh ya Tuhan, aku takut!” Rika meledek Rido.


“Aku enggak main-main Rika!”


“Silahkan saja kalau kau berani!” Rika menantang Rido, saat Rido akan menampar Rika, Rika dengan secepat kilat menancapkan ujung penanya ke mata kiri Rido.


“Akhh!!" sontak Rido berteriak kesakitan, Rika yang merasa tanggung atas aksinya pun, mencabut pena yang ada di mata Rido, lalu menusukkannya kembali ke mata kanan Rido.


Rido terus menjerit kesakitan, “Rasakan! Memang enak? Tuhan pun lebih marah pada orang yang munafik ketimbang orang yang berterus terang! Hahaha!”


Bukannya merasa takut, Rika justru merasa puas, Rido yang rapuh tak dapat melihat pun di tuntun oleh Rika hingga ke balkon.


“Selamat tinggal mantan!” Rika me dorong tubuh Rido dari atap hingga terjatuh ke bawah, tepatnya penyet ke jalan raya.


Setelah itu, Rika membersihkan darah yang ada pada tangannya, ia juga membuat pulpen yang ia gunakan ke lubang toilet sit rumah sakit.


Saat sedang heboh-hebohnya di luar rumah sakit atas terjun bebasnya Rido, Nina di tinggal sendirian dalam ruangannya.


“Kau juga harus terima akibatnya,” gumam Rika.


Rika pun menyayat leher kakaknya dengan pisau buah yang ada di sebelah ranjang Nina. Setelah itu, Rika membersihkan jejaknya lalu keluar dari rumah sakit.


Itu akibatnya jika berani mengkhianati ku, selama ini aku berusaha move on dari segala kesedihan ku, tapi kalian berdua menabur garam kembali di atas luka ku yang belum kering, batin Rika.


Orang tua Nina yang tahu anak dam calon menantunya telah tiada, menaruh curiga lada Rika. Rika pun di tetapkan sebagai tersangka, namun Rika si pembunuh tingkat pertama tak kunjung di temukan keberadaannya sampai kini, kemanakah kira-kira Rika pergi??


Selesai.

__ADS_1


__ADS_2