
“Sudahlah, kamu pulang saja, enggak ada gunanya juga kamu jadi laki-laki, lebih baik kamu pakai rok saja, masih hidup saja kamu sudah enggak berguna, matiya gimana ya kira-kira?” Pekik ku.
Setelah aku berkata demikian pada Temon, mata Temon pun memerah, rasanya aku senang dan puas sekali mempermalukannya.
“Dikit-dikit nangis, gitu saja terus, kalau air mata kamu enggak keluar saat ini juga, aku bakalan putusin kamu.” Dengan tersenyum sinis aku menunggu air mata Temon keluar.
Dan tak perlu menunggu lama, air mata Temon pun mengalir, beserta ingusnya juga. Aku sangat senang membuat Temon sengsara.
“Bagus! Bagus!” sekarang kamu boleh pulang, kamu wajib senang, karena kamu enggak jadi aku putusin.” setelah itu aku pergi meninggalkan Temon, dan aku rasa sih sampai ke rumahnya pun dia masih tetap menangis.
Semalaman Temon terus saja mengirim sms dan menelepon ku, tapi aku tidak mengangkatnya, karena drama Korea kesukaan ku sedang tayang, saat aku melihat layar handphone ku, ternyata panggilan Temon telah sampai 100 kali panggilan, dan 20 pesan singkat. Aku mengabaikannya saja, ku ambil selimut lalu ku tidur cantik.
Pagi harinya pada saat aku pergi ke kampus, aku membuka akun fasbuknya Temon, aku melihat ada beberapa pesan dari wanita lain, sebagian besar isinya pesan wajar saja ku lihat.
“Mungkin itu temannya,” batin ku.
Namun saat aku melihat pesan dari seorang wanita yang bernama Juni, aku merasa ada yang janggal.
“Apa kabar bang sekarang? Abang kok enggak balas-balas sms Juni? Abang sibuk ya? Bang, nanti sore ketemuan yuk, Juni kangen sama abang, masa-masa kita yang dulu enggak dapat Juni lupakan begitu saja bg.” Lalu aku melihat balasan dari Temon.
“Iya dek, kita ketemu di kafe tugu saja ya, jam 14.00 siang abang juga rindu ade Juni sayang.”
Melihat pesan itu aku jadi menelan saliva ku, badan ku juga jadi panas dingin, aku beranjak dari tempat duduk ku, ku matikan fesbuknya, lalu ku coba menelepon Temon.
📲 “Kamu lagi ada dimana sekarang?” Sefa.
📲 “Di kampus yang,” Temon.
📲 “Apa nanti kita bisa ketemu?” Sefa.
📲 “Maaf yang, aku enggak bisa, aku mau bertemu dengan teman,” Temon.
📲 “Oh.. okelah, enggak apa-apa kok.” Sefa.
Hati ku sudah tak sabar menanti jam 14:00. Setelah menunggu siang yang terasa seperti setengah tahun telah tiba, akhirnya aku pun keluar kampus, buru-buru aku pergi ke kafe tugu tempat mereka bertemu.
Sesampainya aku di tujuan, aku mencari pacar ku kemana-mana, pada akhirnya aku melihat Temon bertemu dengan wanita yang bernama Juni itu.
Mereka berdua terlihat bahagia sekali, Temon juga tertawa girang, sesekali wanita itu memegang bahu Temon.
Temon juga mencubit pipi wanita itu. Pada hal kalau bersama ku, Nico tak pernah berani menyentuh ku, kalau bukan aku yang duluan merayunya, keadaan kami berdua telah berbalik, aku lelakinya, sedangkan Temon perempuannya.
Karena tak sabar melihat kemesraan Temon terus menerus bersama wanita itu, aku langsung mendatangi mereka berdua. Dan aku mengambil minuman Temon yang ada di atas meja.
Saat Nico melihat ku ia pun terkejut, belum sempat ia berkata apa-apa, aku menyiram jus jeruknya tersebut ke kepala wanita yang bernama Juni itu.
“Akhhh!!” teriak si Juni seraya melotot pada ku.
__ADS_1
“Emang enak!” pekik ku.
“Apa-apaan sih kamu, berani-beraninya kamu berbuat gitu pada ku!” si Juni marah sekali pada ku, karena tak terima aku di teriaki oleh wanita itu gatal itu, aku menampar wajah sebelah kanan wanita yang aku anggap pengganggu hubungan ku dengan Temon.
Temon pun berdiri mencoba menenangkan kami.
“Apa-apaan sih kau sefa!” Temon membentak ku, aku pun melihat temon dengan tatapan mata yang tajam, ku palingkan kembali wajah ku mengarah Juni, lalu ku tampar lagi wajah kirinya. Yang membuat wanita itu marah sekali pada ku.
“Dasar wanita jahat, emang aku salah apa pada mu! Lihat saja, aku akan melaporkan mu ke polisi.” ancam Juni pada ku.
“Kenapa kamu harus gini Sefa? Apa yang salah? Dia ini teman ku.” ucap Temon.
“Teman? Aku tahu kalau dia itu bukan teman biasa kamu, dia siapa? Mantan mu, atau calon pacar baru mu?” ucap ku menggila.
“Bukan, dia hanya teman ku, kami ini teman lama.”
“Teman lama dari Hongkong? Aku tahu, dia itu berusaha merayu mu! Aku baca semua percakapan kalian di messanger fesbuk mu bodoh! Heh dengar ya! Selama enggak ada kata-kata putus resmi dari ku, kamu enggak boleh dekat dengan wanita mana pun, enggak ada izin dari ku! Termasuk kucing betina kamu sendiri, enggak boleh!”
“Dasae wanita gila! Bang Temon, ngapain sih mau sama wanita sinting begini!” Juni mencoba mempengaruhi Temon.
“Kau yang sinting, dasar gatal! Cari laki-laki lain sana!” pekik ku.
“Dasar sikopat! Lihat saja, aku pastikan kamu akan masuk penjara.” Wanita itu mengancam ku, dengan senyuman sinis ku, aku menjitak kepalanya, dan memukul-mukul kecil wajahnya juga.
“Adukan saja, kamu pikir aku takut? Coba saja, bahkan aku bisa membuat kamu masuk penjara balik!”
“Sudahlah kalian berdua jangan berantam, sudah Juni, Juni dia ini pacar ku, aku yang salah, kalau ada yang harus di penjara, aku saja yang di penjara.” ucap Temon yang prustasi melihat kegaduhan kami berdua.
“Enggak bisa, dia harus menanggung akibatnya.” ucap Juni.
“Siapa yang akan membela mu? Orang-orang ini? bukti? Cctv kafe? Aku bisa membayar semua orang untuk menyalahkan kamu.” aku mengancam Juni.
“Sepertinya kamu bangga banget karena kamu keluarga orang kaya, kamu boleh saja marah pada ku, tapi jangan pada teman ku, aku tahu kamu punya segalanya, tapi enggak usah merendahkan semua orang.” ucap Temon.
“Temon, apa yang kamu bilang barusan?” tanya ku.
“Sefa, rasanya aku udah enggak tahan lagi sama hubungan kita ini, kalau kamu mau putus, bilang putus saja, aku juga udah enggak perduli kalau begini terus, lama-lama aku bisa mati karena kata-kata dan perbuatan mu, dirimu itu bagaikan racun untuk ku, yang membuat aku tercekik setiap saat.”
Aku pun memegang tangan Temon untuk meminta maaf, tapi dia malag melepaskan tangan ku, dan membantu wanita itu untuk berjalan, aku marah dan mengejar mereka berdua, ku tarik tangan wanita itu dari Temon, tapi Temon memegang kuat tangan wanita itu.
“Apa kamu akan menghukum aku dengan cara ini Mon?” tanya ku.
“Sefa, aku enggak pernah berniat menghukum mu, kamu enggak pernah salah di dalam hubungan kita ini, aku yang salah, karena tetap bertahan mencintai mu, pada hal kamu enggak pernah tulus mencintai ku. Dan sudah lama aku mempertanyakan ini dalam hati ku, kenapa aku harus mencinta mu, dan dimana letak cinta mu pada ku? Kau selalu berbuat seenak mau mu, dan bertindak sesuka hati mu, maaf Sefa, sebaiknya kamu pikirin lagi tentang hubungan kita ini.”
Hati ku terpukul sekali mendengar pengakuan Temon yang terlanjur jujur itu. Aku pun melepaskan tangan Temon.
“Baik, berarti kamu pilih dia, mulai sekarang kita putus Temon!” aku pun keluar duluan dari Temon dan wanita itu.
__ADS_1
Aku pulang ke rumah dan merebahkan tubuh ku di atas ranjang. Karena lelah aku pun tidur siang.
Setelah beberapa saat aku tidur, aku pun bangun, saat ku lihat jam di dinding ternyata telah menunjukkan pukul 20.00.
“Ah.. ternyata aku tidur terlalu lama.”
Aku pun mengambil handphone ku, betapa kagetnya aku, saat aku melihat tak ada sms atau panggilan dari temon. Ku letakkan kembali handphone ku, dan beranjak dari ranjang, aku pergi ke kamar mandi untuk membersihka diri.
Usai itu aku turun ke meja makan untuk makan, entah kenapa, rasanya makanan yang tersaji hari itu rasanya benar-benar tidak enak, aku meninggalkan makanan ku begitu saja tanpa menghabiskannya.
Aku yang berada dalam kamar, melihat kembali layar handphone ku, ternyata tak ada panggilan atau sms dari Temon, rasanya ingin sekali aku menelepon si temon ku tersayang terlebih dahulu, tapi aku gengsi, karena menurut ku itu hanya akan menjatuhkan harga diri ku, ku pikir diamnya Temon hanya untuk malam itu saja, ternyata besoknya juga begitu, lusanya juga sama, dimana-mana aku terus saja melihat handphone ku.
Berbulan-bulan kami tak saling berhubungan, ku lihat akun fasbuknya tak ada tulisan kalau dia sedang aktif, ku coba membuka akunnya, dia tidak mengganti kata sandinya sama sekali, pada hal sebelumnya aku pikir dia menggantinya.
Sering kali aku ingin menangis, tapi rasanya aku tidak rela mengeluarkan air mata ku demi dia.
Hari ini tepatnya, setahun sudah kami putus kontak, rasanya hati ku beku sekali, aku tak tahu harus apa, ini tak seperti cinta yang lainnya, sulit sekali untuk melupakannya, bukan aku tidak punya penggantinya, selama setahun ini aku sudah mencoba berhubungan dengan orang lain sebanyak 7 orang, tapi tetap saja, aku tak dapat melupakan si Temon.
Untuk pertama kalinya aku meneteskan air mata karena merindukannya, selama setahun aku terus saja memikirkan perkataan Temon.
Suatu hari, karena bosan dalam rumah, aku pun pergi berjalan-jalan menuju danau, saat aku telah sampai di danau, aku duduk di salah satu bangku di bibir danau, aku hanya diam saja di sana, merasakan hembusan angin di wajah ku yang kian sepoi-sepoi.
Perasaan ku kosong sekali, aku pun bersedekap, saat aku membuka lipatan tangan ku, tiba-tiba aku menyentuh sebuah jemari, yang membuat ku kaget sekali.
“Ah.. maaf aku enggak sengaja, maaf bangat.” ucap ku.
“Iya enggak apa-apa.” Saat aku melihat wajah orang itu, aku pun terperanjat, ternyata itu adalah Temon. Dan aku melihat Temon juga sama seperti ku, sepertinya kami sama-sama tidak mengetahui kalau kami duduk di tempat yang sama.
“Sefa.” Nico memanggil nama ku untuk pertama kalinya lagi. Aku mencoba menjaga jarak dari Temon.
“Sefa ini aku Temon, apa kabar?” ucapnya., Rasanya aku tak sanggup melihat wajahnya.
“Sefa, kamu masih marah pada ku? Lihat aku dong.” Temon membalikkan badan ku, betapa kagetnya dia saat melihat aku megeluarkan air mata.
“Temon.” aku menangis dan memeluknya.
“Ssstt... kamu kok nangis, kenapa? Ada apa?
Kamu benci ya sama aku?”
“Enggak Mon, aku sadar aku salah, maafin aku Mon, maafin aku karena sudah menyakiti mu selama ini,” ucap ku.
“Iya, alu sudah memaafkan mu, aku juga minta maaf Fa.” Kami berdua pun berpelukan, saat ku tanya apa Temon sudah dapat pengganti ku , dia malah tertawa dan berkata
“Belum.” senang sekali rasanya, mulai saat itu kami berbaikan lagi, alasan Temon tak menemui aku, karena dia ingin menangkan diri, rencanya sih sampai 2 tahun, tapi dia tidak tahan melihat kecantikan ku. Hahahaha... Temon, aku berjanji akan berubah.
Selesai.
__ADS_1