
Bela mengikuti saran dari ibu penjaga warung, setelah selesai makam, ia pun pergi ke pasar yang letaknya hanya beberapa meter dari warung makan tersebut.
Bela pun berkeliling pasar, lalu melihat tas yang mirip dengan tas pendaki pada umumnya, Bela pun membeli tas tersebut.
Kemudian Bela berbelanja logistik secukupnya, di rasa persiapan sudah matang, Bela mencari calo untuk mengantarkannya ke gunung L yang akan dia tuju.
Setelah mencari beberapa saat, akhirnya Bela bertemu dengan pak Narto, yang kebetulan tinggal di kaki gunung L.
Pak Narto pun bersedia memberi tumpangan pada Bela di mobil pickup sayurnya untuk menuju kesana.
Bela pun naik ke atas mobil, bersama beberapa beberapa wanita yang ikut juga menumpang di mobil pak Narto.
Sepanjang perjalanan, Bela tak melihat kemana pun, dia hanya termenung memikirkan nasib rumah tangganya yang tak jelas bagaimana kedepannya.
Hatinya yang sakit masih terus berdenyut, Bela yang memakai masker mengalihkan pandangannya dari orang-orang yang ada di mobil itu, untuk sekedar meneteskan air matanya.
“Ya Allah, aku benar-benar sudah tak bisa bersamanya, kalau dia terus menekan ku, berikanlah jalan terbaik untuk kami berdua,” batin Bela.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya mobil berhenti, lalu Bela celingak-celinguk melihat sekitar.
“Ternyata sudah sampai.” gumam Bela.
Bela pun turun dari atas mobil, lalu ia mendatangi pak Narto untuk memberikan ongkos, tapi pak Narto menolaknya.
“Sudah, mbak simpan saja uangnya, kalau mau naik gunung harus sopan ya, bersihkan fikiran, biar terjauh dari hal-hal.yang tidak di inginkan.” ucap pak Sarto.
Bela mengangguk tanda mengerti, lalu ia pun meninggalkan pak Narto menuju basecamp pendaftaran.
Saat mendaftar para petugas memperhatikan Bela, dengan tatapan yang sedikit aneh.
“Sendirian mbak?” tanya penjaga basecamp.
“Iya mas,” sahut Bela.
“Bahaya mbak kalau naik sendirian, apa lagi saya lihat mbak lagi banyak fikiran.” ucap penjaga basecamp.
“Enggak apa-apa mas.” sahut Bela dengan tersenyum tipis.
“Kalau enggak naiknya sama pemandu saja mbak.” penjaga basecamp mencoba memberi saran.
“Saya bisa sendiri, terimakasih atas tawarannya mas.” sahut Bela, setelah Bela selesai mengisi formulir pendaftaran, ia pun memulai pendakiannya pada pukul 15:00, waktu yang sudah lumayan sore.
Bela berjalan dengan menunduk mengikuti jalur setapak yang ada di depan matanya, terus ia berjalan tanpa melihat kanan kiri, tetap yang ada di fikirannya adalah masalah rumah tangganya.
Sampai pada suatu titik fikiran Bela berhenti karena ia mendengar ada suara langkah kaki di belakangnya.
Waktu itu Bela belum berfikiran aneh, karena ia juga tak perduli akan siapapun yang ada di belakangnya.
Tapi karena langkah kaki di belakang menimbulkan suara langkah yang begitu cepat, akhirnya Bela berhenti dan minggir ke tepi jalur, agar orang yang ada di belakangnya tersebut bisa jalan duluan.
Ketika Bela melihat, siapa orang yang ada di belakangnya, seketika Bela heran karena tidak ada siapapun selain dirinya.
“Apa orangnya sudah pergi sewaktu aku belum melihatnya? Tapi masa secepat itu, pada hal.kan jalurnya menanjak lurus.” batin Bela, namun Bela tak mau ambil pusing.
__ADS_1
Ia pun kembali melangkahkan kakinya, setelah beberapa jam, Bela pun sampai di pos 1 pada pukul 17:15 sore, cukup memakan waktu, karena Bela berjalan dengan sangat santai.
Bela beristirahat sejenak untuk mengguyur dahaganya dengan air mineral. Setelah 5 menit beristirahat Bela pun beranjak kembali, hari waktu itu sudah mulai gelap, apa lagi posisinya ia ada di antara pepohonan yang rindang menjukang ke langit.
Saat akan sampai ke pos 2, tiba-tiba turun kabut yang sangat tebal, hingga Bela tak dapat melihat apapun, disitu Bela mulai menangis, bukan karena ia takut, tapi karena ia merasa dimana pun ia berada, perjalanan yang ia tempuh tak pernah mulus.
Kemudian Bela berjongkok di jalan setapak yang telah di selimuti kabut tebal, tak lama ia mendengar suara langkah kaki dari belangnya.
Seketika Bela menghentikan tangisnya, karena ia tak ingin orang lain melihat air matanya.
Lama sudah ia menunggu seseorang yang memiliki langkah kaki itu, namun tak kunjung tiba di tempatnya, di situ Bela mulai merasa aneh.
“Apa ini namanya gangguan mistis di gunung?” batin Bela.
Setelah lama menunggu, kabut pun mulai menghilang, kini Bela tak dapat melihat apapun karena kondisinya memang sudah masuk malam hari.
Lalu Bela mengambil senter yang ada dalam kerirnya.
Tek!
Bela pun menyalakan senternya, betapa kagetnya ia saat melihat di depannya ada seseorang yang berdiri dengan pakaian pendaki lengkap.
Bela yang masih jongkok pun mendongak melihat wajah pendaki tersebut, yang ternyata adalah seorang laki-laki dengan pakaian yang sangat lusuh dan wajahnya pucat.
“Dimana teman-teman mu?” tanya pendaki misterius itu.
“Aku solo hiking” jawab Bela.
“Iya,” jawab Bela.
“Ayo aku temani,” ucap pendaki tersebut.
Bela yang tak mau berurusan dengan orang lain pun menolak dengan halus.
“Terimakasih, tapi saya akan pergi sendiri.” ucap Bela, seraya mulai mempercepat langkahnya, lalu entah mengapa Bela ingin sekali menoleh ke belakang, untuk melihat pendaki itu lagi, saat Bela menoleh, ia melihat pendaki itu menyeringai, sontak Bela berlari sekencang ia bisa meski jalurnya menanjak.
Lalu pelarian Bela terhenti, saat ia melihat di sorot senternya, seorang pria tepat ada di hadapannya, saat ia menyorot ke wajah pendaki itu, sontak Bela menelan air ludahnya.
“Dimana teman-teman mu?” tanya pendaki misterius yang sebelumnya Bela lihat. Seketika jantung Bela berdegup kencang.
“Berani sekali seorang perempuan melakukan solo hiking, sekarang apa kamu mau lanjut naik ke atas?” tanya si pendaki misterius tadi dengan pertanyaan yang sama, Bela hanya terdiam karena takut, lalu ia melihat ke sekitar.
“Bukannya ini tempat pertama kali aku bertemu pendaki ini?” batin Bela.
“Aku mau pergi sendiri saja, tolong jangan ganggu aku, aku hanya ingin sampai ke puncak.” ucap Bela yang sudah keringat dingin.
Lalu pendaki misterius itu tertawa menyeringai melihat Bela yang ketakutan.
Bela yang tak punya pilihan berjalan menerobos pendaki tersebut dengan mendorong pendaki itu agar bergeser dari jalur.
Dengan air mata berderai Bela berlari kembali sekuat tenaga, namun lagi-lagi ia bertemu dengan pendaki itu, dan memberikan pertanyaan yang sama, Bela yang pasrah, akhirnya memilih berjalan keluar jalur, ia terus berjalan ke depan tanpa memperdulikan apapun, sampai kakinya tersandung akar pohon, membuatnya jatuh menggelinding ke arah jurang.
__________________________________________
__ADS_1
2 kemudian pada pagi hari saat Aril terbangun dari tidurnya, ia membuka pintu rumahnya karena ada seseorang yang mengetuk.
Kriett!
Aril membuka pintu, dan ia lihat Bela yang telah pulang dengan penampilan tak karuan, penampilannya kotor dan lusuh, banyak bekas tanah liat di rambut dan baju Bela.
“Dari mana saja kamu?” tanya Aril pada Bela, namun Bela tak meresponnya.
Bela langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah ia selesai mandi, Bela memakai pakaian yang baru dari lemari, kemudian ia tidur di atas ranjang.
“Enak bangat ya kamu, habis kabur beberapa hari, pulang-pulang langsung tidur, masak sana aku mau makan!” hardik Aril.
Pada hal mereka baru melalui masa-masa sulit, Aril yang tak melanjutkan perihal perceraian mereka, malah tak terbesit di hatinya untuk meminta maaf pada istrinya tersebut, hati seorang wanita teramat lembut, jika suami meminta maaf, segala yang mengganjal di hatinya akan berkurang.
Lalu Bela duduk, dan melihat Aril dengan tatapan penuh kesedihan.
“Maafkan aku, selama ini tidak bisa menjadi yang terbaik untuk mu, tidak bisa menjadi seperti yang kau mau, maafkan pula atas kekurangan ku, maaf karena aku tidak cukup cantik untuk kau banggakan.” ucap Bela.
“Ngomong apa sih kamu!” pekik Aril.
“Maaf, jika aku selalu membuat mu malu, tak faham akan jalan fikiran mu, maafkan juga atas fisik ku yang tak membuat mu bahagia, maaf karena aku tidak dari kalangan berada, hingga orang tua mu malu akan diriku, dan tak mau menampakkan ku pada orang-orang, maaf pula untuk seluruh keluarga mu yang tak puas akan pengabdian ku sebagai ipar dan menantu, tenang saja suami ku, kali ini kita akan bahagia, kau akan mendapat apa yang kau inginkan selama ini.” ungkap Bela, dengan raut wajah sedihnya.
Lalu Aril menghela nafas panjang. “Kedepannya kamu harus lebih baik lagi.”
Saat Aril akan memeluk istrinya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya.
“Sebentar, aku buka pintu dulu.” ucap Aril pada Bela.
Aril pun beranjak menuju pintu utama, saat ia membuka pintu ia heran melihat banyak orang beramai-ramai datang ke rumahnya.
“Ada apa ya pak?” tanya Aril pada pak RT yang menjadi salah satu tamunya pagi itu.
“Yang tabah ya mas Aril.” ungkap pak RT.
Aril yang kebingungan tak mengerti maksud pak RT, lalu datanglah 2 orang mendorong brankar menuju rumahnya.
“Ambulance? Tadi aku enggak dengar mobil ambulance.” batin Aril.
Lalu petugas ambulance memberitahu bahwa itu adalah Bela, yang di temukan oleh beberapa pendaki di pinggir jurang sewaktu mendaki dengan keadaan tak bernyawa.
Aril pun membuka kantung mayat yang ada di atas brankar, lalu ia melihat wajah istrinya yang telah pucat pasif, Aril gemetaran, sontak ia berlari ke dalam kamar untuk memastikan Bela yang berbicara padanya tadi masih ada disana.
Sesampainya ia di kamar, tak ada Bela disana, ia hanya melihat baju yang bela kenakan tadi di atas ranjang, yang bila Aril ingat itu adalah baju yang Aril beli pertama kali pada Bela, baru-baru mereka menikah.
Aril pun menangis sesenggukan, timbul rasa penyesalan besar dalam hatinya, karena telah melukai hati istrinya.
Kini keinginan Aril telah terpenuhi, dengan kepergian Bela, yang selama ini dia ucapkan, meski tak sepenuh hati ia berkata, tapi Tuhannya memenuhi maunya.
SELESAI.
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1