
Setelah Faiq sampai ke tujuan, mulutnya menganga, mengapa tidak? Karena rumah yang di katakan Asi benar adanya.
Karena merasa berhak atas rumah bak istana itu, Faiq pun masuk begitu saja.
Kriieeettt.....
Ia membuka pintu utama yang terbuat dari kayu jati asli, penuh dengan ukiran-ukiran klasik.
“Bagus sih, tapi kenapa bangunannya harus bertemakan tempo dulu sih?!” ia sedikit mengeluh atas apa yang telah Asi berikan.
Faiq pun mulai berkeliling rumah, penerangan dalam rumah itu pun di bantu dengan lampu hias gantung yang bercahaya kan kulit pinang.
“Benar-benar jadul lampunya, nanti ku minta Asi ganti model lampu tahun 2022,” gumam Faiq.
Setelah ia mengelilingi seluruh lantai di rumah itu, ia pun menuju halaman belakang, Faiq mengernyit, saat melihat pemandangan disana.
Sebab udaranya sangat lembab, cuacanya juga masih berkabut, pada hal itu sudah sore, Faiq berjalan lurus, hingga ia mentok ke pagar besi pembatas tanahnya.
“Apa itu?” gumam Faiq.
Pasalnya, ia melihat banyak sekali orang-orang lalu lalang di hadapannya dengan berpakaian orang-orang zaman dulu.
“Pasar?” Faiq makin di buat bingung, karena tiba-tiba ada pasar tak jauh dari pandangan matanya.
“Aku tahu daerah ini, tapi aku enggak pernah tahu kalau ada aktivitas seperti ini.” karena merasa aneh, Faiq kembali lagi ke dalam rumahnya. Lalu ia pun duduk di atas sofa empuk yang berada di ruang tamu.
“Ada apa ini sebenarnya? Apa semua yang ku terima ini adalah nyata? Atau hanya ilusi semata?” karena takut kalau ia salah, Faiq pun memutuskan untuk menelepon Marlina, sang calon istri.
Saat ia hendak ingin mendial Marlina, sinyal dalam rumah itu malah tidak ada.
“Kan! Ada yang enggak beres nih!” Faiq pun buru-buru keluar dari dalam rumahnya.
Ketika ia telah berada di luar gerbang rumah mewah itu, tiba-tiba hawa panas menyengat kulitnya, polusi tercium dimana-mana, berbeda saat ia berada dalam pekarangan rumahnya tadi.
Ia yang melihat kembali ke layar handphonenya baru mendapati sinyal penuh.
Aku harus telepon Marlina, batin Faiq.
📲 “Halo sayang,” Faiq.
📲 “Halo mas?” Marlina.
📲 “Sayang, bisa enggak datang ke jalan X no 10 sekarang?” Faiq.
📲 “Hah? Untuk apa aku datang ke lahan kosong itu mas?” Marlina.
📲 Datang saja, nanti aku jelaskan,” Faiq.
📲 “Baiklah kalau begitu,” Marlina.
__ADS_1
Setelah menunggu selama 1 jam, Marlina pin tiba dengan menaiki motor.
“Mas, mau apa sih kita kesini?” tanya Marlina seraya membuka helmnya.
“Lihat.” Faiq menunjukkan rumah lantai tiganya. Sontak Marlina menoleh ke arah yang di maksudkan Faiq.
“Hah?!” ia pun terperanjat, karena baru melihat rumah semewah dan klasik itu.
“Bagus enggak?” tanya Faiq memastikan kalau bukan hanya dia yang dapat melihat rumah itu.
“Bagus mas! Tapi ini rumah siapa mas?”
“Rumah kita sayang.” jawaban Faiq membuat Marlina memberi tatapan sinis.
“Jangan bercanda deh mas! Rumah orang tua mu saja gubuk, kau saja hanya karyawan kontrak, mana mungkin kau bisa mempunyai rumah semewah ini! Lagi pula aku sering lewat sini, enggak pernah aku melihat rumah ini sebelumnya,” terang Marlina.
“Sebenarnya selama ini aku menyembunyikan identitas ku darimu, tapi sekarang karena kau akan jadi istri ku, enggak masalah kalau kau tahu aku ini adalah orang terlanjur kaya.” Mata Marlina menyipit, ia juga tak percaya begitu saja atas penuturan calon suaminya.
“Ayo kita masuk.” Faiq merangkul bahu Marlina untuk masuk kembali ke rumah itu.
Set.., saat keduanya menginjakkan kaki, di tanah pekarangan rumah itu, cuaca pun kembali sejuk. Marlina sempat merasakan aneh, namun ia tak terlalu memikirkannya.
Mereka pun masuk, dan Marlina di buat kagum, karena di dalam rumah semua perabotannya lengkap.
“Mas! Aku suka rumahnya, aku benar-benar enggak menyangka, kau benar-benarborang kaya!” ujar Marlina.
Singkat cerita, 2 hari sebelum jelang pernikahan di laksanakan, Faiq mendapat laporan dari sang ibu, bahwasanya dana untuk pesta pernikahan Faiq kurang 10 juta lagi.
“Tenang saja bu, akan ku berikan kekurangannya,” ucap Faiq dengan santai.
Ia pun kembali ke kamarnya, dan menuliskan permohonan pada Asi, bukannya meminta 10 juta. Faiq justru menuliskan 100.000.000 di buku misterius itu.
Alhasil kerutan di wajah Faiq semakin bertambah. Dan pada hari pernikahan, beberapa orang berbisik-bisik mengenai wajah Faiq yang tak ada auranya sama sekali, Faiq juga nampak 5 tahun lebih tua dari usianya.
Mantan rekan kerja yang bertemu dengannya 1 bulan yang lalu pun merasa heran, karena sebelumnya Faiq terlihat bugar.
Namun bagi Marlina itu tidak masalah, karena yang ia butuhkan adalah harta Faiq.
Seminggu setelah pernikahan, keduanya sama seperti pasangan lainnya yang di mabuk cinta. Setiap hari selalu dalam kamar.
“Mas, kau enggak kerja?” tanya Marlina.
“Besoklk aku akan mulai kerja,” terang Faiq.
“Awas, jangan sampai terlambat mas,” ujar Marlina.
“Tenang saja sayang, karena sekarang aku bekerja di perusahaan ku sendiri, ya meski pun kecil-kecilan,” terang Faiq.
“Usaha apa mas?”
__ADS_1
“Warung sembako, dan grosir baju dan juga beras.”
“Wah! Yang benar mas?” ucap Marlina tak percaya.
“Benar dong sayang.”
“Berarti mas benar-bensr banyak uang dong?”
“Jangan di ragukan lagi sayang,” ucap Faiq percaya diri.
Lalu Marlina memeluk tubuh suaminya, “Kalau begitu, belikan aku tas mewah, berlian dan juga emas,” pinta Marlina.
“Gampang, besok kita borong apapun yang kau mau!”
“Asyik! Terimakasih banyak mas!” seru Marlina kegirangan.
Saat Marlina tengah tidur, lagi-lagi Faiq menulis permintaan, kali ini nominalnya sangat fantastis, yaitu 2 Milyar, tentunya darah yang ia keluarkan pun semakin banyak. Dan wajah dan tubuhnya seketika menyusut, nyaris terlihat seperti bapak-bapak usia 50 tahun.
Pagi harinya, Marlina yang melihat perawakan suaminya yang sangat di luar dugaan merasa heran.
“Mas! Makin hari kok wajah mu makin gua, bahkan kau lebih tua dari ayah mertua?” tanya Marlina.
“Ah, masa sih sayang?” jawab Faiq.
“Iya loh mas, apa kau sakit?”
“Aku baik-baik saja kok sayang!” ucap Faiq.
“Baiklah kalau begitu, ngomong-ngomong kita jadi belanjakan mas?”
“Tentu.”
Mereka pun bergegas ke mall untuk membeli semua keinginan Marlina, mereka yang berjalan bersebelahan banyak mendapat sorotan dari orang lain, karena Marlina yang muda dan cantik harus bersebelahan dengan pria tua yang terlihat seperti ayahnya.
Aduh, bikin malu saja nih mas Faiq, main hari makin jelek! batin Marlina.
Selesai berbelanja, mereka pun pulang ke rumah.
“Mas, katanya kau mau pergi kerja, pergilah mas, nanti kalau kau di rumah terus, pemasukan kita darimana?” ucap Marlina yang sebenarnya sudah mulai jijik dengan penampilan Faiq.
“Baiklah sayang.” sebelum Faiq berangkat ia mencium kening istrinya.
Setelah Faiq pergi, Marlina mulai membuka sebuah kamar yang ada di lantai, tujuannya untuk tempat penyimpanan barang-barang mewahnya.
Krieett...
Ia pun masuk ke dalam kamar. dan melihat isi kamar tersebut, yang menyediakan ranjang besar dengan kasur yang empuk, dan di dekat jendela, ada sebuah photo hitam putih yang sangat besar.
Bersambung...
__ADS_1