
Ketika aku mengambil air dingin di dalam kulkas, handphone ku berbunyi. Saat aku lihat, ternyata nomor baru, aku sudah dapat menduganya.
“Pasti itu Hadi.” benar saja, saat aku buka SMS nya.
“Fatimah, besok kamu ada acara enggak?” Hadi.📱
“Enggak ada.” Fatimah. 📱
“Kita buka bersama yuk?” Hadi. 📱
Aku agak kegirangan saat Hadi mengajak ku buka bersama.
“Kemana?” Fatimah.📱
“Ke Tugu Bunga, aku lihat di sana asyik bangat buat buka puasa.” Hadi. 📱
“Gimana ya?” Fatimah.📱
“Ayolah, kita kan udah lama enggak bertemu, aku ingin ngobrol lebih banyak dengan mu Fatimah.” Hadi. 📱
Sebenarnya aku mau langsung bilang iya, tapi aku merasa harus jual mahal dulu, agar perasaan ku tidak kelihatan.
“Baiklah kalau kamu memaksa.” Fatimah. 📱
Aku jadi tertawa kegirangan, aku juga tak sabar untuk menunggu besok hari.
Pagi harinya, aku buru-buru membersihkan rumah, mencuci pakaian, setelah itu aku memasak buka puasa untuk keluarga ku, setelah semuanya selesai, aku pun mandi dan bersiap-siap.
Saat akan memilih baju, aku bingung mau memakai yang mana, saat ini perasaan ku ingin sekali terlihat cantik di hadapan Hadi.
Cukup lama aku memilih pakaian, lalu aku memutuskan untuk memakai baju gamis warna krem, dengan jilbab segi empat sutra yang berwarna merah muda.
Aku tersenyum sendiri saat melihat penampilan ku di kaca.
“Kenapa aku jadi seperti ini? Pacar bukan? Dia hanya teman jadul 11 tahun yang lalu.” saat aku masih asyik memandang diri di kaca, tiba-tiba klakson motor terdengar dari tepi jalan raya yang ada di depan rumah ku.
Lalu ku lihat dari jendela kamar ku siapa gerangan, ternyata itu Hadi, aku menjadi sangat bersemangat, mengetahui itu dirinya. Aku pun bergegas menemuinya.
“Kamu sudah datang ya?” tanya ku pada Hadi.
“Iya.” Hadi yang memakai baju putih terlihat manis dan bersih.
“Kita mau kemana?” Hadi bertanya kepada ku.
“Loh, kemaren kan kamu bilang, kita mau ke tugu bunga.”
“Iya ya, aku lupa.” entah ia bercanda atau tidak, tapi itu tidak masalah.
“Masih muda koks udah pelupa sih?”
“Iyalah nih, habis aku lagi banyak pikiran.”
“Kalau boleh tahu, memangnya lagi mikirin apa?”
“Mikirin kamu.” aku tercengang saat Hadi bilang begitu.
“Ada apa dengan ekspresi wajah mu itu?? GR ya?” Hadi mencoba menggoda ku.
“Ih, siapa bilang aku GR?” kenyataanya aku memang GR.
“GR juga enggak apa-apa kok, ayo naik kita berangkat.” Dengan hati-hati aku naik ke atas motor Hadi.
“Sudah Di.”
“Kalau begitu kita berangkat.” Hadi pun memutar gas motor bebeknya membelah jalan raya.
“Oh ya, kamu bilang pikiran kamu banyak, nyatanya yang di pikirin cuma satu macam doang”
“Memang hanya satu macam, tapikan yang satu ini buat pikiran membuat cabang menjalar kemana-mana.”
“Maksudnya?” aku pun bertambah bingung.
“Ada deh.” karena Hadi tak mau menjelaskannya, aku pun memilih diam.
__ADS_1
Jarak dari tugu rumah ku ke tugu bunga kira-lira 30 menit, selama 15 perjalanan aku tak mengajak Hadi lagi mengobrol.
“Fatimah.” ucap Hadi.
“Iya?” sahut ku, ku rasa Hadi mau memecahkan suasana canggung kami.
“Kamu kok sekarang jadi pemalu dan pendiam sih? Itu bukan seperti kamu saja, sewaktu SD dulu kan kamu banyak bangat ceritanya, kalau kamu sudah sudah buka mulut, pasti asyik sendiri, enggak kasih orang kesempatan buat ngobrol.”
“Ma-masa sih aku begitu?” kalau di ingat Hadi benar juga sih, tidak ku sangka ia masih mengingat dengan jelas.
“Iya, memangnya kamu sudah lupa?” tanya Hadi pada ku.
“Ah, maaf aku kurang ingat soalnya.” pada hal aku ingat, karena malu ku bilang saja kurang ingat.
“Makanya aku heran pas ketemu kamu kemarin, sikap mu berubah 90%.”
“Hahaha.... mungkin karena faktor umur Di.”
“Emang umur kamu udah tahun ini?”
“Tanggal 18 Juli nanti, umur ku akan 22 tahun.”
“Wah, sudah cukup umur dong ya?”
“Kamu sendiri berapa?”
“20 tahun.”
“Ha? Belum cukup umur dong kalau begitu?”
“Cukup enggak cukup sih, Tuhan yang menentukan.”
Tak berapa lama kami pun sampai di tempat tujuan, dan aku pun bertanya pada Hadi, “kita duduk dimana Di?”
“Di sini saja, dekat sama parkiran motor kita.” ujar Hadi pada ku.
“Oh.. ya sudah, berarti kita di sini saja ya?”
“Mau pesan apa kak? Bang?” tanya sang pelayan kepada kami berdua.
“Kamu mau pesan apa Fatimah?”
“Apa saja boleh.”
“Ok apa saja sih?”
“Ya terserah kamu, atau samakan saja menunya.” ucap ku pada Hadi yang sedang membolak-balik buku menu.
“Nurut bangat sih.” ucapnya dengan menyiratkan senyum di bibirnya.
“Ya sudah mbak, kami pesan ayam penyet 2 ya porsi, minumannya, just jeruk.”
“Oke bang, tunggu sebentar ya.” ucap sang pelayanan lalu bergegas ke tungku penggorengan.
Karena tak tahu mau membicarakan apa aku pun iseng bertanya pada Hadi.
“Kapan kamu pulang ke Jakarta?”
“Seminggu lebaran.”
“Oh, gitu ya, sekarang kamu sudah semester berapa?”
“Bentar lagi mau sidang.”
“Ha? cepat bangat?” ucap ku penuh tanya dalam hati.
“Enggak juga sih, cuma kami lebih cepat, abis kan di kampus kami, liburnya enggak lama-lama.” terang Hadi.
“Oh..., nanti kalau sudah lulus, kamu mau kerja, eh maksud aku kamu mau melamar kerja dimana?” tanya ku dengan serius.
“Di rumah sakit ayah.”
“Oh.. gitu ya?” sudah ku duga, orang kaya sepertinya tidak perlu repot-repot membuat CV.
__ADS_1
“Kamu kapan wisudanya?”
“Insya Allah bulan 10 ”
“Cakep dong.” dari belakang ku, pelayan tadi membawa pesanan kami, baru saja pelayan itu meletakkan pesanan kami, beduk sudah berbunyi, yang menandakan sudah waktunya berbuka puasa, kami pun berdo’a dan meneguk just jeruk kami.
“Ayo makan ayam penyetnya.” Hadi mempersilahkan aku untuk makan duluan.
Rasanya menyenangkan sekali, makan berdua bersama Hadi.
“Di, nanti kita sholat dimana ya? Kalau mau pulang ke rumah kan pasti enggak akan keburu lagi?”
“Oh iya, kamu benar juga ya, ya sudah kita sholat di Mesjid raya saja bagaimana?” tanya Hadi pada ku.
“oke, aku setuju.”
“Mmm... Fatimah aku boleh nanya sesuatu sama kamu enggak?”
“Boleh, mau tanya apa?”
“Kamu sehari-hari memang pakai hijab ya?”
“Memangnya kenapa?”
“Kan banyak cewek-cewek, kalau ke sekolah dan main-main saja yang pakai hijab, lepas dari aktivitas itu lepas hijab.”
“Aku pakai hanya saat ramadhan saja.” jawab ku dengan jujur.
“Kok gitu Fatimah? Pada hal kamu cantik loh pakai hijab.” aku tesentak mendengar Hadi berkata begitu, aku pun diam, tak menjawab perkataan Hadi.
Setelah selesai makan, kami pun pergi ke mesjid raya untuk sholat magrib. Dari dinding pembatas antara perempuan dan laki-laki aku melihat Hadi sholat begitu khusuk memakai kopiah berwarna putih, ternyata walau dia tinggal jauh dari orang tuanya, tak membuat dia berubah, dia tetap Hadi yang aku kenal dulu.
Lalu aku kembali tersenyum sendiri, dan rasanya, aku mengagumi mu Hadi. Aku pun sholat juga, saat aku berdo’a dengan sadar ku.
“Kalau aku memiliki nasib baik dengan Hadi, tolong jodohkan kami Tuhan.”
Selesai sholat, aku melipat mukenah yang ku pakai, tapi aku mulai kehilangan sesuatu, saat ku pegang kepala ku, ternyata jilbab ku tidak ada di dekat ku lagi.
“Jilbab ku mana?” aku mencarinya kemana-mana, aku juga menanyai orang lain, cukup lama aku di salam mesjid, hingga Hadi mendatangi ku ke tempat sholat wanita.
“Kamu lagi nyari apa sih?” dengan wajah cemas aku mengatakannya pada Hadi.
“Jilbab ku hilang.” sangat aneh, Hadi malah tersenyum pada ku.
Aku tak menggubris senyuman Jadi itu, aku pun kembali mencari hijab ku.
“Kamu kok jadi panik gitu sih kan cuma jilbab?”
“Kamu tunggu bentar, aku mau cari lagi.”
“Kamu mau kemana?”
“Sebentar saja.” cukup lama alu mencari jilbab merah muda ku itu, namun tak dapat ku temukan dimana-mana.
Lalu Hadi menghampiri ku kembali dan memegang pipi ku.
“Sudahlah, jangan di cari lagi, kamu tunggu disini sebentar ya, jangan kemana-mana.” aku pun mengangguk.
“Tapi jangan lama.”
“Iya.” Lalu Hadi pergi meninggalkan aku sendiri di dalam mesjid, aku tidak tahu Hadi pergi kemana saat itu, yang pasti aku menunggu seperti yang ia suruh.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Mutualan di IG yok, nanti ada trailer Save Yalisa kalau mau up!
Mampir juga ke karya author di bawah ini ya.
__ADS_1