
Rio adalah siswa kelas XII SMK1 Bunga Bangsa, Rio mengambil jurusan Seni, setiap hari Rio selalu bersemangat saat mengikuti pelajaran jurusannya.
Hari itu saat Rio memandang keluar jendela, Rio melihat Seva sedang di hukum karena terlambat, Rio memperhatikan Seva yang sedang berjalan jongkok keliling lapangan.
Seva di hukum lagi? batin Rio. Ia pun merasa kasihan sekali pada wanita itu.
Seva sendiri adalah siswi jurusan TKJ, Rio dan Seva sempat menjalin hubungan selama 1 tahun, karena Rio pernah ketahuan selingkuh dengan Mona, Seva pun mengakhiri hubungan mereka dan tak mau berbicara sepatah kata pun dengan Rio lagi. Ketika bel berbunyi, Rio pergi menemui Seva.
“Seva, kamu di hukum lagi?” tanya Rio.
Namun Seva yang masih menyimpan rasa sakit hati tak mau menggubris perkataan Rio, ia pergi tanpa melihat Rio sedikit pun
“Va, kamu kok enggak mau bicara pada ku? Seva apa kamu sebenci itu? Masalah kita itu sudah berlalu selama 1 tahun, dan kamu masih enggak mau biacara pada ku Va?” walau Rio mengatakan demikian Seva tetap tak mau menanggapi perkataan Rio.
Rio merasa kesal akan sikap sang mantan memilih kembali ke kelasnya.
Ali sang sahabat yang melihat Rio mendekati Seva lagi pun memberikan semangat.
“Sabar ya bro, itu semua tantangan yang harus kamu lewati untuk mendapatkan Seva kembali.”
“Enggak tahu Li, Seva masih saja seperti dulu, sejak dia katakan putus, tak ada lagi wajah ramah yang ia perlihatkan pada ku.” terang Rio.
“Wanita memang seperti itu, coba dulu kamu enggak selingkuh sama Mona, pasti semua masih sama.”
“Mana aku tahu Li kalau akan ketahuan, lagi pula aku itu sudah berjuang selama 1 tahun untuk mendapatkan hatinya dia lagi, tapi dia masih enggak mau kembali pada ku,” Rio benar-benar merasa patah hati akan Seva.
Ali yang melihat penderitaan sahabatnya pun tertawa dan mengusap bahu Rio, sementara Seva di kelasnya beristirahat mengipas wajahnya dengan buku.
“Va, aku lihat tadi Rio mendekati kamu lagi ya?” ucap Winda.
“Iya, dia pikir aku akan luluh kali Win?” ujar Seva.
“Sudahlah Va, kamu maafkan dia saja, lagi pula kamu juga masih suka sama diakan?” terang Winda yang tahu akan perasaan Seva.
“Enggak semudah itu Winda, kamu tahukan dulu semua orang menertawakan aku, hanya aku yang enggak tahu, kalau si Rio pacaran dengan Mona, dia jalan sama Mona setiap waktu, semua teman sekolah, guru-guru tahu hubungan mereka, bahkan Mona juga tahu kalau Rio itu pacar ku, tapi keduanya terang-terangan main gila, yang membuat paling sakit ya itu, enggak ada yang memberitahu ku.”
“Ya sudah terserah kamu saja, yang penting aku cuna mau bilang, jangan bohongi hati kmu Va, kalau nanti Rio udah bosan, kamu jangan mennyesal, dulu dia memang salah, tapi setahun juga bukan waktu yang singkat Rio menebus kesalahannya dengan terus bertahan mengejar mu.” penjelasan Winda membuat nata Seva berkaca-kaca, ia yabg masih cinta di lema, antara mempertahankan harga diri atau mengikuti kata hati.
Sementara itu Rio dan Ali berjalan menuju ruang praktek seni.
“Li, menurut kamu gimana, kalau aku masuk ke ruang guru sekarang?”
“Mau ngapain kamu ke ruang guru?”
“Aku mau umumkan, kalau aku sayang Seva.”
Ali kaget dengan ke ingin Rio tersebut “Kamu yakin? Memangnya kamu enggak malu apa? Dan kalau Seva marah bagaimana?” tanya Ali karena merasa khawatir.
“Enggak apa-apa Li, yang penting Seva tahu, dimana pun kapanpun, hanya dia yang ada di hatiku, dan aku enggak malu buat ungkapin perasaan ku padanya di depan umum.” terang Rio.
“Ya sudah, kalau kamu yang dengan apa yang akan kamu lakukan, dan menurut mu itu jalan yang terbaik, laksanakan.” ujar Ali.
Dengan tekat yang kuat, Rio pun melangkah ke ruang guru. Kebetulan yang sangat indah sang kepala sekolah adalah ayah Rio sendiri, sedang ada di ruang guru.
“Assalamu'alaikum,” ucap Rio.
“Wa'alaikum salam, kamu ngapain ke sini Rio?” tanya Ardi sang kepala sekolah.
“Rio mau make mic nya pak?” jawan Rio.
“Buat apa?”
“Rio sudah enggak tahan pak, peluang Rio buat mendapatkan Seva lagi kayaknya sudah sempit.” Ardi tak bisa melarang anaknya, karena ia juga tidak tega melihat Rio yang selalu resah, gelisah karena Seva.
“Baiklah, silahkan,” ucap Ardi.
“Test.. test.. hemmm, sudahkan pak?” bapak kepala sekolah serta guru-guru yang lainnya mengangguk iya.
“assalamu’alaikum cinta, maaf sebelumnya, saya mengganggu pembelajaran kalian semua, saya Rio dari kelas kesenian, saya disini Cuma mau mengumumkan, kalau saya ingin minta maaf pada mu Seva, karena sudah menyakiti perasaan mu selama ini.”
Seva yang mendengar pengumuman tersebut di ruangannya merasa malu bukan main, apa lagi saat Rio menyebut namanya.
“Dia sudah gila apa Win! Buat acara pengumuman segala!”
__ADS_1
“Kamu dengarkan dulu, kira-kira dia mau ngomong apa lagj.” seluruh penjuru sekolah mendengarkan Rio berbicara termasuk Mona.
“Seva, aku tahu, aku salah karena sudah pernah mengkhianati cinta kita, Va kamu boleh hukum aku, asal kamu jangan diamkan aku lagi, rasanya makin hari aku semakin enggak berdaya, kamu perlu tahu Seva, suara kamu adalah energi kehidupan ku, jasad mu adalah nyawa ku, kamu jangan abaikan aku lebih lama lagi Va, kamu boleh enggak menerima cinta ku lagi, asalkan kamu mau bicara dengan ku, setulus hati ku, aku masih menyayangi mu sayang, I love you Seva.”
semua orang yang mendengarnya merasa terharu, teman sekelas Seva pun membujuk Seva agar mau menerima Rio kembali.
Setelah selesai, Rio pun meletakkan mikroponnya di atas meja, dan pergi menuju ruang praktek semi semi dengan tetesan air mata.
Ali memegang bahu Rio, bu Nana selaku guru kesenian Rio, merasa kasihan pada anak didiknya itu.
“Ayo duduk Rio, ambil peralatan mu, dan tuangkan isi perasaan mu melalui lukisan yang akan kamu buat.” ujar bu Nana.
Rio pun mulai melukis dengan perasaan campur aduk, yang ada di dalam hatinya adalah Seva Seva dan Seva.
Sementara Seva keluar dari left komputer dengan perasaan yang tidak menentu, ia berjalan menuju kantin, dan arah kantin melewati ruang seni, tanpa sengaja Seva melihat Rio yang sedang melukis. Saat Rio menoleh ke arah jendela, Seva buru-buru pergi.
Tak terasa 2 jam telah berlalu semua siswa di persilahkan untuk keluar, saat bu Nana pergi ke ruang guru, bu Nana di panggil oleh bapak kepala sekolah untuk datang ke ruangannya.
“Ada apa pak?” tanya bu Nana.
“Bu Nana, apa saya boleh minta tolong pada ibu?”
“Minta tolong apa ya pak?”
“Tolong, anak TKJ dengan anak kesenian itu di gabung, inikan sudah mau ujian semester, buatlah Rio dan Seva 1 tim dalam pelaksanaan ujian praktek sekolah, mana tahu dengan itu meraka jadi punya waktu berdua, dan mungkin... ada peluang untuk mereka kembali lagi, saya tidak tega bu Nana, melihat Rio selalu gelisah, dia juga makin hari enggak semangat belajar, beda dari yang dulu.” terang Ardi.
“Kalau soal itu bapak tenang saja, besok saya akan umumkan, TKJ dan kesenian di buat satu ruangan, jadi ujian praktek mereka adalah seni lukis yang akan di buat gambar Art nya melalui Photoshop.”
“Terimakasih bu Nana.”
Keesokan harinya saat semua siswa dan siswi berbaris di lapangan, bu Nana mengumumkan pada semua anak didiknya untuk melihat teman satu kelompok untuk ujian praktek di papan pengumuman.
Ketika Seva melihatnya, siapa gerangan yang menjadi teman sekelompoknya, ia kaget buka main, karena ia satu tim bersama Rio sang mantan.
“Hah! Pasti para guru sengaja nih membuat aku dan Rio satu kelompok, tapi kalau di bantah juga pasti enggak di tanggapi.”
Rio yang telah tahu ia bekerja sama dengan sang mantan pun mendatangi Seva.
“Iya, dan aku yakin ini pasti ide mu!” pekik Seva.
“Enggak kok, kenapa kamu mikirnya gitu sih Va?”
“Sudah ah, jadi kita kapan mengerjakan tugasnya?”
“Bagaimana kalau nanti sore, sepulang sekolah, kita ke rumah mu?”
“Enggak ah, kita mengerjakannya di sekolah saja, bagaimana?”
“Oke.” Rio sangat bersemangat, karena dia dan Seva akan berada di tempat yang sama.
Setelah pulang sekolah. Seva dan Rio masuk ke ruang prakek seni, dengan ia membawa leptop nya.
“Jadi kita mau lukis apa nih?” Seva bertanya pada Rio.
“Gimana kalau kita lukis padang bunga saja?” jawab Rio.
“Apa? Padang bunga?” ucap Seva.
“Ayo kau duduk dulu.” Rio pun mempersilahkan Seva untuk duduk di sebelahnya.
“Ini peralatannya, sebaiknya kita mulai sekarang, karena waktunya hanya 1 minggu Va.”
Seva meletakkan tasnya dan mengambil kuas, Rio pun mengajari Seva tekhnik-tekhnik melukis yang baik, Seva hanya mengikuti arahan dari Rio.
Sesekali Seva curi-curi pandang pada wajah Rio dengan perasaan malu-malu, begitu juga dengan Rio.
Keringat Seva bercucuran karena cuaca yang sangat panas, ia pun menyeka keringatnya dengan tangannya yang bercat.
Rio yang melihat di wajah Seva ada noda cat, jadi tertawa kecil.
“Hahaha.”
“Kok tertawa sih?” ucap Seva tak mengerti.
__ADS_1
“Itu! Banyak noda cat di wajah mu,” ujar Rio.
“Masa sih?” Seva pun jadi ikut tertawa karena Rio.
“Sini biar aku bersihkan.” Rio pun membersihkan noda cat yang ada di wajah Seva, saat Rio memegang wajah wanita yang ia sayangi itu, Seva tiba-tiba merasa sangat malu bercampur gugup, begitu pula dengan Rio.
“Sudab enggak usah ah! Biar aku saja.” Seva menepis tangan Rio yang memegang tisu basah. Namun Rio memegang tangan Seva kembali.
“Biar aku saja,” ucap Rio.
Seva jadi salah tingkah dan tak dapat melihat wajah Rio, Rio tersenyum ketika melihat muka Seva memerah.
Setelah wajah Seva bersih, tanpa sengaja mata Rio melihat ke bibir Seva yang merah merona, jantung Rio langsung merdegup kencang, Ia pun melepaskan tangannya dari wajah Seva, lalu memegang keningnya, karena ia merasa sangat konyol.
“Kamu sakit kepala ya?” tanya Seva seraya memegang wajah Rio.
Rio dengan beranj memegang wajah Seva kembali, Seva yang sudah malu sebelumnya menjadi kaku, “maafin aku Seva.” Rio mengecup kening Seva dengan lembut.
Seva hanya terdiam dan menutup matanya, suasana itu mengingatkan meraka berdua dengan kenangan yang telah lalu, tak lama Rio melepaskan kecupannya dari kening Seva dan memeluk wanita cantik itu.
“Maafkan aku Va, aku sudah enggak bisa nahan ini semua, sejak kamu putuskan aku, aku rasanya mau mati, aku menyesali semua yang aku lakukan, bau mu, suara mu, mengecup dan memeluk mu aku rindu, jauh dari mu, aku enggak bisa sayang.”
Seva menangis dan memeluk Rio, “Aku juga sebenarnya begitu, aku enggak bisa hidup tanpa mu, tapi aku enggak suka kalau harus ada Mona, semua pengkhianatan mu membuat aku enggak bisa memaafkan mu dengan mudah.”
“Maafkan aku sayang, aku mengerti isi hatimu, aku juga sangat mrnyesal, menyes besar atas semua yang ku lakukan.” Rio dan Seva pun saling maaf-maafan, setelah selesai melukis mereka berdua pergi pulang seraya berpegangan tangan.
“Va, besok kamu datang ya,” ucap Rio.
“Kemana?” tanya Seva.
“Ke galeri sekolah, karena besokkan ada pameran dari anak Kesenian.” jawab Rio.
“Oh.. iya deh Insya Allah aku datang.”
Keesokan harinya Seva datang ke Galeri sekolah untuk melihat lukisan-lukisan dari anak jurusan kesenian, saat Seva sedang melihat-lihat, tiba-tiba ia terpaku melihat sebuah lukisan berukuran besar nan indah.
“Aku?” guman Seva tak percaya.
Rio yang berada di belakang Seva langsung memeluk tubuh Seva.
“Bagaimana lukisannya sayang?” tanya Rio.
“Itukan poto waktu kita masih pacaran dulu.” ucap Seva seraya menoleh ke arah Rio.
“Betul, kamu suka enggak?”
Seva mengangguk kepala dengan rasa haru “Kamu masih mau lihat yang lain?”
“Memangnya masih ada?” ucap Seva dengan perasaan riang.
“Tentu saja ada.” Rio membawa Seva ke ruang praktek seni, disana Seva melihat, banyak photo dirinya yang berada di koleksi lukisan Rio, ternyata selama 2 tahun, Rio hanya melukis wajahnya.
“Selama ini kamu hanya melukis aku?”
“Iya.” Dan di antara lukisan Rio buat adalah saat Seva di hukum di lapangan, ketika Seva pulang sekolah dan masih banyak lainnya.
“Aku enggak tahu ternyata selama ini kamu sangat mencintai ku.” ungkap Seva dengan nata berkaca-kaca.
Kemudian Rio membelai rambut Seva seraya berkata, “Setiap waktu ku, hanyalah menyesali kebodohan yang ku lakukan, awalnya aku pikir selingkuh itu indah, ternyata hanya membuat masalah tiada ujung di hati ku.”
Saat keduanya masih asik bernostalgia tiba-tiba mereka mendengar pengumuman dari ruangan galeri.
“Yang menjadi pemenang dalam pentas seni lukis kali ini adalah Rio Amanan Sergio, Rio dan Seva pun tertawa bahagia.
“Kemenangan ini untuk yang terkasih Seva Alzazira!” lanjut bu Nana si Juri galeri saat itu.
“Salamat ya Rio,” ucap Seva.
“Iya, terimkasih sayang, Seva kau maukan jadi pacar ku lagi? Aku janji enggak akan nakal lagi!" seru Rio bersemangat.
“Iya, aku mau sayang!” keduanya pun berpelukan seraya melakukan ciuman mesra.
Selesai.
__ADS_1