KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XLIV (Guru Idola Part 2)


__ADS_3

“Kenapa dia sebegitu cantiknya? Suara keras dan tegas, namun penuh gaya yang enerjik membuat siapa saja berfokus padanya, bu Asmara memang sosok guru yang beda dari yang lain, aku suka dia.” gumam Ricky.


Semalaman Ricky resah tak menentu, rasanya ia ingin bertemu dengan Asmara secepat mungkin.


“Lama bangat sih biar pagi, bisa gila aku mikirin bu Asmara terus.” ucap Ricky yang sibuk melihat jam di handphonenya berulang kali.


Ternyata perasaan suka yang Ricky penda di rasakan oleh para siswa lainnya juga. Pesona Asmara benar-benar menghipnotis kau adam.


Pagi harinya, Ricky dan siswa TKR lainnya, sudah berada dalam sekolah tepat pada pukul 07:00 pagi.


Sang satpam penjaga gerbang sekolah di buat heran.


Kenapa mereka bisa datang secepat ini? batin sang satpam.


“Ada apa dengan kalian? Biasanya juga kalian semua datangnya jam 09:00, atau kalau enggak di detik-detik pelajaran terakhir, dan kalian datangnya juga bukan dari gerbang melainkan melompat dari pagar belakang,” terang sang satpam.


Lalu Andri, salah satu siswa di kelas Ricky pun menjawab.


“Bapak kok ngomong gitu sih? Enggak senang banget ada perubahan dengan anak didiknya, iyakan guys!” semua siswa TKR lainnyapun menjawab “Iya.”


“Kalau memang begitu bagus sekali, bangga bapak sama kalian, ayo masuk!” sang satpam pun membuka gerbang, semua masuk ke parkiran dengan buru-buru, membuat sang satpam geleng-geleng kepala.


“Apa sih yang mau kejar? Tergesah-gesah sekali.” gumam sang satpam.


“Ndri, kamu kok cepat banget datang sekolahnya?” ucap Ricky.


“Kamu sendiri juga cepat? Lagi pula mau datang jam berapa pun itu urusan ku suka.” ujar Andri.


“Oh... aku tahu, pasti kamu kangen dengan masakan ibu kantin kan? Sebab kalau kamu jajan di kantin, ambil 5 gorengan, bayarnya Cuma 2, iyakan? Dapat banyak gratis jadi ketagihan,” ucap Ricky tertawa.


“Enggak usah usil deh bro, aku datang cepat, karena ingin belajar.” wajah Ricky yang tertawa langsung berubah menjadi tegang.


“Jangan bilang kalau kamu datang untuk bu Asmara.”


“Kalau iya memangnya kenapa? Ada masalah?”


“Eh, aku kasih tahu sama kamu ya, bu Asmara itu adalah teman dekat ku, dan sebentar lagi, kita akan menjalin sebuah hubungan, jadi kamu jangan coba-coba mendekati bu Asmara.” terang Ricky.


“Kalau itu sih aku sudah tahu, kalian akan menjalin hubungan ibu dan anak kan? Tapi kalau aku, akan menjalin hubungan yang sangat serius dengannya.” ucap Andri.


“Jangan mimpi!” pekik Ricky.


“Itu kenyataan,” ucap Andri. Selanjutnya Andri pun pergi meninggalkan Ricky masuk ke dalam kelas.


“Sok bangat sih dia sekarang.” gumam Ricky.


Selanjutnya Ricky menyusul ke dalam kelas, lalu ia duduk di sebelah Andry.


“Aku ingatin kamu ya sekali lagi, menjauh dari bu Asmara.” Ancam Ricky.


“Santai bro, gimana kalau kita taruhan saja?”


“Taruhan apa?”


“Siapa di antara kita yang lebih giat belajar, dan mendapatkan nilai tinggi, itu pemenangnya.” Andri memberi tantangan belajar pada Ricky.


“Oke, aku setuju.” tak lama setelah itu belpun berbunyi, Asmara masuk seperti biasa ke dalam kelas, dan menyuruh siswanya membuka buku pelajaran pada halaman selanjutnya.


Pagi itu pelajaran mereia tentang greeting. Asmara menjelaskan di depan dengan penuh ekspresi dan semangat.


“Oke anak-anak, jadi kalau greeting itu, kita lakukan pada saat bertemu dengan orang lain, contohnya.” saat Asmara masih ingin mengatakan perumpamaan Andri dan Ricky sama-sama mengangkat tangannya. “ada apa nak?” tanya Asmara.


“Kita mau jadi modelnya di depan bu.” ucap keduanya.


“Baiklah, silahkan maju ke depan.” dengan semangat Ricky dan Andri maju ke depan kelas.


“Ike, Andri nanti sebagai Rudi, dan Ricky sebagai Adam ya, tapi sebelumnya, ibu dulu yang memperagakannya.”


Asmara menyalam tangan Ricky, Ricky yang merasakan sentuhan tangan halus Asmara langsung berbunga-bunga dan deg degan.


“Bisa kita mulai?” tanya Asmara.


“Bisa bu.” jawab Ricky dengan begitu bersemangat karena bu Asmara masih menggenggam tangannya.


“Hai Ricky, good morning.”

__ADS_1


“Good morning Asamara.” mendengar Ricky menyebut namanya, Asmara sedikit risih.


“How are you today?”


“I’m very good, and you?”


“I’m also good!”


“Nah, begitu kira-kira contohnya, sudah bisa Andri dengan Ricky?” Ricky dan Andri setentak menjawab “Bisa bu!”


Ketika Ricky dan Andri praktek bersalaman, Ricky menggenggam kuat tangan Andri, begitu juga dengan Andri, sampai mereka menyelesaikan praktek greeting di depan.


“Okay, semua sudah mengertikankan, maka dari itu, ibu akan meminta kalian untuk membuat tugas rumah, ini diskusi bersama ya, 2 orang dalam satu kelompok.” Andri dan Ricky begitu antusias ingin mengerjakan tugas rumah yang Asmara berikan.


Tanpa terasa jam telah menunjukkan pukul 14.00 siang, yang artinya waktu pulang telah tiba.


Semua orang berhamburan keluar kelas, dan sama seperti kemarin, Ricky mengajak Asmara pulang lagi.


Meski Asmara telah menolak namun Ricky tetap memaksa, alhasil Asmara yang merasa tak enak hati menolak kebaikan Ricky langsung naik ke atas motor siswanya itu.


Setelah sampai ke rumah Asmara, Rick lagsung lanjut pulang, setibanya di rumah, Ricky langsung mengerjakan pekerjaan rumah yang Asmara berikan.


Begitulah setiap kali pertemuan bahasa Inggris, Andri dan Ricky selalu berlomba untuk mendapatkan nilai tinggi.


Jika Ricky mendapatkan nilai yang lebih bagus dari Andri, Ricky selalu memanas-manasi Andri, begitu pula sebaliknya. Hingga pada akhirnya, yang menjadi pemenangnya adalah Ricky.


“Sudah lihatkan kemampuan yang aku punya?” ucap Ricky dengan perasaan sombong. “Jadi aku harap kamu menjauhi Asmara.”


“Oke, aku mengaku kalah.” Andri begitu patah hati karena ia nasibnya.


Dan sepulang sekolah Ricky mengajak Asmara bicara.


“Bu, nanti malam ada cara enggak?”


“Enggak ada nak, memangnya kenapa?”


“Aku ingin mengajak ibu makan di caffe?” ujar Ricky.


“Aduh, gimana ya nak?” Asmara jadi ragu tak menentu.


“Baiklah, tapi janji jangan lama ya nak.” setelah Asmara keluar dari kelas Ricky melompat-lompat kegirangan, ia pun pulang ke rumah dengan perasaan gembira.


Pada malam harinya, Ricky datang ke rumah Asmara.


“Kita bisa berangkat sekarang bu?”


“Oh.. iya nak.” mereka pun berangkat menuju salah satu kafe favorit anak muda di kota mereka.


Setelah mereka sampai, Ricky mempersilahkan Asmara untuk duduk di sebuah kursi, yang letaknya di berada di roof top, selanjutnya mereka memesan makanan sesuai selera masing-masing.


“Ada apa sih sebenarnya? Kok kamu mengajak ibu untuk makan di kafe malam minggu begini?” tanya Asmara penasaran.


“Sebenarnya begini bu, ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan.” jawab Ricky.


“Apa itu nak?”


“Tapi ibu janji, jangan marah ya bu?”


“Iya, ibu enggak akan marah, ayo katakan yang sebenarnya pada ibu,” ujar Asmara.


Ricky bungkam cukup lama, ia sangat takut untuk mengatakannya.


“Tapi sebelumnya kita makan dulu bu, takutnya nanti pas saya bilang isi hati saya ibu jadi enggak selera makan lagi.” ujar Ricky.


“Isi hati?” gumam Asmara.


“Sudah-sudah bu, makan dulu bu, jangan di pikirkan.”


Dengan perasaan bertanya-tanya Asmara terus melihat Ricky. Sampai mereka selesai makan.


“Oke, kita sudah selesai makan, jadi apa bisa kamu bilang, alasan mu yang sebenarnya mengajak ibu kesini nak?” tanya Asmara kembali.


“Sebenarnya begini bu, aku... aku...aku suka sama ibu.” akhirnya Ricky mengungkapkan isi hatinya.


“Suka sama ibu?” Asmara tak menyangka Ricky menyimpan rasa padanya.

__ADS_1


“Iya, sudah lama aku menaruh cinta pada ibu, ku harap ibu mau membuka pintu hati ibu lebar-lebar untuk ku,” pinta Ricky.


Asmara mengambil nafas panjang, karena semua begitu mengejutkannya.


“Ibu jangan marah ya bu,” ucap Ricky ketakutan.


“Ibu enggak marah kok nak.”


“Jadi gimana bu?”


Kalau aku jawab sekarang bisa bahaya nih, batin Asmara.


“Bu! Ibu kok jadi bengong begitu?”


“Ehm, ibu boleh enggak jawabnya di rumah ibu saja? Karena ibu masih butuh waktu untuk berpikir, dan ibu enggak bisa langsung jawab sekarang.” terang Asmara.


“Ya sudah, kita pulang sekarang kalau begitu.” ujar Ricky.


“Sekarang? Cepat banget.” ucap Asmara.


“Tadi juga janjinya kita keluar hanya sebentarkan bu?” ujar Ricky.


“Iya sih, oke deh, kita pulang.”


Ricky yang ingin segera mendengar jawaban Asmara, melajukan motornya secepat kilat, tak terasa mereka pun telah sampai di depan rumah Asmara dalam waktu 15 menit. Kalau melaju dengan normal harusnya butuh waktu 40 menit.


“Jadi gimana bu?” tanya Ricky penasaran.


“Kamu mau dengar jawabannya sekarang?”


“Ya iyalah bu, masa tahun depan?”


“Sebelumnya terimakasih loh sudah traktir ibu tadi, tapi maaf banget, ibu enggak bisa menerima mu, karena ibu sudah punya pacar nak.”


Mendengar jawaban Asmara, wajah Ricky langsung pucat. Seolah tak bertenaga lagi.


“Kamu baik-baik sajakan nak?”


“Iya, aku baik bu, ya sudah kalau begitu, saya pulang sekarang bu,” ucap Ricky.


“Apa? Pulang sekarang?” Asmara merasa khawatir dengan raut wajah Ricky.


Ricky tanpa menjawab perkataan Asmara , melajukan motornya dengan perasaan gundah.


Sejak saat itu Ricky tidak pernah lagi masuk sekolah, Asmara cukup merasa bersalah, tapi apa boleh buat, Asmara telah memiliki kekasih.


Hingga pada suatu hari, Ricky kembali, Asmara jadi bersemangat melihat kehadiran Ricky duduk seperti biasa di bangkunya.


Asmara menjelaskan pelajaran mereka saat itu mengenai Reading, setelah Asmara menjelaskan dengab panjang lebar, Asmara mempersilahkan siswanya untuk bertanya.


“Sampai disini apa ada yang mau bertanya?” kelas cukup hening, tak ada yang mau mengangkat tangan.


“Baiklah kalau tidak ada lagi...”


“Saya bu” Ricky mengangkat tangannya dengan tiba-tiba.


“Kamu mau bertanya apa nak?”


“aku mau bertanya, ibu marah enggak pada ku?” tanya Ricky.


“Marah?” Asmara mengernyitkan dahinya.


“Iya, karena waktu itu saya menyatakan perasaan pada ibu?” semua teman-temannya melihat ke arah Ricky.


“Ibu enggak pernah marah pada mu nak.”


“Maafkan aku bu, aku sudah berbuat bodoh, tidak sepantasnya aku begitu.” ungkap Ricky.


“Kamu jangan berkata seperti itu nak, semua orang tidak ada yang bodoh, dan semua orang berhak menyukai siapapun, kecuali orang tua dan neneknya, tapi di balik itu semua, kita harus siap menerima keputusan orang lain terhadap apa yang kita utarakan,” terang Asmara.


“Jadi ibu benar-benar enggak marah pada ku kan?”


“Tentu tidak nak? Dan satu lagi, kamu beruntung datang hari ini, karena ini adalah hari terakhir ibu mengajar disini.” terang Asmara.


Ricky pun tersenyum, Aku enggak mendapatkan mu Asmara, asalkan aku masih bisa melihat mu itu sudah cukup, bodohnya aku, ku sia-siakan waktu ku untuk libur, pada hal, patah hati ku itu menyebabkan aku tidak bisa melihat senyuman mu yang seperi Sinar mentari di musim panas, itulah isi hati Ricky pada saat melihat Asmara yang tersenyum di hadapannya.

__ADS_1


Selesai.


__ADS_2