KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
BAB XLII (SAVE YALISA IN A DREAM PART 4)


__ADS_3

“Ma, mama!” suara Zanjil kembali mengembalikan kesadaran Yalisa.


“Sayang, kau sedang apa disini?” tanya Yalisa.


“Zanjil sudah menunggu mama selama 2 jam, tapi mama tak kunjung selesai mandi, makanya Zanjil kembali lagi ke kamar,” jawab Zanjil.


“Mama sudah mandi selama 2 jam?” Yalisa terkejut karena ia merasa baru saja memejamkan mata.


“Iya ma, lihat tangan mama juga sudah keriput, suhu airnya juga sudah dingin, ayo ma jangan lama-lama, aku tunggu di luar.” ucap Zanjil mendesak Yalisa agar selesai mandi.


“Baiklah, maafkan mama ya sayang, karena lupa waktu,” ucap Yalisa.


“Iya ma, enggak apa-apa.” setelah itu Zanjil keluar dari kamar mandi.


5 menit kemudian, Yalisa yang telah selesai mandi pun bergegas mengenakan pakaiannya.


Selanjutnya ia turun ke lantai satu, ketika ia telah sampai di ruang tamu, ia melihat Zanjil sedang duduk di pangkuan Leo.


Mau apa dia kesini? batin Yalisa.


Leo pun melihat kehadiran Yalisa, “Hei, kenapa berdiri disitu? Kemarilah,” ujar Leo.


Karena sudah terlanjur, Yalisa pun mendatangi zanjil dan Leo.


“Ada perlu apa kesini?” tanya Yalisa.


“Aku rindu Zanjil,” jawab Leo.


“Bohong ma, om Leo sebenarnya mau ketemu mama.” ucap Zanjil seraya tertawa.


Yalisa pun tersenyum canggung karena Zanjil, “Apa sih anak ini,” gumam Yalisa.


“Jangan berdiri saja, ayo duduk.” Yalisa pun duduk di sebelah Leo.


“Kalian benar-benar akrab ya,” ucap Beeve.


“Iya dong, Zanjil itu cocok sekali jadi teman mengobrol, karena selalu nyambung,” ujar Leo.


“Iya, dia memang selalu nyambung mau kita bicara apapun.” timpal Yalisa.


“Ma, Zanjil mau belajar dulu ya, karena besok ada pr.”


“A-tapi nak, om Leo...” Yalisa benar-benar merasa tak nyaman bila harus berduaan dengan Leo.


“Temani om Leo ya ma, Zanjil pergi dulu.” ucap Zanjil seraya menuju ruang belajarnya. Leo pun tersenyum melihat Yalisa grogi.


“Yalisa.”


“Hem??”


“Tahun ini usia mu 23 tahun kan?”


“Iya, kau juga kan?”

__ADS_1


“Iya, enggak di sangka ya, di usia kita yang masih muda, kita sudah menyandang status duda dan janda,” ucap Leo tertawa kecil.


“Namanya juga takdir Ilahi, kita bisa apa?”


“Tapi, apa kau belum berniat membuka hati?” tanya Leo.


Yalisa mengernyitkan dahi atas pertanyaan Leo, yang menurutnya belum pantas untuk di katakan.


“Ah, soal itu aku belum kepikiran, maaf.”


“Bagaimana pun, kita harus bisa lepas dari masa lalu, karena hidup tetap berjalan walau apapun yang terjadi,” terang Leo.


“Iya, aku tahu itu, tapi aku belum ada rencana membina rumah tangga untuk waktu dekat, kau tahulah, aku belum bisa melupakan Riski, walau pun itu sudah lama menurut kalian, tapi bagi ku itu seperti baru kemarin sore.” Yalisa yang masih dalam bayang-bayang Riski tak dapat bangkit dari keterpurukannya.


“Oh, begitu ya, aku paham kok, semoga luka hatimu segera sembuh.” ucap Leo.


Malam harinya, setelah selesai makan malam, pak Doni mulai membuka obrolan.


“Yalisa.”


“Iya ayah?” sahut Yalisa.


“Nak Leo baik sekali ya, dia juga sangat telaten mengurus Zanjil.” ucap pak Doni memberi kode.


“Iya kek, Zanjil mau banget kek, punya ayah seperti om Leo,” ujar Zanjil.


“Zanjil!” Yalisa melotot pada putranya.


“Yalisa, jangan begitu pada Zanjil, wajar kalau dia berkata demikian, karena sejak ia lahir, tak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah dan ibu, pada mu juga setelah kau sadar dari koma, dan hanya Leo lah yang selalu menyayanginya. Yalisa, bukannya ayah tidak suka atau apalah namanya, tapi ayah sebagai keluarga mu satu-satunya sangat setuju kalau kau menikah dengan Leo.” saran dari pak Doni membuat hati Yalisa bimbang, bagaimana pun ia tak punya siapapun untuk membimbingnya.


Satu bulan kemudian, setelah berpikir panjang lebar, akhirnya Yalisa setuju untuk menikah dengan Leo.


Tentunya keputusannya tersebut mendapat respon positif dari kedua belah pihak keluarga.


Setelah menunggu beberapa tahun, akhirnya Yalisa dan Leo resmi menjadi suami istri.


Pada malam harinya, pasangan pengantin baru itu merasa lelah dengan aktivitas mereka seharian. Akhirnya keduanya pun sepakat menunda malam Sunnah mereka esok hari.


Ketika Yalisa telah terlelap ia pun kembali bermimpi pada Riski.


🌻


Saat itu bersuasana dalam kelas mereka, bedanya hanya ada Yalisa di dalam ruangan itu.


Yalisa yang berpikir Riski masih membencinya hanya diam saja, tak berani bicara, meski dalam hati kecilnya ingin sekali menyapa.


Tanpa di sangka, Riski mendatangi Yalisa ke bangkunya.


“Kenapa kau diam saja?” ucap Riski seraya mengusap puncak kepala Yalisa. Sontak Yalisa mendongak dengan mata berkaca-kaca.


“Hari ini kau enggak marah pada ku?” ucap Yalisa. Lalu Riski duduk di sebelah kursi wanita yang pernah hadir di hidupnya itu.


“Kenapa aku harus marah pada mu Yalisa?”

__ADS_1


“Karena setiap kali kita bertemu, kau selalu memusuhi ku, sama seperti di masa lalu.” ucap Yalisa dengan berderai air mata.


Lalu Riski melihat ke bajunya, ia kaget karena saat itu ia mengenakan seragam putih abu-abu.


“Maafkan aku di masa itu, Yalisa istri ku.” Sontak Yalisa memeluk Riski yang berada di sebelahnya.


“Akhirnya kau ingat siapa aku, aku sangat merindukan mu Ki, dirimu yang sekarang yang aku tunggu-tunggu.” Yalisa begitu lega, karena kali ini ia memimpikan Riski suaminya, bukan Riski sang musuhnya lagi.


“Aku juga rindu pada mu, dan juga Zanjil.” Riski pun mengecup kening Yalisa.


“Oh ya? Zanjil juga sangat menyayangi mu, meski ia belum pernah bertemu dengan mu.”


“Aku tahu, karena jagoan ku itu sering mengirim do'a pada ku," terang Riski.


“Anak kita itu menang cerdas.” Yalisa pun menceritakan masa-masa yang ia jalani dan Zanjil tanpa kehadiran suaminya.


Riski hanya tersenyum, dan tak mau melepas pelukannya dari Yalisa.


“Zanjil sangat mirip dengan mu, harusnya wajah anak laki-laki mirip ibunya kan? Tapi ajaibnya dia mirip sekali dengan mu, sifat, tingkah laku, semuanya sangat dominan dengan mu, kadang aku kesal padanya, karena dia suka menggoda ku.”


“Ahahaha, pasti seru.” ucap Riski dengan tawa bahagia di bibirnya.


“Kurang lengkap tanpa kehadiran mu.” ungkap Yalisa dengan wajah bersedih.


“Tapi sudah ada Leo sebagai ganti ku, Yalisa cintai dan sayangilah dia, karena ia sangat tulus pada mu dan juga Zanjil, jangan menolak takdir, pernikahan mu dan dia karena restu dan kehendak Ilahi, ikhlaskan semuanya, layani Leo dengan baik, jadilah istri yang sholeha, dan jangan lupa do'akan aku, agar aku selalu berada di tempat terindah Allah SWT.”


“Jadi kau enggak marah, karena aku menikah lagi?” tanya Yalisa.


“Tentu saja tidak, justru aku senang, akhirnya kau punya imam yang baik, bahkan lebih baik dariku, maafkan aku yang tak sempat membimbing mu ke jalan yang benar,” ucap Riski.


“Jangan meminta maaf, karena itu bukan salah mu,” ucap Yalisa.


“Untuk itu, selalu selipkan aku dalam do'a mu di sepanjang waktu, karena aku sangat berharap berjodoh dengan mu di surga Ilahi Robbi.” Yalisa dan Riski pun menangis bersama, mereka mengingat kembali kebersamaan mereka yang begitu singkat.


“Apa boleh aku mencium mu bang.” untuk pertama kalinya Yalisa memanggil suaminya tanpa sebutan nama.


“Iya, ade Yalisa ku sayang.” Yalisa pun mengecup bibir Riski. Setelah itu Yalisa mengencangkan pelukannya, kembali.


“Abang, kita berdua saling mendo'a kan ya, agar berjodoh kembali, aku menyayangi mu sampai kapan pun sayang.” ucap Yalisa dengan suara bergetar karena menangis.


“Iya sayang.” sebagai penutup mimpi kali itu, Riski mengecup puncak kelapa Yalisa, dan meninggalkan sedikit salivanya.


🌻


“Sayang, sayang!” Leo membangunkan Yalisa, karena waktu telah memasuki subuh. Lalu Yalisa membuka matanya yang basah.


“Maaf bang, kalau aku terlambat bangun.” ucap Yalisa. Leo yang menerima panggilan baru itu tersenyum tipis.


Ada angin apa yang membuat mu memanggil ku abang Yalisa, batin Leo.


Yalisa melalukan itu semua karena ingin menjadi istri yang berbakti, ia berharap dengan begitu, jalannya di permudah untuk bersama Riski kelak.


1 tahun kemudian, Yalisa mengandung pun anak Leo, semua orang menyambut bahagia atas kabar baik tersebut.

__ADS_1


Sejak saat itu, kehidupan Yalisa begitu berwarna, Riski juga sering hadir dalam mimpinya sebagai penyemangat nya di kala sedih.


Selesai.


__ADS_2