
pluk!
Aku terkejut, saat melihat adik ku Maheera melemparkan sebuah batu yang lumayan besar ke arah burung gagak.
“Berisik bangat dari tadi, burung siala*.” adik ku mengumpat karena kesal, dan berkat lemparannya yang tadi, para burung gagak itu pun terbang berhamburan.
Pada saat yang sama, ayah pun telah berhasil mencapai papan penutup liang lahat ibu.
Dengan cepat ayah mengeluarkan kayunya satu persatu ke permukaan, dan perlahan-lahan, kain putih yang telah bernoda tanah pun terlihat.
Aku semakin lemas, saat ayah telah menggapai jasad ibu, yang tengah mengeluarkan bau amis.
Maheera pun menyorot cahaya senter ke wajah ibu yang sudah lebam. Lalu ayah menggendong ibu, dan meletakkan jasadnya ke hadapan kami.
Aku sangat takut melihatnya, aku hanya terus berzikir, setelah 30 menit menunggu akhirnya ayah selesai juga menimbun kuburan ibu seperti semula.
“Ayo jalan, Khadijah kamu di depan ayah di tengah Maheera yang di belakang.” kami berdua pun menurut atas titah yang ayah berikan.
Kami berjalan beriringan di waktu yang mendekati subuh.
Setelah sampai ke mobil, ayah menyuruh kami masuk duluan, kami duduk tepat di belakang kursi pengemudi, lalu secara mengejutkan, ayah meletakkan ibu di pangkuan kami berdua.
Aroma tak sedap dari ibu memenuhi ruangan mobil. Tanpa terasa air mata ku pun mengalir sendiri, terlebih kepala ibu ada di atas paha ku.
Ayah pun masuk, menyalakan mesin mobil dan mulai membelah jalan raya.
Sesampainya di rumah, ayah menggendong jasad ibu menuju kamarnya.
Aku tak bisa berkata apapun, ku lihat wajah adik dan ayah ku teramat senang, entahlah apa yang akan ayah lakukan selanjutnya.
Karena lelah, aku tak ikut masuk ke kamar ayah, aku lebih memilih pergi ke kamar ku untuk tidur.
“Aku enggak mau tau lagi, lebih baik aku beristirahat, terserah ayah mau berbuat apa.” gumam ku.
Pukul 08:02, aku terbangun dari tidur ku, karena haus aku beranjak menuju dapur untuk melepas dahaga yang tengah kering.
Saat aku telah sampai ke dapur, aku heran karena di atas lantai di samping meja makan telah ada bathup berwarna putih.
Di dalam bathup, ku lihat ayah sedang membersihkan tubuh ibu bulat-bulat, dan aku pun mencium aroma jeruk nipis yang sangat kuat, lalu di atas lantai juga ada botol cuka, bungkus garam dan kulit jahe.
“Ayah, ayah lagi ngapain disitu?” tanya ku yang bingung, tentang ayah yang mau berbuat apa lagi sekarang.
“Ah, Khadijah, kamu sudah bangun nak? Cepat cuci wajah dan tangan mu dengan bersih, bantu ayah siapkan bahan-bahan masakan yang akan kita buat,” titah ayah dengan semangat.
“Kita mau masak apa yah?”
“Mau masak rendang, malam kita adakan hajatan, ya bersedekah gitu, atas kepulangan ibu mu,” ucap ayah yang masih membersihkan tubuh ibu dengan sarung tangan kain.
“Oke,”
Aku pun mengikuti titah ayah, setelah selesai mencuci muka dan tangan, ku buat bumbu untuk olahan rendang.
Setelah selesai, aku pun mencari-cari daging yang akan di bersihkan.
“Dagingnya mana yah?” tanya ku yang masih sibuk melihat isi kedua kulkas kami secara bergantian.
“Disini.” aku pun menoleh ke arah ayah.
“Ibu mu yang akan kita masak.” ucap ayah dengan santainya, ember kecil yang ada di tangan ku pun seketika lepas dari tangan ku.
__ADS_1
“Maksud ayah apa?”
“Ayah, akan memasak ibu, tenang saja, rasanya akan enak, seperti daging lainnya, nanti kita akan bagikan ke para tamu, agar ibu mu bisa menyatu mendarah daging dengan seluruh masyarakat lagi, kamu ingatkan waktu ibu mu meninggal, peziarah juga sebenarnya belum reka kalau ibu mu pergi.”
“Yah, apa itu tidak keterlaluan?” ucap ku dengan rasa kesal.
“Sudah kau jangan banyak cerita, berikan pada ayah pisau pemotong daging, ayah mau memutilasi sekarang.” ujar ayah.
Aku tak mau mengikuti permintaan gila ayah itu lagi, karena aku tak bergeming, ayah berdiri sendiri untuk mengambilnya, lalu ku lirik wajah ibu yang begitu kasihan.
Saat aku fokus pada wajah ibu, tiba-tiba ibu membuka matanya. Sontak aku mundur ke kebelakang hingga menabrak tubuh ayah.
“Ada apa Khadijah?” Tanya ayah.
“Yah, tadi ibu membuka matanya ,coba ayah lihat.” ucap ku seraya menunjuk ke arah ibu.
“Ah, enggak mungkin, coba ayah periksa.” Ayah pun berjalan ke arah bathup dengan membawa parang dan talenan di kedua tangan ayah.
“Mana? Pasti kamu berhalusinasi, atau kamu lagi sakit?” tanya ayah seraya mendekatkan bola matanya ke wajah ibu.
“Enggak yah, tadi beneran ibu membuka mata.” Ucap ku mencoba menyakinkan ayah.
“Sudah, sudah, jangan banyak cerita, bantu ayah sini.” ucap ayah yang menganggap aku berbohong.
“Ya Allah pertanda apa ini.” batin ku.
Ku lihat ayah mengambil plastik besar dari dalam laci, kemudian di gelar di atas lantai, lalu ayah mengangkat tubuh ibu ke atas plastik tersebut.
Lalu ayah meletakkan talenan di bawah pergelangan tangan ibu dan.
Tak! tak! tak!
Setelah selesai ayah memotong bagian tangan, ayah pindah ke leher ibu, tanpa rasa kasihan ayah menggorok leher ibu, mirip seperti menyembelih ayam.
Belum usai rasa takut yang bersemayam di hati ku akibat melihat ibu membuka mata, ayah malah menyajikan tontonan yang tidak kalah ekstrimnya di depan mata ku, adegannya mirip sekali di salah satu film psikopat yang di tonton adik ku.
Tak tak tak tak!
Ayah terus memotong-motong bagian demi bagian tubuh ibu hingga menjadi bagian kecil. Setelah itu ayah menyuruh ku untuk menyalakan api di tungku, di belakang rumah, agar sebelum di masak, ibu di panggang sebentar, agar dagingnya terasa lezat.
Ayah juga memisahkan tulang belulang ibu, yang jemari, kaki dan bagian kepala di kubur di belakang dapur, sementara tulang-tulang lainnya, di buat menjadi masak sub tulang. di campurkan dengan tulang sapi lainnya.
Selagi aku membakar tempurung untuk menjadi arang, ayah menyuruh ku masuk kembali, untuk membantunya membersihkan daging ibu. Maheera yang baru bangun pun ikut bergabung.
Hampir 3 jam kami membilas daging-danging ibu, setelah itu kami membawa ke pemanggangan untuk di panggang. Aku pun tak lupa mencium tangan ku, ajaibnya tak ada bau amis sedikit pun, mungkin berkat air jeruk cuka dan jahe yang ayah rendam kan ke tubuh ibu tadi pagi.
Setelah kurang lebih 2 jam memanggang kami pun masuk ke dalam rumah, dengan membawa daging ibu sebanyak 2 emper anti pecah.
Ayah pun mengajari kami cara mengolah daging yang benar.
Pukul 15:30 akhirnya, hidangan untuk pengajian telah selesai. Kini di meja makan kami yang besar telah tersusun rapi, rendang daging 1 ember besar, sup tulang 1 panci, berbagai macam jenis sayur yang telah di rebus dalam 3 baskom besar, serta sambal tauco dan mie goreng.
“Coba, Khadijah kamu cicipi rendang dagingnya.” Titah ayah dengan memberikan sepotong daging lada ku di atas sendok makan.
“Enggak ah ya, Maheera saja.” ucap ku yang merasa jijik dan mual harus memakan daging ibu ku sendiri.
Dan tanpa di suruh, Maheera langsung mengambil sepotong daging dari dalam kuali dengan sendok makanya.
“Gimana Maheera, enak?” tanya ayah pada Maheera yang masih mengunyah.
__ADS_1
“Enak yah, dagingnya lembut.” ucap adik ku seraya memberi jempol pada ayah.
“Tuh, kalau ayah yang masak pasti enak, jadi kamu coba sedikit Khadijah, ayah jamin kamu ketagihan.” ucap ayah seraya mengambil nasi di atas 3 piring.
Maheera yang sudah lapar, langsung mengambil daging baru lagi dari dalam kuali, ia juga menyiram nasinya dengan kuah sup tulang. Lalu ia dan ayah makan dengan lahap.
“Apa seenak itu?” batin ku pun keheranan melihat ayah dan adik ku menambah nasi dan lauknya. Itu cukup membuat ku penasaran.
Dengan masih ada rasa ragu dalam dada, ku ambil nasi yang di ambil ayah tadi dari tas meja, lalu ku geser bangku ke belakang, agar aku dapat mendudukinya, lalu ku ambil daging rendang sepotong kemudian ku siram dengan sup tulang, tak lupa ku tambahkan mie goreng dan sambal tauconya.
Nyam nyam nyam...
Saat ku suap ke dalam mulut, tak ku sangka rasanya lezat dan luar biasa, aku tak tahu antara daging manusia seenak dan selembut itu, atau karena kekuatan memasak ayah ku, yang membuat daging busuk jadi tak berbau amis sama sekali.
Pukul 19:23, setelah warga selesai membaca surat Yasin, aku ayah dan Maheera, mulai menyajikan jeda makan malam untuk yang turut hadir malam ini.
Setelah selesai membagi makanan dalam sebuah piring, lengkap dengan minuman teh panas, semua anggota wirit Yasin, menyantap makanan yang kami berikan.
Tak ku sangka, satu pun di antara mereka tak ada yang sadar, bahwasanya mereka memakan daging manusia.
Ku lihat ayah yang duduk di samping pak Ustad tersenyum puas.
3 Hari setelah acara perjamuan itu, saat aku akan berangkat ke kota untuk sekolah, mendadak Maheera masuk ke dalam kamar ku.
“Kak!” Teriak Maheera.
“Kenapa Maheera?” tanya ku yang menoleh ke arahnya.
“Ayah, ayah sakit kak,” ucap Maheera dengan wajah pucat karena panik.
Aku pun bergegas ke kamar ayah, untuk mencek keadaan ayah, saat sampai ke kamar ku lihat tubuh ayah penuh keringat, nafasnya juga sesak.
Lalu letakkan telapak tangan ku di kening ayah.
“Panas,” gumam ku, lalu ku suruh Maheera untuk menelpon dokter, agar segera datang ke rumah.
Saat Maheera sedang sibuk menelepon dokter ayah tiba-tiba menggenggam tangan ku.
“Khadijah, rasanya ayah sudah tak lama lagi, tadi malam ayah bertemu ibu mu dalam mimpi, dia marah sekali pada ayah, entah apa salah ayah, lalu bangun-bangun ayah sudah sakit begini.” ucap ayah dengan menitihkan air mata.
“Ayah, jangan bicara aneh-aneh, ayah cuma demam biasa, pasti sembuh.” ucap ku menyemangati ayah, saat ku perhatikan, sepertinya dari tadi ayah memandang ke langit-langit kamar ayah, aku pun ikut melihat ke arah mata ayah memandang, tak ada apapun selain bola lampu yang masih bersinar terang.
Saat aku mengembalikan pandangan ku ke wajah ayah, ayah terlihat aneh.
“Yah, ayah? bangun yah! ayah!” tangis ku pecah saat tahu, ayah telah berpulang ke Rahmatullah, Maheera yang baru kembali menelepon ikut menangis saat melihat ku menangis.
Kini hanya tinggal kami berdua di dunia ini, setelah ayah di kebumikan, satu persatu warga meninggalkan makam ayah.
“Maheera,” ucap ku.
“Apa kak?” sahut Maheera.
“Nanti malam kita galih kuburan ayah,” titah ku pada Maheera.
SELESAI.
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1