
Cika adalah seorang siswi yang duduk di kelas VII SMP, ia adalah salah seorang siswi yang bersemangat dalam menjalani pembelajarannya di sekolah.
Ia juga terkenal dengan kegemarannya menanam bunga. Karena di halaman rumahnya nampak jelas berbagai jenis bunga yang tumbuh subur.
Suatu hari, Cika yang mengikuti studi tour bersama kelasnya ke salah satu rumah tua yang memiliki sejarah terkenal dengan ke mistisannya di kota X, tanpa sengaja ia melihat sebuah bunga langka yang begitu indah, perawakannya mirip seperti seorang gadis yang menari nama bunga tersebut adalah bunga gadis mungil atau impatiens Bequaerti.
Cika yang selalu tertarik akan bunga memutuskan untuk mengambil bibit bunga tersebut secara diam-diam.
Setelah pulang studi Tour, Cika menanam bunga gadis mungil itu di bawah jendela kamarnya, berhubung pekarangannya kurang saat itu untuk menanam di area lainnya.
2 hari setelah ia menanam bunga, semua masih baik-baik saja, tak ada kejadian aneh, namun setelah akar bunga gadis mungil itu telah menyatu dengan tanah, kejanggalanpun bermunculan satu persatu.
Kamis malam, tepatnya pukul 21:00, ketika Cika sedang mengerjakan pr, tiba-tiba ia mendengar suara tawa beberapa anak kecil dari luar kamarnya.
Hihihi
Hehehe
Cika menurunkan alisnya, pasalnya malam-malam begitu tidak mungkin ada anak kecil yang berkeliaran di sekitaran rumahnya, apa lagi rumah Cika pekarangannya sangat luas, jadi apapun yang di terjadi di jalan raya tidak akan terdengar ke dalam rumah.
Tawa dari siapa itu? batin Cika.
Di rasa ia hanya salah dengar, Cika pun mengabaikannya. Saat Cika akan melanjutkan tugasnya kembali, lagi-lagi ia mendengar suara tawa yang sama. Ia yang penasaran membuka gorden jendela kamarnya, dan melihat ke kanan dan ke kiri namun tak ada siapapun.
Karena semua aman-aman saja, Cika kembali menutup gorden kamarnya, ketika ia menoleh ke meja belajarnya, ia mengernyitkan dahi, karena tiba-tiba setangkai bunga gadis mungil ada di atas buku tulisnya.
“Hah? Kok bisa ada disini?” gumam Cika.
Ia yang masih berpikir positif tak terlalu memasukkan dalam hati. Karena tugas pr nya sudah selesai, Cika menutup buku tulisnya berserta bunga gadis mungil tersebut di dalamnya.
Pukul 02:00, Cika terbangun dari tidurnya karena mendengar anak kecil menangis.
Hiks... hiks... hiks...
“Ada apa lagi sih, aku ngantuk!” pekik Cika.
Karena suara tangisan itu tak kunjung menghilang, Cika bangkit dari ranjang dan mencari asal tangisan tersebut, namun ia yak menemukan dimana pun.
Alhasil Cika yang lelah membiarkan suara tangisan itu begitu saja.
Pagi harinya, Cika yang telah berada di sekolah, mendapat tatapan aneh dari siapapun yang melihatnya.
“Hei, ada apa dengan wajah mu?” tanya Dahlia sang sahabat, sekaligus teman satu mejanya.
“Memangnya kenapa?” tanya Cika kembali.
“Kok ada bekas merah-merahnya gitu? Seperti kena gigit” jawab Dahlia.
“Nyamuk kali yang gigit,” ucap Cika.
“Bukan loh, ini sih mirip gigitan anak kecil, lihat ada bekas gigi!” terang Dahlia.
“Ah! Masa sih?” Cika yang tak percaya mengambil kaca mini dari tasnya.
Ketika ia melihat wajahnya dari pantulan cermin, ternyata benar saja, ada 5 bekas gigi di wajahnya.
“Tadi pagi ini enggak ada loh!” ucap Cika panik.
“Ehm, kamu enggak sadar kalau itu ada?”
“Ya iyalah, memang anak kecil mana yang akan menggigit ku? Aku kan anak bungsu satu-satunya di rumah!” terang Cika.
Tet... tet...
Tak terasa bel sekolah pun berbunyi, tanpa pembelajaran akan segera di mulai.
“Selamat pagi anak-anak!” ucap bu guru Seli pada anak didiknya.
“Pagi juga bu,” jawab para siswa dan siswi.
“Oke, buka buku matematikanya anak-anak, dan jangan lupa, kumpulkan pekerjaan rumahnya ke depan ya!” ujar bu Seli.
Cika pun mengambil bukunya, dan membuka lembaran tugasnya yang terdapat bunga gadis mungil.
Dahlia yang tak sengaja melihat bunga tersebut terkejut.
“Hei, bukannya ini bunga yang ada di rumah tua kemarin? Kenapa ada di kau?” tanya Dahlia.
“Aku memetik bibitnya karena suka,” terang Cika.
“Kau ini ada-ada saja, bukannya apapun yang ada disana enggak boleh di bawa pulang?”
__ADS_1
“Aku tahu, tapi bunga ini benar-benar unik dan langka, wujudnya mirip anak kecil Yang sedang menari,” terang Cika.
Lalu Dahlia memegang tangkai bunga gadis mungil tersebut, “Cika, bunganya kok terlihat hidup ya? Pada hal sudah kau lipat dengan buku, tapi bunganya terlihat baru di petik,” terang Dahlia.
“Oh iya-ya, aku baru sadar Lia,” ujar Cika seraya meletakkan bunga gadis mungilnya di atas meja.
“Sini, biar aku yang mengantar tugas mu ke depan,” ucap Cika.
“Oh, oke.” ketika Cika sedang mengantar tugas mereka berdua, Dahlia memegang kembali tangkai bunga tersebut, ketika ia melihat dengan seksama ke bunga gadis mungil itu, tiba-tiba bunganya memberi senyum lebar lada Dahlia, sontak Dahlia melempar bunga itu ke lantai.
Astaga, apa benar yang ku lihat tadi? batin Dahlia.
Cika yang baru kembali melihat bunganya tergeletak begitu saja, lalu ia pun memungutnya.
“Kenapa kau buang?” tanya Cika.
“Aku enggak tahu kau percaya atau tidak, tapi tadi bunga mu itu tersenyum pada ku, ih! seram banget, ku rasa bunga itu ada penunggunya, lebih baik kau buang Cika!” ucap Dahlia.
“Apa-apaan sih kau! Dari pada di buang, lebih baik di makan kan? Hehehe.” tanpa di duga, Cika langsung melahap bunga gadis mungil itu dengan lahap, mata Dahlia sontak membelalak, ia juga bergidik ngeri melihat Cika yang begitu gila menurutnya.
“Cika,” bisik Dahlia.
“Ssst... pelajaran sudah mau di mulai,” ucap Cika.
Sejak saat itu, Cika sering kali bertingkah seperti bukan dirinya.
Contohnya, ia suka menari di kelas pada saat-saat yang tak terduga.
“Halo teman-teman, lihat aku, nih aku memiliki goyangan hot masa kini!” Cika pun naik ke atas meja, lalu memberi tarian tak jelas bahkan juga erotis. Sebagian orang merasa terhibur dan sebagiannya lagi merasa terganggu.
Banyak yang memberi gosip miring terhadap Cika, pasalnya Cika adalah gadis yang kalem, dan juga santun perubahannya hang begitu mendadak membuat orang-orang menyimpulkan kalau Cika memakai obat-obatan terlarang.
Cika yang bak anak kecil sering kali bermanja-manja pada lawan jenisnya tanpa lihat siapa itu orangnya. Dahlia sudah sering kali menasehatinya, namun Cika tak perduli, ia bahkan seperti tak mengenali sahabatnya itu.
Suatu malam, tepatnya pukul 01:00 Dini hari, Dahlia yang tengah terlelap bermimpi pada Cika.
“Lia! Tolong aku! Hiks...” Dahlia melihat Cika berada di sebuah kamar gelap, tubuhnya di penuhi lilitan rantai.
“Cika! Kau kenapa Cika!” Dahlia yang khawatir pun mendekati sahabatnya.
“Tolong bebaskan aku, aku di kurung, aku yang sekarang bukanlah aku yang sebenarnya, tolong bebaskan aku!” pinta Cika dengan berderai air mata.
“Aku harus bagaimana?” tanya Dahlia.
Ia yang percaya bahwa mimpinya itu nyata bangkit dari kasurnya menuju kamar kedua orang tuanya.
“Bu! Ayah, buka!”
tok tok tok!!
“Ayah! Ibu!” berulang kali Dahlia mencoba membangunkan kedua orang tuanya, namun mereka tak kunjung membukakan pintu.
Alhasil, Dahlia memutuskan untuk ke rumah Cika malam itu juga dengan menaiki sepedanya, kebetulan jarak rumahnya dengan Cika hanya 2 kilometer saja.
Dahlia pun keluar dari dalam rumahnya menuju rumah Cika. Saat ia masih di tengah jalan mengayun sepedanya.
Tiba-tiba ia melihat Cika yang berdiri di tengah jalan yang sepi seraya memakai piyama kotak-kotak.
“Ngapain dia disini!” saat Dahlia ingin berhenti tiba-tiba ia teringat perkataan Cika dalam mimpi, kalau dia yang sekarang bukanlah dirinya yang sebenarnya.
Alhasil Dahlia menambah kecepatannya, menghindari Cika yang berdiri di hadapannya.
Hihihihi!! Cika palsu pun tertawa melengking melihat Dahlia ketakutan. Cika palsu pun mengejar Dahlia yang berusaha kerasa mengayun sepedanya.
Ya Allah tolong aku! batin Dahlia.
Laju lari Cika palsu begitu cepat, hub! hingga Cika palsu kini duduk di kursi penumpang sepeda Dahlia.
“Ikut dong, cape tahu lari-lari!! Hihihihi!”
“Akhh!!!” Dahlia menjerit seketas-kerasnya. Terlebih kini Cika palsu memeluk pinggangnya dengan erat.
“Pergi! Pergi!!” teriak Dahlia.
“Kalau enggak ingin ku ganggu, kembalilah ke rumah mu!” pekik Cika palsu.
Namun Dahlia yang setia kawan, tak menggubris perkataan lelembut itu. Ia pun memulai melafazkan dengan keras ayat Kursi dam surah-surah pendek lainnya, namun sang lelembut Cika dengan mengayunkan kakinya di sepeda mengikuti setiap ayat yang di ucapkan Dahlia.
Hingga tak terasa Dahlia telah tiba di rumah Cika. Saat Dahlia menoleh ke belakang, ternyata lelembut itu sudah tak ada lagi disana.
“Setan sialan!” pekik Dahlia.
__ADS_1
Saat Dalia menoleh ke depan, tiba-tiba Cika telah ada di hadapannya.
“Allohu Akbar!” teriak Dahlia.
“Kau mau apa kesini?” tanya Cika.
“Jangan ganggu aku, aku hanya ingin menolong sahabat ku!” ucap Dahlia.
“Ini aku bodoh! Ngapain kau datang dini hari kesini, dasar kurang kerjaan!” pekik Cika.
“Oh, ini beneran kau?” tanya Dahlia.
“Iyalah, balik sana, aku mau tidur,” pinta Cika.
“Aku juga lelah, boleh aku minta segelas air sebelum aku pergi?” pinta Dahlia.
“Ehm, baiklah,” ucap Cika.
Lalu Cika membawa Dahlia masuk ke dalam rumahnya.
“Mau minum apa?” tanya Cika.
“Air mineral saja,” jawab Dahlia.
“Oke.” Cika pun menuangkan air minum ke gelas untuk Dahlia.
Setelah Dahlia meminumnya, Dahlia pun meminta ke toilet sebentar.
“Aku ke toilet sebentar boleh?”
“Boleh, silahkan.” Cika dengan leluasa memberikan izin pada Dahlia.
Lalu Dahlia pun segera menuju kamar orang tua Cika.
Tok tok tok!
“Om! Tante!” Dahlia berusaha membangunkan kedua orang tua Cika, hingga tak lama ibu dan ayah Cika pun keluar.
“Loh, Dahlia, kapan kau kemari?” tanya ayah Supra, ayah Cika.
“Baru saja, om tante, waktu kita enggak banyak, kita harus segera memulangkan bunga gadis mungil yang Cika ambil di rumah tua yang Cika ambil waktu kami studi tour.” orang tua Cika tak mengerti maksud pembicaraan Dahlia.
“Om enggak ngerti Dahlia,” ucap Supra.
“Benar Lia, tante juga,” timpal Xenia.
“Sudshlah tan, yang penting kita pulangkan , nanti akan ku jelaskan detailnya, karena sekarang raga Cika sedang di tajan oleh penunggu bunga itu,” terang singkat Dahlia.
Meski tak begitu paham, kedua orang gua Cika setuju, lalu mereka mencari bunga tersebut, hingga akhirnya mereka menemukannya.
Setelah itu, mereka bertiga pun menuju rumah tua di kota X.
Selama dalam perjalanan banyak sekali gangguan yang mereka alami, seperti melihat penampakan Cika di mana-mana di pinggir jalan.
Hingga tak terasa mereka sampai juga di tujuan pada pukul 10:00 siang.
Mereka pun mengembalikan bunga tersebut di tempatnya. Setelah, selesai mereka pun pulang ke rumah.
Malam harinya, saat Dahlia sedang tidur di kamarnya, tiba-tiba ia bermimpi dengan Cika yang masih menangis saja.Saat Dahlia ingin mendekat, ia tak mendekat.
Tiba-tiba pada saat Dahlia bangun, ia kaget bukan main, karena ia bangun di bawah jendela kamar Cika, tepat di bunga gadis mungil tersebut.
Lalu saat Dahlia bangkit dari tidurnya, tiba-tiba Cika telah berada di sampingnya.
“Bagaimana? Tidur mu nyenyak??”
“Cika? Kaulah ini?” tanya Dahlia.
“Tentu! Memangnya siapa lagi?” tanya Cika kembali.
“Ku pikir kau setan,” jawab Dahlia.
“Ayo, tidur di dalam,” ucap Cika.
“Oke.” meski merasa aneh, Dahlia tetap mengikuti Cika ke dalam rumahnya.
“Besok kita ke sekolahkan?”
“Iya tentu.”
“Tapi besok kita bolos saja yuk, kita jalan-jalan ke sekitaran rumah tua ini.” ujar Cika seraya tertawa melengking.
__ADS_1
“Hah?!!” tiba-tiba semua pemandangan berubah menjadi gelap.
Selesai.