
Faiq adalah seorang pria yang berusia 28 tahun, ia yang baru saja kena PHK dari perusahaannya merasa prustasi, di tambah pesta pernikahannya akan di gelar 1 bulan lagi.
Ia bingung, harus mencari pekerjaan kemana, terlebih usianya yang sudah tidak muda di kalangan karyawan bergaji UMR/UMP, yang selalu memiliki persyaratan good looking, usia miring alias maksimal 25 tahun paling tua di CV.
Faiq tak memberi tahu siapapun terkait dirinya yang telah pengangguran, sebab ia takut pernikahannya terancam gagal. Karena zaman sekarang, semua wania pemikirannya telah kritis, ada uang abang sayang, tak ada uang, ade cari yang lain.
Begini juga dengan bagian mertua, tak akan mudah memberikan lahir batin putrinya pada seorang pria yang tak jelas penghasilannya.
“Ck, bagaimana ini, dek Marlina bisa meninggalkan ku kalau sampai ketahuan aku pengangguran,” gumam Faiq.
Faiq memijat pelipisnya yang terasa pusing, ia perokok aktif pun harus menyudahi kebiasannya itu demi menghemat pengeluarannya.
Seminggu telah berlalu, puluhan amplop coklat telah Faiq sebarkan di berbagai perusahan. Namun nasib Faiq belum beruntung, tak ada satu pun yang melirik CV nya.
Di tengah keterpurukannya, Faiq yang saat itu sedang berteduh di bawah pohon tebu melihat di seberang jalan ada sebuah perpustakaan yang ukurannya sangat besar.
“Sejak kapan disini ada perpustakaan raksasa?” Faiq bingung 7 keliling, sebab ia yang sering melintasi jalan itu tak menyadari sama sekali tentang keberadaan perpustakaan itu.
Ia yang penasaran pun mendekat, ”Wah! Megah sekali perpustakaannya, bangunannya juga klasik, mirip bangunan zaman Belanda,” ucap Faiq.
Seketika rasa tertariknya pun muncul, ia pun perlahan masuk ke dalam perpustakaan tersebut.
Krieeet... Faiq membuka pintu besar yang terbuat dari kayu jati asli.
“Permisi, apa saya boleh masuk?” ucap Faiq.
Lalu gadis cantik yang menjaga perpustakaan pun menyambutnya dengan baik.
“Tentu, silahkan masuk mas,” sahut sang penjaga perpustakaan.
“Maaf saya melihat perpustakaan ini, karena tertarik saya ingin masuk, apa boleh saya membaca beberapa buku disini?” tanya Faiq.
“Tentu, mas bebas membaca apapun, dan tidak di pungut biaya,” terang sang penjaga perpustakaan.
“Oh, terimakasih banyak, kenalkan mama saya Faiq.” Faiq mengulurkan tangannya.
“Saya Hayati.” keduanya pun berjabatan tangan. Ketika tangan mereka berdua menyatu, Faiq merasakan ada sesuatu yang berbeda, namun ia tak tahu itu apa.
Setelah berkenalan, Faiq pun mulai berkeliling rak-rak buku yang jumlahnya bila di perkirakan mencapai ratusan ribu buku.
Namun anehnya, buku-buku yang terdapat disana adalah buku koleksi lama, yang terbaru hanyalah keluaran 1985, Faiq mengernyitkan dahinya.
“Perpustakaan apa sih ini? Kenapa yang ada hanya buku jadul?” gumam Faiq.
__ADS_1
Karena sudah terlanjur, Faiq pun mengambil salah satu buku dengan sembarang. Panjang buku itu kira-kira 20 cm, lebar 15 cm, sampulnya menyajikan pemandangan gunung yang asri dan orang-orang desa yang bekerja ss dalam gotong royong.
Saat Faiq membuka buku tersebut, ia merasa heran, karena isi buku tebal itu hanyalah kertas putih kosong.
“Hah? Mana isinya?” Faiq mulai membolak-balik halaman buku tersebut, namun tak ada satu huruf yang tertera.
“Hem... buku yang aneh.” lalu Faiq yang iseng mengeluarkan pena bertinta hitamnya dari saku bajunya.
“Coba aku yang menuliskan kisah ku disini,” gumam Faiq.
Kemudian, ia pun membuat judul pada lembar pertama kertas kosong itu.
“Nasib ku yang malang, ini adalah kisah ku, sudah seminggu aku di pecat, namun aku belum mendapatkan pekerjaan juga, pernikahan ku juga sebentar lagi, aku sangat takut jika sampai semua gagal karena masalah karir ku yang telah putus di usia ku yang tak muda lagi, aku harus bagaimana sekarang?” setelah Faiq menulis satu paragraf, ia pun merasa konyol, karena telah curhat di buku milik umum, ia yang berniat ingin menyobek kertas yang telah ia coret dengan tulisan tangannya melihat ada tulisan baru di bawah tulisan yang ia buat.
“Apa tuan butuh bantuan?”
“Hah? Apa ini? Siapa yang menulisnya?” gumam Faiq.
Karena Faiq tak kunjung membalas, tulisan baru pun muncul.
“Hamba bisa membantu mewujudkan keinginan tuan ku, tuliskan apa saja yang tuan butuhkan.”
Lalu, Faiq yang merasa penasaran pun membalas di bagian bawah tulisan misterius itu.
“Aku Candrawasi, tuan bisa memanggil ku Asi, aku bisa memberi apapun yang tuan inginkan, tapi semua tidak gratis.”
“Apa maksud mu?”
“Jika tuan berkenan, tuan bisa dapatkan apapun, asal di setiap permintaan tuan, tuan harus memberikan aku darah asli tuan sendiri, yang mana satu tetesan darah, akan menimbulkan 1 kerutan di wajah atau bagian tubuh tuan lainnya,” terang Asi.
“Hanya itu?” tanya Faiq yang tergiur.
“Tentu, yang paling penting, bawa aku keluar dari perpustakaan ini, karena aku ingin melihat dunia luar juga,” pinta Asi.
“Itu tidak sulit bagiku, tapi berikan aku 1 bukti jika kau memang berguna,” tulis Faiq dalam buku misterius tersebut.
“Baik, tuliskan apapun, dan teteskan darah di atas tulisan yang kau minta tuan,” bas Asi.
Apa salahnya mencoba, batin Faiq.
Faiq pun menuliskan permintaan pertamanya, “Aku ingin uang 2 juta rupiah.” setelah menuliskannya, Faiq menusuk telunjuknya dengan ujung penanya yang timbul.
Tes!
__ADS_1
Satu tetes pun terjatuh ke permintaan yang ia buat. Ajaibnya darah yang mengenai tulisan itu langsung menyerap tanpa menghilangkan bekas. Karena merasa takjub, Faiq sampai membuka lembaran buku itu dari sebelah, siapa tahu tembus ke belakang, namun hasilnya nihil.
“Ajaib!” ucap Faiq.
Lalu Asi pun menuliskan sebuah kalimat, “Buka tas mu tuan.” lalu Faiq pun buru-buru membuka tasnya.
“Hah??!!!” matanya membelalak tak percaya, uang tunai sebesar 2 juta rupiah, ada dalam tasnya.
“Ya Tuhan! Aku... aku beruntung sekali!” seru Faiq bukan main.
“Tuan bisa dapatkan lebih, asal mengikuti aturan, jangan tamak, apa bila tuan terlalu melewati batas, maka tuan akan di lempar ke masa lalu.” Asi memperingati Faiq bahaya penggunaan yang serakah.
“Baiklah.” tulis Faiq dalam bukunya.
Setelah mendapat keinginan pertamanya, Faiq pun beranjak keluar dari perpustakaan itu. Saat di pintu, ia kembali bertemu dengan Hayati.
“Cocok dengan bukunya?” tanya Hayati dengan senyum penuh makna.
“Luar biasa.” jawab Faiq, seraya buru-buru keluar perpustakaan.
“Baguslah kalau begitu,” ucap Hayati.
Faiq tak merespon lagi, ia pun keluar dengan perasaan lega.
Kalau begini aku bisa kaya tanpa bekerja, batin Faiq.
Ia pun pulang ke rumah, di dalam kamar ia bercermin, di sudut matanya terdapat kerutan halus.
“Kalau hanya segini sih enggak masalah,” gumam Faiq.
Kemudian Faiq mulai membuat permintaan keduanya.
“Asi, aku mau sebuah rumah mewah, untuk ku tinggali nantinya bersama Marlina, lengkap dengan perabotannya.” pinta Faiq dalam buku misteriusnya. Kemudian ia mengambil pisau lipat kecil dan tajam, lalu menyayat telunjuknya. Setelah itu ia meneteskan darahnya ke permintaan tang baru saja ia tulis.
“Di kabulkan tuan,” balas Asi.
Setelah darahnya terserap Asi pun menuliskan, “Rumah mu sudah selesai tuan, tepatnya berjarak 3 kilo meter dari sini, letaknya di ujung jalan, rumah berlantai 3 berwarna putih, gerbangnya menjulang tinggi ke langit-langi,” tulis Asi.
“Yes! Terimakasih Asi!” ucap Faiq dalam tulisannya.
Lalu Faiq pun segera menuju ke alamat yang Asi beritahukan.
Bersambung...
__ADS_1