KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XXXIII (Kamar Nomor 20 Part III)


__ADS_3

“Sialan!” umpat Ida seraya bangkit dari posisinya.


Ia pun bergegas kembali ke kasur dan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut dengan penuh ketakutan.


Pagi harinya, Ida yang punya jadwal kuliah siang pun berencana untuk mencuci baju pagi itu, saat ia melewati kamar nomor 20, ia mendengar kembali sang wanita tengah menangis.


Dengan menghela nafas,Ida mengetuk pintu kamar tersebut.


Tok tok tok!


Setelah beberapa kali mengetuk, sang wanita pun membukakan pintu.


“Apa mbak baik-baik saja?” tanya Ida seraya mencuri pandang ke dalam kamar yang masih sama seperti kemarin, gelap gulita.


“Apa mbak mau masuk?” sang wanita menawarkan Ida untuk bertamu ke kamarnya.


“Baiklah.” kali ini Ida tidak menolak.


Tek! Sang wanita menyalakan lampu, barulah Ida bisa melihat suasana kamar yang begitu rapi nan indah.


Lalu sang wanita mengambil sebuah martabak, yang di hidangkan di atas piring untuk Ida.


“Silahkan dimakan.” ucap sang wanita.


“Enggak apa-apa nih kalau aku makan mbak?” tanya Ida dengan sedikit sungkan.


“Makan saja, oh ya, kenalkan nama ku Gayatri.” Gayatri pun mengulurkan tangannya pada Ida.


“Oh iya, nama ku Sua Khaida.”


“Silahkan di makan.” Gayatri terus saja menyuruh Ida untuk makan, karena takut tak sopan bila tak mencicipi, akhirnya Ida pun memakan martabak itu.


“Um! Enak!” seru Ida yang kini memakan martabak itu dengan sangat lahap, sampai ia tak sadar telah memakan semua yang ada di atas piring tanpa menyisakan untuk Gayatri.


Gayatri hanya tersenyum mendapati Ida yang makan begitu nikmatnya. Lalu keduanya pun berbincang dengan sampai lupa waktu dan lupa sesuatu, hingga Ida tak sadar kalau ia sudah berada berjam-jam di situ.


Deg!


Jantung Ida berdetak, entah apa yang terjadi, yang jelas Ida merasa perasaannya tidak enak.


“Ada apa?” tanya Gayatri.


“Entahlah, oh iya sepertinya aku mau pamit sekarang, karena aku masih harus kuliah.” ujar Ida.


“Oh, ya sudah kalau begitu.” ucap Gayatri, sebelum Ida keluar dari kamar itu, mata Ida tak sengaja menoleh ke arah jam dinding Gayatri, yang menunjukkan pukul 08:25 menit.


“Tadi Kan aku keluar dari kamar sekitar jam 08:20, masa sih aku cuma 5 menit disini? Ah.. mungkin jam Gayatri saja yang bermasalah.” batin Ida.


Kriertt!!


Setelah pintu terbuka, Ida keluar dari kamar Gayatri, tak lupa ia mengucapkan terimakasih atas martabak nikmat yang ia makan barusan.


Kemudian Ida kembali lagi ke kamarnya untuk meletakkan cucian yang tak jadi ia basuh hari itu.


“Gara-gara keasyikan ngobrol, aku sampe lupa cucian ku.” gumam Ida.


Usai meletakkan ember nya dalam kamar, ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Selepas mandi, Ida kembali ke kamarnya lagi, dan bergegas memakai pakaiannya, karena sebentar lagi ia akan berangkat kuliah.


“Haduh! Kayaknya aku telat nih.” gumam Ida, namun saat ia melirik ke jam wekernya, matanya menyipit, karena ia melihat waktu menunjukkan pukul 08:25.


“Kenapa jam weker ku tiba-tiba rusak? Ini kan baru beli?” Ida terus mengajukan pertanyaan pada dirinya sendiri.


“Eh!” entah mengapa hatinya merasa janggal, ia berusaha mengingat dan mencari tahu kejanggalan itu, namun ia tak dapat mengingat dan menemukannya.


“Ya sudahlah, lebih baik aku berangkat kuliah.” setelah mengambil tas ranselnya, Ida keluar dari kamarnya, tak lupa i mengunci pintu terlebih dahulu.


Saat ia melewati koridor kosan, ia merasa ada yang aneh, ia tak bertemu dengan satu orang pun sepanjang ia berjalan dari depan kamarnya hingga keluar kosan, pada hal biasanya selalu banyak orang yang beraktivitas, atau bising di kamar masing-masing.


“Masa sih, semua orang berangkat kuliah pagi?” itulah yang ada dalam batin Ida.


Yang lebih mencengangkannya, ketika Ida sudah berada di jalan raya, ia juga tak bertemu siapapun, sejauh mata memandang, hanya ada Ida seorang.


“Kemana semua orang? Apa lagi ada acara, makanya tidak ada orang di jalanan? Tapi... Masa iya sih? Bahkan seekor kucing pun tak tampak di hadapan ku?” sampai saat itu Ida masih berfikir positif.


Hingga ia sampai ke depan kampusnya, tiba-tiba angin bertiup dengan kencang, melayangkan dedaunan ke sembarang arah.


“Di kampus juga enggak ada orang? Apa semua orang belajar dalam ruangan masing-masing?” gumam Ida.


Tiba-tiba awan hitam menyelimuti langit, yang tak lama Petir pun sahut menyahut di langit.


Duar!


Duar!


Duar!


Tik tik tik!


Perlahan-lahan hujan pun turun membasahi bumi, Ida yang tak ingin basah dengan sangat cepat berlari ke dalam gedung.


“Sebaiknya, aku ke ruangan ku.”


Duar!


Duar!


Gemuruh petir terus berekspresi, serasa mengikuti langkah Ida.


Karena hujan, suasana dalam gedung kampus pun menjadi gelap, kelas Ida ada di lantai 4, untuk mencapainya, ia harus menaiki lift.


Ting!


Saat lift terbuka, Ida merasa ragu untuk masuk, karena lift itu tak ada penerangannya, sudah dapat di bayangkan bila Ida harus berada di dalamnya.


Namun mengingat alternatif tangga membuatnya kecapekan, maka dengan terpaksa Ida masuk ke dalam lift itu.


Setelah berada dalam lift, Ida memencet nomor 4.”


Zruuutt! pintu lift pun tertutup, ya! seperti dugaan, lift itu gelap sekali, mata Ida hanya dapat melihat cahaya dari tombol lantai lift.


Saat Ida fikir liftnya akan mulai naik, ternyata lift itu malah turun.


“Eh, apa ada yang memencet dari basemen?” gumam Ida dengan perasaan cemas.

__ADS_1


perlahan-lahan lift pun turun, ting! lift berhenti tepat di lantai basemen 1, yang mana itu adalah parkiran mobil para dosen dan staf-stafnya.


Saat pintu terbuka lebar, di suasana yang sangat gelap itu, Ida menyalakan senter hpnya, dan mengarahkan lurus ke depan, tapi tak ada siapapun.


“Apa-apaan sih ini?” seketika Ida merasa merinding, segera ia menutup pintu liftnya. Dan berkali-kali memencet tombol 4.


Namun saat lift bergerak, bukannya naik malah turun lagi ke bawah.


“Bukannya lantai paling dasar hanya basemen 1 ya?” belum sempat Ida memecahkan kebingungannya tiba-tiba.


Ting! Pintu lift terbuka, Ida pun bersiap mengarahkan senternya ke segala penjuru, namun lagi-lagi tak ada siapapun.


Sadar dirinya di permainkan sesuatu yang tidak dapat di lihat matanya, Ida mulai membaca ayat kursi, dan surah-surah pendek yang ia dapat.


“Ya Allah tolong aku Ya Allah!” Ida menadahkan tangannya dengan penuh ketakutan.


“A'uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim Bismillahirrahmanirrahim, Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir.” Ida terus saja berdo'a untuk di beri perlindungan oleh yang maha kuasa Allah SWT.


Dan, ternyata sang Ilahi mengabulkan do'a Ida, liftnya kini berjalan naik, hingga ting!


Ia lihat lampu tombol lift nomor 4 menyela. “Alhamdulillah, terimakasih ya Allah.” tanpa sadar air mata Ida menetes.


Zrrrrrttt....


Ketika pintu terbuka Ida melihat suasana yang terang benderang, seperti pada normalnya, namun bedanya, dari dalam lift yang Ida pakai, banyak sekali orang-orang yang berdesakan untuk keluar.


Deg deg deg deg!


Jantung Ida berdetak hebat, ternyata dari tadi ia tak sendirian dalam lift.


“Bukannya tadi enggak ada seorang pun?” batin Ida dengan perasaan campur aduk.


Ketika Ida melihat wajah orang-orang yang keluar dari lift itu, semua pucat tanpa ekspresi, tatapannya juga kosong.


Ida yang tak mau terjebak dalam lift itu lagi segera keluar, berlari menuju kelasnya.


Krieeett, ketika pintu terbuka, tak ada seorang pun dalam ruangan kecuali dirinya.


“Kemana semua orang?” Ida tambah resah, tapi ia mencoba tegar, di luar masih saja hujan, perlahan Ida melangkahkan kakinya mendekati jendela kaca yang menghadap gerbang utama kampus.


“Hah!” Ida melihat orang-orang banyak sekali di halaman kampus beraktivitas seperti biasa meski itu adalah hujan lebat.


“Kenapa mereka belum masuk?” Ida pun melihat jam di handphonenya.


“Astagofirloh!” Ida terperanjat, karena handphonenya menunjukkan pukul 08:26.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.



__ADS_1


__ADS_2