
Sumiati adalah seorang gadis desa yang sehari-harinya bekerja di ladang bersama ibunya. Ayah sumiati telah tiada sejak ia berumur 9 tahun, meninggalkannya bersama sang ibu yang kini sudah beranjak tua.
Makhdalena, itu adalah nama ibunya, yang kini kulitnya telah keriput, tubuhnya bungkuk serta rambutnya yang telah di penuhi uban.
Tahun ini, umur sumiati genap 31 tahun, namun ia belum juga mendapatkan jodoh, itu cukup membuat ia merasa perustasi. Karena para jiran yang melihatnya selalu saja membuat gosip, tak jarang gadis-gadis yang masih belia juga mengejeknya dengan mengatakan perawan tua.
Akibatnya, Sumiati menjauh dari peredaran, ia lebih memilih di ladang seharian ketimbang bercengkrama bersama warga.
Pagi harinya saat Sumiati dan ibunya akan berangkat ke Ladang, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah rumah mereka.
Tok tok tok!
Sontak Sumiati yang masih berada di dapur beranjak ke depan untuk membuka pintu.
Cetek, krieett...
Saat pintu terbuka, ternyata yang datang adalah bu Nana, juragan tanah yang terlanjur kaya di kampungnya.
“Ada apa bu?” ucap Sumiati dengan santun.
“Ibu mu ada Sum?” tanya bu Nana.
“Ada bu, itu lagi di dapur, silahkan masuk dulu.” Yalisa mempersilahkan bu Nana masuk.
“Tidak perlu Sum, panggil saja ibu mu kesini,” titah bu Nana.
“Baik kalau begitu, ibu tunggu sebentar ya.” ucap Sumiati seraya beranjak ke dapur.
“Bu, ada bu Nana di depan,” ucap Sumiati.
“Oh, bu Nana sudah datang?” Sumiati mengernyit, ibunya seperti sudah janjian bersama bu Nana.
“Kamu tunggu disini Sum.” titah ibunya.
“Baik bu,” sahut Suami.
Lalu ibunya melenggang ke depan, lumayan lama ibunya mengobrol dengan bu Nana, jika di perhitungkan memakan waktu 20 menit, lalu setelah selesai mengobrol, ibunya kembali lagi ke dapur.
“Hari ini kita tidak usah ke ladang.” ucap ibunya, Sumiati yang duduk di lantai semen mendongak.
“Memangnya kenapa bu?” tanya Sumiati, karena ibunya tidak seperti biasanya, melakukan libur di hari senin.
“Bu Nana kasih kerjaan buat kita hari ini, upahnya lumayan besar.” terang ibunya.
“Kerjaan apa bu?” tanya Sumiati dengan girang.
“Adalah, ayo kita ganti baju lagi.” titah ibunya karena saat ini keduanya memakai baju kebun yang penuh dengan berbagai noda.
Lalu sumiati dan ibunya mengganti pakaian yang lebih layak, kemudian itu mereka menuju kediaman bu Nana.
Setelah beberapa saat menempuh jalan kaki, ibu dan anak itu pun sampai di gerbang rumah bu Nana.
Rumah bu Nana yang memiliki lantai 2 adalah rumah yang paling besar dan luas di kampung Sumiati, namun banyak rumor yang beredar bahwasanya rumah itu angker.
Banyak makhluk tak kasat mata yang terlihat dari luar mau pun dalam rumah, maka dari itu banyak warga yang memilih tak lewat di depan rumah bu Nana.
"Bu, kita mau ngerjain apa sih disini?" Tanya Sumiati dengan penasaran.
" Kita hanya perlu bersih-bersih di area dalam dan luar rumah." ucap ibunya.
__ADS_1
"Memangnya ibu tidak takut?" Tanya sumiati yang saat ini sedang merinding.
"Lebih takut lagi kalau perut keroncongan, kamu tahu, bu Nana gaji kita berapa?" Ungkap ibunya.
"Berapa bu?"
"1000.000, itu sama dengan penghasilan kita selama 1 setengah bulan." ucap ibunya kegirangan.
"Terus, kenapa kita masih berdiri di gerbang ini?"
"Oh iya, kata bu Nana kita langsung masuk saja, ibu lupa karena ngobrol sama kamu Sum.”
Ibunya pun menggeser pagar yang menjadi pelindung rumah itu.
Baru satu langkah kaki Sumiati pijakan di area rumah bu Nana, tiba-tiba wuss...., ada angin berhembus menabrak wajahnya.
Sontak Sumiati merinding, ia pun mencengkram erat lengan ibunya yang tanpa daging itu.
“Kamu kenapa?”
“Ada angin bu.”
“Ya wajarlah kalau ada angin, anak ini aneh-aneh saja,” gumam ibunya seraya berjalan memasuki area kebun bu Nana.
“Bu, kita mau kemana?” tanya Sumiati.
“Ke area kebun, kata bu Nana kita mulai membersihkan dari sana.”
“Oh, oke bu.”
Ibu dan anak itu pun bergegas ke area kebun yang di maksudkan, ternyata disana sudah lengkap dengan alat-alat kebun.
“Astagofirloh, apaan itu tadi?” saat suami melihat ke belakangnya lagi, sosok wanita itu sudah tidak ada disana.
Sumiati pun lari ke arah ibunya yang berjarak 2 meter darinya.
“Bu, ibu hah.. hah..” nafas Sumiati terengah-engah.
“Kamu kenapa ngos-ngosan begitu Sum?” tanya ibunya.
“Di-disana bu, di balik pohon yang itu, ada kunti.” terang Sumiati.
“Ah, mana mungkin siang-siang begini ada penampakan.” ucap ibunya tak percaya.
Saat Sumiati masih dalam takutnya tiba-tiba, tak!
Ada yang memegang pundak Sumiati, matanya pun membelalak karena takut.
Saat Suami melihat ke belakang, ternyata itu adalah bu Nana.
“Wah, sudah bersih ya.” ujar bu Nana.
Sumiati begitu lega, karena yang memegang pundaknya itu bukan hantu.
“Ayo Sum, bu, kita masuk ke dalam, sudah siang, kita makan bersama dulu.” ujar bu Nana.
Mereka pun mengikuti bu Nana masuk ke dalam rumah.
Ketika sudah berada dalam rumah, Sumiati bukannya takjub dengan properti yang ada, sebaliknya ia merasa ngeri, karena di dalam rumah banyak sekali barang-barang antik yang tak ada bagus sedikit pun.
__ADS_1
Bagaimana tidak, jika isi ruangan sepanjang jalan yang ia lewati adalah tubuh hewan yang telah di awetkan, patung pengantin wanita, payung berwarna hijau tua menyilang di setiap pintu masuk ruangan, dan yang tak kalah mengerikan, di dapur bu Nana, ada bekas sesajen.
Rasanya Sumiati ingin sekali keluar dari rumah itu, namun ketika ia lihat ibunya, Sumiati merasa heran, karena sang ibu terlihat biasa saja, seolah sudah sering datang ke rumah bu Nana.
“Ayo, silahkan duduk,” ucap bu Nana.
Sumiati dan ibunya pun duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan itu.
Lalu bu Nana menjamu mereka dengan tangannya sendiri, tanpa ada yang membantu, menurut Sumiati, rumah sebesar itu harusnya ada karyawannya, ternyata dia salah mengira selama ini.
Bu Nana pun menghidangkan di atas meja makanan yang teramat lezat, dimana ada 1 ayam panggang utuh, gulai rendang, mie goreng berserta berbagai macam buah-buahan lainnya.
“Ayo Sum, ibu, makan.” ujar bu Nana.
Sumiati yang sangat jarang menyantap hidangan semewah itu langsung senang, ia merasa sangat bersemangat, sampai-sampai rasa takutnya yang tadi pun hilang.
Sumiati dan ibunya makan dengan begitu nikmat, setelah selesai makan, Sumiati merasa ingin ke toilet.
“Bu, saya minta izin mau ke toilet,” ucap Sumiati.
“Boleh, pakai saja toilet yang ada di dekat gudang, kamu dari sini tinggal lurus belok kanan, nah, nanti ada di pojokan.” terang bu Nana.
“Baik bu, terimakasih banyak.” ujar Sumiati, kemudian ia pun beranjak ke toilet yang telah di surankan bu Nana.
Saat perjalanan ke toilet Sumiati kembali merinding, sebab ia merasa ada yang mengikutinya dari belakang, saat ia menoleh ke belakangnya, untuk melihat siapa orang tersebut, ternyata tidak ada siapa-siapa.
Saat Sumiati mau melangkahkan kakinya lagi, tak sengaja ia melihat sebuah ruangan yang pintunya terbuka separuh.
Entah kenapa Sumiati penasaran dengan ruangan itu, dengan perlahan ia pun mendekat.
Krieettt... setelah ia membuka sedikit lagi pintu itu.
Deg!
Ia kaget bukan main, karena di dalam ruangan kosong tersebut, ada sebuah keranda mayat, yang telah di selimuti kain berwarna hijau tua.
Sumiati tak tahu, keranda mayat itu kosong, atau ada pengisinya. Mau masuk tapi Sumiati takut, tapi kalau tidak, ia merasa sangat penasaran.
Batinnya tak henti menyuruhnya untuk masuk ke dalam, karena tak mau berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Sumiati memberanikan diri masuk, meski dengan lutut yang gemetaran.
Satu langkah, dua langkah sampai lima langkah, kini Sumiati sudah tepat di depan keranda mayat.
Dengan keringat dingin Sumiati menyingkap keranda mayat itu, dan....
Deg deg deg deg deg deg!!!
Iya syok bukan main, jantungnya mau meledak!!
Sarrrr!!!! Pembuluh darahnya seakan pecah, tubuhnya pun menggigil hebat, setelah ia melihat sosok yang terbujur dalam keranda itu.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Mutualan di IG yok, nanti ada trailer Save Yalisa kalau mau up!
Instagram: @Saya_muchu
Mampir juga ke karya Author SAVE YALISA.
__ADS_1