
Nama ku adalah Azaria, kini usia 27 tahun, aku menikah dengan seorang pria yang bernama Rino, bang Roni hanya terpaut 3 tahun lebih tua dariku.
Aku dengannya sudah membina rumah tangga selama 7 tahun, di tahun pertama kami menikah, aku dan bang Roni tinggal di rumah kontrakan yang sangat sederhana.
Bang Roni sendiri berprofesi sebagai pekerja serabutan, yang intinya tidak ada pekerjaan tetap untuknya.
Keluarga ku sangat menentang pernikahan kami, ya karena alasan bang Roni yang tak punya pekerjaan yang jelas, namun karena aku sudah cinta mati dan melakukan hubungan suami istri di luar nikah dengan bang Roni, aku pun rela nikah lari dengannya.
Aku di nikahi bang Roni pada usia yang ke 20 tahun, dengan bermaharkan Rp. 100.000, ku percayakan hidup dan mati ku padanya.
Di tahun pertama pernikahan kami, itu benar-benar terasa sangat sulit, sebab sering kali aku dan bang Roni tidak makan seharian, dapat mengisi perut satu kali sehari saja itu sudah sangat luar biasa.
Di tahun ke dua kami menikah, aku pun mengandung buah cinta kami, karena tak mampu membayar kontrakan, kami pun pun pindah ke gubuk pinggir desa.
Gubuk itu milik nenek tua yang tak memiliki keluarga lagi, karena kasihan lada kami, ia pun berbalik hati membiarkan kami tinggal tanpa uang sewa.
Setelah aku melahirkan putra pertama kami, kehidupan kami yang gelap dan suram mulai mendapat setitik cahaya, yang mana pada saat bang Roni sedang menggali sumur di sebelah gubuk, tanpa sengaja ia menemukan 10 mas batangan murni disana.
Entah itu milik siapa, yang jelas berkat emas tersebut, aku dan bang Roni terbebas dari dekapan kemiskinan yang selama ini kami jalani.
Sejak itu, kami memutuskan untuk memulai kehidupan baru, di kota seberang.
Kami juga membeli rumah berlantai 3 dan mobil mewah.
“Bang, belikan aku baju yang ini.” pinta ku pada bang Roni.
“Ambik saja semau mu sayang,” ujar bang Roni.
Bang Roni menuruti semua keinginan ku, apapun yang ku mau, ia mewujudkannya. Kami juga memutuskan membuka usaha grosir besar-besaran, alhamdulillah usaha kami berjalan dengan sangat lancar.
Satu tahun pun berlalu, usaha kami pun makin meningkat hingga memiliki tiga cabang.
Namun seiring dengan kesuksesan itu, bang Roni mulai berubah, ia pun sering pulang larut malam.
“Kau darimana bang? Kenapa baru pulang sekarang?” tanya ku penasaran.
“Akh, kau ini, mau tahu urusan suami saja, aku ini bekerja, mengecek grosir cabang kita!” alasan itu selalu terulang setiap kali bang Roni pulang larut.
Awalnya aku percaya, tapi lama kelamaan ia makin sering melakukannya, bahkan ia juga sudah jarang menyentuh ku, aku tak tahu apa salahnya, hingga aku merasa tubuh ku tak menarik lagi.
Aku pun bersedih menerima perubahan bang Roni, terlebih dia makin hari hati semakin jutek, dari situ beranjak menjadi membentak ku terus.
__ADS_1
Emosinya sering kali meluap-lupa tak jelas pada ku, pada hal aku tak melakukan kesalahan.
Aku yang sabar pun lama-lama tak kuat lagi, saat bang Roni sedang mandi, ku coba menyelidiki handphone, yang selama ini tak pernah ku lakukan.
Dan ternyata betul, ketika aku membuka akun fesbuknya, ia memiliki selingkuhan, gadis muda yang masih berusia 18 tahun, wajah wanita itu tak asing bagi ku, yang saat ku ingat-ingat lagi ternyata dia adalah Lela, karyawan kami di cabang grosir kedua.
“Pantas moodnya berubah-ubah, ternyata dia sedang bertengkar dengan Lela!” gumam ku.
Rasa cemburu ku pun menggebu-gebu, aku yang sudah tak sabar langsung menuju ke grosir.
Sesampainya di grosir, Lela yang melihat ku pun melempar senyum seolah tak memiliki masalah apapun.
Tentu saja aku jadi makin mendidih, tanpa basa basi lagi, ku beri satu tamparan keras di wajah Lela.
Plak!!!!!
Gadis yang baru dewasa itu pun tersungkur ke tanah, aku yang belum puas menerjang Lela dengan kaki ku yang jenjang.
“Beraninya kau menggoda suami ku! Mau mati kau sialan!” karyawan lain yang melihat keganasan ku langsung memisahkan ku dari Lela.
“Lepaskan aku! Biarkan aku menghabisinya!” saat aku sedang menggila, tiba-tiba bang Roni datang.
“Kau! Teganya kau bermain di belakang ku?” pekik ku pada suami yang telah ku dampingi mulai dari 0.
Lalu bang Roni terdiam sejenak, selanjutnya ia mendekat pada ku, ku pikir ia mau minta maaf, tapi ternyata.
Plak! Plak! Tamparan berulang kali ia berikan di wajah ku.
“Beraninya kau menganiaya calon istri ku!” aku terkejut saat bang Roni tanpa rasa bersalah mengatakan hal tersebut di hadapan ku dan semua orang.
Ia juga memapah tubuh Lela menuju rumah sakit, hati ku sungguh remuk menerima kenyataan itu.
Malam harinya, saat aku menangis di rumah sendirian, bang Roni pun pulang, tapi kini ia tak sendiri, ia membawa Lela bersamanya.
“Mulai sekarang Lela tinggal disini.” mata ku membulat sempurna atas keputusan bang Rini.
“Tapi bang.”
“Kalau kau tak terima, angkat kaki dari sini sialan!” bang Roni sangat merendahkan ku di hadapan Lela, aku yang tak punya daya hanya pasrah.
Hari-hari pun ku lalui tanpa gairah, karena kini bang Roni dan Lela tak sungkan lagi menunjukkan kemesraannya di hadapan ku, keduanya selalu lengket bagai gula dan semut.
__ADS_1
Aku benar-benar terluka, kehadiran ku juga tak di anggap, bahkan keduanya pernah bercinta di dapur yang tanpa sengaja ku saksikan dengan mata ku.
2 tahun berlalu aku menerima ketidak adilan itu, hingga tak sengaja aku mendengar, bang Rini ingin membalik namakan seluruh kekayaan kami atas nama Lela.
Tentu saja aku tak terima, batin ku pun berontak, aku yang dulu hidup susah dengannya tak mendapatkan apapun hanya karena wanita pelac*r yang ia cintai saat ini.
Aku pun membuat rencana busuk, pada saat makan malam, aku melayani kedua pasangan itu seperti biasa.
Namun kali ini aku tak ingin berbaik hati lagi, setelah Lela dan bang meneguk kuah sup kambing yang ku buat, keduanya pun kejang-kejang.
“Hahahaha!! Bagaimana bang? Enak?” tanya ku dengan tawa melengking.
Hasrat ingin membunuh ku pun muncul, bang Roni yang telah lumpuh pergerakannya hanya bisa menyaksikan, saat aku memutilasi Lela dalam keadaan sadar.
Racun yang ku campurkan pada kuah sup mereka berfungsi untuk melumpuhkan segala urat-urat syaraf bagi siapapun yang mengonsumsinya.
Lela, dengan merasakan sakit yang perih tanpa bisa melawan dan lari pasrah menerima aku memisahkan bagian kaki hingga pahanya.
Aku senang ia masih hidup, sedang bang Roni menangis seraya terkencing-kecing di celana menyaksikan kebrutalan ku.
Keesokan harinya, aku menyajikan kaki jenjang Lela sebagai sarapan pagi untuk bang Roni dan istri keduanya, yaitu madu ku Lela.
Tentu saja bang Roni menolak, namun aku yang tak terima, langsung menyumpalkan potongan daging milik Lela ke mulut bang Roni.
“Telan sialan! Bukannya kalian tak terpisahkan?” dan untuk Lela juga begitu, ku berikan ia daging kakinya sendiri untuk di makan.
Keduanya menangis histeris, aku pun menjadi senang.
Selanjutnya ku beri keduanya minum yang di campur dengan racun, agar mereka makin tak berdaya.
Setalah satu bulan berlalu, akhirnya bang Roni berhasil menghabiskan seluruh tubuh Lela, aku pun merasa sangat senang, bang Rini yang kini duduk di kursi roda sepenuhnya tak bisa melakukan apapun.
Aku yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan mengurus semua segala harta yang kami punya menjadi atas nama ku.
Kembali ke masa sekarang, aku yang telah bosan pada bang Roni, memutuskan untuk menguburnya secara hidup-hidup di halaman belakang rumah kami.
Satu tahun kemudian, aku yang telah jadi janda merasa leluasa karena tak ada lagi beban di hatiku, aku juga sudah membuang masa lalu yang membuat aku sengsara tanpa ujung.
Untuk kalian para suami atau pun istri, jangan main-main di luar sana, jangan sampai petakan rumah tangga menghancurkan yang telah kalian bina.
Selesai.
__ADS_1