KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XLI (SETAN-SETAN CINTA PART 2)


__ADS_3

“Dasar lelaki bodoh, jahat, dia pikir dia siapa? benar-benar tidak beretika.” gumam Naudira.


Sesampainya Naidira di rumahnya, ia pun masuk ke dalam kamarnya. Karena merasa lelah, Naudira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Saat ia sedang bersantai tiba-tiba Naudira terbayang akan peristiwa yang terjadi di ruang kelasnya tadi bersama Andri


Ternyata Andri juga demikian, merasakan hal yang sama, sikap Naudira yang selalu dingin membuat Andri semakin penasaran dan mencari cara untuk mendapatkan wanita super jutek itu.


Keesokan harinya, para siswa dan siswi sekolah yang datang pun hampir memenuhi aula sekolah.


Andri yang datang mengenakan jas berwarna silver begitu menawan, siapa saja yang melihatnya, hanyut dengan pesona Andri yang tampan


Kemudian Andri duduk di salah satu kursi aula, dia tidak berhenti melihat pintu masuk aula, matanya juga kesana kemari, mencari keberadaan Naudira, sang gadis incara, namun Naudira tak kunjung datang.


Acara pun telah di mulai dengan kata sambutan dari beberapa pejabat sekolah, ketua osis dan panitia acara


Setelah itu, acara inti yang di tunggu-tunggu tiba, ucapan selamat ulang tahun untuk sekolah yang ke 40 tahun.


Suara musik memenuhi ruangan aula, semua orang mencari pasangan masing-masing untuk berdansa.


Andri pun berdansa dengan Azira, gadis modis cantik dan seksi, siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa tergoda.


Di tengah dansa yang sangat mengibur, tiba-tiba Andri melihat Naudira yang berdansa dengan sang ketua osis.


Saat itu Naudira mengenakan gaun merah sampai ke ujung kaki, rambutnya di sanggul, lehernya mengenakan kalung berlian yang tipis, cukup elegan, tentunya cantik sekali.


Andri sangat kagum melihat penampilan Nadira, kemudian ia melepaskan genggaman tangannya dari Azira.


“Hai Dira, kamu cantik sekali hari ini,” ucap Andri, Naudira hanya diam tanpa merespon.


“Pak ketua, apa saya boleh berdansa sebentar dengan Naudira?” tanya Andri.


“Tentu saja.” jawab sang ketua Osis, lalu kedua pun bertukar pasangan.


“Kamu cantik sekali Dir, sungguh.”


“Sudahlah, aku lelah, aku mau duduk,” ucap Dira.


“Loh, belum juga dansa Dir.”


“Belum atau tidak, aku sudah pegal Ndri.” Dira meninggalkan Andri, namun Andri tetap mengikutinya.

__ADS_1


“Dira, Dira, tunggu sebentar, aku ingin bicara,” ucap Andri.


“Mau bicara apa sih? Apa mengenai yang kemarin? Sudahlah, aku sudah melupakannya.”


Andri benar-benar tidak bisa mendekati Naudira yang dingin.


Waktu pun semakin larut, acara juga mulai memanas dan tambah meria dengan alunan musik, dan nyanyian bergilir di atas panggung.


Hingga waktu menunjukkan pukul 22.00, pesta selesai, semua orang meninggalkan sekolah, Naudira mengambil telepon genggamnya, dan menghubungi ibunya.


📲 “Halo, bu, ibu dimana sekarang? Acaranya sudah selesai, sekolah juga sudah mulai sepi bu, cepatlah bu, aku takut menunggu sendirian di sini.” Naudira.


📲 “Maaf sayang, ibu tidak bisa menjemput mu, sekarang ibu lagi berada di rumah paman mu, dan disini juga sedang hujan lebat, ibu tidak bisa melewatinya, lebih baik kamu naik taksi saja ya nak.” Hera.


“Tapi bu, inikan sudah malam, aku takut, halo... halo..., ibu.. bu....” Naudira


Tutt..tutt.. tutt.. sambungan telepon telpon terputus karena sinyal buruk.


Andri yang melihat Naudira kalang kabut merasa kasihan. Ia pun mendekati Naudira.


“Dir, maaf sebelumnya, apa kamu mau ikut aku pulang? Ini sudah malam loh, bahaya perempuan jalan malam-malam, apa lagi naik taksi sendirian, sekarang juga lagi banyak kasus pemerkosaan.” terang Andri.


Dira yang mendengarnya langsung merasa takut.


“Siapa yang mau mengantar mu? Yang arahnya sama dengan rumahmu kan hanya Jono, itu juga dia pulang bersama pacarnya.”


lDengan berpikir panjang dan perasaan berat hati, Naudira terpaksa mau di antar oleh Andri.


“Ya sudah, tapi janji jangan macam-macam ya?”


“Iya, aku janji Dir.” Akhirnya merekapun berangkat dengan mengendarai sepeda motor, selama di perjalanan mereka berdua hanya diam tanpa kata.


Saat di tengah perjalanan tetesan hujan turun dengan derasnya, hingga membasahi tubuh keduanya.


Karena tak mungkin untuk di lewati akhirnya Andri menepi di sebuah gubuk kecil yang ada di pinggir jalan.


Andri mengajak Naudira untuk berteduh sampai hujannya berhenti, sebab tak ada pilihan lain, Naudira pun setuju.


Keduanya duduk dengan jarak yang cukup jauh, Andri mulai membuka pembicaraan dengan meminta maaf kepada Naudira atas sikap yang di lakukannya, Naudira pun memaafkannya.


Andri yang melihat Naudira menggigil karena kedinginan, mulai mendekat dan memberikan jaket anti hujannya kepada Naudira.

__ADS_1


Naudira langsung mengenakannya. Perasaan Naudira sedikit berubah kepada Andri.


“Terimaksih Ndri,” ucap Naudira.


Setelah itu, mereka mulai berbincang-bincang mengenai ke pribadian masih-masing, tertawa dan becanda bersama.


“Dir, kok badan kamu panas, kamu demam ya?” tanya Andri yang tak sengaja menyentuh tangan Naudira.


“Ah, enggak kok, aku tidak apa-apa Ndri, aduh... hujannya belum reda juga ya?” ucap Naudira.


“Sini Dir,” Andri merangkul Naudira.


“Kamu mau apa,” tanya Nadira panik.


“Kamu panas dan juga gemetaran Dir, kamu jangan berpikir negatif tentang ku, aku hanya mencoba menghangatkan mu, aku tidak mau, nanti orang tua mu menyalahkan ku kalau kamu sampai kenapa-napa,” terang Andri.


“Enggak mau.” saat keduanya sedang berdebat tiba-tiba, petir menyambar dengan hebat, seakan suaranya telah menyentuh kaki saking kerasnya.


Naudirit menjerit dan memeluk Andri, Andri yang terkejut dengan sikap Naudira langsung menenagkannya, dan memeluk tubuh Naudira.


Hujan yang turun pun seakan tak mau berhenti, Andri mengelus-elus punggung Naudira, hingga gadis itu merasa tenang.


Naudira menatap wajah Andri dan mengucapkan terimakasih, Andri tersenyum dan mengelus pipi Naudira.


Suasa seakan sudah tak terarah, jantung Andri berdegup dengan kecang melihat senyuman Naudira.


Naudira yang merasakan hal yang sama langsung menundukkan kepalanya, namun Andri memegang langsung memegang wajahnya.


Andri menatap lekat penuh hasrat dan kasih sayang. Naudira seakan terbawa suasana, ia tak mampu untuk membalas tatapan itu, ia pun memejamkan mata, dan ingin melepaskan diri dari pelukan Andri, namun tak bisa, Andri memegang dagu Naudira yang begitu halus dan lembut.


Perasaan Naudira saat itu jadi campur aduk, Kemudian Andri menyapu rambut Naudira yang lepek. Dengan sejuta hasrat yang telah tergambar dari wajah Andri.


Andri sang play boy mulai mendekati ke wajah Naudira, dan kecupan pertama mendarat di kening mulus Naudira, mata Naudira hanya terpejam, ia merasa malu dan tak tahu harus berbuat apa.


Seakan kedua insan ini telah kerasukan setan, kecupan keduapun berlanjut di bibir manis Naudira.


Nafas Naudira jadi tak beraturan, tubuhnya mulai gemetaran, jantungnyapun berdegup lebih kencang, dia meronta dari pelukan Andri, namun Andri tak mau melepaskannya. Tak ada jalan lain, Naudrira pun menggigit bibir Andri, sontak Andri langsung melepaskannya.


Begitu lepas dari Andri, Naudira tak berkata apa pun, dia hanya berlari sekencang yang dia bisa.


Andri yang telah tersadar dengan apa yang ia lakukan, langsung memukul kepalanya.

__ADS_1


Pagi hari yang cerah telah tiba, kicauan burung bernyanyi dengan merdunya, Andri datang ke sekolah dengan perasaan yang kacau, dia berniat untuk meminta maaf kepada Naudira atas perihal yang telah terjadi, namun sejak hari itu sampai hari selanjutnya, Naudira tidak pernah hadir lagi ke sekolah. Andri tak pernah tahu, Naudira sekarang ada dimana.


Selesai.


__ADS_2