KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XLIII (Guru Idola Part 1)


__ADS_3

Sudah 2 minggu Asmara melaksanakan PPL di SMK Bunga Bangsa yang terletak di kota M.


Asmara setiap harinya masuk keluar kelas untuk mengajar. Tepatnya pada hari selasa, Asmara masuk di kelas XI TKR II.


“Assalamu’alaikum.” Asmara memberi salam saat masuk ke dalam kelas, dan semua siswa-siswanya menjawab.


“Wa’alaikumussalam.”


“Good morning everybody!” sapa Asmara sebagai pembuka mata pelajaran saat itu.


“Good morning miss.”


“Oh yeah student's, before we start study today, we must pray, okay ketua, pimpin do’anya nak.” seru Asmara.


Lalu ketua kelas bernama Evan memimpin do’a, setelah selesai, Asmara menyuruh siswanya untuk membuka buku.


“Open page 250, ets.. sebelumnya, ibu mau minta absennya nak, Yakub bisa antar ke depan nak?”


“Iya bu” sahut Yakub seraya mengantarkan absen kelas.


Asmara mulai memanggil nama siswa-siswinya satu persatu sampai selesai, saat Asmara menutup absennya, tiba-tiba Ricky mengangkat tangannya, Asmara pun menoleh ke Ricky.


“Kamu murid baru ya?” tanya Asmara.


“Murid lama kali bu,” jawab Ricky.


“Tapi baru datangkan? ucap Asmara.


“Iya bu, memang kenapa bu?” tanya Ricky kembali.


“Enggak ada kok nak, nama mu siapa?”


“Ricky Takzub bu,” ucap Ricky.


“oh.. kamu yang namanya Ricky? si tukang boloskan?” celetuk Asmara.


“Ah ibu, sok tahu deh, ibukan baru disini?”


“Ya memang sih nak, tapi kalau boleh tahu, kok anak ibu ngak pernah masuk sih pada pelajaran bahasa Inggris?” Asmara mulai mendekati Ricky, dan duduk di sebelah Ricky.


“Sorry buat anak-anak ibu, ibu potong waktu belajarnya sebentar saja ya nak.” semua anggota kelas pun tidak ada yang keberatan.


“Ibu mau tahu saja atau mau tahu banget bu?”


“Ibu mau tau dua-duanya, ayo ngomong anak ibu sayang.” Ricky yang mendengar Asmara berkata sayang, merasakan sesuatu di dalam hatinya, tapi karena Ricky adalah anak yang paling bandel di sekolah langsung mengatakan alasan yang sebenarnya.


“The first, saya tidak suka dengan guru bahasa Inggris kami yang biasa, bapak itu ngomong bagaikan rem mobil yang sudah blong, jadi Enggak bisa di kendalikan, yang ke dua, bapak itu sudah tua, jadi melihat wajahnya, saya langsung bad mood bu, tapi yang paling penting alasan yang ke tiga ini, ini penting nih bu.”

__ADS_1


“Apa nak?”


“Kata teman-teman, saya wajib datang.”


“Wajib?” Asmara merasa penasaran, dengan alasan ke tiga Ricky.


“Mereka bilang, guru PPL nya cantiknya pakai banget, hatinya selembut sutera dan yang paling penting, katanya ibu mirip artis.” Asmara tersenyum, siswa-siswa yang lain tepuk tangan dan bekata “cie... cie...”


“Jadi alasannya itu ya?” ucap Asmara.


“Iya bu, dan ternyata memang benar apa kata teman-teman, ibu cantiknya di luar dugaan, saya enggak bohong bu,” ungkap Ricky.


“Iya ibu percaya, apa setelah ini kamu mau bolos lagi?” tanya Asmara.


“Mau sih bu, tapi aku akan berhenti kalau ibu yang meminta.” Asmara terengah karena Ricky terus menggombal nya.


“Ya sudahlah kalau begitu, kau jangan bolos lagi ya nak,” ucap Asmara.


“I promise for you miss,” sahut Ricky. Asmara cukup syok, karena ia baru kali ini di pepet anak belia.


“Oke, mari buka kembali bukunya halaman 250, coba di lihat lagi anak-anak, disana ada sebuah drama, drama itu masuk ke dalam karya sastra ya.” saat Asmara sedang menjelaskan semua siswa-siswanya fokos mendengarkan, Asmara adalah guru yang begitu tegas tapi menghibur.


Di setiap perkataannya penuh gaya dengan kondisi yang sedang ia gambarkan.


“Jadi anak-anak ibu tersayang, siapa disini yang pernah nonton film atau sinetron?” semua mengangkat tangan, “bagus, film atau sinetron itu termasuk drama juga loh nak, karenakan dalam unsur-unsur drama, ada tema,alur sampai dengan tokoh, nah! Tokoh itu adalah artis yang melakoni perannya dalam cerita film tersebut, orang yang selama ini kita idolakan.”


Semua suka sekali dengan pelajaran yang Asmara bawakan hari ini, hingga akhirnya bel berbunyi, tandanya pulang.


Satu persatu siswa keluar dari ruangan, Asmara pun keluar, kemudian berjalan sampai ketepi jalan untuk menunggu angkot, dan salah satu siswa menyapanya. “Ibu!”


Asmara menoleh ke siswa tersebut dengan senyuman seraya berkata “Iya nak? Besok datang lagi sekolah ya, jangan libur, biar jadi anak yang pintsr.”


Siswa itu tertawa begitu pula dengan teman-teman mereka yang lain, saat Asmara sudah agak jauh, mereka mengatakan dengan suara pelan, “Bu Asmara orangnya baik sekali ya, kalau guru-guru kita yang lain keningnya tegang semua.”


Saat Asmara masih berdiri di tepi jalan yang terik mataharinya tinggi, Ricky datang menghampirinya dengan menaiki motor gede.


“Mau pulang kemana bu? Arah Sabang atau Merauke bu?” tanya Ricky. Asmara pun tersenyum mendengar candaan Ricky.


“Arah Merauke, Ky besok jangan bolos sekolah ya, kamu harus datang nak, karena kalau kamu sering libur, maka kamu akan rugi, kamu juga akan banyak ketinggalan dari yang lain.”


“Ck, ibu sok perduli deh.”


“Ya harus perdulilah.”


“Kalau ibu sampai sebegitu pedulinya dengan ku, aku akan mengucapkan terimakasih pada ibu.”


“Enggak usahlah nak, ibu ikhlas.”

__ADS_1


“Aku juga ikhlas, ayo bu saya antar pulang, itu adalah balasan atas kebaikan ibu padaku.”


“Enggak usah nak, ibu pulang naik angkot saja.” ucap Asmara.


“Ayolah bu, kalau ibu enggak mau, saya enggak akan pernah masuk sekolah lagi nih.”


Dalam hati Asmara berkata, Ya Tuhan segitunya anak ini, kalau aku engak mau, aku egois sekali, dia juga tidak akan mau masuk sekolah.


“baiklah, tapi kau enggak boleh bolos ya,” ucap Asmara.


“Siap bu!” sahut Ricky.


Kemudian Asmara naik ke atas motor, dan selanjutnya mereka pun berangkat. Di dalam perjalanan Ricky mengajak Asmara mengobrol.


“Ibu berapa bersaudara bu?”


“Kami hanya 3 bersaudara nak.”


“Sekarang usia ibu sudah berapa?”


“Masih 21 nak.”


“Wah! Ternyata masih muda bu, hanya beda 3 tahun dengan ku bu.” ujar Ricky.


“Oh ya?” selama perjalanan Ricky sering sekali bertanya-tanya kepada Asmara.


Ricky juga melajukan motornya dengan sangat lambat, sampai anak-anak kecil yang naik sepada angin dengan santai bisa melanggar mereka.


“Ricky, motornya ke habisan bensin ya?” tanya Asmara penasaran.


“Enggak kok bu.” jawab Ricky.


“Kalau begitu, kenapa jalannya lama begini? Pinggang ibu sudah pegal nak.” ucap Asmara.


Ricky tertawa kecil, lalu menambah kecepatan motornya, hingga akhirnya mereka sampai di desa bu Asmara.


“Jadi ibu tinggal di desa Melati ya bu?”


“Iya nak, mau mampir sebentar?”


“Enggak usah bu, saya mau langsung pulang saja.” ujar Ricky.


“Baiklah nak, terimakasih ya sudah mengantar ibu dengan selamat, hati-hati di jalan.”


“Iya bu, aku permisi,” ucap Ricky, yang menyalakan kembali mesin motornya.


Selama perjalanan pulangnya, Ricky terus terbayang-bayang wajah Asmara, Dan juga kata sayang yang Asmara ucapkan masih terngiang -ngiang di telinga Ricky Hingga ia sampai di rumahnya.

__ADS_1


...Bersambung......


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2