
Ida adalah calon mahasiswa di Universitas BB, karena jarak dari rumah dan kampusnya memakan waktu 6 jam pulang pergi, Ida dan kedua temannya Tina dan Mida pun memutuskan untuk mencari kosan yang letaknya tak jauh dari kampus, karena 2 hari lagi, kelas pertama mereka akan di mulai.
Sekitar 2 jam lamanya ketiga sahabat ini mencari kosan, akhirnya mereka menemukan sebuah kosan, yang memiliki 3 lantai.
Kosan itu di kelilingi tembok, yang tingginya seleher orang dewasa, dan di atas tembok di buat kawat-kawat berduri untuk menghindari pencuri.
Singkat cerita, Ida dan kedua temannya pun masuk ke dalam kosan melewati gerbang utama yang saat itu sedang terbuka lebar, karena banyak mahasiswa yang akan berangkat kuliah.
LaLu Ida inisatif untuk bertanya pada salah satu mahasiswi tentang kosan tersebut.
“Maaf kak, numpang tanya, kira-kira disini ada kamar kosong enggak kak?”
“Ada kok, masuk saja ke dalam, itu yang jualan adalah ibu pemilik kosannya.” terang mahasiswi tersebut seraya menunjuk ke warung yang ada tepat di halaman utama kosan.
“Terimakasih kak.” ucap mereka bertiga serempak.
Lalu mereka bertiga pun beranjak ke warung ibu pemilik kos.
“Permisi bu.” ucap mereka bertiga.
Lalu dari dalam warung keluarlah seorang ibu-ibu yang umurnya kira-kira 80 tahun, bungkuk kurus, kulit putihnya penuh keriput.
“Ada perlu apa nak?”
“Apa ada kamar kosong bu?” tanya Tina.
“Ada, mau berapa kamar?”
“Satu bu.” jawab Mida.
“Untuk berapa orang?”
“ 3 orang bu.” jawab Ida.
“Disini satu kamar maksimal 2 orang, tidak bisa 3 orang.” ujar si ibu dengan tegas.
“Apa tidak bisa 3 orang bu? Karena kita bertiga adalah sahabat.” ucap Mida mencoba bernegosiasi.
“Kalau tidak mau, cari saja kosan lain.” ujar si ibu yang membuat ketiganya kehilangan kata-kata.
Lalu ketiga teman itu pun mulai berdiskusi.
__ADS_1
“Gimana nih? Kalau nyari lagi bakalan tambah jauh dari kampus.” ucap Tina.
“Benar, gimana kalau kita disini saja?” ucap Ida.
“Ya sudah kalau begitu, tapi yang sendirian siapa?” tanya Mida pada kedua temannya.
“Ida saja!” ujar Tina.
“Loh, kok aku?”
“Karena yang paling kaya di antara kita bertiga kan kamu, jadi kamu bisalah bayar kamar kosan sendiri, hehehe.” jawab Tina, Mida pun mengangguk setuju.
Karena sudah lelah Ida tak mau adu argumen lagi, ia pun memilih untuk mengalah.
Mereka pun kembali memanggil si ibu, untuk mengantarkan mereka menuju kamar kosong yang akan mereka tempati.
Kemudian si ibu mengantar mereka ke lantai 2, Ida, Tina dan Mida saling bertukar pandang, mereka tak percaya ibu setua itu masih bisa untuk menaiki anak tangga yang lumayan banyak.
Mereka sama-sama memperhatikan, kalau kosan itu di setiap lantainya ada 10 kamar, yang mana tidak ada 1 pun yang memiliki jendela, lorong-lorongnya juga langsung di beton habis, jadi masuk ke kosan siang-siang pun akan gelap, jika tidak ada lampu sebagai media penerangan.
“Di kosan ini tersisa 2 kamar kosong, 1 di lantai 2, satunya lagi di lantai 3, jadi kalian tentukan sendiri mana kamar yang mau kalian pakai.”
“Aku mau yang di lantai 2!” seru Ida, karena Ida menempati kamar sendirian, maka Tina dan Mida pun mengalah dan memilih untuk menempati kamar yang ada di lantai 3.
Ibu pemilik kos pun membuka pintu, agar Ida melihat dalaman kamar kos tersebut.
Krieett....
Saat pintu terbuka, terlihatlah model kamar tersebut, Ida tak ada masalah dengan kamar kos itu, hanya saja hawanya teras agak lembab karena kamarnya tidak memiliki jendela, untung ada heksos, jadi tidak terasa panas.
“Baik, saya suka kamarnya bu, kami akan pindah besok, kita harap kamarnya sudah di bersihkan.” pinta Ida.
“Ya sudah, semua kamar bentuk bangunannya sama, apa kalian mau lihat kamar nomor 25 yang ada di lantai 3?” tanya ibu pemilik kos.
Mida dan Tina pun geleng-geleng kepala, karena menurut mereka itu tak perlu lagi, kalau semuanya sama saja.
“Kalau begitu, datanglah esok, kamar sudah akan bersih begitu kalian tiba, dan perkenalkan, nama saya Rentina, panggil saja saya dengan mbah Ren.” ketiganya pun mengangguk karena mengerti.
Sebelum mereka pulang, mereka terlebih dahulu membayar uang muka, setengah dari harga sewa kos sebulannya.
Keesokan harinya, Ida, Mida, Tina telah tiba kembali di kosan, mereka pun menata barang-barang yang mereka bawa dari rumah masing-masing, saat Ida sedang beres-beres ia merasa seperti ada seseorang berdiri di belakangnya yang mana itu dari arah pintu kamarnya.
__ADS_1
Saat Ida menoleh ke belakang ternyata tak ada siapapun, karena tak ingin berfikiran negatif Ida pun melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Setelah 1 jam Ida pun usai akan penataan barang di kamarnya, karena ia berkeringat, Ida memutuskan untuk mandi.
Kosan dengan 30 kamar itu pun memiliki 5 kamar mandi, dan 2 khusus toilet, dan itu di luar kamar anak kos semuanya.
Ida mengambil handuknya untuk mandi, tak lupa ia mengunci kamar kosnya terlebih dahulu, sebelum ia menuju kamar mandi yang ada di dekat kamarnya.
Saat Ida berjalan menuju kamar mandi, ia terlebih dahulu melewati kamar nomor 20, dari dalam kamar itu terdengar suara wanita yang sedang menangis, Ida yang baru menjadi penghuni kos pun tak mau mengambil pusing.
“Mungkin dia lagi bertengkar dengan pacarnya.” itulah yang ada dalam benak Ida.
Sesampainya ia di kamar mandi, Ida menutup pintu dan menyalakan keran air.
Di kamar mandi itu sangat sejuk sekali, bagaimana tidak? Karena kamar mandi itu memiliki pentilasi dan jendela kayu, yang bisa di buka, karena itu adalah lantai 2, jadi tidak Ida tidak khawatir kalau akan ada orang yang akan mengintip, jika jendelanya di buka.
Cetek!!
Ida pun membuka engsel jendela. “Waw!” Ida takjub bukan main, karena di belakang kamar mandi atau gedung kosan, ada sebuah pohon mangga hutan, yang batangnya besar sekali, sebagain batangnya menjulang ke area kosan dan juga ranting-rantingnya sampai ke jendela kamar mandi, kebetulan saat itu sedang musim mangga, jadi di pohon banyak sekali buahnya yang bergelantungan.
Entah itu kebetulan atau bagaimana, ada sekitar 3 buah mangga yang dapat di raih oleh tangan Ida, karena ia merasa senang, Ida tanpa fikir panjang memetik ketiga buah mangga yang ada di dekat jendela kamar mandi, setelah itu ia letakkan di dalam kerang sabun nya.
Karena bak mandi sudah penuh, Ida pun memutuskan untuk mandi, saat ia asyik-asyiknya mengguyur air yang ada dalam gayung ke tubuhnya, dari bahu kiri ke bahu kanan, entah mengapa lagi-lagi Ida merasa kalau ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
Perasaan Ida jadi tak enak, ia menatap dengan waspada ke setiap sudut kamar mandi, namun semua baik-baik saja, setelah Ida selesai mandi, Ida berniat ingin menutup jendela kamar mandi itu kembali.
Di saat ia ingin menarik jendela, tanpa sengaja ia melihat seorang pria, berjubah hitam menatap tajam ke arahnya, dengan tangan yang menunjuk-nunjuk Ida, sontak itu membuat Ida takut, ia pun segera menutup jendela itu, dan keluar dari kamar mandi.
Ketika Ida melewati lagi kamar nomor 20, Ia masih mendengar suara tangis wanita dari dalam, begitu sakit dan lirih sekali.
“Ada apa sih sama perempuan itu?” gumam Ida.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.
__ADS_1