
“Hai jelek! Sedang apa kau duduk disini?” pekik Toni pada Sera, si gadis yang memiliki wajah yang jauh dari kata cantik.
“A-aku juga bagian dari kelompok ini Ton.” ucap Sera seraya menundukkan kepalanya.
Ia yang sadar kalau dirinya tak cantik pun tak percaya diri untuk mengangkat kepalanya dengan tegak saat berbicara dengan orang lain.
“Ya Tuhan, bu guru bagaimana sih?! Kenapa memasukkan sampah pada kelompok kita.” Tini yang kesal pun menendang bangku Sera, beruntung Sera tak jatuh.
“Geser!” titah Toni dengan suara melengking, Sera dengan tahu diri pun mengangkat bangkunya, memberi Toni ruang untuk tempat bangkunya.
“Hei gila! Kau pikir aku mau duduk di sebelah mu? Sana kau! Menjauh dari kelompok ku, sebaiknya kau enggak usah ada di kelompok ini!” Toni pun mengusir Sera dari kelompok belajar yang telah di tentukan oleh guru.
Teman-teman mereka yang melihat hal itu bersikap biasa saja, tak ada satu pun yang membela Sera
Alhasil, Sera memisahkan diri dan mengerjakan tugas yang di berikan gurunya seorang diri.
Pada saat pengumpulan tugas, Toni lagi-lagi berbuat iseng, ia merobek hasil makalah yang telah di selesaikan Sera.
“Kenapa nama Sera enggak ada di kelompok 7?” tanya bu guru.
Lalu Toni yang tengil pun memberi alasan, “Katanya dia enggak mau satu kelompok dengan kami bu!”
Karena pengakuan palsu dari Toni, Sera pun di hukum membersihkan gudang.
Pada saat di gudang yang minim akan penerangan, Sera harus bekerja keras membersihkan ruangan penuh debu itu.
Ketika ia membersihkan laci dari sebuah meja yang telah usang, tanpa sengaja tangannya menyentuh sebuah benda.
Saat ia mengeluarkannya, ternyata itu adalah sebuah handphone.
“Hum? Punya siapa ini?” gumam Sera, ia yang penasaran pun menekan tombol on/off handphone tersebut.
“Hah?!” mulutnya menganga, saat tahu handphone tersebut tidak di kunci.
Lalu Sera memeriksa aplikasi apa saja yang ada di handphone itu, anehnya hanya ada 3 item, yaitu panggilan telepon, pesan dan kamera.
“Handphone yang aneh,” gumam Sera.
Karena pada saat itu handphone Sera sedang rusak, ia pun memutuskan untuk memakai handphone yang baru ia dapat itu.
Pada saat pulang sekolah, Sera yang telah sampai ke rumahnya mulai masuk kamar.
Ia yang ingin berphoto selfi pun mulai membuka kamera handphonenya.
Cekrek cekrek!
__ADS_1
2 photo berhasil ia ambil, saat ia melihat hasilnya, ia kaget bukan main, sebab wajahnya terlihat cantik di kamera itu.
“Gila! Kok cantik banget? Biasa meski itu pakai efek aplikasi juga aku tetap jelek!” Karena suka dengan hasilnya, Sera kembali mengambil photo selfienya.
Setelah selesai, Sera meletakkan handphonenya di atas ranjang, ia yang ingin mencuci wajahnya pun bergegas ke kamar mandi.
“Akhh!!!” teriak Sera.
“Wajah ku?” betapa ia di buat syok, sebab wajahnya yang jelek kini berubah menjadi putih mulus, hidungnya juga kini jadi mancung, matanya juga bak orang Arab.
“Astaga, apa ini efek dari handphone itu? Apa itu bukan sembarang handphone?” namun apapun itu Sera tak perduli, justru ia merasa sangat senang, mendapati mukjizat di siang itu.
Keesokan harinya, Sera berangkat ke sekolah dengan percaya diri, orang-orang yang melihat perubahan dirinya pun seakan tak percaya.
“Cantik banget,” ucap orang-orang.
Toni yang melihat Sera pun sama seperti yang lain, “Hai Sera.” mendadak ramah dan mendekati Sera dengan tak tahu malu.
Yuli, kekasih Toni yang tahu kelakuan gila Toni pun lantas marah-marah pada Toni.
“Apa-apaan kau dekat-dekat dengannya?!” pekik Yuli.
“Memangnya masalah buat mu?” ucap Toni.
“Tentu saja, aku inikan pacar mu, bagaimana bisa kau merayu dia?!” Toni yang tak terima di marahi oleh Yuli pun, mendorong tubuh kekasihnya itu hingga tersungkur ke lantai.
Sera yang jijik akan tindakan Toni pun memberi tatapan mata tajam pada Toni.
Dasar laki-laki kurang ajar! Habis manis sepah di buang, batin Sera.
Sera yang ingin membantu Yuli berdiri pun di cegah oleh Toni.
“Enggak usah bantu dia, kau enggak pantas bersentuhan dengan dia!” ucap Toni.
“Toni! Kamu kok keterlaluan banget pada Yuli, pada hal dia adalah pacar mu.”
“Sera, dia bukan pacar ku lagi, dan aku tahu kalau kau juga menyukai ku, untuk itu ku beri kau kesempatan untuk menjadi kekasih ku,” terang Toni dengan percaya diri.
“Astaga, menjijikkan sekali, aku enggak pernah menyukai mu Ton! Justru aku sangat membenci mu, kelakuan mu benar-benar enggak normal!” Sera yang emosi pun membantu Yuli berdiri.
Selanjutnya ia kembali ke bangkunya, namun Toni yang penasaran terus-terusan menggoda Sera agar mau menjadi pacarnya.
Tapi Sera yang ingat akan kelakuan bejat Toni, sudah jelas menolak cinta Toni, yang tak tulus itu.
Pada saat jam istirahat, Sera membuka handphonenya, lalu ia membuka kamera.
__ADS_1
Tanpa sengaja Sera mempoto Toni yang berdiri tak jauh darinya.
“Aduh, sialan banget!” umpat Sera.
Ketika Sera ingin menghapusnya, tanpa sengaja ia malah menggelapkan layar handphonenya.
“Kenapa nih? Aku kan mau tekan halus, bukan redup layar?” gumam Sera.
Hahahaha...
Tiba-tiba Sera mendengar suara tawa teman-temannya. Ketika Sera menoleh ke sumber tawa, ia heran karena wajah Toni berubah menjadi hitam.
Astaga, wajah Toni jadi hutan dekil, batin Sera.
Ketika Sera ingin mengembalikan wajah Toni seperti semula, handphonenya malah eror.
Sejak hari itu, Toni menjadi bahan bullyan di sekolah, tentunya Sera merasa sangat bersalah, ia juga tak berani jujur, sebab ia takut kalau Toni marah padanya.
Hari itu, saat kerja kelompok, tak ada yang mau satu tim dengan Toni, karena semua orang sejujurnya sangat membenci Toni yang memiliki sifat arogan dan juga pemarah.
Sera yang kasihan pun akhirnya mengajak Tini bergabung di kelompoknya.
Sejak dirinya menjadi bahan perundungan, Tini jadi mengerti perasaan orang-orang yang ia sakiti.
Lalu ia pun meminta maaf pada Sera yang selama ini ia benci.
“Maafkan aku Sera, kelakuan ku buruk sekali pada mu selama ini,” ucap Toni dari harinya yang paling dalam.
“Iya, aku sudah memaafkan mu, ku rasa kau juga harus meminta maaf pada yang lain, terutama pada Yuli,” terang Sera.
Lalu Toni yang telah berubah pun, meminta maaf pada semua orang yang pernah menjadi korbannya.
Teman-teman sekelas Sera pun berlapang dada memberi pintu maaf pada Toni.
Malam harinya, saat Sera melihat kembali photo Toni, tiba-tiba pencahayaan handphonenya kembali berfungsi, alhasil wajah Toni kembali putih dan tampan lagi.
“Alhamdulillah, Toni pasti senang,” gumam Sera.
Keesokan harinya, ketika Sera telah sampai di kelas, ia melihat Toni yang telah glow up membuat gara-gara kembali.
“Siapa yang kemarin menghina ku, kemari kalian semua!” pekik Toni.
Sera pun geleng-geleng kepala, ternyata Tini hanya taubat cabai semata.
Apa wajahnya ku edit jadi jelek permanen saja? batin Sera.
__ADS_1
Selesai.