KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XLVII (Apa Salah Ku Ayah, Ibu? Part 2)


__ADS_3

Keesokan harinya, Renata yang harus bangun jam 04:00 subuh di paksa untuk memasak nasi oleh Dewi.


Ia yang merasa pegal di sekujur tubuhnya menjadi lambat saat mengerjakan pekerjaan dapur.


Dewi yang sudah lapar pun mendesak Renata agar lebih cepat.


“Hei sialan! Bisa lebih cepat enggak?! Aku sudah lapar!” pekik Dewi.


“Sebentar lagi matang bu,” ucap Renata.


“Hah! Lama banget kau ya! Bikin kesal!”


Dengan pandangan yang mengabur Renata terus mengaduk-aduk gule ikan asin yang ad di kuali.


Setelah selesai memasak, Renata yang lapar ingin makan, namun di cegah oleh Roy.


“Rena, tolong kau cuci baju ayah, hanya 3 pasang saja.” dengan berat hati Renata pun harus menunda mengisi perutnya.


Ia pun bergegas mencuci pakaian Roy, agar segera bisa makan.


Setelah selesai mencuci baju, Renata kembali ingin makan, namun adik bungsunya malah menangis.


“Rena!! Tolong gendong adik mu, aku masih ngantuk nih!” titah Dewi yang menahan kantuk di atas kasur.


“Baik bu.” jawab Renata. Akhirnya ia makan seraya menggendong adiknya.


Pukul 07:00, Renata berangkat ke sekolah, saat di tengah jalan, ia merasa kepalanya sangat pusing, pandangannya mengabur dan perutnya mulas.


Karena tak kuat lagi untuk berjalan, Renata istirahat di bawah pohon kelapa, yang 100 berjarak 100 meter dari jalan raya.


Renata duduk seraya menyandarkan tubuhnya ke batang pohon kelapa. Nafasnya terengah-engah, karena sakit yang semakin hebat, akhirnya Renata pingsan, tanpa ada yang melihat dirinya.


Pada pukul 12:00 siang, Renata tersadar, ia pun merasa sangat lapar, kebetulan saat itu di sebelahnya ada sebuah pohon pisang yang telah berbuah matang.


“Alhamdulillah,” gumam Renata.


Ia pun berdiri dengan perlahan, kemudian memetik 3 buah pisang tanduk tersebut. Setelah itu Renata memakannya dengan lahap.


Ia yang haus pun menuju sebuah empang yang tak jauh dari tempat ia istirahat.


Meski airnya tak layak di konsumsi, namun Renata tetap meminumnya.


“Tenang sekali, aku bahagia kalau tak ada yang menggangu.” ucap Renata yang menginginkan kebebasan.


Ia tahu saat nanti tiba di rumah, ia akan dapat amukan karena tak ke sekolah hari itu, dan apapun alasannya, tiada maklum untuk dirinya.


Alhasil Renata memutuskan untuk beristirahat sampai sore di tempat itu.


Pukul 16:00, Renata tiba di rumah, Dewi yang melihatnya pun bagai orang kesurupan.


“Anak kurang ajar, tak tahu di untung! Kemana saja kau seharian? Sudah enggak masuk sekolah, bikin malu di tambah enggak pergi ke ladang, benar-benar benalu.” Renata hanya menunduk saat mendapat amukan dari sang ibu sambung.


“Maafkan aku bu, tadi aku sakit saat akan menuju sekolah,” terang Renata.


“Alasan, sekarang juga mau harus ke ladang, petik cabai,” titah Dewi.


“Tapikan sudah sore bu.”


“Apa?”

__ADS_1


“Aku ingin hari ini saja istirahat, badan ku benar-benar sakit.” seumur hidup Dewi mengenal Renata, gadis kecil itu tak pernah menolak satu kali pun apa saja yang di perintahkan.


“Kau gila?! Hah! Tidak bisa, sekarang juga, cepat berangkat!”


“Maaf bu, aku benar-benar lelah.” Renata meninggalkan Dewi di ruang tamu sendirian.


Dewi yang tak terima pun, menarik rambut Renata dengan kasar.


“Kalau aku enggak bersedia! Keluar kau dari rumah ini!” Renata yang merasa bisa hidup sendiri pun menerima keputusan Dewi.


“Baiklah.” kemudian ia berniat menyusun pakaiannya.


“Jangan bawa apa-apa dari rumah, pakai seragam mu saja biadapp!” pekik Dewi.


“Baik bu.” Renata yang memimpikan hidup tanpa beban pun pergi meninggalkan rumah dengan hanya memakai baju seragam sekolahnya.


Aku harus kemana? batin Renata.


Saat ia telah berada jauh dari rumahnya, tepatnya di sebuah lampu merah ia melihat banyak anak-anak yang sedang mengamen.


Renata memperhatikan cara kerja pengamen-pengamen tersebut.


Setelah itu ia memiliki ide, untuk memasukkan pasir ke dalam botol bekas, setelah itu Renata pun mulai ikut mengamen.


Ia pun terus bernyanyi di lampu merah hingga pukul 20:00 malam, setelah itu Renata beristirahat di bawah jembatan layang.


“Alhmadulillah.” Renata merasa bersyukur. karena dari hasil keringatnya hari itu menghasilkan Rp. 50.000.


Kalau tahu begini cepat menghasilkan uang, pasti aku sudah pergi dari rumah lebih awal, batin Renata.


Ia pin bergaul dengan pengamen jalanan lainnya. Sejak saat itu Renata tak pernah pulang ke rumah dan ke sekolah, ia yang merasa tercekik sepanjang waktu memutuskan untuk hidup mandiri.


Satu bulan kemudian, Renata yang sedang asyik melantunkan lagi saat lampu merah pun di kejutkan oleh seorang wanita yang memanggil namanya.


Sontak Renata menoleh ke arah wanita cantik berbaju gaun biru tersebut.


“Ibu siapa ya?" tanya Rena, sebab wanita itu terlihat modis dan kaya raya. Renata merasa ia tak punya keluarga atau kenalan orang yang berada.


“Ayo sayang, kita ke restoran itu.” ucap lembut si wanita, yang membuat Renata bingung.


Akhirnya ia mengikuti wanita tersebut ke restoran yang di maksudkan.


“Kau mau pesan apa nak?”


“Ibu siapa ya?” tanya Renata.


“Saya Wina, ibu kandung mu sayang.” jawab Wina seraya memeluk Renata.


“Benarkah?”


“Iya sayang.” Wina memeluk Renata seraya berderai air mata.


Keduanya pun berpelukan, melepas rindu satu sama lain.


“Kenapa ibu baru muncul sekarang?”


“Maafkan ibu nak, dulu ibu merantai ke Malaysia, setelah itu ibu menikah dengan orang kaya, karena itu ibu ingin menjemput mu, kemarin ibu pergi ke rumah ayah mu, katanya kau enggak ada di rumah, dan ibu di suruh mencari mu kesini,” terang Wina.


Jadi ayah dan ibu tahu aku disini, tapi tak menjemput ku? batin Renata.

__ADS_1


“Oh, begitu ya bu.”


“Iya sayang, maafkan ibu telah meninggalkan mu selama ini, dan mulai sekarang ibu akan menebus kesalahan ibu dengan merawat mu, kita kan bersama selamanya, aku akan ibu sekolahkan kembali.”


Renata sangat senang mendengar perkataan Wina.


Setelah itu mereka makan bersama dengan berbagai menu yang lezat.


Selanjutnya Wina membawa Renata ke rumah suaminya yang bak istana.


“Suami ibu ada dimana?” tanya Renata.


“Dia sedang tugas ke luar negeri, 2 bulan lagi baru pulang,” ucap Wina.


“Benarkah?”


“Iya, dan kita berdua bebas disini!” seru Wina.


Keduanya pun sangat bersemangat, Renata dan juga tidur bersama.


Hidup Renata berubah 180 derajat, sekarang ia hidup dengan berkecukupan, sekolah di tempat orang-orang elit.


Renata benar-benar merasa bersyukur atas kehidupan yang ia dapatkan, meski begitu ia tidak sombong dan membenci Roy beserta Dewi.


2 bulan kemudian, ketika Renata sedang mengerjakan pr di ruang tamu, tiba-tiba Bagas sang ayah sambung pulang.


“Assalamu'alaikum.”


Wina yang sedang mengajari Renata belajar pun menyambut kepulangan suaminya.


“Wa'alaikum salam sayang.” ucap Wina.


Bagas yang pertama kali melihat Renata pun bingung.


“Siapa dia?” tanya bagas.


Lalau Renata yang sopan bangkit dari duduknya dan menjabat tangan Bagas.


“Halo om, saya Renata, anaknya mama Wina,” ucap Renata.


Bagas tersenyum kaku, pada Renata dan juga Wina.


Keesokan harinya, ketika Renata sudah selesai memakai baju, ia mendengar Wina dan bagas sedang bertengkar di kamar keduanya.


“Aku enggak setuju anak mu tinggal disini!” pekik Bagas.


“Mas, ku sudah berpisah dengannya selama 6 tahun, dulu kau enggak masalah dengan ku yang berstatus janda 1 anak, dan kau berkata oke-oke saja, makanya aku mau pada mu!”


“Pokoknya aku enggak mau dengan anak mu, kalau dia enggak keluar dari rumah ini, maka kita berpisah!” Bagas yang tak menyukai Renata menekan Wina.


Renata dapat melihat raut ragu di wajah ibunya, ia pun menghela nafas panjang, lalu kembali ke kamarnya dan meletakkan tasnya di atas meja belajarnya.


Setelah itu, Renata membuka tabungannya sewaktu ia mengamen dulu yang ia simpan di celengan kalengannya.


Aku tak meminta untuk di lahirkan ke dunia ini bila memang tak di inginkan, aku juga tak berharap orang lain mengurus ku, bila ternyata aku beban bagi mereka dan membawa keributan, kenapa kehadiran ku sering kali menjadi bara api di antara kedua orang dewasa yang ku anggap orang tua? Kenapa aku selalu jadi bahan perdebatan, tentang layak atau tidaknya aku bersama mereka? Jika tidak menyukai ku, jangan berpura-pura baik pada ku, apa salah ku ayah ibu? Sehingga kalian tak menginginkan ku? batin Renata.


Ia yang tak ingin tertekan seperti dulu, memutuskan untuk pergi diam-diam dari rumah ibunya.


Bermodalkan tabungannya senilai 500.000, ia pergi ke tempat yang sangat jauh dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


Semoga kalian bahagia tanpa kehadiran ku, batin Renata.


Selesai.


__ADS_2