KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XXXVII (SAVE YALISA IN A DREAM PART 1)


__ADS_3

1 Bulan kemudian setelah di tinggal Riski untuk selama-lamanya, Yalisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Ia yang terbayang-bayang akan Riski kembali menitihkan air mata.


“Ki, aku rindu kamu, hiks..., apa kamu juga rindu aku Ki?” Yalisa menangis seraya memiringkan badannya.


Zanjil yang baru di antar Art masuk ke dalam kamar berlari mendatangi Yalisa.


“Mama!!!” sontak Yalisa bangun dari tidurnya saat mendengar suara anaknya.


“Eh, anak mama, makannya udah selesai ya sayang?” ucap Yalisa seraya turun dari atas ranjang, kemudian menggendong tubuh mungil Zanjil.


“Sudah dong ma.” Zanjil yang melihat mata ibunya basah akan air mata pun menyekanya.


“Mama nangis lagi?” tanya Zanjil.


“Enggak sayang, mata mana cuma kemasukan debu saja,” jawab Yalisa.


“Ma, mama enggak boleh nangis terus, kasihan papa disana, kata kakek dari pada nangis, lebih baik kita mendo'a kan papa ma.” ujar Zanjil mengingatkan Yalisa.


Yalisa yang sebagai ibu merasa malu, karena anaknya lebih bijak darinya.


“Zanjil benar, maaf ya nak, kalau mama cengeng dan membuat mu khawatir.” ucap Yalisa pada anak semata wayangnya.


Zanjil, harta berharga mama satu-satunya, buah cinta mama dan papa, sehat terus nak, batin Yalisa.


“Sekarang kita tidur ya sayang.”


“Siap ma.” Yalisa dan Zanjil pun naik ke atas ranjang.


Dengan penuh kasih sayang Yalisa tidur dengan memeluk sang buah hati.


11 Juli 2015, Yalisa yang baru saja menginjakkan kakinya di SMK Favorit dalam kotanya merasa kagum, sebab sampai detik itu pun ia masih tak menyangka dapat masuk ke sekolah itu.


Matanya celingak-celinguk kesana kemari, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dengan pakaian baru.


“Hem, hanya aku saja yang baju lusuh.” gumam Yalisa seraya melihat ke seragam putih abu-abunya.


Tapi aku harus bersyukur, dapat pakaian bekas


dari Ani, kalau enggak, mungkin aku akan pakai baju pramuka sekarang, batin Yalisa.


Ia pun mulai masuk ke area sekolah, dan mencari ruangan kelasnya.


“Jurusan seni mana ya? Ah, coba aku tanya saja pada orang,” gumam Yalisa.


Kemudian ia pun mendekati tiga orang laki-laki yang yang tengah asyik mengobrol di atas batu besar dekat dengan tiang bendera.


“Permisi, maaf menggangu,” ucap Yalisa.


“Iya?” sahut ketiganya.


“Maaf, saya mau tanya kelas X, jurusan seni sebelah mana ya?” tanya Yalisa.

__ADS_1


Kemudian salah satu dari ketiga orang laki-laki tersebut menjawab.


“Kau cari pakai mata mu sana! Ganggu orang lagi ngobrol saja!”


Yalisa mengernyitkan dahinya, sebab jawaban siswa laki-laki itu cukup kasar padanya.


“Biasa saja dong jawabnya! Udah enggak kasih tahu, bikin kesal lagi!” ucap ketus Yalisa.


“Heh cewek jelek! Mending kamu pergi dari hadapan ku, dari pada aku lempar wajah mu pakai batu!” pekik sang Siswa laki-laki kasar itu.


Yalisa yang menganggap siswa itu kurang waras, memutuskan untuk beranjak dari sana.


“Dasar gila, kok bisa sih anak sesinting itu di terima masuk ke sekolah ini?” gumam Yalisa.


___________________________________________


“Hei Ki, kenapa kamu kasar banget sama cewek itu, pada hal dia bertanya baik-baik pada kita,” ucap Zuco.


“Biarkan saja, dia pantas mendapatkannya,” ujar Riski.


“Tapi, kok aku merasa enggak asing ya dengan wajahnya?” Marco mencoba-coba mengingat siapa gadis tersebut.


“Sudahlah, jangan di bahas lagi,” ucap Riski.


Kenapa aku bisa bertemu wanita yang mirip dengan selingkuhan ayah disini? Apa mungkin perempuan tadi anak wanita murahan itu? batin Riski.


Tet.. tet.. tet.. Bel sekolah pun berbunyi, Riski dan kedua temannya pun menuju lapangan untuk berbaris.


Pada saat apel pagi, sang kepala sekolah memberi pengarahan, serta membagi siswa dan siswi kepada beberapa bagian kelas, sesuai jurusan masing-masing.


Ia melihat sekitar, teman-teman barunya ternyata sudah mempunyai teman satu meja masing-masing.


Kemudian Yalisa menyapa salah satu gadis bernama Yovi.


“Hai, kamu sudah punya teman satu meja belum?” tanya Yalisa.


Yovi yang mendapat ajakan dari orang yang tak ia kenal melihat dari ujung rambut sampai sepatu Yalisa.


“Kumuh!” gumam Yovi.


“Apa?”


“Kamu kumuh, pada hal ajaran baru, siswa baru, tapi baju mu dekil begitu? Ya Tuhan, kenapa bisa sih orang miskin masuk ke dalam sekolah ini, pada hal ini sekolah kelas atas,” ucap Yovi.


Yalisa melihat ke dirinya sendiri, dan merasa sadar diri, “Ya sudah kalau enggak mau.” Yalisa meninggalkan Yovi.


Ia pun kembali mencari teman yang mau satu meja dengannya.


Namun, tak ada satu pun yang bersedia, semua mencemooh Yalisa karena berpenampilan berbeda dari mereka.


“Lihat tasnya jelek banget, model ransel anak SD.” cibir Yuna, yang ada dalam kelas pun menertawai Yalisa, sebab sekolah elit tersebut tak pernah menerima murid tak mampu, jika itu terjadi, pasti para siswa/siswi tersebut akan menyembunyikan identitasnya.


Yalisa yang tak tahu hukum rimba di sekolah itu pun menjadi target empuk orang-orang yang tak beretika.

__ADS_1


Ketika semua mencela, terdapat seorang siswi cantik, bertubuh semampai yang diam saja di tempatnya sendirian.


Wajahnya yang datar seperti memikirkan sesuatu tak ikut berbaur dengan siswa/siswi lainnya, dialah si misterius Mei Lissah.


Yalisa yang bingung harus duduk dimana, memilih berdiri di antara barisan kursi yang tersusun rapi.


Lalu ada yang usil mengerjai Yalisa, “Hei, kemari lah duduk dengan ku!” ajak Nuna. Yalisa tentu senang akan kebaikan Nuna tersebut.


Namun pada saat Yalisa sampai ke meja Nuna, Nuna malah tertawa sinis melihat Yalisa yang nampak bodoh dimatanya.


“Wekk!” Nuna menjulurkan lidahnya pada Yalisa.


“Siapa juga yang mau satu tempat dengan mu, hahaha!” dengan kasar Nuna mendorong tubuh Yalisa hingga tersungkur ke lantai, tepat di sebelah meja Mei, si gadis cantik yang menyendiri.


Sontak Mei menoleh Ke Yalisa yang mencoba bangkit di samping kakinya.


“Apa-apan sih kalian!” pekik Mei, semua terdiam saat ada yang membela Yalisa. Kemudian Mei bangkit dari duduknya, dan berjongkok di hadapan Yalisa.


“Kamu baik-baik saja?” ucap Mei yang kasihan pada Yalisa.


“I-iya, aku baik-baik saja,” sahut Yalisa.


Lalu Mei menepuk-nepuk rok Yalisa meski tak ada debu.


Ternyata dia sama seperti ku, tersisih, batin Mei.


Lalu dari arah pintu masuk kelas, Riski masuk bersama Zuco dan Marco, pada Saat Riski melihat Mei memegang tangan Yalisa, dalam keadaan berjongkok, Riski merasa marah.


Kenapa dia bisa dekat dengan perempuan sialan itu! batin Riski.


Riski pun mendekat ke Mei dan Yalisa, “Kenapa kamu membantunya?” tanya Riski.


“Apa ada yang salah?” tanya Mei kembali.


Mereka saling kenal? batin Yalisa.


“Jangan berteman dengannya,” titah Riski.


“Bukan urusan mu!” pekik Mei.


Riski mengernyit, “Ck, susah ya di bilangin!” hardik Riski.


“Kamu punya masalah apa sih pada ku! kenal juga enggak!” ucap Yalisa seraya memberi tatapan mata tajam pada Riski.


“Bukan urusan mu sialan! Dasar pembawa sial, brengsekk!” pekik Riski yang trauma melihat wajah Yalisa.


“Jangan cari ribut Ki.” Mei membantu Yalisa berdiri.


Jadi kamu lebih memilih dia dari pada aku Mei?! batin Riski.


Dengan penuh kecewa Riski meninggalkan ruangan kelasnya.


...Bersambung......

__ADS_1


...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...


__ADS_2