
“Ma, mama.” suara lembut Zanjil mengembalikan kesadaran Yalisa.
“Um, anak mama sudah bangun ya?” ucap Yalisa seraya memeluk Zanjil.
“Iya ma, mama kenapa sih dari tadi tidurnya enggak tenang dan keringatan begitu?” tanya Zanjil karena khawatir pada sang ibu.
“Masa sih sayang?”
“Iya ma, mama mimpi buruk ya?” lalu Yalisa menyeka sisa keringat yang ada di dahinya.
Oh iya, tadikan bermimpi waktu pertama kali masuk SMK, hum.. kok bisa ya, aku memimpikannya? Aneh, batin Yalisa.
“Tuh kan, mama melamun lagi, mimpi apa ma? Cerita pada ku.” Zanjil yang begitu dewasa cukup menghibur hati Yalisa.
“Hanya mimpi teman lama dan papa mu nak,” ujar Yalisa.
“Papa begitu membekas ya di hati mama,” ucap Zanjil.
“Iya dong, karena papa adalah orang yang sangat berpengaruh dalam hidup mama,” ujar Beeve.
“Papa pasti baik banget sama mama, dan menjaga mama terus dari orang jahat, makanya mama susah buat lupain papa, ya kan ma?”
“Ya, begitulah nak.”
Kau salah nak, papa mu adalah manusia kejam, tapi walau begitu mama cinta, batin Yalisa.
“Benar dugaan ku, papa orangnya baik, Zanjil yang enggak kenal saja, bisa merasakan kasih sayang papa, meski hanya melihat photo dan video kenangan papa ma,” terang Zanjil.
“Ya ampun anak mama, bicaranya makin hari makin dewasa saja, pada hal masih kecil, efek nonton sinetron nih.” Yalisa memeluk Zanjil karena gemas.
“Enggaklah ma.”
“Terus guru mu siapa sayang, hum?” tanya Yalisa seraya menggigit kecil pipi bulat anaknya.
“Om Leo ma,” jawab Zanjil.
“Om Leo?” Yalisa mengernyitkan dahi.
“Iya, om Leo kan sering menjenguk Zanjil ma, Zanjil juga tahu kalau om menjaga mama selama satu tahun lebih, om sering banget nangis kalau ada di sebelah mama,” terang Zanjil.
“Ah, masa sih nak?”
“Iya ma, masa zanjil bohong, sepertinya om Leo menyukai mama deh,” ujar Zanjil.
“Ck, Zanjil! Kau belajar dari siapa sih nak sebenarnya? Anak kecil enggak boleh ngomong begitu, ya Allah anak ku kok cepat banget dewasanya,” ucap Yalisa.
“Kan aku benar ma, Zanjil juga tahu kalau om Leo mantan pacar mama, melihat om yang baik pada ku dan mama, Zanjil enggak masalah kalau punya papa baru.” Yalisa terperanjat mendengar perkataan anaknya.
Sifat terang-terangannya mirip banget sama Riski, batin Yalisa.
“Jangan berharap lebih, mama enggak suka pada om Leo,” ucap Yalisa.
“Sudahlah ma, mengulang masa lalu itu enggak masalah, mungkin ini yang dinamakan dengan jodoh.”
__ADS_1
“Zanjil! Mama hanya mencintai papa, jangan lagi kau bahas tentang om Leo, oke sayang.”
“Pada hal cocok kok.” gumam Zanjil. Yalisa tersenyum saat mendengar Anaknya bergumam.
Benar-bebar Riski banget, batin Yalisa.
Setelah itu, Yalisa turun dari ranjang menggendong putra semata wayangnya menuju kamar mandi.
Ia pun memandikan Zanjil, setelah itu Yalisa memakaikan baju pada anaknya yang tampan.
“Nah, anak mama sudah ganteng, persis seperti papa,” ucap Yalisa.
“Untung Zanjil mirip papa ya ma, kalau mirip mama mungkin akan jelek,” zanjil mencoba menggoda Yalisa.
“Zanjil, mama kan juga cantik, kau tahu papa mu itu orangnya pilih-pilih, kalau bukan primadona, papa enggak akan suka, dan di antara tumpukan mantan papa mu, hanya mama yang papa mu perjuangkan, papa bahkan menangis saking cintanya sama mama, berarti mama kecantikannya di atas orang normal dong,” terang Yalisa.
“Masa sih ma? Pasti mama hanya mengarang.” Zanjil yang sifatnya 90% mirip Riski tak hentinya memberi ledekan pada Yalisa.
“Serius nak, papa itu sayang, sayang banget sama mama.” Yalisa terus meyakinkan anaknya, bahwasanya almarhum Riski sangat menyayangi dan mencintainya.
“Mata papa pasti rabun tuh, sama seperti om Leo,” ucap Zanjil.
“Ih Zanjil, usil banget sih sama mama, ya sudah kalau kau enggak percaya, mama mau mandi dulu.” Yalisa yang kesal pada anaknya beranjak ke kamar mandi.
“Hahaha, enak banget ledekin mama, baru di bilang begitu udah cemberut dan marah, pada hal kan mama cantik, tapi sayangnya kurang percaya diri saja.”
Yalisa yang berada dalam kamar mandi kembali mengingat Riski yang sering membuat ia marah dan menderita di masa lalu.
.
“Tapi mau bagaimana lagi, sudah resiko ku karena telah memilihnya jadi suami.” Beeve pun menyalakan air dalam bathtub, niatnya pagi itu ingin berendam air panas.
Namun seketika ia mengingat penyatuan pertamanya bersama Riski dulu, yang berlangsung di dalam bathtub.
“Ki, kenapa kau pergi begitu cepat?” Yalisa yang masih berkabung mengingat kembali kenangan mereka berdua dalam kamar mandi itu.
“Andaikan kau masih ada, pasti takkan sepi begini, apa kau juga akan meledek ku bersama Zanjil??” Yalisa tersenyum, ia membayangkan jika seandainya Riski masih bersama mereka.
Setelah air memenuhi bathtub, Yalisa menuangkan sabun cair beraroma terapi ke dalamnya, selanjutnya ia mengaduk-aduk air yang telah tercampur sabun sampai busanya melimpah, kemudian ia pun masuk ke dalam bathtub tersebut.
“Nyamannya,” gumam Yalisa.
🥀🥀
Pagi itu, Yalisa yang ingin berangkat ke sekolah berpamitan pada bu Alisyah.
“Bu, Yalisa berangkat ya,” ucap Yalisa.
“Iya nak, hati-hati di jalan ya sayang.” bu Alisyah mengecup kedua pipi putri satu-satunya.
Sontak Yalisa menitihkan air mata, “Kau kenapa nak? Kenapa menangis?” tanya bu Alisyah.
“Entahlah bu, rasanya aku rindu sekali pada ibu,” ucap Yalisa.
__ADS_1
“Dasar anak ini, sudah cepat berangkat ke sekolah,” ujar bu Alisyah.
Setelah menjabat tangan ibunya, Yalisa pun beranjak ke sekolah dengan berjalan kaki. Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit akhirnya ia sampai juga.
Ia pun bergegas menuju kelas, baru saja ia melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, tiba-tiba Yalisa berteriak histeris.
“Akhh!!!” sebab Riski melemparkan ular karet mainan ke tubuhnya, Yalisa yang takut akan ular sontak heboh sendiri mengibas-ngibas tubuhnya.
Riski yang berhasil menakut-nakutinya pun tertawa terbahak-bahak. Sadar sang biang kerok adalah pelakunya. Mata Yalisa membulat sempurna.
“Dasar kurang ajar!” Yalisa melempar dahi Riski dengan botol minumnya.
“Au! Yalisa!” pekik Riski.
“Apa kau! Beraninya mengerjai ku! Ini masih pagi sialan, belum cukup kemarin kau menyusahkan ku?” Yalisa yang tak mau kalah memarahi Riski.
“Itu bukan salah ku, tapi kau sendiri!”
“Ya, iya! Apapun yang terjadi, semua salah ku! Dasar jahat, cowok setres!” pekik Beeve.
“Ya ampun, mulut mu kacau sekali Yalisa, pantas kau masih jomblo sampai detik ini, hahaha.” ejekan Riski membuat Yalisa gerah.
“Betul, mana ada laki-laki yang suka padanya," ucap Zuco.
“Benar, sudah jelek, miskin lagi,” timpal Marco.
“Benar-benar, perempuan terjelek di sekolah kita, hahaha,” lanjut Riski.
“Bukan-bukan, tapi di seluruh negeri,” ucap Zuco. Kelakuan ketiganya membuat Yalisa ingin memakan orang saat itu juga.
Mei yang berdiri di belakang Yalisa pun menegur ketiganya.
“Masih pagi, tapi sudah membuat masalah, luar bias sekali kalian.”
“Si sok baik sudah datang,” ucap Riski.
“Jangan melewati batas Ki, nanti kalau jatuh hati repot loh,” ujar Mei.
“Pada siapa? dia?” Riski menunjuk wajah Yalisa.
“Iya, siapa lagi?”
“Itu enggak akan terjadi, andai kata hanya dia satu-satunya wanita yang tersisa di dunia ini, lebih baik aku menjomblo seumur hidup ku,” ungkap Riski.
“Dasar sinting, memangnya aku akan mau pada mu? Aku juga enggak mau, meski hanya kau yang tersisa di dunia ini, No, tidak ya! Laki-laki bermulut dosa seperti mu, tak layak di jadikan pasangan.” terang Yalisa, ia yang tak ingin berurusan dengan Riski memutuskan untuk menuju bangkunya.
Marco dan Zuco pun tertawa terbahak-bahak, karena Yalisa begitu lucu di mata mereka saat itu.
“Astaga, benar-benar perempuan yang unik,” ucap Zuco.
“Betul, sudah miskin enggak sadar diri, berani-beraninya dia yang enggak goodlooking brandai-andai hanya Riski yang tersisa di dunia ini, dan itu juga dia tolak, sungguh si buruk rupa yang tak tahu tempat.” Marco begitu merendahkan Yalisa, karena miskin dan berwajah jelek.
...Bersambung......
__ADS_1
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...