KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XVI (Suami ku? Part I)


__ADS_3

Nama ku adalah Kikyo usia 24 tahun, status ku telah menikah dengan pria bernama Naraku yang tepaut 2 tahun lebih tua dari ku.


Kini usia pernikahan kami telah menginjak 2 tahun, namun kami belum di karuniai keturunan oleh sang pencipta.


Itu membuat hari-hari ku sangat sepi dan membosankan, yang hanya sebagai istri rumah tangga, di tambah lagi suami ku yang menjabat sebagai manager, membuatnya sering pulang larut malam, bahkan dalam sebulan ia rutin melakukan dinas ke luar kota.


Walau hidup berkecukupan, tapi rasanya hampa, banyak ruang kosong terdapat dalam hati ku.


Aku juga menjauhi yang namanya akun media sosial, berbeda sewaktu aku masih gadis dulu, yang tiap hari eksis untuk update status.


Ya, karena aku iri akan kebahagiaan orang-orang yang ada di beranda ku, yang bisa bersama setiap waktu dengan suami dan buah hati mereka.


Sering tersirat dalam hati ku, akan bagaimana kehidupan rumah tangga ku ke depannya, jika aku belum bisa memberikan suami ku anak.


Belum lagi, mertua dan ipar ku selalu bersikap mendominasi ku, karena aku tak bisa memberi apa yang mereka inginkan.


Suami ku, meski tahu semua perbuatan keluarganya, ia tak ambil pusing, seolah membiarkan semuanya mengalir seperti air, ia tak mengerti akan perasaan takut ku setiap harinya, yang gamang akan tergantikan oleh wanita lain di hatinya.


“Kamu lagi mikirin apa?” aku melirik ke arah Naraku, yang berhasil menebas beban fikiran ku.


“Bukan apa-apa ” jawab ku, seraya turun dari ranjang untuk menyiapkan sarapan pagi.


“Jernihkan pikiran mu itu, jangan selalu menghayal yang belum terjadi.” mendengar ucapan Naraku hati ku tersentak, ia seperti tahu apa yang ku pikirkan.


“Iya, terimakasih sudah perhatian pada ku.” aku bergegas menuju dapur untuk menyiapkan bubur ayam sebagai sarapan pagi kami berdua.


Setelah buburnya matang, aku taruh ke dalam mangkuk ayam kukuruyuk sebagai wadahnya, lalu ku letakkan di atas meja makan.


Tak lama, Naraku dengan pakaian kemeja biru muda dan celana formal kerjanya datang menghampiri ku ke meja makan.


“Hari ini aku mau dinas ke luar kota, kalau kamu kesepian, atau takut di rumah sendirian, menginap saja di rumah ibu mu.” mendengar saran dari Naraku, hati ku tak tergerak sedikit pun, karena pulang ke rumah akan menambah beban pikiran ku.


Seperti biasa, ibu akan membawa ku berobat, agar cepat mendapat keturunan.


“Aku di rumah saja.” sahut ku pada Naraku, seraya menyendok kan bubur ke dalam mulut ku.


“Aku dinasnya 3 hari loh Kikyo, belum lagi 2 hari dalam perjalanan, kamu jangan bandel, pulanglah ke rumah ibu atau kakak mu.” titah Naraku yang memaksa ku untuk pulang.


“Iya.” ucap ku padanya yang telah selesai menyantap sarapannya.


“Oke, aku pergi dulu ya, jaga diri baik-baik.” aku mengantar Naraku sampai ke pintu utama, setelah ia masuk ke dalam mobil ia membunyikan klakson mobil, lalu melaju meninggalkan ku.

__ADS_1


“Sudah tahu mau pergi lama, setidaknya cium dulu, atau peluk, dasar batu es!” gumam ku.


Begitulah sikap suami ku pada ku, yang membuat ku semakin putus asa, dan tak percaya diri untuk melanjutkan rumah tangga kami ini.


Aku yang sendirian dalam rumah mencari kesibukan dengan bersih-bersih perabotan, menyetrika baju dan lain-lain, hingga tak terasa waktu magrib pun tiba, aku bergegas untuk mandi ke kamar mandi yang ada dalam kamar ku.


Selesai mandi, aku melaksanakan sholat Magrib, selepas itu aku merebahkan badan ku di atas ranjang.


Ting tong ting tong!


Ting tong ting tonh!


Suara bel yang berbunyi berkali-kali mengembalikan kesadaran ku.


“Sudah jam berapa sekarang? Aku enggak sadar ketiduran.” lalu ku lirik jam yang ada di dinding, ternyata menunjukkan pukul 00:12.


“Siapa yang datang bertamu malam-malam begini?” Karena penasaran aku beranjak dari ranjang, lalu ke luar kamar.


Saat aku menyingkap gorden yang ada di dekat pintu, aku sedikit keheranan, karena yang menekan bel adalah Naraku.


“Bukankah dia pergi dinas keluar kota?” aku bergumam sendiri melihat kehadirannya di depan pintu.


Cetek, kriett...


“Kenapa buka pintunya lama sayang?”


“Sayang?” batin ku terkejut saat Naraku memanggil ku dengan sebutan sayang, sudah 1 tahun lebih ia tak memanggil ku demikian.


“Kenapa masih berdiri di pintu? Cepat tutup pintunya, siapkan air hangat untuk minum ku, aku mau mandi dulu.” Aku mengikuti titah dari Naraku.


Ku panaskan air untuknya, sementara ia sedang mandi.


Selesai memanaskan air, ku tuang ke dalam gelas kacapanjang, lalu ku bawa ke kamar, Naraku yang telah selesai mandi memakai baju tidur warna biru tua serasi dengan celananya, lalu ia duduk di atas ranjang.


“Kemarilah,” Naraku memanggil ku seraya menepuk-nepuk ranjang.


“Iya, ada apa?” sahut ku tapi hal yang tak ku duga-duga terjadi, ia mencium dahi dan pipi ku.


“Naraku.” ucap ku dengan keheranan.


“Aku rindu kamu sayang.” perasaan ku aneh bercampur senang, dalam semalam Naraku berubah 100%, yang sebelumnya dingin dan kaku, kini menjadi hangat.

__ADS_1


“Aku mau kamu Kikyo.” perasaan ku teramat bahagia, sudah 2 bulan kami tidak melakukan hubungan suami istri, karena rutinitasnya yang sibuk.


Selama itu tak melepas birahi, Naraku jauh lebih perkasa, ketahanan fisiknya juga bertambah dari biasanya, hingga aku kesulitan untuk mengimbanginya, yang paling terpenting ia sudah tak jijik lagi, bercumbu ria di bawah sana.


Pukul 04:35, jam alarm handphone ku berbunyi yang membuat ku terbangun, lalu ku pandangi wajah Naraku yang tertidur pulas di balut selimut hitam.


“I love you.” ku cium kening Naraku yang begitu membuat ku bahagia, saat akan beranjak turun dari ranjang, tiba-tiba Naraku menggenggam erat pergelangan tangan ku.


“Mau kemana sayang?” ucap Naraku yang memandang ku dengan sendu.


“Aku mau mandi wajib dulu, baru sholat, kamu kan juga harus berangkat kerja, jadi aku mau bergegas juga untuk masak.” aku menjelaskan kegiatan ku padanya, meski pun ia sudah tahu.


“Jangan kemana-mana, temani aku tidur saja.”


“Tapi kamu kan harus berangkat kerja jam 07:00?” ucap ku mencoba mengingatkannya.


“Aku ambil cuti beberapa hari sayang, sudah lama aku enggak ambil libur, aku ingin mengabiskan waktu beberapa hari dengan mu.” Aku mengernyit mendengar penuturan dari Naraku.


Ia yang gila kerja, menomor 2 kan keluarga, kini mengambil cuti demi seorang istri, sungguh di luar dugaan.


“Ya sudahlah, bagus kan kalau dia sudah berubah,” batin ku.


Saat aku akan beranjak lagi dari ranjang, tiba-tiba Naraku duduk dan memeluk tubuh ku yang tak di balut sehelai benang pun. Lalu dengan sigap Naraku menciumi seluruh tubuh ku.


“Apa? Apa dia mau melakukannya lagi?”


Aku hanya dapat pasrah melayani suami ku pada saat ini, karena jujur aku juga menyukai permainannya yang sekarang.


Setelah hampir 2 jam beradu kasih, akhirnya Naraku membiarkan ku untuk meninggalkan ranjang, tubuh ku yang masih lemas harus ku paksakan mandi wajib, karena aku harus memasak untuknya.


Selesai mandi, tubuh ku yang masih di balut handuk putih tiba-tiba mendengar handphone ku berdering.


Ku raih handphone ku yang terletak di atas meja rias, tepat di samping ranjang. Ternyata yang menelepon adalah ibu.


“Halo bu.” Aku berbicara dengan ibu sekitar 15 menit, lalu ku matikan handphone ku, dan ku letakkan kembali di atas meja rias.


“Sayang, selama aku di rumah, tolong matikan nada dering handphone mu itu, aku merasa terganggu, atau kalau perlu, simpan saja handphone mu ke dalam laci, kalau aku sudah bekerja, waktu seperti ini tidak akan susah kau dapatkan.”


Meski sedikit aneh, ku turuti saja permintaan suami ku tercinta, ku setel handphone ku menjadi mode hening, lalu ku simpan ke dalam laci meja rias ku.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, RATE 5, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram :@Saya Muchu


__ADS_2