
Ini adalah kisah Renata yang di tinggal oleh ibunya saat ia masih berusia 2 tahun.
Kala itu, karena Roy sang ayah selingkuh, Wina ibu dari Renata pun memutuskan untuk berpisah.
Pada saat persidangan, Roy memenangkan hak asuh atas Renata. Sejak saat itu. Renata dsn Wina sudah tak pernah bertemu lagi.
2015, kini Renata sudah genap berusia 9 tahun, ayahnya Roy juga sudah memiliki istri baru, yang menghasilkan 2 adik sambung untuk Renata.
Renata yang saat itu duduk di kelas 4 SD sering kali terlambat datang ke sekolah, sebab ia harus menjaga adik-adiknya terlebih dahulu di pagi hari pada saat ibu sambungnya Dewi memasak.
“Rena! Maju kau ke depan!” pekik ibu guru Wati sang Wali kelas.
Renata dengan wajah lesu dan penampilan lusuh pun mendatangi Wati di mejanya.
“Iya bu,” ucap Renata seraya menundukkan kepala.
“Kau ya! Dari kelas 1 sampai 4 selalu saja terlambat, pada hal sudah di kasih peringatan, jangan terlambat terus, parahnya kau pernah menghabiskan 2 jam mata pelajaran baru masuk kelas, apa-apaan sih kau! Masih kecil sudah berani membelok!” Renata tak pernah memberitahu tentang masalah keluarganya pada orang lain, sebab Dewi dan Roy selalu memperingatkannya, jangan membuka aib keluarga pada orang lain.
“Maaf bu, saya salah,” ucap Renata.
“Dan juga, kenapa baju mu selalu kotor?! Terlalu, lihat teman-teman mu yang lain, semua bersih dan rapi, hanya kau yang berpenampilan tak layak, harusnya kau beritahu ibu dan ayah mu untuk membeli seragam baru!” Wati sang wali kelas yang sombong tak mau tahu atau pun mencari tahu tentang kondisi muridnya.
Renata yang kurang tidur karena harus menjaga adiknya yang paling bungsu begadang sampai jam 04:00 subuh pun tak fokus pada Wati, matanya yang sendu membuat Wati merasa tersinggung, ia pikir Renata tak mengindahkan kata-katanya.
“Dasar anak nakal! Pada hal guru sedang menasehati mu, tapi kau malah meremehkan ku!” Wati yang emosi memelintir telinga Renata hingga berdarah. Renata yang ternyata sudah biasa mendapat kekerasan dalam rumah oleh ibu sambungnya dan Roy pun merasa biasa saja dengan hukuman yang Wati berikan.
Tak ada ekspresi yang di tampilkan oleh Renata, Wati semakin kesal, ia kini berpikir Renata menantangnya.
“Kau melawan pada ku ya! Hah! Sekarang kau berdiri di luar, hormat bendera!”
“Baik bu.” Renata yang lelah mendapat emelan setiap hari pun hanya menurut dengan apa yang orang lain katakan, agar masalahnya cepat selesai.
Di bawah teriknya mata hari, Renata menjalani hukumannya hingga mata pelajaran Wati pun selesai.
Ia yang merasa lelah berlari ke kelas, kemudian membuka keran air yang ada di sudut kelas.
Perlahan Renata membuka kran air dan meneguk air yang mengalir melalui tangannya, teman-teman sekelas Renata geleng-geleng kepala melihatnya.
__ADS_1
“Dasar miskin.” ucap salah satu teman lelakinya di kelas.
“Iya, ada-ada saja dia, minum air mentah, hahaha.” temannya yang lain pun ikut meledek.
Di kelasnya tak ada yang menyukai Renata, karena ia begitu pendiam dan menyendiri terus dari kelas 1 SD, aroma tubuhnya juga tak sedap, sebab ia jarang sekali mandi pada saat mau berangkat sekolah.
Singkat waktu, bel pulang sekolah pun berbunyi, Renata pun menempuh 20 dari rumahnya ke sekolah dengan berjalan kaki.
Ia yang baru saja sampai di rumah di kejutkan dengan Roy dan Dewi yang sedang bertengkar.
Kegaduhan kedua orang tuanya pun sampai-sampai melempar perabotan dapur ke halaman rumah.
Renata hanya bisa menghela nafas panjang, seraya memungut semua barang-barang yang berserakan di tanah.
“Assalamu'alaikum,” ucap Renata.
Pluk!! Salam Renata di respon oleh sebuah panci yang mendarat di wajahnya, alhasil hidungnya pun berdarah.
“Kau sudah pulang anak sialan!” pekik Dewi.
Lalu Dewi yang tak dapat melampiaskan emosinya pada Roy mengambil sapu ijuk, lalu berjalan cepat ke arah Renata yang berada di pintu.
Renata tahu dia akan di pukuli, namun ia tak mengelak, sebab ia sudah di cekoki dengan kekerasan merasa itu pantas ia dapatkan selama ini.
Plak plak plak!!
Pukulan brutal Dewi pun mendarat sembarang di tubuh Renata, bahkan wajah Renata tak luput dari sasaran. Dewi yang masih kesal pada Roy menendang hidung Renata hingga mimisan.
Renata yang telah bodoh akibat hal-hal negatif yang ia dapatkan selama ini hanya diam.
Roy juga begitu, meski Renata adalah putri kandungnya, ia tak perduli.
Setelah puas, Dewi pub menyuruh Renata ke ladang untuk memetik cabai dan sayur-sayuran, agar bisa di jual esok hari ke pasar.
“Cepat kau ke ladang, petik cabai dan semua sayuran yang ada disana, keuangan sudah menipis, jangan tahu mu hanya makan gratis saja disini, kau dan ayah sama-sama enggak berguna, cuih!!” Dewi meludahi wajah gadis kecil itu.
Renata pun bangkit dari duduknya, kemudian bergegas ke ladang sendirian di pukul 14:00 siang itu.
__ADS_1
Tanpa membawa perbekalan ia berangkat, jarak dari rumah ke ladang membutuh waktu 1 jam untuk berjalan kaki.
Perutnya yang kosong serta dahaganya yang kering membuat langkahnya melambat, alhasil ia sampai di ladang pada pukul 16:00, ia yang sudah tak tahan menahan lapar pun menggali batang ubi dengan parang yang ia bawa.
Tak sulit baginya untuk mendapatkan itu ia menuju sumur yang datar dengan tanah yang berada tak jauh dari kebun ubi nya.
Renata mengupas ubi yang ia dapatkan, setelah itu ia makan mentah-mentah. sebab kalau ia masih ingin membakarnya, waktunya takkan cukup untuk memanen cabe.
Ia pun makan dengan buru-buru. kemudian meminum air sumur yang keruh.
Setalah itu, Renata mulai memetik cabai yang ia masukkan ke dalam karung, karena Dewi menginginkan cabai yang banyak, alhasil meski waktu telah masuk Magrib, Renata masih saja metik cabai.
Selesai memetik cabai, selanjutnya Renata memetik daun ubi dan juga daun katuk.
Karena hari sudah gelap Renata menyalakan senter sebagai alat bantunya melihat sayur-sayur yang akan dia petik.
Pada pukul 20:30, akhirnya Renata menyelesaikan pekerjaannya.
Ia pun telah sedia dengan cabai sekarang di atas kelapanya, dan sayur-sayuran yang ia ikat dalam kain sarung di pundak kanannya.
Renata yang memilliki tinggi badan 147 cm dan berat badan 40 kg pun berusaha sekuat tenaga membawa hasil panennya hari itu sampai ke rumah.
Sering kali langkahnya tergelincir hingga tubuhnya ambruk ke tanah, karena senter yang ia bawa tak stabil menerangi jalannya, sebab ia memegangnya bersamaan dengan karung cabe yang ada di atas kepalanya.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya Renata tiba di rumahnya pada pukul 22:35 menit, tentunya dengan tubuh penuh lumpur, sebab jalan yang ia lalui becek dan juga area persawahan.
Ia yang baru sampai pun meletakkan barang bawaannya ke dapur, kemudian ia segera mandi ke sumur yang ada di belakang rumahnya.
Ia yang mengenakan kain basahan untuk mandi pun mulai menyiram tubuhnya dengan air.
“Sstt...” ia meringis, saat air dingin yang membasahi kulitnya yang luka menghasilkan rasa perih yang membuat air seninya keluar.
Darah yang ada di hidungnya pun sudah menjadi kerak, karena tak sempat di bersihkan tadi siang, alhasil bulu hidungnya ikut tercabut saat Renata membersihkannya.
...Bersambung......
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...
__ADS_1