
Apa itu photo para leluhur mas Faiq? batin Marlina.
Ia pun mendekat ke arah bingkai photo itu, ia perhatikan satu persatu wajah orang-orang yang ada di photo.
Deg! Ada satu photo yang membuat ia terpaku.
“Kok mirip banget dengan mas Faiq?” gumam Marlina, sebab ia melihat Faiq ada dalam kumpulan orang-orang tersebut, persis dengan perawakan Faiq yang sekarang.
“Heem, wajar sih, inikan photo leluhurnya,” gumam Marlina.
Saat Marlina mengalihkan pandangannya, tanpa sengaja ia melihat pasar dari jendela yang tembus ke halaman belakang rumahnya.
“Loh, aku enggak tahu di belakang rumah ada pasar?” Marlina yang penasaran pun buru-buru menuju halaman belakang.
Namun, setelah ia melihat lebih jelas, ia mengernyitkan dahinya, sebab orang-orang yang ada di depan matanya berpakaian jadul.
Ia yang berpikir itu adalah karnaval, membuka pagar pembatas rumahnya begitu saja.
Zleebb..., ia pun masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang tak ia kenal.
Marlina berkeliling dengan sangat bersemangat, banyak jajanan pasar yang hanya di jual pada saat ia berusia 5 tahun dulu.
Ia pun membeli salah satu makanan hang kini telah langka, saat ia memberikan uangnya, si bapak pun bingung.
“Ini uang mainan ya neng?” tanya si bapak.
“Enggak pak, ini uang asli,” jawab Marlina.
“Enggak laku neng, kasih bapak uang yang benar saja,” ucap si bapak.
“Apa sih bapak ini.” saat Marlina kesal, tiba-tiba seorang pemuda tampan membayar makanan yang Marlina beli.
“Ini pak,” ucap si pemuda.
saat Marlina menoleh ke si pemuda, matanya membulat sempurna.
“Mas!”
Si pemuda pun melihat wajah Marlina dengan seksama, “Kau kenal aku?” tanya si pemuda.
“Kau! Akh!! Mana mungkin.” gumam Marlina, sebab pemuda tersebut 100% mirip dengan suaminya Faiq. Hanya saja pemuda yang ada di hadapannya terlihat seperti pemuda berusia 20 tahun.
“Nama mu siapa?” tanya Marlina.
“Hendri, kau sendiri?” tanya Hendri kembali.
“Marlina, maaf tapi kau mirip sekali dengan suami ku, di masa mudanya,” terang Marlina.
“Alasan,” ucap Hendri.
“Hei, aku serius.”
“Bilang saja kau suka pada ku pada karena ketampanan ku!”
__ADS_1
“Ih! Apa sih! Pada hal aku serius!”
“Kau juga sangat mirip dengan pacar ku,” ucap Hendri.
“Oh ya?” Marlina tak percaya.
“Iya, itu juga kalau kau mau jadi kekasih ku,” Hendri menggoda Marlina.
Sejak pertemuan itu, Marlina dan Hendri sering bertemu secara diam-diam, mereka yang cocok satu sama lain pun memutuskan untuk menjalin ikatan cinta terlarang.
Saat Faiq pergi bekerja, Marlina tidak segan-segan membawa Hendri ke rumah mereka, dan melakukan perbuatan tak sepatutnya mereka perbuat, apa lagi mereka bukanlah suami istri.
Permintaan Marlina kian hari, makin aneh-aneh saja pada Faiq, hingga Faiq sekarang benar-benar berpenampilan seperti nenek-nenek sungguhan.
Suatu hari, ketika Faiq kurang sehat, ia memutuskan untuk pulang ke rumah, namun ia tak mendapati Marlina dimana pun, ia pun mencari Marlina di segala penjuru rumahnya, hingga ia tiba di lantai 3.
Faiq pun membuka sebuah ruangan yang belum pernah ia buka selama ini. Krieet...
Saat ia telah berada dalam ruangan itu, ia melihat ada sebuah photo hitam putih besar yang tergantung di dinding.
“Aku dan Marlina?” Faiq tak habis pikir, karena photo yang ada di hadapannya adalah dirinya dan sang istri.
“Tapi, aku kan enggak pernah berphoto dengan Marlina berlatar hitam putih begini,” gumam Faiq.
Ia yang penasaran pun membuka buku misteriusnya dan bertanya pada Asi melalui tulisan.
“Asi, siapa photo yang ada dalam ruangan ini?”
“Kau tuan!”
“Iya tuan.”
“Bagaimana bisa itu terjadi?” tanya Faiq.
“Itu adalah kau di masa lalu.”
“Apa maksud mu?” tanya Faiq tak mengerti.
“Kau tidak sadar Tuhan, selama ratusan tahun terus terjebak pada hal yang sama, karena putus asa mencari jalan pintas? Sialnya tuan menikahi istri yang semakin membuat tuan kehilangan arah, dan tuan di masa lalu, berhasil membawa Marlina ke tahun 1933.”
“Apa? Aku enggak mengerti maksud mu apa!”
“Marlina, lebih memilih dirimu yang ada di masa lalu, sekarang ia tengah mengandung anak mu di masa itu tuan, jika garis keturunan telah tercipta, maka dimensi Marlina dengan mu telah berbeda, walau kalian dalam ruang dan tempat yang sama, namun kalian takkan bisa melihat satu sama lain,” terang Asi.
“Enggak! Kembalikan Marlina!” teriak Faiq.
“Tidak bisa, itu adalah pilihannya, ia sendiri sadar, kalau ia time travel, namun ia tak perduli, jangan cari dia tuan, karena sosoknya telah cukup untuk menjadi tumbal penyempurna buku ini, harusnya yang harus menebus segalanya adalah tuan, tapi karena Marlina bersedia secara tidak sadar kembali ke masa lalu, maka kau pun terbebas! Dari azab keserakahan mu!”
“Tidak! Kembalikan Marlina!!!”
“Maaf tuan, dan jangan coba-coba melewati pagar pembatas dimensi yang ada di belakang rumah, atau kau tidak akan bisa kembali ke zaman mu.”
Asi memperingatkan Faiq namun karena cinta, Faiq pun tak perduli. Faiq pun pergi untuk mencari Marlina, tanpa ia melihat catatan terakhir Asi.
__ADS_1
“Jika kalian bertemu, Marlina takkan pernah mau bersama mu tuan.”
Dengan tak sabaran, Faiq membuka pagar belakang rumahnya, lalu masuk ke masa lalu yang seharusnya ia tak lakukan. Ia pun mencari Marlina kesana kemari, namun tak kunjung menemukannya.
“Marlina!!!” Faiq menangis histeris, ia pun kembali mencari dengan memperlihatkan photo Marlina ke orang-orang, namun tak ada satu pun yang mengenalinya.
Ia yang lelah, di tambah hari sudah malam, membuat Faiq memutuskan untuk mencari esok hari, namun ia tak bisa menemukan jalan pulang, rumah besarnya pun tak ada dimana-mana.
“Tidak!! Aku ingin kembali!!!” sayang seribu sayang, Faiq pun terjebak pada masa lalu, dan ia tak bisa lagi kembali ke tahun 2022.
Sementara Marlina dan Hendri memutuskan untuk menikah, keduanya pun tinggal di rumah Faiq beli dengan darah dan juga kebugaran tubuhnya.
Faiq yang telah rentan di tahun 1933 hidup tak jelas, apa lagi di zaman itu masih terjadi perebutan kekuasaan antara penjajah dan rakyat pribumi.
Ia yang terluntang-lantung tak jelas selama beberapa bulan, akhirnya menemukan rumahnya.
“Syukurlah!!! Alhamdulillah!!” Faiq berlari menuju rumahnya yang kini penuh penjaga.
“Anda mau kemana kakek tua!” ucap tegas si penjaga gerbang.
“Aku mau masuk, ini adalah rumah ku!” pekik Faiq.
“Anda bercanda?! Ini adalah rumah, tuan Jendri dan juga nyonya Marlina,” terang penjaga.
“Marlina adalah istri ku!”
Para penjaga di buat tertawa atas pernyataan Faiq.
“Dasar tukang khayal! Pergi kau!” sang penjaga berbadan kekar dan tinggi itu melempar tubuh ripuh Faiq ke tanah.
“Marlina!! Marlina!!” teriakan Faiq membuat Marlina keluar rumah.
Mas Faiq! batin Marlina.
Marlina yang tak ingin rumah tangganya hancur pun segera mengatasinya.
“Siapa dia penjaga! Kenapa kakek tua begini ada di rumah ku!”
“Dia mengaku sebagai suami nyonya!”
“Bermimpi, buang dia jauh-jauh ke ujung jalan, mana mungkin aku punya suami pengemis!”
“Marlina ini aku Faiq, suami mu!” ucap Faiq.
“Jangan bermimpi, pergilah tua bangka! Buang dia jauh dan sangat jauh!” pekik Marlina.
Atas perintah Marina, Faiq pun di bawa para penjaga ke tempat yang tak Faiq kenali, dimana banyak kakek-kakek sepertinya yang menadahkan tangan di pinggir jalan.
Faiq pun menangis histeris, ia menyesal atas apa yang ia perbuat selama ini.
“Andaikan aku enggak serakah,” ucap Faiq.
Sementara di tahun 2022, Faiq dan Marlina di nyatakan menghilang secara misterius.
__ADS_1
Selesai.