
“Wah, itu dia, panjang umur!” seru Salimar seraya menunjuk Mery.
“Salimar, kau jangan menjadikan keadaan ku seperti di sinetron-sinetron dan film-film, yang akan menyiksa saudari tirinya di tengah halayak banyak, memangnya aku ini siapa?” ucap Jenna.
“Maaf, aku fikir kita akan bermain-main hari ini.” ujar Salimar.
“No time for play, apa lagi untuk anak janda itu, ayo kita pergi, tak sanggup aku melihat gelagak dan model rambut sanggulnya itu.” Jenna dan teman-temannya pun beranjak dari kelas.
Setelah pulang sekolah, Jenna merasa lelah, ia pun berbaring di atas tempat tidurnya.
“Ya Allah, berikan cara untuk ku, agar bisa mengusir benalu itu dari dalam rumah ku,” gumam Jenna.
Tak terasa, makan malam pun telah tiba, Mery datang ke kamar Jenna untuk mengajak makan bersama.
Lalu Jenna beranjak dari kamarnya menuju meja makan, dan duduk di atas kursi yang biasa ia duduki yaitu di sebelah ayahnya.
Di atas meja makan, sudah terhidang ayam goreng, pergedel, daun slada, sambal terasi, sayur asam, daun ubi tumbuk, buah apel jeruk sebagai cuci mulut.
“Ayah belum pulang Mir?” tanya Jenna oada adiknya.
“Katanya lembur kak.” jawab Emir.
Lalu Jenna menatap dalam Mery dan Lidiah yang makan begitu lahap dan nikmat.
“Kalian memang tidak ada sopan santunnya ya!Saya pemilik rumah ini belum mengambil secuil makanan pun, kalian sudah seenaknya makan terlebih dahulu, seolah kalian ini adalah anggota keluarga, cih! Baru kali ini ya makan enak?” pekik Jenna yang tidak suka pada ibu dan anak itu.
Emir yang melihat kakaknya mengeluh mencoba menengahinya.
“Sudahlah kak, makan saja.” ucap Emir.
“Enggak usah, sudah hilang selera makan ku.” ujar Jenna Seraya beranjak dari tempat duduknya, saat akan meninggalkan meja makan Jenna memberi titah pada ibu sambung dan saudari tirinya itu.
“Selesai makan jangan lupa untuk cuci piring Mery, dan untuk tante Lidiah, mulai hari ini sampai ke depannya, bantu bibi urus rumah, jangan tahu cuma makan tidur saja kalian berdua.” ucap Jenna.
“Di rumah inikan sudah ada pembantu Jen?” sahut Lidiah
“Tante enggak tahu ya ini hari apa?” ucap Jenna.
“Enggak Jen.” sahut Lidiah.
“Hari ini bibi ambil cuti untuk pulang kampung, jadi kamu dan anak ku yang harus menggantikan bibi bekerja.” ucap Jenna.
“Tapi Jen..” sahut Mery yang mencoba menawar titah Jenna.
Namun Jenna tak menggubris perkataan Mery, seraya meninggalkan meja makan Jenna mengumpat dengan sangat keras.
“Dasar enggak tahu diri, udah di terima numpang di rumah ini, masih berani membantah perkataan ku, enggak ada sedikit pun rasa bersalah di hati mereka, soal ibu ku yang telah pergi, sadar ya kalian para penikmat gratisan, kerja kerja kerja! Biar layak di kasih makan.”
Dengan berat hati, Lidiah dan Mery melaksanakan titah dari Jenna, mereka tidak mau membuat masalah.
Keesokan harirnya saat Lidiah akan membersihkan kamar Jenna, Jenna mengatakan kepada Lidiah, bahwasanya kamarnya itu harus di pel dengan air hangat, bukan air dingin, dan kamar mandinya juga harus di sikat, karena sudah 2 hari kamar mandinya tidak di bersihkan.
__ADS_1
Lidiah pun melaksanakannya dengan baik. Seolah tak puas dengan apa yang di kerjakan oleh Lidiah, Jenna menendang punggung Lidiah saat akan keluar dari kamarnya.
Begitulah perlakuan Jenna setiap hari terhadap ibu dan saudara tirinya ketika ayahnya tidak berada di dalam rumah.
Amarah yang ada dalam hati Jenna, membuatnya tak dapat melihat kebaikan hati Lidiah dan Mery, yang begitu sabar menghadapi sikapnya.
Lidiah dan Mery tidak pernah mengadu kepada sang ayah, atas perbuatan Jenna yang sering bertindak kasar kepada mereka berdua.
Jenna juga suka menghukum Mery, jika Lidiah membuat sedikit kesalahan, hukuman yang di gemari Jenna adalah menyuruh Mery berendam di dalam kolam, tak boleh beranjak dari sana sebelum ada perintah dari Jenna.
Hingga suatu ketika, saat Jenna ingin pergi bersama teman-temannya keluar kota, Lidiah mencoba mencegahnya, karena saat itu sedang rawan kecelakaan.
Namun Jenna, tak mau mendengar perkataan dari Lidiah.
“Tolong deh tan, jangan perintah-perintah Jenna, suka-suka aku dong mau kemana saja, awas ya kalau ngadu sama ayah, mumpung ayah di luar kota, apa salahnya aku liburan.” ucap Jenna.
“Nanti kalau ada apa-apa, ayah mu akan parah pada Jen.” ujar Lidiah.
“Makanya jangan do'a in yang buruk-buruk, lagian kalau perkataan itu berasal dari lisan mu, aku enggak mau dengar dasar wanita perusak rumah tangga orang!” pekik Jenna.
“Jenna.” ucap Lidiah, seraya menghapus dadanya.
“Kamu mati dulu, baru aku dengar ucapan mu!” sahut Jenna.
Jenna berangkat dengan teman-temannya, menuju kota Aceh, mereka pun bersenang-senang, tertawa riang, Laras dan Salimar menyodorkan minuman keras kepada Jenna.
Awalnya Jena menolak, karena terus di paksa akhirnya Jenna meneguk langsung dari dalam botol.
Tiga tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu, Lidiah selalu menangisi keadaan Jenna yang terbaring koma di rumah sakit.
Setiap saat Lidiah selalu menyesal, karena dia tak dapat mengehentikan langkah Jenna waktu itu.
Hingga lima tahun telah berlalu, setiap harinya Lidiah dan Mery merawat Jenna yang masih terbujur kaku.
Lidiah sering juga membacakan cerita novel, bahkan bernyanyi untuk Jenna, sang anak sambung tercinta.
Pada suatu hari, saat Lidiah membersihkan badan Jenna dengan kain basah, sang dokter memanggilnya, dan mengatakan bahwa jantung Jenna mengalami kebocoran.
Karena resah dan khawatir, Lidiah pun pingsan, sesaat setelah Lidiah sadar, Mery menangis di sampingnya, Ternyata Emir juga berada di ruangan Lidiah di rawat.
Dengan berat hati Emir mengatakan, bahwasanya kanker serviks serta selaput otak yang di derita Lidiah telah mencapai stadium empat. Mendengar hal tersebut, Lidiah tak sanggup untuk menghadapinya.
Setiap hari ia hanya menangis, menahan sakit yang semaki parah, selama ini Lidiah merasahasiakan penyakit yang di deritanya, mengingat umurnya yang tak lama lagi.
Tanggal 23 september 2012, Jenna terbangun dari tidur panjangnya, ia merasa kebingungan.
“Kok aku bisa di rumah sakit?” batin Jenna.
Sang ayah yang berada di sampinya tersenyum manis, Emir juga langsung memeluk Jenna yang masih terbaring di atas kasurnya.
Mery yang juga ada di sampingnya, di abaikan oleh Jenna.
__ADS_1
Karena Jenna sudah siuman, dokter pun memberikan izin untuk membawa Jenna pulang ke rumah.
Jenna merasa ada yang janggal dirumah itu. Tapi dia tak terlalu memperdulikannya,
beberapa hari pun berlalu, dia pun sadar kalau Lidiah tak ada di dalam rumah sejak kepulangannya.
Jenna tersenyum dengan bahagianya. Saat Jenna berjalan di antara anak tangga ia melihat Mery.
“Kok kamu masih disini? Kenapa enggak susul saja ibu mu yang telah meninggalkan rumah ini?” ucap Jenna.
Mery hanya menangis mendengar ucapan Jenna.
Seketika Jenna mengernyit, melihat tanggapan Mery yang menurutnya berlebihan.
Lalu Jenna beranjak ke kamar adiknya Emir.
“Mir, alu cuma singgung soal ibunya Mery, tapi dia malah nangis?” ucap Jenna.
“Kak, apa enggak ingat sesuatu?” ujar Emir.
“Apa? Tentang apa?” ucap Jenna.
“Ibu Lidiah?” sahut Emir.
“Ha, ibu? Kamu manggil dia ibu sekarang, tapi sekarang dia tinggal dimana sih?” ucap Jenna.
“Kalau kakak mau tahu, pergilah ke bukit paling tinggi di kota ini, disanalah bu Lidiah berada,”
tutur Emir.
“Ngapain lihat dia kesana.” ucap Jenna, seraya pergi meninggalkan Emir di kamarnya.
Selama beberapa hari Jenna memikirkan bukit tertinggi yang di katakan Emir, tiba-tiba Jenna duduk dari tidurnya.
“Astaga! Makam?”
Jantungnya pun berdegup kencang. “Sakit sekali,” gumam Jenna, ia pun menekan dadanya.
Seketika Jenna seperti mendengar suara di telinganya.
“saya akan mendonorkan jantung saya kepada Jenna dok.”
Suara itu selalu bergema di dalam telinganya. Setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi, Jenna menyesal atas perbuatannya selama ini.
Jenna bergegas menuju bukit yang di maksud oleh Emir, di salah satu nisa Jenna melihat terukir nama, Lidiah Binti Arrahman. Tanpa sadar air mata Jenna mengalir.
“Maafin Jenna bu, Jenna salah, dan terimakasih atas pengertiannya bu.” ucap Jenna seraya memeluk nisan almarhum Lidiah.
SELESAI.
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu