KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab IX (Ayah Part I)


__ADS_3

Hallo, nama ku Khadijah usia 16 tahun duduk di kelas 2 SMA, aku memiliki satu orang adik, namanya Maheera, usia 11 tahun kelas 6 SD tahun ini.


Aku berasal dari kota B, tepatnya di desa C, keluarga ku terbilang cukup kaya, ayah ku bernama Ali berprofesi sebagai koki di restoran milik keluarga ku sendiri, yang berjalan dengan baik ramai pengunjung sampai saat ini, dan ibu ku bernama Ana bekerja sebagai seorang PNS.


Karena desa ku terbilang pelosok, jauh tertinggal dari orang-orang yang ada di Kabupaten, ayah dan ibu memutuskan untuk menyekolahkan aku di ibu kota provinsi.


Tapi hari ini, tiba-tiba aku dapat kabar dari ayah melalui sambungan selular, katanya ibu tengah sakit keras dan menyuruh ku untuk pulang.


Aku sangat cemas kalau ibu sampai kenapa-kenapa, dari pada aku dan adik ku, ayah ku yang akan lebih mengkhawatirkan.


Ayah sangat mencintai ibu, rasa cintanya pada ibu lebih besar dari pada kepada kami berdua selaku putrinya.


Dulu, sebelum ibu di angkat menjadi PNS dan sebelum restoran ayah maju seperti sekarang, kami pernah mengalami hidup susah di usia ku 5 tahun, kadang sehari makan hanya sekali.


Waktu itu, aku masih jelas mengingatnya, pada saat makan malam, di tengah persediaan yang sudah tak ada, ayah lebih memilih tak makan, dan memberikan jatahnya untuk ibu, bukan hanya itu, jatuh ku dan Maheera juga di kurangi.


“Ibu mu lebih penting, karena ibu mu harus belajar untuk ujian masuk CPNS.” begitu kata Ayah, aku dan Maheera hanya mengangguk.


Pukul 08:03, setelah memakan waktu 11 jam akhirnya aku sampai di kampung halaman ku, lalu aku yang baru turun dari bis di kaget kan dengan bendera kuning yang ada di gang masuk menuju rumah ku.


“Maaf bu, siapa yang meninggal?” tanya ku pada salah seorang ibu yang memakai baju hitam, dan kain sarung bercorak bunga berwarna coklat sebagai roknya.


“Loh Khadijah! kamu sudah pulang nak?” ibu itu menangis seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang ku.


Ya, aku tahu yang berpulang ke Rahmatullah adalah ibu ku.


Aku tak bisa berkata sepatah kata pun, semua orang di jalan menatap ku dengan penuh iba, sebenarnya aku ingin berlari ke rumah, namun kaki ku seolah tak berdaya, untuk berjalan saja aku tak sanggup, kini aku di papah oleh 2 orang ibu yang memegangi lengan kiri dan kanan ku.


Ku lihat dari jauh, di halaman rumah ku yang megah berdiri 4 tenda hijau, sebagai naungan untuk tamu yang datang berziarah, melihat ibu terakhir kalinya di dunia.


Dengan penuh air mata membasahi pipi, ku pijakan kaki ku ke lantai marmer yang ada di ruang tamu, ku lihat ayah dan adik ku menangis pilu seraya memandangi ibu ku yang telah terbujur kaku di atas kasur di balut 5 lapis kain kafan.

__ADS_1


Langkah ku tertatih, ayah yang melihat ke datangan ku langsung merengek seperti anak kecil.


“Kha.. Kha.. Khadijah, ibu mu, i ibu nak....” ucap ayah dengan suara serak dan terbata-bata, aku pun tak dapat menahan kesedihan di hati ku lagi, kini kami selaku keluarga yang di tinggalkan menangis sesunggukan tiada henti, tamu yang melayat pun ikut haru melihat menyaksikan kami berhisak tangis.


“Kapan yah ibu meninggalnya?” tanya ku.


“Sejak kemarin Khadijah,” sahut Ayah.


Ternyata saat aku di telepon, ibu sudah tiada, mungkin karena takut aku syok makanya ayah bilang ibu sakit berat.


Pukul 10.15, ibu di siapkan untuk berangkat ke mesjid, sebelum kain kafan menutupi wajah ibu yang pucat pasif, aku ayah dan juga Maheera, mencium kening ibu untuk yang terakhir kalinya .


Lalu, para pengurus jenazah kini membungkus ibu seperti ikatan pada gula pasir.


Setelah itu, jasad ibu di angkat oleh beberapa orang menuju kreta kencana beratapkan kain hijau dengan tulisan Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.


Kemudian ayah dan beberapa warga memikul jasad ibu menuju mesjid untuk di sholat kan. Dengan air mata yang tiada henti mengalir, ayah menguatkan dirinya memegang keranda besi di bagian depan.


Aku dan adik juga ikut mengiringi di bagian belakang bersama para wanita lainnya.


“Selamat jalan ibu, semoga amal ibadah mu di terima di sisi Allah SWT.” ucap ku dalam benak seraya penggali kubur menutup rapat liang lahat dengan tumpukan tanah liat merah.


Setelah beberapa saat, satu persatu peziarah meninggalkan ibu di peristirahatan terakhirnya, begitu pula dengan kami.


Pukul 22:00, aku mendatangi ayah ke dalam kamarnya untuk mengajak makan.


“Yah ayo makan, sudah 2 hari ayah enggak makan, nanti ayah sakit lo.” ucap ku pada ayah yang tak memasukkan apapun ke perutnya selama 2 hari.


“Kalian saja nak, ayah enggak lapar,” ucap ayah yang berbaring miring di atas ranjang, matanya masih sembab, tangisnya belum usai juga.


“Kalau ayah begini, ibu enggak akan senang yah, ayo kita makan,” ucap ku membujuk ayah seraya menarik tangannya.

__ADS_1


“Ibu mu sekarang sedang sibuk tanya jawab dengan malaikat, bagaimana ayah bisa makan enak disini Khadijah?”


Aku tak habis fikir ayah dapat mengatakan demikian, aku sangat khawatir dengan kondisi ayah, tapi aku juga tak dapat memaksanya, mungkin ayah butuh waktu.


Senin, 01 November 2012 pukul 21:00, 3 hari setelah ibu pergi, ku lihat ayah sibuk berjalan kesana kemari seperti sedang merencanakan sesuatu.


“Ayah, apa ada masalah?” tanya ku seraya mendekat ke ayah.


“Nah, kebetulan kamu disini Khadijah!” Seru ayah dengan bersemangat, aku pun turut senang melihat ayah yang tidak berduka lagi.


“Kenapa yah? Apa ada yang bisa ku bantu?” tanya ku dengan senyum tipis.


“Khadijah, ayah punya solusi bagaimana agar ibu mu bisa selalu bersama kita,” ucap ayah.


“Hah? Maksud ayah gimana sih, aku enggak ngerti,” tanya ku dengan mengernyit.


“Ayah, akan menggali makam ibu mu.” jawabnya seraya meninggalkan ku ke dapur.


Aku tak habis fikir akan kegilaan yang akan ayah lakukan, lalu segera ku susul ayah ke dapur.


“Ayah, jangan berbuat yang aneh-aneh, ibu sudah tenang disana, kalau ayah begini justru akan menyulitkan ibu, lagi pula itu dosa besar yah, ibu enggak akan senang.”


“Khadijah, ayah sudah lama memikirkan ini, awalnya ayah ragu, tapi mengingat barisan kalimat terakhir ibu mu, tekat ayah jadi bulat.” ucap ayah, seraya mengambil cangkul di dekat wastafel.


“Memangnya, ibu bilang apa sama ayah?” tanya ku dengan rasa penasaran.


“Dia masih ingin bersama kita, dan dia belum ikhlas kalau harus pergi saat itu, sebenarnya ayah juga tak ridho akan kepergian ibu mu yang begitu mendadak, hati ayah sakit nak, lagi pula ayah dan ibu sudah berjanji sehidup semati mulai kami berpacaran sampai terkahir kami ucapkan di ulang tahun pernikahan kami.” tutur ayah, yang telah siap sedia dengan cangkul, senter serta karung goni berukuran besar.


“Ayah, ku harap urungkan niat mu itu,” ucap ku, dengan penuh harap ayah, ayah sadar dan kembali ke jalan yang benar.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram : @Saya_muchu


__ADS_2