KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XLIX (Suami)


__ADS_3

Mita, seorang gadis yang menikah dengan Tio si pria yang berprofesi sebagai pedagang sembako.


Ia yang di paksa menikah oleh kedua orang tuanya terpaksa setuju karena keadaan ekonomi mereka yang sedang sulit.


Pada hal saat itu Mita memiliki kekasih, namun ia harus meninggalkannya.


Setelah Resmi menjadi istri Tio, Mita pun mendampingi suaminya menjaga warung sembako mereka.


“Tolong timbang tepungnya.” titah Tio terhadap Mita.


Mita yang belum pernah melakukan hal itu sebelumnya bekerja dengan sangat lambat, dan juga banyak tepung terigu yang tercecer d sekitar timbangan.


Lalu Tio yang melihat pun geleng-geleng kepala.


“Kau bodoh sekali, masa menimbang tepung dengan benar saja kau enggak bisa? Tuh! Banyak yang terbuang percuma, kalau di pungut mungkin ada 1/2 kilo, bikin rugi saja!” Mita menatap lekat suaminya yang emosi padanya.


Pada hal baru beberapa hari jadi suami istri, tapi dia sudah menunjukkan sifat aslinya, batin Mita.


Mita tak merespon perkataan sang suami, ia pun lanjut menimbang tepung yang masih tersisa satu setengah karung lagi.


3 jam kemudian, setelah selesai menimbang tepung, Mita merasa seluruh badannya pegal, karena harus duduk lama.


Ia yang ingin merebahkan tubuhnya, bangkit dari tempat duduknya. Namun Tio yang memiliki banyak pelanggan malah memanggil Mita.


“Mita! Mita! Sini!” ucap Tio dengan nada keras, sontak Mita menghampiri suaminya.


“Iya bang?”


“Tolong, kau lanjutkan menimbang gula hang ada disana!” Tio menunjuk 3 karung gula yang ada di sudut ruko. Mata Mita pun membelalak.


Astaga, pada hal aku masih merasa, batin Mita.


“Baik bang, tapi setelah aku rebahan sebentar ya," ucap Mita meminta izin.


“Ya sudah.” tidak di sangka ternyata Tio mengizinkan Mita untuk beristirahat.


30 menit kemudian, Mita yang kelelahan tak sadar malah terlelap. Lalu tiba-tiba istirahatnya harus terganggu karena ada yang menendang kakinya.


“Hei, bangun Mita!” pekik Tio.


“Hem??” Mita melirik Tio yang wajahnya sangat merah.


“Ada apa bang?” tanya Mita.


“Ada apa ada apa! Memangnya tadi aku menyuruh mu apa? Menimbang gulakan? Kenapa kau malah tidur santai disini?” Tio uang marah memberi tatapan mata tajam pada Mita

__ADS_1


“Maaf bang, aku sangat lelah,” ucap Mita seraya duduk.


“Akh, alasan saja kau, asal kau tahu ya, suami istri itu harus kerja sama dalam melakukan tugas rumah tangga, kau jangan tahu enaknya saja ya! Kau pikir tujuan mu menikah untuk bisa berleha-leha dan bersantai-santai apa?” Mita benar-benar tersinggung dengan perkataan pedas suaminya.


Ia pung bangkit dari duduknya, selanjutnya Mita dengan mata melotot menuju ruko untuk menimbang gula yang sempat ia tinggalkan.


Sialan! Buat kesal saja, ada ya laki-laki yang cerewetnya melebihi ibu-ibu komplek! batin Mita.


Ia pun menimbang gula sampai dengan selesai.


Pada pukul 17:00 sore, Mita yang belum.semlat makan siang merasa perutnya begah.


“Astaga, apa aku masuk angin?” gumam Mita.


Ketika ia mengelus-elus perutnya, Tio datang menghampiri.


“Segera memasak, sebentar lagi malam, aku lapar,” titah Tio.


“Maaf bang, perut ku rasanya sakit sekali, sepertinya maag ku kambuh, boleh enggak kali ini kita beli makan di luar?” ucap Mita.


“Enak saja kau ini! Beli di luar itu sudah berapa? Aku menikahi mu untuk mengurus dan membantu ku, kalau kau enggak bis masak apa gunanya aku menikahi mu, orang tua mu saja meminta mahar enggak kira-kira lada ku, jadi harus sesuai dong dengan kualitas mu!”


Mita yang tak di hargai benar-benar merasa marah.


Dia pikir, karena dia sudah menikahi ku, dia bebas memperlakukan ku sesukanya? Najis!” pekik Mita.


Saat Mita belum tidur, Tio datang menghampirinya.


“Mita, bangun, aku ingin bicara!”


Mita yang masih marah tak mau membuka matanya, ia masih pura-pura tidur.


“Hei Mita, aku tahu kau belum tidur, bangun atau ku telepon ibu mu untuk mengatakan sifat buruk mu ini!” Tio mengancam Mita.


“Apa!” sontak Mita bangun dari tidurnya, “Kau mau mengadu pada ibu ku? Ayo, adukan saja, abang pikir aku perduli? Aku menikah juga karena paksaan, bukan karena cinta! Abang pikir aku takut? Kalau aku cerai dengan mu, aku bisa kembali lagi pada mantan ku!” Tio mati kutu, karena Mita tak takut akan gertakan yang ia berikan.


“Dasar istri durhaka, beraninya kau menjawab perkataan ku! Bahkan kau menantang ku!” Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Mita.


Mita si gadis yang tak bisa di beri kekerasan mu naik pitam.


Plak! Mita membalas tamparan Tio, “Memangnya kau saja yang bisa berbuat begitu? Aku juga bisa abang Tio!” pekik Mita.


“Mita kau benar-benar kurang ajar ya!” saat Tio ingin kembali memukul Mita, dengan sigap si gadis cantik itu menangkisnya.


“Enggak usah ribet-ribet, kalau abang enggak suka pada ku, ceraikan aku sekarang juga, toh aku enggak masalah walau janda muda!” Tio yang belum ingin menceraikan Mita pun menelan salivanya.

__ADS_1


“Keluar dari kamar ini!” Mita mengusir suaminya.


”Enak saja kau, ini ruko ku!” Tio membentak Mita.


“Baik, biar aku yang keluar! Kau pikir aku sudah tidur seranjang dengan orang aneh seperti mi? Dasar cerewet!” Mita bangkit dari ranjang.


“Kau mau kemana Mita!”


“Aku mau tidur di bawah saja, melihat mu aku ingin muntah!” hardik Mita.


“Mita! Kembali, kau enggak ku izinkan ke bawah!”


“Kalau begitu kau yang ke bawah, kalau memang enggak ingin aku kesana!” ucap Mita.


“Kau dan aku tetap disini!”


“Enggak mau!” Mita melanjutkan langkahnya.


“Mita, aku tahu berapa jumlah uang yang adadisana, kalau sampai berkurang 1 rupiah pun, ku potong tangan mu! Kau dengar!”


Mita yang telah bosan di rendahkan pun kembali ke kamar mereka.


Tio yang berpikir kalau Mita takut akan ancamannya merasa bangga.


“Hei setan! Jangan mengukur ku ya! Kau pikir aku pencuri? Hah!” Mita mendorong tubuh Tio.


“Hah! Menyebalkan! Hei bodoh! Aku minta cerai sekarang juga!”


“Apa?” Tio mengernyitkan dahinya.


“Kalau kau enggak mau, aku enggak perduli, yang jelas aku akan minggat dari sini!” Mita mengambil kopernya, dan menyusun pakaiannya yang ada dalam lemari ke dalam koper.


“Mita, kau enggak boleh pergi,” ucap Tio.


“Bodoh, terserah aku, kau pikir aku akan tunduk pada mu? Cuma orang gila yang mau bertahan dengan mu!” Mita yang tak ingin lagi berlama-lama tinggal dengan Tio pun segera meninggalkan suaminya tersebut.


“Mita jangan pergi!”


“Awas ah!” Mita menghempaskan tangan Tio yang berusaha menahannya.


“Dasar perempuan sialan! Aku menyesal menikahi mu!” pekik Tio.


“Aku juga begitu! Kau pikir aku senang menikah dengan mu?! Tidak! Kau salah, maka dari itu, ku tunggu kau di pengadilan agama!” pekik Mita seraya meninggalkan ruko suaminya.


Selesai.

__ADS_1


__ADS_2