KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XIX (Solo Hiking Part I)


__ADS_3

Bela, wanita berusia 30 tahun, berstatus seorang istri, yang pekerjaan sehari-harinya adalah istri rumah tangga.


Bella mempunyai suami bernama Aril, pria yang karirnya biasa-biasa saja, namun suka marah-marah.


Suatu hari kondisi keuangan Ari sedang kerang baik, pikirannya yang suntuk membuat ia mencari pelampiasan amarahnya. Tentu saja bela adalah sasarannya.


Berbagai kata-kata kasar Aril lontarkan pada istrinya, Aril juga menyatakan kalau ia tak bahagia bersama istrinya, mulai awal pernikahan sampai detik mereka bertengkar saat ini.


Bela menitihkan air matanya, Aril telah berulang kali menyakiti hatinya, dengan hinaan yang sama.


Entah setan apa yang merasuki Aril, hingga ia selalu membuat istrinya menangis.


“Aku sudah tak tahan sama kamu, aku mau berpisah saja, aku akan telepon orang tua ku, biar mereka tahu, biar semuanya selesai!” hardik Aril.


Bela tak menghentikan mau suaminya itu, karena Aril bukan kali ini saja meminta pisah, tapi sudah berulang kali, sejak awal mereka menikah, hingga pernikahan mereka menginjak 2 tahun.


Aril pun mulai mendial nomor ibunya, setelah tersambung terdengar suara dari balik telepon.


“Halo, ada apa nak?” ucap ibu Aril.


“Halo bu, ini aku mau bilang soal menantu ibu,” ucap Aril.


“Hum? Ada apa lagi nak?” ucap ibunya.


“Aku udah enggak tahan bu sama dia, aku mau pisah, dia itu membuat ku tertekan, memaksa ku kerja terus, memerintah ku, aku mau pisah pokoknya, dari awal sampai akhir pernikahan, aku enggak bahagia bu, enggak pernah bahagia!” pekik Aril pada ibunya dengan emosi.


Bela hanya diam, dan menyimak percakapan suami dan mertuanya itu.


“Ya sudah, kamu cerai saja, lagian kamu masih muda, sebelum ada anak ceraikan segera, kalau hanya membuat beban fikiran.” ucap ibunya Aril.


“Iya bu, segera akan aku urus semuanya, nanti uang yang ada di atm akan kami bagi dia, properti biar untuk dia semuanya, aku juga merasa lebih baik, jika aku sendiri bu,” ucap Aril.


“Ya sudah, masih banyak wanita lain, apa sih wanita seperti dia, bukan apa-apa juga,” timpal ibunya Aril.


“Iya bu, masalah hp juga di besar-besarkan, aku punya 2 whatshapp juga jadi Masalah ibu tau apa kata dia? Ngapain punya 2 WhatsApp, pengusaha besar saja enggak begitu, pikirannya jelek bangat bu.” ucap Aril.

__ADS_1


“Oh, biarkan saja nak,” sahut ibunya.


“Iya bu, dia juga sering keluar rumah katanya melamar kerja, pada hal enggak jelas kemana.”


“Oh, berarti dia enggak beres,” sahut ibunya Aril.


“Makanya aku mau pisah bu, aku udah enggak tahan.” ucap Aril seraya mengusap-usap wajahnya karena emosi.


Air mata Bela berderai tanpa menghentikan obrolan ibu dan anak itu, karena Bela tahu, tak ada tempat untuknya di hati keluarga itu.


Suami yang seharusnya membela dan memberikannya harga diri, malah sering kali menceritakan ke kuarangannya pada keluarga suaminya.


Semua hal yang di sampaikan Aril bertolak belakang dengan kenyataan yang ada, Bela selalu bertanya pada suaminya pada malam hari, jam berapakah Aril akan di bangun kan esok hari.


Setelah Aril menyebut jam berapa, Bela pun akan membangunkannya di jam yang telah di tentukan Aril.


Bela juga tidak pernah memaksa suaminya bekerja, Bela juga tidak pernah meminta uang belanja pada suaminya, kecuali suaminya yang memberi sendiri.


Bela istri yang cukup pengertian, meski berulang kali di sakiti ia tetap memaafkan, keluarga Aril teramat meremehkan Bela, akibat Aril yang selalu menjatuhkan martabat istrinya pada keluarganya sendiri.


Mereka selalu menceritakan keburukan Bela, yang sangat tidak idealis di mata mereka, menurut keluarga Aril yang sudah merasa sangat kaya, mereka bisa sesuka hati melempar kata dari lisan mereka pada keluarga Bela.


Pada hal, 1 rupiah di belah dua pun, keluarga bela tak pernah dapat santunan dari keluarga Aril, entah mengapa sikap arogan, kikir, dan tak berperasaan mereka dengan mudah mendominasi keluarga orang.


Semula keluarga Bela tak mau menceritakan. hal itu pada Bela.


Namun karena kakak kandung Aril mempermalukan Bela di depan keluarga Aril dan Aril sendiri pun disitu, terpaksa Bela menceritakan penghinaan yang ia dapat pada orang tua dan kakaknya.


Karena keluarga Aril teruslah yang mendesak dan mengancam akan menelepon orang tua Bela, untuk menceritakan keburukan Bela yang entah dimana letaknya.


Bila mana Bela bertanya soal keburukannya itu ada dimana nya, pasti Aril dan keluarganya tak dapat menjawab.


Bela dulunya adalah seorang yang sukses di karirnya, dan bergaji lumayan besar, karena dampak Covid 19, ia terpaksa berhenti bekerja, tapi hinaan yang ia dapat bukan dari ia tak bekarja itu, melainkan karena suami yang selalu mengadu pada orang tua dan keluarga-keluarganya, sejak awal pernikahan mereka.


Keluarga Aril yang sangat memandang ekonomi dan jabatan itu pun, makin empuk untuk memaki Bela, di depan dan di belakang Bela, memang semua adalah salah Bela, ia mau menikah dengan orang yang tak bisa menghargai dirinya.

__ADS_1


“Kamu siapkan surat cerai kalian, bawa saksi mu,” ucap ibunya Aril.


“Iya, habis itu dia enggak boleh ganggu-ganggu aku lagi.” ucap Aril.


Karena tak tahan mendengar obrolan panas itu, Bela pergi dari hadapan suaminya, ia pun merenung, penghinaan yang lalu-lalu masih membekas di hatinya, kini sudah di tikam lagi di tempat yang sama.


Bela menangis tanpa mengeluarkan suara, hatinya teramat sakit, belum lagi orang tua yang seharusnya mengayomi, malah membenarkan, bahkan mendukung untuk sebuah perceraian yang Allah saja membencinya.


“Pisahkan kami ya Allah, bila itu jalan kebahagiaan untuk kami berdua, bila sekiranya ke depan memang tak ada rejeki untuk kami memiliki anak, pisahkan segera, karena bertahan pun akan menunggu waktu saja, tiada ke ikhlasan yang ku dapat dari suami dan mertua ku.” batin Bela.


Lama sekali suami dan mertuanya itu mengobrol tentang Bela, Bela yang lelah merebahkan badannya di atas matras Yoga warna merah, ia sudah tak perduli lagi, sengaja ia sabar selama ini, apabila akhirnya memang pisah, agar tak tersirat rasa penyesalan.


Pada pukul 03.00, Bela bangun dari tidurnya, ia mengambil tas berukuran sedang yang hanya muat handphone dan air minum, dan ia membawa dompet juga, dengan jaket tebal, dan 2 lapis celana yaitu bagian dalam jeans luarnya training, Bela keluar dari dalam rumah tanpa meminta izin pada suaminya.


Ia yang masih di balut luka dan rasa sedih memutuskan untuk pergi menenangkan diri, solo hiking ke gunung L, pada hal gunung L terkenal angkernya, tapi rasa di hatinya lebih menakutkan dari pada cerita yang beredar soal gunung itu sendiri.


Untuk kesana, Bela menggunakan trasnportasi kreta api, setelah beberapa jam ia pun sampai di stasiun yang di tuju, karena merasa lapar, Bela singgah di warung makan sederhana, untuk menuntaskan masalah perutnya.


Lalu saat ia tengah makan, si ibu penjaga warung mengajaknya mengobrol.


“Mau kemana mbak? Sepertinya mbak bukan asli sini?” tanya ibu penjaga warung.


“Saya dari kota J bu, mau mendaki gunung.” jawab Bela, si ibu penjaga warung mengernyit, karena ia lihat Bela tak ada persiapan sama sekali.


“Sendirian?” tanya ibu penjaga warung lagi.


“Iya bu,” sahut Bela.


“Bahaya mbak naik gunung sendirian, baiknya mbak enggak usah kesana, apa lagi mbak kan enggak ada persiapan yang memadai.” ucap si ibu, namun Bela hanya tersenyum saja.


“Kalau memang niat mbak enggak bisa di tunda, setidaknya beli tas yang lebih besar, agar ada tempat logistik, agar mbak enggak kelaparan di atas.” ucap ibu penjaga warung.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2