KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XXIV (Ramadhan Cinta Part I)


__ADS_3

Selepas berbuka puasa, aku bersiap-siap untuk pergi sholat tarwih ke Mesjid yang jaraknya cukup jauh dari rumah ku, yang setiap harinya aku tempuh dengan berjalan kaki.


Malam ini cukup ramai sekali orang yang datang untuk sholat tarwih, dan ternyata aku terlambat datang ke mesjid, jadi mau tidak mau aku harus sholat di teras mesjid bersama jama'ah lainnya.


Saat aku akan merapikan sajadah ku, aku merasa ada seorang pemuda yang memperhatikan ku dari dalam mesjid.


Saat aku melihat ke dalam mesjid, ternyata benar, ada pemuda berparas tampan dan berkulit putih, menatap ku penuh arti. Hati ku berkata “Sepertinya aku mengenalnya.” tapi entah siapa.


Setelah selesai sholat tarwih, pemuda itu menghampiri ku saat melipat mukenah dan sajadah ku.


“Kamu Fatimah kan?” aku heran kenapa dia mengetahui nama ku.


“Iya, aku Fatimah.” dia menjabat tangan ku dengan penuh senyuman, yang membuat aku bertambah bingung.


“Kamu siapa ya? Maaf aku lupa.”


“Aku Hadi.”


“Hadi?” aku berpikir sejenak untuk mengingat-ingat siapa dia.


“Iya, aku Hadi, kita berteman sewaktu SD.”


“Oh.. kamu ya?” Tiba-tiba aku mengingatnya.


“Maaf ya aku lupa, soalnya kan dulu aku sudah lulus, kamu masih kelas 5 SD.” aku dan Hadi tertawa kecil mengingat masa lalu kami.


“Kamu kemana ajah selama ini? Sejak kamu lulus SD, aku sudah enggak pernah lihat kamu lagi?” tanya ku padanya.


“Iya, aku melanjutkan sekolah di Jakarta untuk SMP dan SMA nya.”


“Ohh..., pantas saja.” aku tersenyum melihat Hadi, yang dari SD sampai sekarang tetap saja tampan, dan postur tubuhnya sekarang sangat tinggi, kalau aku perkirakan mungkin ada 182 cm, sementara aku, masih tetap pendek, tak bertambah banyak dari aku tamat SD hingga lulus kuliah begini, membuat ku jadi minder sih berdiri di samping Hadi.


“Kamu mau pulang ya Fatimah?”


“Iya aku mau pulang sekarang.”


“Kamu sama siapa pulangnya?”


“Enggak ada, hanya sendiri.”


“Kamu jalan kaki ya Fatimah?” entah kenapa aku tersenyum malu saat Hadi berbicara seraya menatap mata ku.


“Mau aku antar pulang?” tanya Hadi pada ku.


“Enggak usah Di, aku biasa jalan sendiri kok.” aku tak dapat menerima ajakan Hadi tersebut, karena terlanjur tak percaya diri di sampingnya.


“Rumah mu kan jauh dari sini Fatimah. Harusnya sholat dekat rumah mu saja.”


“Kata pak ustadz, makin banyak langkah kita ke mesjid, semakin banyak pahalanya, karena tiap langkah ada di hitung pahalanya.” terang ku pada Hadi.


“Benar juga ya, kali ini kamu hemat pahala dulu ya, ayo aku antar pulang.” karena Hadi terus meminta, membuat ku jadi tidak dapat menolak lagi.


Akhirnya aku mau di antar oleh Hadi. Di atas motor Hadi, aku hanya diam saja. Tak tahu harus bicara apa karena sudah lama aku tidak bertemunya.

__ADS_1


“Kamu kok diam ajah sih Fatimah? Memang enggak ada yang mau kamu tanyakan pada ku? Kitakan sudah lama enggak ketemu?”


“Apa ya?” karena dia berkata tiba-tiba, seisi kepala ku menjadi kosong, dan aku jujur saja aku merasa malu pulang bersama dengan Hadi.


“Ya sudah kalau begitu, aku yang nanya sama kamu ya, kamu selama ini gimana kabarnya?Sepertinya kamu enggak banyak berubah ya sejak aku tinggal.”


“Ah hahaha.., gitu ya? Aku Cuma di kampung kita ini saja Di, dan aku baik-baik saja.”


“Kamu sudah kelar belum kuliahnya?”


“Kok kamu tahu aku kuliah Di?”


“Ya tahulah, aku lihat di akun Facebook mu.”


“Masa sih?” aku tak percaya Hadi pernah melihat data profil ku, pada hal kamu tidak berteman.


“Iya Fatimah.”


“Kalau begitu, kenapa kamu enggak minta pertemanan sama aku Di?”


“Buat apa? Toh privasi akun mu publik, jadi aku dapat melihat semua kegiatan mu.”


“Oh.. gitu ya?”


“Iya, ayo kamu enggak mau turun ya?”


“Apa?” aku tak sadar, ternyata kami telah sampai di gang rumah ku.


“Kamu sengaja enggak turun ya? Biar aku bawa ke rumah ku?” Hadi mencoba menggoda ku, yang jelas saja membuat wajah ku memerah.


“Sadar juga enggak apa-apa kok.” aku tercengang saat Hadi bilang begitu.


“Ya sudah aku pergi dulu ya Fatimah, jangan lupa tadarusan.” aku tersenyum saat Hadi bilang begitu.


Setelah Hadi pergi, aku pun masuk ke dalam rumah ku, aku masih tidak menyangka, aku bisa bertemu dan pulang bersama dengan Hadi, teman lama ku.


Keesokan harinya, setelah berbuka puasa, aku berangkat lagi untuk sholat tarwih, kali ini aku tidak terlambat, aku pun masuk ke dalam mesjid untuk mengambil tempat sholat


Setelah selesai, aku keluar untuk mengambil air wudhu. Di mesjid yang ada dalam kampung ku, Kalau kita ingin mengambil air wudhu, pertama kita harus melewati tempat wudhu laki-laki terlebih dahulu,


Karena tempat wudhu laki-laki tempatnya terbuka, tanpa sengaja aku melihat Hadi yang sedang mengambil air wudhu juga, ia mengenakan baju koko berwarna abu-abu, aku berhenti sejenak dari aktivitas kumur-kumur ku, dan tiba-tiba Hadi menoleh pada ku.


Ku rasa ia tahu kalau aku sedang memperhatikannya, tanpa di duga Hadi mengedipkan matanya pada ku.


“Astaga.” ucap ku dalam hati.


Aku langsung dengan buru-buru menyelesaikan wudhu ku, ku lirik sedikit ke arah Hadi, tak di sangka Hadi tertawa bersama teman-temannya melihat aku yang grogi.


Karena malunya, aku memukul kepala ku di tempat wudhu wanita. Setelah selesai berwudhu, aku kembali lagi ke mesjid.


Lalu tak lama Hadi masuk juga ke dalam Mesjid, waktu itu aku mengambil posisi paling pojok arah dinding, dan kalau dari sana penyekat kainnya tidak tertutup penuh.


Lalu ku lihat Hadi duduk tepat di depan ku, karena waktu sholat taraweh masih agak lama, Hadi mengambil sebuah Al-qur'an, dan ia pin membaca surah Al-Baqarah, aku merasa tersentuh mendengar suara Hadi yang begitu merdu.

__ADS_1


Ternyata dia lumayan alim juga, walau pun selama ini dia tinggal di kota, tapi dia tidak terpengaruh hal-hal negatif dari lingkungan metropolitan. Aku pun memakai mukenah, tak lama azan pun berkumandang,


Semua jama'ah masuk ke dalam mesjid untuk melaksanakan sholat Isa dan tarwih, setelah semua selesai, aku dan jama'ah lainnya keluar dari dalam mesjid.


Aku pun melihat Hadi duduk di atas motornya seperti menunggu seseorang. Saat Hadi melihat ku, Hadi melambaikan tangannya.


“Ada apa?” ucap ku.


“Aku antar kamu pulang ya?”


“Enggak usah Di.”


“Kenapa?”


“Enggak enaklah, masa kamu antar aku pulang terus, nanti orang-orang mikir aneh lagi soal kita?” ucap ku yang tak mau ada fitnah.


“Ngapain mikirin kata orang? Ayo ah.”


“Enggak usah, aku malu tahu.”


“Ngapain malu, kalau kamu enggak mau, aku bakalan buntuti kamu, gimana?” karena Hadi tidak memberikan pilihan, akhirnya aku bersedia di antar pulang untuk yang kedua kalinya.


Di perjalanan Hadi bertanya pada ku “kok kamu malu sih Fatimah?”


“Ya malulah, kamu kan ganteng bangat, sementara aku...., minder tahu.”


“Kenapa harus minder? Kamu cantik kok.”


“Bohong, kamu bilang begitu agar aku percaya dirikan?”


“Aku enggak bohong, lagian setiap wanita itu cantik, dan setiap pria itu ganteng.” Hadi berhasil membuat aku malu lagi, baru saja mengangkat ku sampai ke angkasa, secepat kilat membanting ku ke bumi.


“Aku udah sampai.”


“Oh iya aku lupa, hem..., kamu marah sama aku ya?” Hadi bertanya karena mungkin dia melihat wajah ku yang agak kecut.


“Enggak kok.”


“Yang benar?”


“Iya, emangnya kenapa?”


“Kalau kamu benar enggak marah, kamu mau dong kasih nomor handphone mu pada ku?”bAku tak mengerti, kenapa Hadi meminta nomor telpon ku, tapi aku tak pikir panjang, langsung saja aku berikan, setelah Hadi menyimpan nomor telpon ku, dia tersenyum.


“Makasih ya, aku pulang dulu.” Terlihat sekali di wajah Hadi, kalau dia sangat senang mendapatkan nomor ku. Aku pun masuk ke dalam rumah dan meletakkan mukenah ku di tempat sholat.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Mutualan di IG yok, nanti ada trailer Save Yalisa kalau mau up!


Mampir juga ke novel author di bawah ini ya. ❤️

__ADS_1




__ADS_2