KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XVIII (Dimana Letak Rasa Cinta Mu Pada Ku? Part I)


__ADS_3

Nama ku adalah Sefa, aku mahasiswi jurusan Sastra dan Bahasa, aku cukup terkenal di kalangan pria, pertama kali aku pacaran pada saat kelas X SMK, setelah hari itu sampai sekarang, mantan ku telah berjumlah 20 orang.


Aku seorang yang tak suka kebohongan, tidak pandai munafik juga, dengan kejujuran ku itu banyak sekali orang yang tidak menyukai ku, termasuk mantan ku, karena aku suka selingkuh di depan mata mereka sendiri, dan yang paling parah adalah hubungan ku paling lama hanya bertahan sampai 3 bulan, paling singkat 1 minggu.


Apa boleh buat, rasa bosan sering kali melanda ku secara tiba-tiba, banyak pacar ku yang keren dan ganteng, bahkan mapan, semua pada lewat.


Aku di juluki sebagai seorang ratu berhati dingin, karena aku sering membuat para lelaki


brantakan, pada hal aku tidak terlalu cantik, tapi bisa menjadi idola para laki-laki, ya kalau di pikir-pikir itu berkat otak ku yang cerdik dan cerdas.


Aku hobi membuat laki-laki menangis, kalau Enggak begitu, rasanya enggak asyik.


Hingga akhirnya sekarang aku punya seorang kekasih yang bernama Nico, orangnya baik, penuruti apa saja yang ku katakan, enggak ada bedanya sih dengan yang sebelum-sebelumnya.


Hanya saja dia itu sering sekali membuat ku aku ilfeel, walau sebenarnya dia enggak sengaja.


Ya, dia orangnya suka enggak tepat janji, sifatnya itu cukup membuat ku bosan. Sampai-sampai aku sering berniat untuk putusin dia, tapi enggak pernah berhasil.


Hari ini aku dan dia janjian untuk bertemu di depan kampus. Setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya Temon datang juga, temon adalah nama panggilan ku untuknya,meski aku tahu ia enggak suka, tapi dia eggak berani protes, karena takut aku tinggalkan.


“Maaf ya, kamu jadi lama nunggu.” Begitulah kata si temon pada ku.


Dengan senyuman manis aku menjawab. Harusnya kamu enggak usah datang sekalian.”


“Maaf, jangan marah-marah gitu dong sayang.” ucap si Temon seraya senyum lagi pada ku, aku pun tak mau berdebat lama.


“Ya sudahlah, percuma juga di bahas lama-lama.” Aku pun naik ke atas sepeda motornya.


“Tadi kamu udah lama keluarnya?”


“Ya iyalah, kamu tahu enggak sih, aku kayak orang begok nungguin kamu di situ, makanya kalau janji tepat waktu dong mon!” pekik ku yang masih kesal.

__ADS_1


“Iya, iya maaf sayang, aku kan baru saja keluar kampus, kamu jangan marah-marah gitu dong, nanti cantiknya bisa hilang.” aku yang takut jadi jelek pun akhirnya diam, tak ku lanjutkan marah ku lagi.


“Kita mau kemana sekarang?” tanya ku dengan menarik rambut Temon, sontak temon berteriak kesakitan.


“Kamu jangan tarik rambut aku dong, sakit tau!”


“Apa? Barusan kamu marah sama aku?” tanya padanya.


“Bukan gitu, kan sakit, emang kamu mau kalau aku jambak juga?” enggak biasanya Temon menjawab kata-kata ku, ini enggak bisa di biarkan, nanti bisa menjadi kebiasaan.


“Oh, sekarang kamu sudah berani ya menjawab kata-kata ku, ya sudah kalau begitu aku turun disini saja, pergi saja sana makan sama perempuan lain, masih banyak cowok lain di luar sana, yang lebih baik dari kamu.” Tiba-tiba Temon menghentikan motornya.


“Maaf sayang, maaf aku enggak sengaja ngomong gitu sama kamu. Aku janji enggak bakalan begitu lagi.” ucap Temon dengan wajah menyedihkan.


“Kamu tahu enggak, banyak laki-laki yang naksir sama aku, aku heran kok bisa ya aku itu pacaran sama orang seperti kamu!” Aku terus marah-marah pada Temon, dan seperti biasa, Temon hanya terus minta maaf, dan itu membuat ku makin senang.


Akhirnya kami pun sampai ke sebuah restoran, dan kami mencari tempat duduk untuk makan, tak lama setelah kami duduk, pelayannya datang.


“Aku mau pesan Indomie goreng sama telor dadar, jangan lupa yang pedas ya.” Temon pun memesan menu yang sama. Setelah menunggu 10 menit akhirnya pesanan kami datang.


“Wah! Enak bangat, kamu tahu enggak sih, dari dulu aku suka bangat sama mie.” ucap ku dengan wajah senang pada Temon.


“Aku sudah tahu kok, kamu kan bilang itu tiap kali kita makan.” ucap Nico seraya menyendok kan mie tersebut ke mulutnya.


Wah, si Temon bisa bangat buat aku marah meski ia tidak sengaja.


“Tolong Ambilin cabe yang ada di dekat kamu dong.” ucap ku, lalu Temon mengambil mangkok cabenya, saat ku buka ternyata cabenya sisa sedikit.


“Cuma dikit, kamu minta dong sama pelayannya, aku pengen cabe yang banyak nih.” Tanpa mengeluh Temon pergi meminta cabe pada pelayan, baru saja Temon duduk aku sudah menyuruhnya lagi.


“Sausnya sekalian ambil dong, saus yang ada di dekat mu.” Dengan mengambil nafas panjang Temon melihat wajah ku, dan aku pun tak mau kalah, ku pelototi pula ia, akhirnya lagi-lahi dia yang mengalah.

__ADS_1


“Wah! Nikmatnya, Mon lain kali kita harus masak sendiri engak usah beli, rugikan? buat ginian sih gampang.” Temon hanya diam saja sambil membersihkan tangan dan mulutnya dengan tisu. Dari kejauhan pelayannya pun datang.


“Semuanya Rp 50.000 mas.” Temon pun mengambil dompetnya, dengan raut wajah sedikit aneh, untuk beberapa saat dia membolak-balik dompetnya.


“Ada apa Mon?” Lalu Temon berkata pada ku, uangnya enggak cukup, mata ku langsung embulat, geram sekali rasanya melihat wajah Temon, aku merasa malu pada pelayan karena Temon, tapi tak apa boleh buat, aku menambahi kekurangannya.


Setelah pembayaran selesai kami berdua keluar dari restourant tersebut. Saat di parkiran aku mulai menghardik Temon.


“Kok kamu enggak bilang sih kalau kamu itu enggak punya uang? Sok ngajak lagi! Apa kamu enggak tahu, tadi kamu itu malu-maluin aku bangat!”


“Maaf, aku enggak tahu kalau uang aku enggak cukup.” Temon menundukkan kepalanya.


“Kamu enggak usah deh buat wajah menyedihkan begitu, aku sama sekali enggak akan kasihan, dan apa kamu tahu, di dalam kamus ku, enggak ada kata perempuan yang membiayai apa pun, dan jujur saja ya aku bilang sama kamu, aku makin ilfeel sama kamu, kalau bukan karena kehendak Tuhan, enggak bakalan deh aku bertahan sampai sejauh ini, kamu harusnya sadar, enggak ada yang patut di lihat dari kamu, keren ngak, kaya enggak, apa lagi ganteng.” pekik ku.


Karena aku marah-marah dengan keras, banyak orang yang memperhatikan kami dan mulai berbisik-bisik, aku tak perduli dengan hal itu, sementara Temon tak dapat mengangkat kepalanya, mungkin malu melihat orang-otang sekitar.


“Udah dong, malu di lihat orang banyak.” Saat Temon memgang tangan ku, aku langsung menghempaskan tangannya.


“Jangan pegang aku, dan kamu harus tahu, yang tadi bayar 2 kali lipat.” Temon mengangguk saja, karena aku malas melanjutkan marah ku, aku meminta Temon mengantar ku pulang saja.


Saat di perjalanan aku hanya diam saja, Temon pun tak berani mengajak ku bicara. Setelah beberapa saat, kami pun sampai ke rumah ku, lalu aku pun turun dari motornya.


“Sefa.” Temon memanggil ku dengan nada lirih.


Lalu aku berbalik melihat Temon “aku minta maaf udah buat kamu malu dan kesal hari ini.” ucapnya.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2