
Julukan Baru.
Melihat Riski yang marah-marah tak jelas, membuat Zuco dan Marco merasa bingung, namun karena Riski adalah kepala geng, keduanya pun mengekor kemana Riski pergi.
“Tunggu kita Ki!” ucap Zuco.
“Ikutan Ki!” lanjut Marco.
“kamu mau semeja dengan ku?” Mei mengajak Yalisa.
“Kamu serius?” tanya Yalisa yang takut di permainkan lagi.
“Tentu saja, kenapa enggak,” jawab Mei.
“Aku mau!” Yalisa pun bangkit dari duduknya, kemudian Mei mempersilahkan Yalisa untuk duduk di sebelah dinding.
Orang-orang yang melihat memberi cibiran pada Mei. “Ngapain sih dia mau berteman dengan si miskin itu!” ucap salah satu siswi.
Mei yang cuek, tak memperdulikan omongan orang, karena ia tahu betul rasanya jadi Yalisa.
Sejak hari itu, kedekatan Mei dan Yalisa terjalin, Riski yang menaruh suka pada Mei pun mengubur perasaannya dalam-dalam, karena wanita yang ia cintai tak mau mendengar perkataannya.
Suatu hari, di tengah pembelajaran, Yalisa yang ingin buang air besar permisi pada bu guru yang duduk di kursi paling depan berhadapan dengan mereka.
“Bu, saya mau izin ke toilet!” ucap Yalisa.
“Mau apa ke toilet?” tanya bu guru.
“Buang air besar bu,” jawab Yalisa.
“Silahkan,” ucap sang guru memberi izin.
Yalisa yang sudah tak tahan berlari kecil, membuat teman-temannya tertawa terbahak-bahak.
Setelah Yalisa kembali dari toilet, tawa sinis itu belum usai juga, malah kini Yalisa dapat julukan baru, yaitu si tukang bera*.
Yang mencetuskan nama itu tidak lain tidak bukan adalah Riski sendiri, yang di ikuti anggota kelas.
Bu guru yang mengajar saat itu pun ikut tertawa, menurutnya itu hanya lawakan anak-anak semata.
Yalisa tentu sangat sedih, banyak juga orang-orang yang menutup hidup saat ia lewat.
Setelah jam pelajaran selesai, Riski menghampiri Yalisa.
“Bau banget sih kamu! Mandi dulu sana! Bikin rusak suasana kelas saja!” pekik Riski.
Zuco yang merasa senang menggangu Yalisa juga ikut-ikutan memberi perundungan.
“Betul, bau banget, asli Ki!”
“Apaan sih kalian! Bikin rusuh terus!” hardik Yalisa.
__ADS_1
“Dia membentak Ki! Dasar enggak tahu sopan santun!” pekik Zuco.
“Enak saja kamu berkata kasar pada ku, sini kamu!” Riski menarik kasar tangan Yalisa.
“Hentikan Ki, kamu kok enggak ada bosannya buat ganggu Yalisa?” ucap Mei yang duduk tenang di bangkunya.
“Diam! Ini bukan urusan mu!” pekik Riski.
“Aduh-aduh, bikin kesal saja, bisanya cuma ganggu yang lemah!” timpal Mei.
“Terserah kamu mau bilang apa, yang jelas, kotoran ini harus di bersihkan!” Riski yang nakal kembali menarik tangan Yalisa.
“Jangan Ki! Lepaskan aku!” Yalisa terus mencoba untuk berontak, namun tenaga Riski yang 10 kali lebih kuat dari Yalisa membuat gadis kecil itu tak dapat lolos dari kekejaman Riski.
Sesampainya mereka ke dekat white board, Riski pun memberi titah pada Zuco.
“Guyur!” tanpa belas kasih, Zuco menumpahkan air bekas pelan lantai ysng ada dalam ember ke kepala Yalisa.
“Hah!” tentunya Yalisa syok, karena saat itu masih jam 09.30 pagi.
“Dasar najis!” pekik Riski.
“Riski! Kamu benar-benar brengsekk, apa sih salah ku padamu?!” teriak Yalisa.
“Semua yang ada di kamu salah untuk ku, jadi segala hal yang mengganjal di hati ku, harus di singkirkan! ungkap Riski.
“Dasar banci! Enggak berperasaan! Kurang ajar!” Yalisa mulai menangis karena ia merasa sangat buruk.
Ceplas!! Riski menumpahkan air minum tersebut ke wajah Yalisa.
“Tutup mulut mu kotor, harusnya kamu itu berkaca, kaji diri tentang siapa kamu!” pekik Riski seraya meninggalkan Yalisa di depan kelas dengan tubuh bau dan seragam yang kotor.
Semua yang menyaksikan tak ada yang merasa prihatin kecuali Mei, namun karena Mei sendiri tak mau ambil pusing, ia pun ikut mengabaikan.
Ketika Yalisa ingin kembali ke kursinya, pak Ari datang.
“Kenapa kelasnya kotor begini?!” tanya pak Ari si guru seni.
“Itu karna Yalisa pak!” teriak Marco.
“Benar pak, dia main air bekas pelan, kita sudah melerai, tapi dia enggak mendengarkan,” terang Yovi seraya meanahan tawa.
“Apa benar Lis?” tanya pak Ari.
“Mereka bohong pak, ini semua ulah Riski dan Zuco pak, mereka yang sudah mengguyur ku dengan air kotor,” Yalisa mencoba menbela diri.
“Enak saja kamu kalau bicara! Mana buktinya?! Bapak coba tanya yang lain aku bersalah atau tidak!” ujar Riski.
Pak Ari yang tak menyukai Yalisa karena miskin pun jelas tak mau membuang waktu.
Ia pun mengambil rol panjang, “Ulurkan tangan mu anak nakal!” titah pak Ari.
__ADS_1
“Tapi pak, aku kan enggak salah,” ucap Yalisa.
“Ulurkan! Jangan membantah!” hardik pak Ari.
Dengan terpaksa Yalisa mengulurkan kedua tangannya.
Plak plak! Rol panjang kayu berwarna kuning itu pun mendarat 4 kali ke telapak tangan gadis malang itu.
“Lain kali jangan berbuat kacau di kelas ini, lihat! Karena kegilaan mu, kelas becek! Sekarang juga, kau bersihkan semuanya!” titah pak Ari.
Yalisa yang merasa tak berdaya kembali menangis.
“Enggak usah nangis!” Pak Ari menjambak rambut Yalisa yang lepek.
“Akh!” Yalisa pun meringis kesakitan.
Siswa siswi yang melihat tertawa puas, karena tontonan hari itu sangat luar biasa.
“Ck, tangan ku jadi kotor karena mu!” lalu pak Ari pun nergegas ke luar kelas untuk mencuci tangan.
Sedangkan Yalisa mengambil pelan, ia yang tak bersalah harus membersihkan kelas.
Pak Ari yang kembali ke kelas memberi tatapan sinis pada Yalisa.
Setelah Yalisa selesai membersihkan kelas, pak Ari pun berkata.
“Pulang saja Yalisa, bau mu bikin aku mual!”
“Tapi pak, inikan masih pagi,” ucap Yalisa.
“Pulang saja, lagi pula kamu ikut kelas atau tidak, tetap akan peringkat belakang, kamu jugakan hanya punya satu seragam, besok kalau tidak kering bagaimana?” terang pak Ari.
“Pasti kering kok pak,” ujar Yalisa.
“Ku katakan pulang ya pulang!” pak Ari yang alergi melihat Yalisa bersikeras menyuruh siswi miskinnya itu untuk pulang.
“Baik pak, saya pulang.” Yalisa dengan segala sakit di hatinya mengambil tasnya, lalu ia pun beranjak keluar kelas, menuju rumahnya yang berjalak 10 menit dari sekolah dengan berjalan kaki.
Selama perjalanan pulang, ia menagis meratapi nasibnya.
“Ya Tuhan apa salah ku? Pada hal aku enggak pernah mengganggu orang lain, kenapa aku harus mendapat ujian seberat ini?”
Sedangkan Riski sendiri merasa puas karena berhasil mengusik hidup Yalisa.
Aku akan menyiksa mu sampai kamu tak ingin hidup di dunia ini lagi, batin Riski.
Mei yang kini sendiri merasa bersalah, Apa aku keterlaluan ya? Membiarkan Yalisa mendapat perlakuan tak adil? batin Mei.
Hari itu proses belajar mengajar berjalan dengan lancar, seolah tak terjadi apapun. Orang-orang pun telah melupakan apa yang mereka lalukan pada Yalisa.
...Bersambung......
__ADS_1
...HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️...