
Setelah menunggu selama 15 menit, akhirnya aku melihat Hadi datang kembali, aku tersenyum karena senang, aku juga melihat Hadi menenteng sebuah plastik warna putih di tangan kanannya, lalu ia duduk di depan ku.
“Maaf ya udah buat nunggu lama?”
“Enggak kok, enggak apa-apa, memang tadi kamu kemana?” Hadi tak menjawab, ia pun membuka bungkusan yang dia bawa, alangkah kagetnya aku, saat aku melihat yang Hadi bawa adalah sebuah mukenah warna putih simpel tapi elegan. Seketika aku jadi terharu.
“Kamu pergi buat belikan ini untuk ku?”
“Iya, kamu suka enggak?”
“Iya aku suka, tapi Di, aku kan kehilangan jilbab, kenapa kamu ngasih aku mukenah? Apa enggak aneh pakai mukenah pulang ke rumah?” Hadi pun tertawa mendengar ucapan ku.
“Enggaklah, ini aku bawa jilbab baru buat kamu, aku beli persis seperti punya kamu yang hilang.”
Hadi mengambil jilbab yang dia belikan itu untuk ku, dan memasangkannya ke kepala ku.
“Fatimah.”
“Ya?” Mata ku melihat ke wajah Hadi.
“Kamu tahu enggak, kalau kamu itu terlalu cantik?”
“Ha?” aku tidak menyangka Hadi akan berkata seperti itu.
“Cantik mu bagaikan es di dalam kulkas, bening dan menyejukkan, jadi ada baiknya, kamu menjaga ke cantikan mu ini dengan pakaian tertutup dan jangan lupa pakai jilbab, karena apa? Kalau kamu membukanya, lambat laun, cantik mu itu akan berkurang, bahkan hilang, lagiankan, perempuan memang harus menutup auratnya, kamu tahukan, kalau es dalam kulkas di keluarkan terlalu lama pasti akan mencair.” terang Hadi yang membuat aku bertanya-tanya apa maksudnya.
“Untuk apa kamu bilang begitu pada ku?”
“Karena kamu istimewa.”
“Hadi?”
“Ya?”
“Apa aku boleh tanya sesuatu sama kamu?”
“Boleh.”
“Apa aku boleh salah sangka atas semua sikap dan perkataan mu pada ku?”
“Enggak boleh.”
“Apa? wajah ku pun memerah menahan rasa malu.
“Kalau enggak boleh, kenapa tadi kamu gombal aku? rasanya aku jadi mati gaya dengan berani aku berkata begitu pada Hadi.
“Aku enggak pernah gombal kamu kok.”
Aku pun melihat Hadi dengan mata sinis, dan itu membuat Hadi tertawa.
“Kamu jangan lihatin aku kayak gitu dong.” ungkap Hadi.
“Habis kamu bikin kesal.” ucap ku.
“Kalau kamu kasih tatapan begitu, nanti aku tambah rindu.” Hadi pun mencolek hidung ku dengan tertawa girang
“Ah.. gombal lagi.” tak terasa banyak orang yang berdatangan ke dalam mesjid Hadi pun berdiri dari tempat duduknya.
“Kita mau sholat tarwih di sini?” tanya ku.
“Iyalah, ayo sini aku tolongin kamu berdiri” aku pun memberikan tangan ku.
“Hadi makasih ya, kamu baik bangat deh.”
“Iya, sama-sama.”
“tapi Di.”
“ya?”
“Wudhu kita udah batal.” kami berdua tertawa bersama.
Lalu kami bergegas mengambil air wudhu kembali, setelah itu mengikuti sholat taraweh dengan khusuk di mesjid raya. Selesai sholat kami pulang ke rumah.
Sesampainya ke rumah ku, Hadi menemui orang tua ku, dan meminta maaf atas keterlambatan kami pulang. Aku merasa sangat bahagia dan aku merasa kalau Hadi memiliki perasaan suka kepada ku, tapi entahlah aku hanya merasa saja.
Pukul 03.30, aku di bangunkan oleh ibu ku untuk makan sahur, aku melihat hp ku, tidak ada SMS atau panggilan dari Hadi, ku pikir Hadi belum bangun, tapi ternyata tidak sampai di situ saja, saat aku sholat tarwih, aku juga tidak melihat Hadi, aku mulai merasa cemas, bercampur aku juga merindukannya.
Ku kira kerinduan itu akan terobati keesokan harinya, tapi ternyata rasa rindu itu harus ku tahan untuk esoknya lagi, bahkan aku harus menunggu hingga lusanya, ingin ku hubungi Hadi, tapi aku malu.
Hati ku jadi berhenti berharap “Apa mungkin, cinta ku bertepuk sebelah tangan?” tanpa sadar air mata ku menetes. Karena tak ingin memendam perasaan ini, ku ambil handphone ku lalu ku hubungi Hadi.
Begitu ku dial nomornya, ternyata aku harus menelan kecewa, karena Hadi tak mau mengangkatnya.
Saat aku lewat dari depan rumah Hadi, tak ada tanda-tanda Hadi di dalam rumah, ingin aku bertanya pada ibunya.
“Tapi aku siapa?” Hanya Hadi yang mengenali ku.
Kembali lagi ku teteskan air mata ini. Ku pandangi mukenah pemberian Hadi yang saat ini tengah ku peluk.
“Kok kamu buat aku jadi baper sih? Kenapa kamu harus datang dan membuat perasaan masa kecil ku kembali lagi? Kenapa kamu harus bersikap hangat dan membuat aku merasa kalau kamu itu cinta pada ku?”
Lalu ku ambil handphone ku dan ku kirim pesan yang berisikan “Apa kabar? Kamu kemana saja sih? Kenapa kamu enggak kasih kabar ke aku?”
1 menit berubah menjadi satu Hari, namun tak ada balasan juga. Karena kesal , aku pun mematikan hp ku.
__ADS_1
Kini ku jalani hari-hari tanpa Hadi, walau sebelumnya juga begitu.
Ramadhan pun telah usai, pagi ini aku dan seluruh keluarga ku pergi untuk sholat hari raya Idul Fitri ke tanah lapang, maklumlah meski mesjid kami besar, tapi banyaknya warga kampung dan orang-orang yang mudik jadi mesjid tak dapat menampungnya.
Saat telah sampai di lapangan, kami menggelar tikar, lalu menaruh sajadah kami di atasnya dengan sejajar.
Setelah itu kami pun duduk di atas sajadah, orang-orang pun berdatangan satu persatu hingga memenuhi lapangan.
Kami tak lupa membawa kamera, tujuannya untuk mengabadikan momen sholat Idul Fitri yang di lakukan hanya satu kali dalam satu tahun.
“Kak, selfie yuk?” ucap Dini, anak om ku, lalu ku keluarkan kamera ku dari tas kecil ku. Lalu aku dan keluarga ku berphoto ria.
“Kakak boleh lihat poto-poto yang tadi enggak?” ucap Dini.
“Boleh.” aku memperlihatkan semua poto-poto kami tadi sampai habis, lalu tanpa sengaja aku melihat di salah satu poto selfie adik ku, aku melihat ada Hadi, sepertinya tidak sengaja ikut terpotret.
Karena penasaran, aku pun melihat ke arah kiblat, di barisan laki-laki, namun aku tak dapat melihat Hadi karena banyaknya orang di depan ku.
Lalu aku berdiri, ku perhatikan satu persatu orang yang ada di barisan laki-laki.
Dan akhirnya aku melihat keberadaan Hadi, tanpa di sangka Hadi menoleh ke belakang, kami seperti kontak batin, dia memandang ku dengan begitu serius, aku juga begitu.
Setelah aku melihat Hadi, perasaan ku jadi lega, meski rasa rindu ku belum terobati.
“Hei, kenapa kamu berdiri Fatimah, cepat duduk.” ibu ku menarik kain sholat ku, aku pun kembali duduk, sekarang yang ku lihat hanyalah kopiah Hadi saja.
Tak lama semua orang yang ada di lapangan berdiri untuk mengikuti sholat imam sholat.
Setelah selesai sholat dan mendengar kan dakwah, semua orang melipat kain sholatnya masing-masing, kemudian membubarkan diri.
Orang yang lalu lalang begitu ramai sekali, hingga aku kehilangan jejak Hadi, karena sudah tak terlihat, ku putuskan untuk pulang dengan perasaan hampa.
Baru beberapa langkah aku berjalan, ada seseorang yang memegang tangan ku dari balik kain mukenah ku.
“Assalamu’alaikum ukhty.” saat aku menoleh ke orang tersebut, sontak aku tersenyum, karena ternyata itu adalah Hadi, tapi sekejab senyuman ku itu hilang, aku melepaskan tangan ku dari Hadi.
Ku pasang wajah cemberut dan melangkah meninggalkan Hadi. Hadi pun berjalan mendahului ku lalu berdiri di hadapan ku.
“Kamu belum jawab salam ku, malah main pergi saja.” ucap Hadi dengan senyum manisnya.
“Wa’alaikumussalam.” jawab ku dengan wajah kecut.
“Kamu marah sama aku ya? Hum?” tanya Hadi seraya menatap bola mata ku, lalu menggenggam tangan ku dengan perlahan.
“Maafin aku ya? Mungkin kamu merasa kehilangan karena beberapa ini aku enggak ada kabar sama sekali.”
Aku menundukkan kepala ku, karena aku tak dapat melihat wajah Hadi, ingin rasanya aku menangis sekuat-kuatnya, untuk melepas semua air mata yang ku bendung selama 2 minggu ini.
“Hei, kok kamu nunduk gitu sih? Ada apa?”
Melihat Hadi membujuk ku dengan begitu lembut, membuat aku malah ingin menangis, perasan marah ku selama ini pun hilang.
“Fatimah, kamu nangis?” tanpa terasa air mata ku bercucuran, yang membuat Hadi terlihat serba salah.
“Jangan nangis Fatimah.” Hadi pun menyeka air mata ku dengan kedua telapak tangannya.
“Kamu jahat ” aku merasa hanya kata-kata itu yang pantas untuk Hadi.
Ku lihat Hadi menjadi panik, beruntung orang-orang yang ada di lapangan sudah pulang semuanya.
“Aku jahat kenapa?” Hadi memeluk ku dengan erat.
“Kenapa kamu enggak ngasih kabar?”
“Maafin aku ya, kemaren aku sibuk, ayah ku masuk rumah sakit, dia koma.” sontak aku melihat Hadi.
“Apa?”
“Iya, penyakit jantung ayah kambuh kemaren, karena aku khawatir dan panik, aku enggak tahu harus gimana, aku juga enggak bisa lepasin pikiran aku dari ayah, sampa-sampai aku jadi lupa sama kamu.”
“Sekarang udah gimana keadaan om?”
“Alhmandulillah ayah sudah baikan.” aku pun melepaskan pelukan Hadi, kemudian Hadi mengajak ku duduk di sebuah bangku panjang yang ada tepih lapangan.
“Ngomong-ngomong kamu cantik ya Hari ini.” ujar Hadi.
“masa sih?” ucap ku tersipu malu.
“Iya, apa lagi kamu pakai mukenah itu, Fatimah, kamu suka ya sama aku?” tanya Hadi dengan tiba-tiba.
dalam hati ku berkata, “Apa? Kok Hadi tahu kalau aku suka sama dia?”
“Fatimah, untuk pertanyaan mu yang kemaren aku jawab sekarang ya. Yang pertama kamu kemana saja sih? Aku ke Jakarta. Kenapa kamu enggak datang lagi? Aku merawat ayah.
Kenapa kamu enggak kasih kabar ke aku? Aku sibuk mikirin ayah. Kamu kok jahat bangat sama aku? Untuk yang satu itu, aku jahat dimananya Fatimah?”
Hadi memandang ku dengan penuh tanya. karena merasa malu, aku menelan saliva ku, mata ku pun tak berhenti bergerak ke kiri dan ke kanan.
“Kok kamu enggak jawab sih?” tanya Hadi.
“Iya, kamu jahat sama, mungkin kamu enggak sadar, kalau kamu telah menitipkan seperempat hati mu kepada ku.”
“Seperempat? Dikit bangat?” ucap Hadi dengan menyelipkan senyum di bibirnya.
“Memang iya.”
__ADS_1
“Berarti kamu lebih jahat dong sama aku?”
“Kenapa?”
“Kamu ninggalin 1 kg hati mu sama aku?”
“Apa?”
“Aku jatuh niat sama kamu Fatimah.” ucap Hadi dengan tatapan serius.
“Niat apaan sih?” aku tak mengerti apa maksud perkataan Hadi.
“Ada deh.”
“Kamu becanda lagi kan?”
“Enggak kok, Fatimah kamu masih ingat enggak, saat aku jatuh ke dalam sumur waktu kita masih SD?”
“Masih.”
“Waktu itu aku belum bisa berenang, terus kamu datang saat dengar aku minta tolong, saat itu aku melihat kamu panik bangat, khawatir kalau aku kenapa-napa, meski waktu itu kita belum akrab, turus kamu bawa tangga, yang beratnya 2x berat badan mu.”
“Kamu masih ingat itu ya?”
“Masihlah, apa lagi saat kamu nangis, air mata mu jatuh ke mata aku juga tahu, ah... bikin perih.”
“Maaf aku enggak tahu waktu itu.” ucap ku.
“Tapi dari situ aku melihat, kamu tulus buat nolong aku.”
“Dimana-mana kalau orang sekarat pasti di tolonglah.”
“Ya.. tapi menurut aku itu berbeda, saat aku melihat kamu nangis, jujur saja, aku jadi jatuh cinta sama kamu, sempat ada niat buat jadiin kamu jadi calon istri.”
Dug dug dug dug! Jantung ku berdetak hebat saat Hadi berkata begitu.
“Hadi?” ucap ku.
“Dan aku yakin 100% pasti kamu suka juga kan sama aku?” soal itu aku tidak terkejud kalau Hadi mengetahui isi hati ku. Lalu ku respon dengan senyuman, dan berkata.
“Kalau iya, memangnya kenapa?”
“Enggak apa-apa sih, tapi aku enggak bakalan jadiin kamu pacar.” senyuman ku pun seketika menghilang mendengar Hadi berkata begitu
“Siapa juga yang mau jadi pacar kamu!”
“Tapi, aku mau jadikan kamu calon istri ku, kamu mau enggak Fatimah?”
“Kamu bercanda ya?”
“Aku serius, karena dari dulu aku udah suka sama kamu.”
“Sebenarnya aku juga suka sama kamu sejak SD.” terang ku pada Hadi.
“Jadi, kamu mau enggak?” dengan penuh senyuman aku menganggukkan kepala ku.
Triiiingg!!! Triiiiingg!
Suara alarm handphone membangunkan tidur ku, saat ku lihat ternyata sudah pukul 08.00 pagi
Aku pun buru-buru mandi, setelah mandi ku ambil pakaian terbaik dan terindah ku dari lemari.
“Hari ini, Hadi mau datang melamar ku, setelah aku selesai memakai baju dan berdandan, alu keluar dari kamar menuju ruang tamu, ibu yang duduk di sofa melihat ku dengan tatapan bingung.
“Ada apa bu?” tanya ku.
“Zura!!” ibu memanggil nama kakak ku dengan keras.
“Kenapa bu?” sahut kakak ku yang datang dari dapur menuju ruang tengah.
“Apa Fatimah lupa minum obat?”
“Minum obat? Maksud ibu apa sih? Aku kan enggak sakit.” ucap ku dengan perasaan bingung.
Lalu kakak ku mengambil sebuah obat dalam botol dari kotak obat kami.
“Minum dulu Fatimah.” kakak ku menyodorkan sebutir obat lengkap dengan segelas air di tangannya.
“Buat apa kak?”
“Minum saja, biar kesadaran mu pulih.” ucap kak Zura.
“Kan ibu sudah bilang, kasih dia minum obat tepat waktu, ini sudah 5 tahun, tapi penyakitnya belum juga hilang.” terang ibu yang buat ku bingung.
“Aku, kenapa? Aku sakit apa?”
SELESAI.
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Mampir juga ke karya author di bawah ini ya.
__ADS_1