KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab LIV (Cinta Danif)


__ADS_3

Ini adalah kisah Danif, bocah tengil yang selalu ingin hidup mandiri, kecintaanya terhadap uang membuat ia sering kali khilaf membersihkan kantong ibu dan ayahnya.


Sang ibu yang menginginkan Danif menjadi anak yang lebih baik memutuskan untuk memasukkannya ke sebuah pesantren setelah lulus SD.


Jika di lihat dari watak Danif yang nakal, harusnya ia tak mau menyambung sekolah ke pesantren, namun siapa sangka ketika Mirna sang ibu menawarkan hal itu padanya, ia tak menolak sedikit pun.


“Baik bu, ke pesantren juga bagus.” ucap Danif.


Mirna yang menaruh harapan besar pada sang putra kesayangannya pun merasa terharu.


Berbagai persiapan pun di penuhi oleh Mirna dan Aryo sang ayah, guna tak ada kekurangan ketika anaknya masuk pesantren nanti.


Tak terasa waktu masuk pesantren pun telah tiba, Mirna dan Aryo mengangar Danif ke pesantren.


“Baik-baik ya nak, dengarkan apa kata guru-guri mu,” ucap Mirna.


“Jangan buat masalah Nif!” Aryo memperingatkan sang anak yang suka membuat onar.


“Iya bu, ayah.” jawab Danif dengan pakaian kokoh putih sarung kotak-kotak dan kopiah putih.


Danif pun masuk ke dalam pesantren dan mengikuti pembelajaran dengan baik.


Setelah seminggu menjadi anak pesantren Danif bertemu dengan seorang gadis cantik seangkatannya di pesantren itu.


“Suit.. suit...” Danif menggoda gadis tersebut. Si gadis pun melirik dengan senyuman manis.


Danif yang mendapat respon positif merasa senang bukan kepalang.


“Hei cewek cantik namanya siapa?” tanya Danif.


“Siti,” jawab gadis cantik itu.


“Siti, Aku Danif.” keduanya pun berjabat tangan sebagai salam perkenalan.


Siti dan Danif yang merasa cocok satu sama lain pun menjadi lebih sering bertemu pada saat sore hari di belakang kelas kosong.


“Siti, kau tahu kenapa bulan bersinar dimana hari?” ucap Danif.


“Enggak tahu, memangnya kenapa?”


“Karena takdir Ilahi,” ucap Danif.


“Kalau itu juga semua orang tahu bang Danif.”


“Oke, kali ini serius, kenapa aku bisa bersekolah disini?”


“Karena pilihan abangkan??”


“Bukan dong, aku kesini karena di kirim tuan untuk menjadi cinta pertama mu.” Siti senyum+senyum mendapat gombalan dari Danif.


“Aahh bang Danif bisa saja deh.” saat keduanya sedang asyik mengobrol, tiba-tiba seorang ustad, salah satu guru mereka pun menangkap basah mereka berdua.


“Sedang apa kalian disini?!” sontak keduanya pun gelagapan.


“Eh pak guru, kita berdua lagi mengobrol saja pak,” ucap Danif.

__ADS_1


“Sore-sore mengobrol di belakang kelas? Itu namanya mojok, bubar-bubar!” titah sang ustad.


“Iya ustad.” sahut keduanya.


“Awas ya kalau sampai ketahuan lagi!” keduanya pun berpisah dengan memberi senyum satu sama lain.


Keesokan harinya, ketika di kelas, Danif mengantuk bukan main, karena tadi malam ia begadang membayangkan kebersamaanya bersama Siti yang begitu indah.


Ustad Marhan yang melihat pun langsung menegurnya.


“Danif, kalau ngantuk ke toilet dulu ambil wudhu.”


“Iya pak.” sahut Danif seraya keluar kelas. Ia uang ingin ke toilet tiba-tiba ingat Siti, alhasil ia putar haluan menuju kelas Siti.


Danif yang banyak akal pun menyelinap ke belakang kelas Siti diam-diam, kebetulan Siti duduk di dekat jendela.


Saat Siti sedang mencatat pelajaran yang ada di papan tulis, Danif menyentuh jemari Siti, yang membuat gadis cantik itu menoleh.


“Bang Danif,” ucap Siti dengan pelan.


“Sst..., jangan berisik.”


“Abang ngapain kesini?” tanya Siti.


“Aku merindukan mu Siti, sampai-sampai enggak bisa tidur,” ungkap Danif.


“Iya aku tau bang, tapi sekarangkan masih jam belajar, kembalilah, nanti kalau ketahuan abang bisa kena hukum.” ujar Siti.


“Enggak apa-apa Siti, demi melihat wajah mu, apapun akan ku hadapi rintangannya.” ungkap Danif yang membuat larva cinta di hati Siti makin meleleh.


“Abang, Siti juga sama.” ketika keduanya hanyut dalam percakapan penuh perasaan tiba-tiba ustad Marhan telah berdiri di belakang Danif.


Para santriwati teman sekelas Siti yang tahu akan hal itu pun tertawa terbahak-bahak. Danif yang ketahuan pergi ke kelas putri pun di hukum oleh pak Marhan.


“Ayo! Jalan jongkok keliling lapangan, 3 putaran, kalau belum selesai, jangan berhenti, atau bapak tambah hukuman mu!” pekik ustad Marhan.


“Baik pak.” ucap Danif.


Demi Siti pun Danif rela di hukum, saat bel istirahat telah berbunyi, Siti keluar kelas melihat Danif yang di hukum di lapangan.


“Abang!” karena kasihan, Siti datang menghampiri, yang di saksikan para santri dan santriwati.


“Abang!” ucap Siti yang berdiri di samping Danif.


“Siti! Untuk apa kau berdiri disini? Apa kau di hukum juga?” tanya Danif.


“Bukan abang, aku datang untuk memberi mu semangat.” lalu Siti memberi sebotol minum air mineral dan juga satu buah permen kiss bertuliskan I love you pada Danif.


“Terimakasih dek.” ucap Danif.


“Maaf bang, Siti hanya punya itu, maklumlah, orang tua Siti belum mengirim uang jajan bulan ini,” terang Siti.


“Enggak apa-apa Siti, segini saja sudah cukup memberi tenaga baru buat abang, 1 tegukan air minum darimu, dapat memberi energi 10 kali lipat untuk abang, jangankan 3 keliling, 30 keliling pun abang sanggup,” ucap Danif.


“Tapi abang...”

__ADS_1


“Ya dek?”


“Air minumnya punya Maemah, tadi Siti minta di traktir dia,” ungkap Siti.


“Oh ya?”


“Iya bang.”


“Enggak apa-apa Siti, yang jelas aku menerimanya dari tangan mu,” terang Danif.


“Baiklah bang, semangat.”


“Tentu dek, kembalilah ke kelas mu, matahari ini terlalu kasar bila menyengat kulit putih dan mulus mu itu.”


“Oke bang, sampai bertemu lagi bang,” ucap Siti.


“Dimana dek?” tanya Danif.


“Di ruang rindu, di indahnya sepertiga malam, kita saling mendo'akan, agar berjodoh.”


“Siap dek.” setelah saling melepas gombalan, keduanya pun berpisah.


Meski keduanya sering di tegur oleh para guru karena sering ketahuan bertemu, namun Siti dan Danif tak pernah jera.


“Dek, sudah 2 tahun kita berdua dekat, kenapa kita enggak pacaran saja sih?”


“Bang, pacaran itu dosa besar,” ujar Siti.


“Terus yang kita lakukan sekarang ini apa dek? Kita berdua saking mencintai, kurangnya hanya status lo dek Siti.” Danif benar-benar ingin menjadi pacar resmi Siti.


“Ya memang bang, tapi... Siti enggak bisa kalau harus jadi pacar abang, karena itu dosa!”


“Kalau kau bahas soal dosa, memandang mu yang indahnya bagai rembulan pun dosa dek, apa lagi menaruh sebongkah hatiku di dirimu, tolonglah dek,” pinta Danif.


“Maaf bang, ade tetap Istiqomah, menjalani hubungan kita tanpa status.” karena Siti tak bersedia, Danif pun tak memaksa lagi.


“Baiklah dek, kalau itu memang keputusan mu.”


Danif dan Siti pun kembali ke asrama mereka masing-masing. Namun esok hari dan selanjutnya, Danif seperti menjauh dari Siti. Karena biasanya setiap sore mereka selalu bertemu di belakang kelas kosong, kini Danif tak pernah datang lagi, meski Siti berulang kali datang ke kelas kosong itu.


Apa si abang marah pada ku? batin Siti.


Siti terus datang setiap hari ke tempat mereka biasa bertemu, namun Siti tak kunjung mendapati Danif, mereka uang hidup di pesantren tanpa handphone pun menyulitkan Siti untuk mengetahui kabar kekasih tanpa statusnya itu.


Ia yang ingin berkirim surat pun enggan, sebab ia takut ketahuan para ustad dan ustazah.


Hingga mereka lulus pesantren, Siti dan Danif tak kunjung bertemu lagi.


7 tahun kemudian, ketika Siti telah dewasa dan menikah, ia yang bermain medis sosial tanpa sengaja melihat fesbuk cinta masa kanak-kanaknya. Dengan sigap ia meminta pertemanan.


Fesbuk Danif yang menggunakan privasi publik pun membuat Siti dengan mudah menjelajahi semua galeri dan status Danif selama ini.


“Oh, dia sudah menikah,” gumam Siti.


Siti melihat photo pernikahan Danif dengan seorang wanita cantik dan jelita, meski sudah lama, namun Siti masih menyimpan setitik rasa manis di hatinya untuk Danif.

__ADS_1


2 hari kemudian, Siti membuka kembali akun fesbuknya, ia yang ingin melihat perkembangan pertemanan yang belum di konfirmasi Danif pun merasa aneh, karena tiba-tiba ia tak menemukan akun fesbuk orang yang pernah ia cintai itu.


Selesai.


__ADS_2