KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)

KAMI HIDUP BERDAMPINGAN (CERPEN)
Bab XXXVI (SELUAS SAMUDERA)


__ADS_3

Nama ku Hani, kelahiran 9 Maret 1999, aku hanyalah anak seorang petani miskin yang tinggalnya di kampung.


Sewaktu aku kecil, aku ingin sekali seperti teman-teman ku, memiliki baju baru, sepeda baru, dan tv di dalam rumah, serta tidak lupa, aku ingin seperti teman ku yang bernama Ime, yang parasnya seperti bidadari, hidung mancung dan rambut panjang lurus terurai.


Ime adalah tetangga ku, yang orang tuanya berprofesi sebagai sebagai koki.


Tiap hari aku bermain bersama Ime, Ime cukup baik pada ku, apa lagi ibunya yang bernama Marwah.


Setiap kali ibu ku pergi ke kebun, ibu akan menitipkan ku di rumah mereka, kalau siang sering sekali bu Marwah memberiku makan, rasanya enak banget, dan aku sangat senang dengan kebaikan bu Marwah, dan aku masih ingat betul diriku, jika ibu ku pergi, aku sangat sedih, karena kami akan bertemu pada saat senja merah menghiasi langit biru.


Kala itu aku menoleh ke arah utara, dan tak lama aku melihat sosok ibu ku yang berjalan dengan menaruh kayu bakar di atas kepalanya dan tas barangnya di taruh di pundak sebelah kanannya.


“Ibu! Ibu!” aku berteriak kegirangan menyambut kedatangan ibu ku, setelah ibu sampai, ibu selalu mencium pipi ku lalu kami pulang ke kembali ke rumah, yang berada tepat di belakang rumah teman ku Ime.


Beberapa tahun berselang, akupun telah masuk ke sekolah sd, pada saat itu aku merasa guru-guru ku kurang memperhatikan ku, aku juga bingung, itu pa hanya perasaan ku saja, atau memang itu kenyataannya?


Kenapa aku berkata demikian? Karena kalau ada kegiatan apa pun di sekolah kami, pasti yang di jadikan anggota hanyalah yang berupa cantik, tampan dan kaya, aku sering sekali merasa tersisih dari mereka yang berada, apa lagi teman sekampung ku, kalau di sekolah tidak ada yang mau dekat dengan ku, walau aku sangat ingin berteman dengan mereka yang cantik tak ada yang membandingi.


Tapi aku kembali membaca diri, kalau aku dekat dengan mereka, maka mereka akan terus berjajan, sementara aku, hanya di beri uang Rp. Rp. 500 perminggu, kadang orang tua ku juga tidak memberi uang, karena ekonomi kami yang sulit.


Begitu pula ketika aku sekolah mengaji pada siang harinya, walau pun aku menjawab benar dan berjuang keras belajar, pada saat penerimaan rapot, aku selalu menerima peringkat paling akhir, ada juga guru yang begitu tega pada ku, kala itu kami pulang sekolah, ibu guru ku berjalan bersama Ime di depan ku, seraya bu guru memayungi Ime agar tidak kepanasan, hati ini pun berkata, “teganya kau bu, pada hal Ime teman akrab ku, apa salahnya ibu mengajak ku juga berjalan di sebelah kalian bu?”


Rasanya sedih sekali, mereka sering seperti itu setiap pulang sekolah, ibu guru cantik itu tak pernah bicara pada ku, “mungkin karena aku jelek,” itulah alasan yabg timbul dalam benak ku.


Sewaktu SD juga aku memimpikan ingin ikut pasukan baris berbaris, tapi aku tidak di pilih, setelah itu aku tak berani mengajukan diri lagi, orang tua ku juga tidak terlalu perduli, bukan karena mereka tidak menyayangi aku, tapi karena mereka terlalu sibuk mencari rezeki, alhasil tak terpikir pada ku yang ingin di bimbing.


Beberapa hari sebelum 17 Agustus, aku hanya bisa melihat dari lantai 2 Sekolah mengaji ku, teman-teman ku latihan baris berbaris menyambut perayaan kemerdekaan Indonesia, ingin menangis dan meminta ikut pada guru, tapi takut kecewa kerna penolaka.

__ADS_1


Meski aku selalu tersisih, aku tak pernah berniat untuk berhenti sekolah.


Di sekolah SD ku yang dulu, kami para murid-muridnya di perintahkan oleh ibu kepala sekolah untuk menjualan gorengan di kantin, tapi sepeser pun kami tidak pernah di berikan upah, aku sering tergoda pada jajanan yang harus ku jual, tapi tak ada uang untuk membeli, malah aku di suruh mendenda pada saat uang gorengannya kurang Rp. 5000.


Perlakuan yang tak adil sudah sering ku terima, sampai-sampai penerimaan raport pun aku selalu urutan terakhir, pada hal jelas-jelas ada yang lebih bodoh dari ku, dan pada saat ujian lisan, pertanyaan dari orang lain bisa aku dapatkan, tapi mereka yang tidak mampu menjawab pertanyaan yang di jadikan juara, yang paling tidak bisa aku lupakan, kami saat itu belum belajar Nahu, tapi aku di buat nilai merah sementara yang lain tidak.


Aku pikir ketidakadailan itu hanya sampai di SD, tapi ternyata itu terulang kembali di SMP, dimana teman-teman ku sering sekali mencemooh ku, megatakan aku si buang kotoran, si wc lah, si babi ngepetlah, aku sering menangis, dan juga bertanya pada Tuhan “Apa keadilan dan ke istimewaan hanya milik orang yang rupawan dan hartawan? Apa ada yang mengalami seperti aku terima? Baru saja aku mask SMP, aku sudah di perlakukan seperti itu? Mendapat perundungan, bahkan ada teman laki-laki ku yang berbadan besar, berkulit hitam yang tega melayangkan 2 tinju besarnya ke mata ku.


Mengingat masa-masa itu, aku selalu menangis, sadar aku tak bisa menjadi apa-apa dan di sukai siapa-siapa, aku pun memutuskan untuk menulis, awal mulanya, ibu guru Bahasa Indonesia menyuruh kami membuat sebuah puisi, aku pun mencurahkan isi hati ku disana, walau bukan seperti yang aku alami, pada saat pengumpulan, bu guru menyuruh ku maju ke depan, aku pun membaca puisi yang ku buat, alhamdulillah responnya baik, dari situ aku mendapat kekuatan, membuat berbagai judul puisi, ingin sekali aku mengikuti lomba, tapi yang di ajak bukanlah aku, melainkan teman ku yang lain.


Saat ada waktu senggang, aku menulis sebuah romansa, dan tiba-tiba ada sesuatu yang berbeda, aku merasa lebih nyaman, seluruh kesusahan hati ini jadi tercurahkan, hingga rasanya beban hidup ku ringan, puluhan puisi pun aku ciptakan, aku juga mencoba untuk menerbitkannya, tapi selalu di tolak, tapi aku tak pernah berputus asa, walau pernah buku catatan puisi ku basah karena terkena air


Hingga SMA, aku berpikir untuk membuat sebuah cerpen, dan novel, dan ternyata membuat sebuah cerita tidak kalah menariknya dari membuat puisi, malah aku bisa menjadi apa pun yang aku inginkan dengan menulis.


Saat itu juga aku mencoba untuk menerbitkan ke suatu media cetak, tapi tidak ada responnya


Rasanya aku ingin sekali menangis, di dalam rumah, aku selalu meminta do’a kepada ibu ku, agar suatu saat nanti, ada yang bisa menerbitkan karya-karya ku, karena aku juga ingin menjadi seorang penulis sejati yang sukses.


Selepas SMA, aku menuju Universitas, di sana juga aku mengikuti keanggotaan cinta menulis, aku sudah menyerahkan karya ku, yaitu pantun dan puisi, tapi tetap saja tidak di terbitkan, mereka hanya mengatakan.


“Nanti akan di terbitkan.” sampai sekarang tak ada kabar mengenai karya yang ku ajukan.


Kemudian, aku menyerahkan karya ku lagi ke tempat lain, hasilnya sama juga, sering kali hati ini kecewa dan tak berniat menulis lagi, namun bayang-bayangan adegan ilusi selalu menghampiri ku.


Dosen ku juga pernah memberi harapan padaku, katanya “Pasti terbit.”


Tapi tahun telah berganti tahun, tak kunjung ada kabar kelanjutannya, berbagai alasan yang dia berikan, hingga akhirnya aku bertanya pada pak Dekan, jawabannya cukup memuaskan.

__ADS_1


“Ibu itu tidak ada menyerakan apa-apa pada bapak nak.” dari situ saya tidak mau lagi menghubungi dosen tersebut.


Rasanya aku tidak mau lagi menulis, semuanya hanya memberikan harapan palsu. Hati ku sangat kecewa, begitu juga dengan orang tua ku.


Tapi kembali lagi setitik harapan menghampiri ku, seorang abang yang baik hati mau menolong ku, “Kirim saja dek naskahnya, nanti abang akan berikan pada penerbit.” aku pun kembali bersemangat, walau harus meminjam uang untuk mencetak kertas sebanyak 281 halaman, tapi aku tidak merasa khawatir. Dan saat itu juga kekasih ku menyemangati ku, hingga aku tidak merasa putus asa.


Dua bulan berselang setelah di kirim, tak ada kabar juga, aku bertanya kepada bang Jono.


“maaf ya dek, abang belum ajukan karya ade, karena ayah abang lagi sakit keras.” kembali lagi aku merasa kecewa, kalau orang berkata hati ini bagai di sayat sembilu, untuk ku, bagian mana lagi yang akan di sayat sembilu? Semua ku rasa sudah penuh dengan sayatan.


“Oh.. iya bang, semoga ayahnya cepat sembuh, kirim salam pada ayahnya ya bang.” ucap ku menahan tangis.


Hanya itu yang bisa aku katakan, aku tak mungkin memaksakan keadaan, aku juga berharap ayah bang Joni cepat sembuh, agar dia juga bisa beraktivitas seperti biasa. Aku yang sudah di atas kecewa, tak mau lagi menggerakkan menggerakkan jemari ku untuk bersentuhan dengan keyboard.


Hingga pada suatu hari aku melihat even di akun facebook teman ku Sumiati. Disitu tertera ada penerbitan buku gratis.


Sejujurnya bukan gratisnya yang aku lihat, tapi peluangnya, karena sejak aku masih anak-anak, cita-cita ku adalah menjadi seorang penulis terkenal.


Aku pun buru-buru menyiapkan file naskah terbaru, meski aku belum tahu, apa karya ini akan sama nasibnya seperti sebelumnya, tapi aku berharap kali ini berbeda, meski aku tak bisa menjadi seperti mereka yang sastrawan sejati, setidaknya aku ingin memperliatkan sisi yang aku miliki.


Aku ingin menjadi inspirasi bagi orang lain, dan aku mau mimpi ku menjadi kenyataan, hingga akhirnya buku ku di terbitkan oleh Pantene Group. Nasib ku ternyata mujur, alhamdulillah ku ucapkan pada Ilahi.


Tidididit tididit.. tidididit... bunyi jam weker membangunkan tidur ku.


“Hoam!!” ku regangkan kedua tangan dan kaki ku. Lalu aku melihat ke kalender 20 Januari 2018.


“Hah? Aku harus kembali ke sekolah!”

__ADS_1


Selesai.


__ADS_2