
Setelah aku memiliki cukup uang, aku menyekolahkan ke dua cucu ku, beruntung mereka pengertian akan keadaan ku, tidak rewel meminta jajan seperti anak-anak yang lain.
Alhamdulillah, sekarang cucu ku Ali sudah kelas 5 sd, sedangkan Zahra kelas 2 sd. Mereka telah bersama ku selama 5 tahun lamanya, aku juga sudah tidak sekuat dulu lagi, sekarang usia ku sudah menginjak 64 tahun.
Melihat keadaan ku yang rentan, ke dua cucu ku sering sekali membantu ku untuk menjual sayur, berkeliling dengan ember hitam besar yang biasanya kami gunakan untui tempat piring kotor.
Aku selalu merasa bersalah telah mengambil tenaga mereka, pada hal keduanya masih anak-anak.
“Nek, tahun ini Ali sama Zahra di belikan baju lebaran enggak nek?” Tanya Ali pada ku.
Tak terasa sudah ramadhan lagi, pertanyaan itu cukup membuat ku sedih, karena sejak mereka bersama ku, aku belum pernah membelikan mereka baju lebaran, kecuali baju bekas yang di berikan orang lain.
“Insya Allah ya cu, kalau ada rezeki, nenek belikan ya.” Perkataan ku seolah memberi mereka semangat, mereka berdua tersenyum gembira.
Memang aku sudah berniat akan membelikan mereka baju lebaran, karena ramadhan kali ini bertepatan dengan musim panen padi, Insya Allah, akan banyak orang yang membutuhkan jasa ku.
“Nek, besok kita ke kebun lagi kan, untuk memetik sayur buat di jual?” tanya cucu ku Zahra.
“Insya Allah, ayo kalian bersiap, kita harus pergi sholat tarwih,” ucap ku.
Lalu kami bertiga pun berangkat ke masjid setelah makan malam, setiap kali sholat tarwih, aku selalu menasehati cucu-cucu ku agar tidak keluar dari masjid sebelum selesai sholat, karena mengertilah, anak-anak di luar selalu mengusili cucu ku, karena cucu ku jarang sekali berjajan.
“Nek, kita ke mesjid yang mana?” ucap Zahra.
“Ke Mesjid raya saja ***.” Sahut ku seraya tersenyum tipis padanya.
“Oh, yang 23 rokaat ya nek?” ucap Zahra dengan wajah yang sedikit masam.
Seketika tawa ku lepas melihat cucu ku, maklumlah, mereka selalu ke lelahan karena rokaatnya yang banyak. Setelah beberapa menit berjalan kaki, kami pun sampai ke masjid, di dalam masjid ku pakaikan mukenah Zahra.
Setelah azan berkumandang, kami melaksanakan sholat Isya, yang kemdian di susul sholat tarweh dan witir.
Seusai melaksanakan ibadah, aku dan Zahra pulang ke rumah, sedangkan Ali pergi tadarusan.
“Ali, nanti pulang tadarus nya jangan sampai sahurnya.” ucap ku.
“Iya nek.” Begitulah kami setiap harinya, malam pergi tarawih, siang bekerja.
Cucu ku Ali juga rutin mengikuti tadarus, ia akan pulang jam 2, sekaligus membangunkan ku untuk masak sahur.
Ketika ku sedang sibuk di dapur, Zahra juga akan terbangun, mirip sekali dengan anak-anak ku zaman dulu, selalu menemani ku saat menyiapkan hidangan sahur.
Ya Allah, betapa rindunya aku masa-masa saat bersama anak-anak ku.
Setelah semua matang, kami menghidangkannya di atas tikar padan putih polos hasil rajutan ku.
Lalu aku memimpin niat puasa, yang di ikuti kedua cucu ku.
“Nawaitu shauma ghodin 'an adaa'i fardhi syahri romadhoona hadihis-sanati lillahi ta'aalaa.”
Setelah makan sahur, kami menunggu azan subuh untuk sholat, selesai sholat subuh, ku suruh ke dua cucu ku untuk tidur, dan aku sendiri mempersiapkan perlengkapan ku untuk ke sawah warga yang memanggil ku ikut panen.
__ADS_1
Setiap hari selama ramadhan, hampir selalu ada yang mempekerjakan ku, alhamdulillah, lumayanlah, uangnya cukup untuk kebutuhan kami, dan masih bisa juga di tabung untuk membeli baju lebaran Ali dan Zahra.
Aku lebih sering berbuka puasa di jalan, dari pada bersama dengan ke mereka, karena pulang dari sawah orang sudah Magrib.
Di rumah Ali menggantikan ku untuk memasak nasi. Kalau aku datang, cucu ku selalu menyambut ku dengan tawa, mengangkat tas ku, dan memijat badan ku setelah sholat Magrib.
Aku sering berpikir saat melihat ke dua wajah cucu ku.
“Apakah tak ada kerinduan di benak orang tua mereka berdua?”
“Nek, kita punya uang enggak nek?” Ali bertanya pada ku dengan menundukkan kepalanya.
“Memangnya kenapa nek?” ucap ku.
“Aku mau beli telur gulung yang di jual di depan mesjid nek, dari kemaren aku sudah ingin sekali, tapi kalau enggak ada, enggak apa-apa kok nek?” ujar cucu ku dengan merapatkan kedua bibirnya.
“Nenek punya uang kok, memangnya harga telor gulung nya berapa Ali?” tanya ku, maklumlah, diriku yang serba pas-pasan ini, tak pernah membeli di luar kebutuhan pokok.
“Rp 500 nek, tapi enggak usahlah nek, Rp 500 nya kan nanti bisa beli beli tempe mentah nek, lebih enak lagi, bisa buat lauk kita bertiga.” ucap Ali.
Aku sangat iba di buatnya, dulu waktu anak ku kecil juga, aku tak dapat memberi apa yang mereka inginkan.
ya, wajar saja aku tak ada di ingatan mereka, dan rasanya aku memang pantas mendapatkan itu semua.
Lalu ku ambil uang dari kain sarung ku, yang ku ikat dengan karet, ku ambil sebanyak Rp. 3000.
“Ini ambil, Ali bagi sama Zahra ya.” ucap ku dengan menahan air mata ku.
Dengan penuh senyum, ku usap bahu cucu ku “tenanglah, nenek masih punya uang, belikan saja, kalau nenek enggak punya, pasti nenek bilang enggak ada, lagiankan kalian enggak setiap hari jajan, sana beli nanti kehabisan lagi.” ucap ku.
Setelah ku yakinkan, barulah Ali dan Zahra mau menerimanya, seraya mengucapkan terimakasih pada ku.
Kemudian mereka pergi ke depan mesjid untuk membeli telor gulung yang mereka inginkan, aku pikir mereka akan memakannya berdua saja, tapi ternyata, mereka membawakan aku 2 tusuk telur gulung.
Pagi harinya, saat aku akan berangkat ke sawah bu Ani, aku berpesan pada cucu ku untuk tinggal di rumah jangan kemana-mana, dan merekapun menurutinya.
Saat memanen padi di sawah bu Ani, matahari hari sangat terik, teman-teman ku yang ikut memanen hari itu memutuskan tidak puasa, hanya aku saja yang masih bertahan, mereka menawarkan aku minum, namun aku menolak.
Sebenarnya aku juga merasa sangat lemas, bekerja pun sudah tak kuat, tapi aku tak boleh mengeluh, karena aku harus membelikan ke dua cucu ku baju lebaran, harus dan harus.
Hari ini adalah ramadhan ke 29, alhamdulillah, uang yang aku kumpulkan sebanyak Rp 600.000 dengan senang hati, aku mengajak ke dua cucu ku ke pasar untuk membeli baju baru, mereka berdua pun senang bukan main.
Aku juga turut bahagia, karena sebelumnya mereka tidak berani komentar kalau tak ada baju lebaran, karena keduanya tahu, aku tak punya uang.
Di pasar, mata mereka kesana kemari, untuk melihat berbagai model baju yang akan di pilih.
Mata ku jadi berkaca-kaca dan hati ku berkata “Beginikah kalau punya uang, kaki, mata dan mulut bisa melaju kemana-mana.”
Kami pun berhenti di salah satu penjual baju, Zahra melihat baju dress warna merah, yang begitu indah, Zahra meminta baju itu pada ku, kemudian kami menanya berapa harganya.
“Maaf bu, baju merah yang warna merah itu berapa harganya?” tanya ku seraya menunjuk ke arah yang ku maksudkan.
__ADS_1
“Rp. 250.000,” jawab sang penjual.
“Astaga, mahal sekali,” batin ku.
Jelas saja kami tidak mampu membelinya, sampai akhirnya penjualnya menawarkan baju berwarna merah muda, sama cantiknya dengan sebelumnya, hanya berbeda kehalusan bahan saja.
Syukurnya Zahra juga menyukainya, kalau Ali memilih baju warna biru, harganya juga cocok, selesai membeli baju, kami pun pergi membeli sandal lebaran.
Setelah selesai berbelanja baju dan bahan dapur untuk lebaran besok kami pun pulang.
Malamnya takbir mulai bergema “allaahu akbar wa lillaahilhamd.allaahu akbar kabiiraw wal hamdu lillaahi katsiiraa wasubhaanallaahibukrataw wa ashiilaa. laa ilaaha illallaahu walaa na'budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahud-diina walau karihal kaafiruun.”
Mendengar suara takbir dari mesjid, aku tak mampu memakan makanan yang ada di hadapan ku, gema takbir begitu sangat menusuk hati ku.
Karena akan berpisah dari ramadhan, suami ku dan keluarga yang mendahului ku pun akan pergi meninggalkan ku ke alamnya.
Aku terus menangis, lalu aku sholat dan mendo’akan mereka agar di ampuni segala dosanya oleh Allah, tanpa ku sadari aku telah terlelap di atas sajadah ku.
Saat aku terbangun, aku melihat jam yang telah menunjukkan pukul 05.00 subuh, ku bangunkan cucu ku, ku suruh mereka mandi sunat Idul Fitri bersama ku ke sungai dekat rumah ku.
Selesai mandi, kami sholat subuh, setelah itu makan pagi, lalu ku suruh duduk ke dua cucu ku di hadapan ku, dan ku ajari mereka untuk meminta maaf kepada ku terlebih dahulu.
Baru Zahra ke Ali, setelah selesai bermaaf-maafan, ku ambil mukenah ku yang telah banyak di lapisi warna lain, untuk sholat Idul Fitri, tapi Ali dan Zahra tak memperbolehkannya.
“Mukenah itu sudah usang nek, jangan di pakai lagi.” ucap Ali.
“Iya nek,” sahut Zahra.
“Tapi nenek kan cuma punya satu mukenah cu.” ucap ku.
Lalu hal yang tak terduga mengejutkan ku, Ali mengambil sebuah kotak dari dalam kardus baju mereka.
“Apa ini?” tanya ku.
“Itu untuk nenek, buka saja nek.” ucap Ali dan Zahra.
Ku turuti titah cucu ku, lalu ku buka kotak itu, yang ternyata isinya adalah sepasang mukenah baru.
“Ini dapat dari mana? Siapa yang kasih Ali, Zahra?” tanya ku keheranan, karena setahu ku mereka tak punya uang untuk membeli mukenah baru pada ku.
“Itu dari hasil menjual sayur nek, selama ramadhan ini, Ali dan Zahra pergi ke kebun untuk memetik sayur, lalu kita jual ke warung-warung dan juga ke rumah warga langsung, makanya kita bisa beli mukenah baru buats nenek.” ucap Ali.
Air mata ku pun tak terbendung lagi, ku peluk kedua cucu ku seraya mengucapakan terimakasih banyak berkali-kali.
Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa merasa bahagia dan ikhlas menjalani kehidupan tanpa anak-anak ku, terimakasih Tuhan, kau telah kirimkan kedua cucu ku pada ku, tolong bantu selalu kami dalam menjalani hari-hari kami.
Dengan canda tawa, kami pun bergegas ke mesjid untuk menjalan kan sholat sunat Idul Fitri.
Selesai.
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu