Kampus Horror

Kampus Horror
Part 21


__ADS_3

Kampus Horror


Part 21


Beberapa aparat kepolisian telah tiba di Fakultas Sastra.


Petugas forensik berhasil mengangkat kerangka yang dipastikan kerangka manusia melalui visum luar.


Seorang laki-laki berpenampilan urakan mendekati Damar dan kawan-kawan.


Dengan asap mengepul di antara jarinya, dia bertanya dengan wajah tegas.


“Saya Jimmy, petugas bagian penyidik yang akan memimpin penyelidikan tentang penemuan kerangka manusia. Kalian mahasiswa sini?” Tanya Jimmy seraya menyerahkan kartu nama ke arah Damar.


“Benar, Pak. Saya Damar, ini Bagi, Agia, dan Stevina. Kami mahasiswa Fakultas Sastra.”


“Baik. Mohon bantuannya jika kami perlu informasi, ya.”


Pak Jimmy terlihat berlari menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP) karena dipanggil oleh seseorang.


Damar dan yang lain enggan mendekati karena masih mengalami shock. Merema duduk berkumpul di atas halaman kampus berumput dekat dengan kursi taman.


“Lantas, kita harus bagaimana?” Stevina membuka pembicaraan.


“Ya nggak gimana-gimana,” Bagi menjawab sambil menyabut-nyabuti rumput di sekitar kakinya.


Agia terlihat lebih tenang dari yang lain.


“Gi,” Panggil Stevina.


Agia menoleh,


“Gimana coba caranya kita jelasin ke mereka? Masak kita bilang lihat hantu?” Stevina bertanya to the point.


Agia diam.


“Bilang saja nanti apa adanya. Mereka kan orang Indonesia juga. Pasti ngerti sama penampakan atau hal-hal gaib.” Damar mendahului Agia untuk menjawab.


“Siapa ya, yang tega mengubur Asih? Bahkan dikubur dengan beton setebal itu,” Stevina kembali mengeluarkan segala hal yang ada di dalam pikirannya.


Tak ada satupun dari mereka yang bisa menjawab. Karena mereka memang tidak tahu. Biarlah kini menjadi masalah kepolisian saja.


Sudah cukup rasanya mahasiswa biasa seperti mereka mengalami hal-hal yang belum pernah mereka lalui sebelumnya.


***


“Ndre, yang berwenang dari pihak kampus sudah ke sini belum?” Tanya Jimmy kepada Andre-petugas pembantu penyidik.


Sudah hampir enam tahun Andre mendampinginya setelah kepindahan Tono ke daerah lain.


“Dekannya sudah saya telepon, Kak. Tapi belum tiba.”


Jimmy kembali menyesap penuh tembakau yang telah digulung kecil.


“Pak Jim, ini dompetnya korban. Tapi tanda pengenalnya sudah tidak bisa terbaca. Buram total.” Ucap salah seorang petugas forensik bernama Sangtu.


“Nanti kita coba jernihkan dulu di lab, Pak.” Sambung Sangtu mencoba memberi harapain baik untuk semua.


Jimmy tiba-tiba mendengar suara tangis lirih di atasnya. Seketika dia mendongak. Menatap jendela kelas lantai atas.


Sangtu dan teamnya permisi untuk membawa kerangka manusia menuju laboratorium forensik.


Jimmy hanya mengangguk, namun pandangan tidak berpindah dari jendela di lantai dua.


Andre mengikuti arah pandang Jimmy.


“Kenapa, Kak? Mau ke atas?”


Tanpa menyahut Jimmy bergegas menuju tangga dan membuka pintu kelas.


Andre mengekor di belakang Jimmy. Tidak ada apa-apa. Sepi. Lembab.


Jimmy mengamati ke seluruh ruangan. Lalu perlahan masuk dan berjalan perlahan.


Jimmy duduk di salah satu bangku terdepan.


"Menurut lo, ini pembunuhan atau kecelakaan, Ndre?" Jimmy berbicara tanpa memandang wajah Andre. Dirinya fokus menatap jendela sebelah kirinya.


"Kita harus tunggu hasil forensiknya dulu, Kak."


"Insting!" Teriak Jimmy mengagetkan Andre.

__ADS_1


"Gue udah sering bilang kalau insting anjing pelacak itu hebat. Dan kita ini di sini bertugas sebagai anjing. Ngerti, lo?!"


Tidak heran jika orang-orang memanggil Jimmy dengan anjing pelacak gila.


Diumurnya yang sudah memasuki kepala lima, pantang memiliki relasi dengan hati. Dia memilih untuk menjalani hidupnya sendiri. Tanpa pasangan. Kebutuhan biologis?


"Gampang itu! Cari di mana aja ada. Harga berapa pun ada! Justru tanggung jawab sebagai pasangan itu yang susah! Seumur hidup harus menyesuaikan isi hati, isi kepala, bahkan isi dompet. Kelamaan itu seumur hidup!"


Begitu pendapat yang selalu diutarakannya.


"Ini korban jatuh dari sini, Ndre." Jimmy bangkit dari duduknya dan mendekati jendela kelas yang tepat berada di atas TKP.


Jimmy kemudian membuka jendela dan melongok ke bawah.


"Oi...! Sudah kelar moto-motonya belum?!" Teriaknya kepada petugas di bawah.


Semua menoleh ke atas.


"Sudah, Pak!" Seru salah seorang.


Jimmy mengedarkan pandangannya ke arah pohon mangga yang di bawahnya terdapat pelapor penemuan kerangka.


Jimmy bergegas keluar kelas, dan menemui Damar dan kawan-kawan.


Sementara Andre tetap mengekor di belakang Jimmy.


"Nama kamu siapa tadi?" Tunjuknya ke arah Stevina.


"Stevina, Pak "


"Berat badan kamu berapa?"


"Empat puluh delapan kilogram, Pak."


"Tinggi seratus enam puluh, ya?"


"Lebih tepatnya seratus enam puluh tiga centi meter, Pak."


"Oke, Makasi." Jimmy lalu kembali berjalan ke arah TKP.


Stevina dan yang lain saling tatap dengan heran.


***


Jimmy mengingat percakapannya dengan Sangtu di telepon tadi.


Andre terlihat sedang mengumpulkan segala informasi dari saksi dan juga pihak yang bersangkutan.


Hari semakin sore.


Seorang wartawan yang sangat dikenalnya datang menghampiri.


"Menurut, lo, dia siapa?" Tanya Jimmy begitu DJ duduk di sebelahnya.


Dimas Jaya. Namun orang-orang lebih mudah memanggilnya DJ. Seorang pemburu berita yang sering membantu Jimmy bertukar informasi.


"Gue baru saja duduk. Mana gue tahu."


"Nggak mungkin lo ke sini kayak orang blo'on tanpa bekal informasi apapun,"


DJ menghela napas panjang.


"Setelah lo telepon gue tadi, gue langsung tancap gas. Lalu gue ke sekitar sini dulu nanya-nanya tentang urban legend di kampus ini." Mereka saling tatap.


"Memang banyak ada cerita tentang penampakan perempuan di kampus sini."


Jimmy menghisap kuat-kuat tembakau bakarnya.


"Rencana mau lo tulis kayak gimana?"


"Akan gue giring si pembunuh muncul ke permukaan."


"Lo yakin dia dibunuh?"


"Kalau buntu, ya sudah bilang kecelakaan. Beres."


"Nggak semudah itu." Jimmy menunjuk tempat mahasiswa berkumpul dengan dagunya.


"Siapa mereka?" Tanya DJ seraya memandang lekat satu persatu orang-orang yang baru pertama kali dilihatnya.


"Pelapor yang nemu kerangka. Mahasiswa sini."

__ADS_1


"Wow! Ada pemburu hantu, nih ceritanya?"


DJ beranjak dengan cepat, dan memberikan senyuman penuh arti kepada Jimmy.


Dalam diam Jimmy melihat tingkah laku DJ-teman mainnya dulu yang pernah bekerja sebagai detektif swasta.


Namun, menurut DJ, tantangan menjadi detektif tidak semenarik seorang wartawan.


Pekerjaannya sama-sama menyelidiki sesuatu. Namun detektif hanya berakhir kepada satu orang saja. Jika menjadi wartawan, dia bebas untuk mengulik segala hal tentang yang bersangkutan dan mempublikasikannya ke khalayak.


Sensasi melihat orang-orang membaca berita yang ditulisnya membuat ketagihan dan ingin mengupas sebanyak-banyaknya berita.


***


DJ turut serta menyamakan posisinya di antara para mahasiswa. Duduk bersila di bawah pohon mangga.


"Saya tahu, kalian beberapa kali ditunjukkan penampakannya, kan?"


Yang lain menatap DJ lekat.


"Saya enggan mempercayai, tapi begitulah adanya. Hal ini sudah lama sekali beredar. Pantas saja, tubuhnya ternyata dikubur di sini."


"Om mahasiswa sini dulu?" Tanya Damar.


DJ menggeleng.


"Saya mahasiswa KamPar. Tuh, di belakang sana."


"Apa itu Kampar?" Damar menyahuti dengan bingung.


"Kampus Pariwisata. Biar gampang nyebutnya."


Stevina menaikkan ujung bibirnya sedikit menahan senyum karena mendengar istilah baru yang lucu.


"Lalu, bagaimana kalian berakhir menemukan kerangkanya di situ?"


"Feeling saya, Om. " Sahut Agia singkat.


"Karena kamu lihat dia jatuh dari sana ya?" DJ menjawab dengan tangan menunjuk ke lantai dua.


Mereka saling pandang heran.


"Kok, Om bisa tahu cerita ini?"


"Saya pernah tinggal lumayan lama dekat sini. Ada hal yang harus saya selidiki tentang mafia tanah, antek-antek orang besar di negeri kita." DJ berbicara santai seraya menatap satu persatu anak-anak bangsa yang akan membawa negeri ini menjadi lebih baik.


"Ya, saya banyak dengar mahasiswa yang membicarakannya. Saya pikir itu hanya candaan mereka saja yang bosan dengan masa perkuliahan. Tapi ternyata terbukti, Kampus ini menyimpan suatu misteri."


"Om penyidik juga kayak Pak Jimmy?" Tanya Bagi penasaran.


"Bukan. Saya wartawan."


Yang lain saling tatap karena terkejut tidak menyangka yang di hadapannya adalah seorang pencari berita.


"Kerjaan kami mirip. Tapi memiliki point of view yang berbeda. Tahu kan point of view?"


Yang lain mengangguk mantap.


"Ya, cara pandang kami seorang wartawan berbeda. Yang kami suguhkan berisi beberapa gimik dan cerita dibalik cerita. Sementara dia," Tangan DJ menunjuk Jimmy yang masih asik dengan kepulan asapnya.


"Hanya terpaku dengan korban-pelaku saja. Padahal masyarakat kita memerlukan banyak sekali informasi yang harus dikulik. Ya, nggak?"


Tiba-tiba debuman keras terdengar dari lantai atas.


Semua terperanjat dan bergegas lari menghampiri sumber suara.


Jimmy dan Andre yang pertama tiba. Diikuti oleh DJ, Damar dan kawan-kawan.


Pintu kelas telah tertutup. Jimmy mencoba membuka pintu. Namun, pintu terkunci.


Mereka saling pandang.


"Dobrak!" Jimmy memberi perintah.


"Jangan, Pak!" Damar segera menghentikan Jimmy.


"Beberapa waktu lalu kami juga mengalami hal serupa. Kita turun dulu, Pak." Damar menyarankan dengan yakin.


***


Jimmy dan DJ saling lirik setelah mendengar cerita dari Damar yang telah melakukan ekspedisi di kelas itu.

__ADS_1


Walaupun tidak keseluruhan cerita dibagikan oleh Damar, sudah membuat bapak-bapak pekerja profesional itu terdiam tanpa kata.


"Jadi, kita benar-benar berurusan dengan hantu, nih?"


__ADS_2