Kampus Horror

Kampus Horror
Part 23


__ADS_3

Kampus Horror


Part 23


Deni memandang jalan kampus yang kini akan mengantarnya ke memori terpahit serta terindah. Namun sayang, keadaan seputaran kampus tidak lagi sama seperti waktu dulu. Dulu area kampus masih sepi. Banyak tanah kosong yang berisikan semak belukar disepanjang jalur menuju kampus. Namun kini, telah banyak hotel dan restaurant serta segala kebutuhan hidup manusia yang tersedia lengkap.


Rasa-rasanya Deni tetap hidup pada tahun 1986, tetapi dengan raga yang dipaksa ada pada tahun masa kini.


Tak banyak pembicaraan yang terjadi di dalam mobil. Bukan berarti mereka tidak memiliki banyak pertanyaan tentang cerita masa lalu.


Hampir seluruh negeri membicarakan kasus dan cerita ini. Bahkan tidak sedikit yang memberikan spekulasi serta kemungkinan siapa pelakunya.


Bahkan ada beberapa pelaku supranatural yang diliput media guna mengamati kasus ini.


“Gue kurang tahu namanya siapa itu yang bisa ngejelasin lengkap dengan gambar, Den. Tapi dari penjelasannya entah gimana gue yakin kalau itu Asih.”


Deni tak merespon informasi yang diberikan oleh Robi.


“Bahkan nih, ya. Jiwa Asih di sana terlihat sedih dan penuh kekecewaan, Den.”


“Gue nggak tahu ada cerita apa dibalik kehidupan Asih. Tapi kalau memang lo bukan pelaku, gue yakin lo masih punya rasa kemanusiaan untuk membantu kan, Den?”


“Bantu? Apa yang bisa gue bantu?”


“Ya mana gue tahu. Yang tahu, ya cuma lo sendiri.”


Deni melihat ponselnya dan mendapati belum membalas pesan yang dikirim Bagi.


[Om lagi ada urusan. Nanti sampai di rumah kita ngobrol, ya.]


Deni tidak ingin memberikan kesan ketertarikan kepada cerita yang kini sedang heboh. Ia masih terbelenggu pada duka masa lalu karena mendapati cintanya yang terkasih tega mengkhianatinya. Tak dipungkiri bahwa Deni terus mencoba mencari tahu keberadaan Asih. Namun, hingga kini muncul berita yang beredar, Deni tetap percaya bahwa Asih telah hidup bahagia disuatu tempat bersama lelaki pilihannya.


Mobil Robi kini telah sampai di parkiran kampus. Deni menatap sendu ke arah gedung-gedung kampus.


“Turun, yuk!” Robi mengajak Deni yang disambut anggukan dari Deni.


Pohon besar itu masih setia bernaung di sana. Semua masih sama. Tidak ada yang berbeda, kecuali kondisi bangunan yang kini terlihat lebih baru dari sebelumnya. Deni melihat kearah kursi di bawah pohon mangga. Dulu tempat itu ada kantin kecil tempat Ia dan teman-temannya sering menghabiskan waktu. Dari sana pula Deni melihat seorang gadis cantik nan menawan berjalan dari depan kampus dengan malu-malu. Tak kuasa Deni menahan mata untuk mengikuti kemana tujuan gadis itu.


Dengan bantuan kruk atau tongkat penyangga kaki, Deni berjalan pelan menuju kursi taman di ujung kampus.


Garis polisi terlihat mencolok di ujung lain kampus dengan latar belakang warna abu-abu dari cat tembok gedung.


Deni menghembus nafas kasar. Kemudian menggelengkan kepalanya.


“Apa yang kita lakukan di sini, Bi?”


“Gue rasa lo lebih tau dari pada gue, Den.”


Nampak empat orang laki-laki yang mereka yakini sebagai polisi sedang duduk di teras Gedung D, walaupun tak ada dari mereka yang menggunakan seragam kepolisian . Salah satu dari mereka bangkit setelah melihat kedatangan Robi dan Deni. Sejurus kemudian polisi tersebut berjalan mendekati mereka.


“Ada yang bisa dibantu?”


Robi tersenyum kemudian memperkenalkan diri.


“Siang, Pak. Saya Robi dan ini Deni. Kami alumnus Kampus Sastra. Kami sedang napak tilas masa-masa kejayaan saat muda dan berakhir di sini. Kalau boleh tau, Bapak siapa ya?”


“Saya Abribda Restu.”


“Polisi?” Robi berpura-pura tidak mengetahui kondisi yang sedang terjadi saat ini.


“Benar.”


Robi melihat ke arah garis polisi.

__ADS_1


“Apa ada kasus, Pak?”


“Ya. Masih dalam penyelidikan penemuan kerangka manusia di sana.”


Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju lokasi penemuan kerangka manusia. Tak terkecuali Deni.


Robi terlihat menawarkan rokok kepada bapak-bapak yang sedang bertugas hari itu untuk menjaga lokasi penemuan.


“Saya lihat beritanya di televisi. Tidak disangka ternyata lokasinya di kampus saya.” Robi menyuarakan isi hatinya dihadapan petugas.


Deni mengedarkan pandangan ke seluruh kampus seolah sedang mencari sesuatu.


Tanpa terasa sebulir bening menetes dari salah satu indranya.


“Benarkah Asih yang jadi korban pembunuhan ini? Siapa pelakunya? Bagaimana bisa sampai hati orang yang membunuh perempuan selugu dan sebaik dia?” Berbagai macam pertanyaan menguar dari dalam hatinya.


Dengan upaya keras Deni berjalan dengan cepat dengan hati penuh tanya serta haru yang tak terbendung.


Rasa sesal seolah menguasai seluruh otak dan hatinya.


Bagaimana tega dirinya dulu tidak berjuang dengan keras untuk mempertahankan cinta sejatinya.


“Harusnya dulu aku meminta penjelasan dulu kepada Asih. Paling tidak, Asih masih tetap hidup jika dalam pengawasanku.”


***


“Den! Lo nggak apa-apa?”


Dilihatnya Deni tergugu di belakang mobil Robi.


“Gue harap kerangka itu bukan Asih, Bi.” Dengan napas terputus karena tangisannya, Deni berusaha bicara.


“Lo jangan gini dong, Bro. Gue juga berharap hal yang sama. Mending sekarang lo cari tau lagi, ulang dari awal untuk mencari keberadaan Asih. Gue akan bantu lo.”


***


“Haruskah aku begini? Terlalu banyak mencampuri urusan yang tidak ada hubungannya denganku. Tapi aku memiliki feeling yang kuat bahwa kelurgaku memiliki sangkut pautnya dengan kasus ini.” Ucapnya dalam hati sebelum memutuskan untuk maju atau berhenti.


Kemudian Bagi membuka helm dan meletakkannya dispion. Dengan yakin Bagi turun dari motor dan membuka jaketnya lalu membuka sadel motor guna menyimpan jaket.


“Bagi !” Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya.


***


Kirman duduk dengan perasaan was-was sambil menunggu kedatangan Dira. Setelah puluhan tahun mereka tidak pernah lagi berkomunikasi, tiba-tiba saja kawan lama yang dianggapnya seperti tuan besar menelepon ingin bertemu.


Dari tempatnya duduk, Dira terlihat menuruni sebuah mobil. Dia menyetir sendirian.


"Belum pesan minuman, Kir?" Tanya Dira setelah meletakkan tubuhnya di kursi seberang Kirman.


"Belum, Bos. Gue enggak tahu harus pesen apaan di sini."


Dira memanggil pramusaji untuk memesan dua kopi.


Setelah pramusaji meninggalkan mereka, Dira terlihat lebih serius.


"Ada apaan, Bos? Tiba-tiba lo mau ketemu gue."


"Lo ada lihat berita di televisi, nggak?"


"Berita apaan?"


"Penemuan kerangka manusia di Kampus Sastra."

__ADS_1


"Oh, yang itu. Iya gue denger dari menantu gue. Lalu, seberapa hebat berita itu sampai Dira Nugraha ikut sibuk membicarakannya?"


"Kerangka itu..." Dira ragu mengucapkannya.


"Kenapa?"


"Dia, perempuan itu, Kir."


Kirman terkejut. Seketika wajah pias menyeruak ketenangannya.


Bersamaan dengan itu pramusaji datang dan meletakkan kopi pesanan mereka.


Aroma kopi dengan kualitas biji pilihan dan tentu saja memiliki harga yang sangat mahal, seharusnya menggugah Kirman untuk menyesapnya selagi panas. Namun, informasi yang disebutkan Dira membuat perutnya bergejolak tak nyaman.


"Sekarang gue tanya. Lo nggak sampai berbuat begitu kan ke dia?"


"Lo gila ya? Untuk apa gue harus ngelakuin itu ke dia? Yang ada gue kasihan sama itu anak. Gara-gara lo nyuruh gue ngikutin dia, dia jadi nggak nyaman."


Dira memalingkan wajah tidak menjawab perkataan dari Kirman.


"Atau jangan-jangan lo sendiri yang ngelakuin itu?"


"Jaga ya mulut lo!"


"Lah? Kan lo yang nggak suka sama itu anak karena didekati oleh Deni? Bisa saja lo yang ambil kesempatan disaat kampus sepi. Lo yang paling tahu keadaan kampus."


Dira bungkam dan terlihat salah tingkah.


"Gue harap lo bisa jaga mulut dan nggak cerita sama siapapun tentang perintah gue waktu itu."


Kirman hanya mencebik lantaran kesal dituduh melakukan tindakan keji.


"Gue serius, Kir!"


"Ok, ok! Gue nggak akan bilang kenal sama lo. Puas, lo?"


***


Di teras rumahnya, Kirman duduk bersila dengan didampingi kopi. Teringat dia akan kejadian beberapa bulan lalu, saat Era-menantunya-datang tergopoh-gopoh menggendong Raya.


***


"Kenapa, Mak Bayu?" Tanya Satyawati, istrinya.


"Ada penampakan, Nek. Di kampus!"


"Penampakan gimana?"


"Di lantai dua, muncul lagi!"


"Sudah, ajak masuk Raya. Jangan cerita sama orang lain ya, Mak."


Menantunya itu tidak menyahut namun bergegas ke dalam rumah.


Istri anaknya itu memang penakut. Apa-apa pasti dikaitkan dengan hantu.


Bayu, cucu pertamanya kerap kali menjahili ibunya itu. Bunga dan Hani akan terpingkal melihat kakak tertua mereka mematikan lampu kamar, lalu menyoroti dagunya dengan lampu senter. Ibunya akan berteriak karena takut.


Aksi jahil Bayu akan menimbulkan keriuhan. Kemarahan ibu mereka, dan keceriaan kedua adiknya. Sementara Raya, hanya ikut tertawa tanpa paham apa yang dilakukan kakak-kakaknya.


"Saya jadi takut, Nek. Untung saja libur semester sudah tiba." Ucap Era tanpa menoleh ke arah istriku.


"Sst! Nanti saja cerita kalau anak-anakmu nggak ada!" Satyawati berjalan ke arahku dan duduk dengan wajah menyelidiki.

__ADS_1


"Apa? Kenapa memandang Bapak seperti itu?"


"Jangan rusak kepercayaan Ibu, Pak!"


__ADS_2