Kampus Horror

Kampus Horror
Part 32


__ADS_3

Kampus Horror


Part 32


Seperti janji Dewi di sekolah yang akan datang ke rumah untuk memintakan izin kepada Bibi, ditepatinya.


Entah bahasa apa yang digunakan Dewi saat berbicara dengan Bibi, tapi dengan mudahnya Bibi mengizinkan Asih untuk memenuhi undangan pesta ulang tahun di rumah Sabi.


Ternyata benar, Dewi datang dengan Kak Ari.


Mereka menggunakan mobil bak terbuka dengan Kak Ari sebagai pengemudinya.


Dari keterangan yang disampikan Dewi, Kak Ari meminjam mobil dengan Pak Haji pemilik sawah terluas di desanya.


Kak Ari memang telah mengantongi Surat Izin Mengemudi sejak lama. Karena dia ditugaskan oleh Pak Haji untuk mengangkut gabah hasil panen ke gudang selip milik Pak Haji.


Sering kali orang tua mereka menumpang sedikit ruang untuk mengikut sertakan hasil panennya untuk dibawa pulang ke rumah. Bukan diselip dengan mesin, namun hanya ditumbuk saja. Hitung-hitung biaya menyelip bisa digunakan untuk bekal Dewi sekolah. Lalu hasil beras yang hancur atau yang biasa disebut dengan menir, bisa dimasak untuk makan mereka. Kadang jika terkalu hancur, akan diberikan kepada ayam peliharaan di rumah.


Selama diperjalanan, berbagai macam cerita dan persoalan menjadi penghalau rasa bosan. Dewi mengutarakan niatannya untuk berkuliah di kota. Dewi bermaksud ingin mengubah kehidupannya dikampung.


Sementara Asih tidak mampu memutuskan masa depannya sendiri.


Kemudian Dewi menawarkan solusi.


“Sih, gimana kalau kamu kawin saja?”


Asih membekap bibir ranum milik Dewi.


“Bibirmu kok ngawur saja tahunya, Wi?”


Dewi dan Ari terpingkal saat mengetahui respon dari Asih.


“Loh? Kenapa memangnya?”


“Kawin sama siapa? Sama Mbahmu?”


“Kok kamu bawa-bawa Mbahku, Sih? Nanti Mbah bangkit dari kubur terus cari kamu baru tahu rasa!”


"Lagian, pacar saja aku enggak ada, Wi. Memangnya ada apa yang akan suka sama perempuan kampung kayak aku. Sudah miskin, keluarga hancur berantakan pula."


"Coba tanya Kak Ari. Mungkin saja dia mau." Dewi mengucapkannya dengan nada menggoda, dilengkapi dengan menaik turunkan alisnya berkali-kali.


"Mana mungkin! Kak Ari perlu perempuan yang baik dan rajin. Lah, aku?"


Kak Ari terdiam tidak menanggapi perbincangan kedua remaja itu. Walaupun gemuruh dadanya merutuki Dewi karena terlalu terang-terangan dalam menyampaikan candaannya itu.


"Aku juga belum tahu harus bagaimana dengan hidupku nanti. Kalau aku maunya supaya kerja dulu. Paling tidak, aku mau membuktikan ke orang-orang, bahwa anak broken home juga bisa meraih kesuksesan."


"Benar juga, Sih. Kamu harus menggapai kebahagiaanmu." Kak Ari mendukung keinginan Asih.


"Lantas, kamu mau bekerja di mana?" Kak Ari melanjutkan perkataannya.


"Aku ingin sekali menjadi pegawai bank, Kak."


"Aduh, mimpi kamu ketinggian itu, Sih. Mana mau bank menerima pegawai tamatan Sekolah Menengah Atas macam kamu." perkataan Dewi bagai cambuk yang siap menggerakan kaki Asih untuk berlari kencang.


"Ya namanya juga keinginan, Wi. Siapa tahu dikabulkan oleh Tuhan."


***


"Terimakasih ya teman-teman, kemarin sudah datang ke rumah."


Sabi menghampiri meja Asih dan Nela.


"Kita yang terima kasih sekali karena sudah diundang, Sabi." Nela menyampaikan rasa terima kasihnya dengan tulus.


"Oh iya Sih. Benar Kakaknya Dewi itu pacar kamu?"


"Eh? Kata siapa?"


"Kata Dewi kemarin."


"Enggaklah. Masak aku pacaran sama kakaknya Dewi."


"Memang kenapa kalau pacaran sama Kak Ari?"


Dewi tiba-tiba muncul dengan raut wajah marah.


"Ya bukan gitu maksudku, Wi. Kan Kak Ari sudah aku anggap seperti Kakak sendiri."


"Alah, bilang saja kalau kamu memang enggak sudi kalau harus berpasangan dengan Kakakku. Kamu aja mimpinya jadi pegawai bank. Apalagi kalau pasangan. Bisa jadi kamu mau jadi istri presiden!"


Dewi berjalan cepat meninggalkan kelas. Asih, Nela, dan Sabi terdiam saling pandang.

__ADS_1


Asih merasa tidak enak kepada Dewi.


***


Setelah menghabiskan hari bersama Agia, Bagi tidak segera pulang ke rumah. Dia memutuskan untuk duduk merenung di pinggir pantai.


Bagi memikirkan banyak hal. Terutama rencana untuk menemukan kepastian bahwa keluarganya bukanlah pelaku pembunuhan terhadap korban Asih.


Ya, Bagi masih tetap menginginkan kenyataan bahwa keluarganya tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Asih.


Tapi, bagaimana caranya?


***


Bagi tiba di rumah pukul sebelas malam. Saat beranjak pulang dari pantai, tiba-tiba hujan deras mengguyur daerah sekitar pantai. Dengan merutuki kecerobohannya tidak membawa mantel hujan, Bagi memutuskan untuk berteduh di sebuah mini market dekat pantai.


Beruntung mini market tersebut menyediakan kursi di luar.


Papa terlihat sedang duduk di teras kamar Kakek. Sendiri.


“Pa...”


“Dari mana saja kamu? Kamu tahu ini sudah jam sebelas malam?”


“Iya Pa, maaf. Aku tadi ke rumah teman.”


“Ke rumah siapa kamu sampai malam begini? Lupa kamu kalau masih tinggal dengan orang tua? Semua fasilitas yang kamu gunakan sekarang itu dari Papa! Berani-beraninya kamu pulang malam tanpa seizin Papa!”


Bagi tertegun di tempat awal dia berdiri. Terkejut atas perlakuan Papanya yang tiba-tiba marah.


“Aku pergi sama Agia, Pa.” Bagi menjawab dengan usaha untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh kemarahan Andi.


“Papa tidak perduli dengan siapa! Sekarang kamu masuk dan selesaikan skripsimu. Dari pada kamu habiskan waktu percuma, lebih baik kamu fokus ke tugas akhir. Papa rasa semenjak kamu kenal perempuan itu, kegiatan belajarmu menjadi berantakan.”


“Apa yang Papa ketahui tentang hidupku? Papa bilang habiskan waktu percuma? Agia tidak akan pernah menghabiskan waktuku dengan percuma, Pa. Dia segalanya buatku!” Bagi mulai terpancing karena Andi malah menyalahkan Agia.


“Semua tentang kamu, Papa tahu! Sudah, sana masuk!”


Bagi berjalan cepat memasuki kamarnya. Saat melewati dapur, Bagi berpapasan dengan Mama dan Nenek.


Seluruh anggota keluarga ke luar karena mendengar keributan yang disebabkan oleh suara Andi yang riuh. Diam-diam Bagi menguping pembicaraan orang-orang dari dapur.


“Ada apa malam-malam begini ribut?” Kakek bertanya terlebih dahulu kepada Andi.


“Saya tidak suka Bagi mulai sering pulang malam, Pak.”


“Tapi, Bu. Saya tidak mau Bagi melewati batas.”


“Batas apaan sih, Pa? Bagi itu kan lagi jatuh cinta. Kayak enggak pernah muda saja deh Papa ini.” Mama pun membela Bagi.


Menurut mereka Andi sedikit berlebihan hari itu.


***


Bagi membuka pesan yang dikirimkan oleh Deni.


[Kenapa kamu, Gi?]


[Tau tuh, Papa. Tiba-tiba dia marah karena aku pulang malam. Heran aku, Om.]


[Memang begitulah Si Anak Paling Sempurna di rumah ini. Hahaha..]


[Maksud Om apa?]


[Dulu waktu Om muda juga dia yang paling repot tentang kehidupan orang. Om pulang terlambat, dia ngomel. Om minta uang bensin ke Nenek, dia juga yang berisik. Intinya Papa kamu itu manusia paling repot tentang hidup orang lain.]


Bagi bingung harus menjawab apa.


[Besok pergi yuk, Om.]


Bagi mengalihkan pembicaraan tentang Papanya.


[Kemana?]


[Anywhere, it’s ok!]


***


“Pa, aku pergi agak lama hari ini. Boleh aku bawa mobil?” Bagi meminta izin kepada Papanya yang sedang duduk dengan melihat benda pipih pada genggamannya.


“Mau kemana?” Sahutnya datar tanpa menoleh.


“Mungkin ke Kebun Raya. Mau refresh otak supaya enggak suntuk.”

__ADS_1


Andi menoleh Bagi.


“Sama siapa? Sama Agia lagi?”


“Iya, Pa.”


“Papa perhatikan kamu terus menerus menghabiskan waktu sama Agia itu. Papa kan sudah bilang supaya kamu fokus dulu dengan skripsi. Untuk apa pergi ke Kebun Raya segala.”


Bagi diam tidak menyahut perkataan tajam dari Andi.


“Bagi. Tolonglah, sudahi dulu hubunganmu dengan Agia itu. Papa enggak mau sampai kamu terlambat lulus kuliah. Papa berharap kamu bisa seperti Papa.”


“Maksud Papa gimana sih? Papa ngelarang aku berteman? Papa maksudnya ngatur aku gitu? Pa, enggak usah aneh-aneh deh. Aku yang berteman saja enggak ada tuh pikiran aneh-aneh. Open your mind, Pa. Memang Papa enggak pernah punya teman spesial, gitu?” Bagi mulai terpancing dan meradang. Rahangnya terlihat mengeras membuat Andi sadar, bahwa bayinya tak lagi sepolos dulu.


“Kamu jangan mulai ngajak Papa berdebat ya. Papa cuma mau yang terbaik buat kamu. Contohlah Papa.” Andi merendahkan nada bicaranya. Ada rasa takut jika Bagi mengamuk saat ini.


“Terbaik buat aku?”


“Iya, nak. Nanti kalau sudah beres kuliahmu, bisa seperti Papa menjadi dosen. Orang-orang akan kagum dengan keberhasilanmu. Sekali lagi Papa bilang, sudahi berteman dengan anak itu. Atau Papa tidak akan pernah memberikan fasilitas apapun.” Andi menegaskan setiap kalimatnya.


“Papa yakin aku berminat untuk mencontoh Papa? Aku sedikit pun tidak berminat untuk menjadi pembunuh seperti Papa!” Bendungan hati Bagi retak dan menyebabkan seluruh isi yang tertahan tumpah ruah tanpa


“Bagi! Apa maksudmu?” Andi terperangah dengan ucapan anak semata wayangnya.


“Papa kan yang membunuh Asih?”


Tanpa diduga Deni mendengar semua percakapan antara Kakak dan Keponakannya.


“Dari mana kamu tahu Asih?” Andi memegang pundak Bagi dengan kedua tangannya.


“Kakak membunuh Asih?” Deni mendekat dengan tertatih.


“Kakak membunuh Asih? Bagaimana bisa Kakak mengenal Asih?” Deni menatap Andi heran.


Andi menatap penampilan Deni dari atas hingga bawah. Andi terlihat heran, mengapa adiknya sudah rapi pagi-pagi begini.


“Mau kemana kamu, Den?”


“Om Deni akan ikut pergi sama aku, Pa!”


“Kakak belum jawab pertanyaanku. Kakak kenal Asih?”


Andi tidak menjawab pertanyaan kedua laki-laki di hadapannya. Andi memilih pergi ke luar dengan menggunakan sepeda motor.


Bagi tersadar bahwa telah melakukan suatu kesalahan yang sangat besar. Dia telah menyuarakan sesuatu tanpa bukti yang valid.


***


Tinggallah Deni dengan Bagi di dapur.


“Ada yang kamu rahasiakan dari Om, ya?”


Bagi tidak menjawab pertanyaan Deni.


“Sejak kapan kamu menaruh curiga terhadap Papamu?”


“Sejak aku temukan catatan dengan tulisan tangan Papa pada buku yang Asih baca, Om.”


“Buku apa?”


“Buku yang dibaca Asih di perpustakaan, Om.”


“Lantas, hanya karena buku catatan itu kamu menyimpulkan kalau Papamu pembunuh?” Deni masih belum mengerti akan jalan pikir Bagi.


“Om ingat saat kita mengantar Ibu Kantin yang dijambret beberapa waktu lalu?”


Deni menganggukkan kepalanya dengan cepat.


“Mertua Ibu Kantin yang laki-laki adalah orang suruhan Kakek untuk memantau kegiatan Om dan Asih dulu. Om tahu?”


“Enggak. Memangnya Kakek melakukan itu?”


Dengan berat hati Bagi menganggukan kepalanya.


“Namanya Pak Kirman. Dulu supir Kakek di kampus.


Tangan Deni terkepal dengan keras karena mengetahui perbuatan konyol Bapaknya.


“Dari Bapak itu aku tahu, Om. Kalau Papa pernah mengantar Asih ke asrama.”


Deni semakin terkesiap mendengar penuturan Bagi.


“Sayangnya, Om melihat Papa mengantar Asih malam itu. Dan berakhir seperti pemikiran Om yang salah paham itu.”

__ADS_1


Deni terdiam terpaku mendengar Bagi menceritakan malam saat Deni melihat senyum Asih yang dilemparkan kepada laki-laki lain. Ternyata orang itu adalah Andi. Kakak kandungnya.


Andi, Deni, dan juga Bagi, tidak tahu bahwa ada telinga lain yang mendengar percakapan serta perdebatan yang telah terjadi di dapur dengan perasaan gugup dan bergemuruh.


__ADS_2