Kampus Horror

Kampus Horror
Part 36


__ADS_3

36


Kampus Horror


Part 36


“Bagi, hari ini kamu kemana?” Deni bertanya ketika melihat keponakannya sedang makan di dapur seorang diri.


Deni kemudian duduk di hadapan Bagi.


“Belum ada rencana kemana, Om. Paling juga bikin lanjutan skripsi yang enggak rampung-rampung ini. Kenapa, Om?” Bagi menghentikan kegiatan mengunyah makanan sebentar saat berbicara.


“Antar Om ketemu Pak siapa itu yang buntutin Om dulu?”


“Pak Kirman.”


“Iya Pak Kirman. Antar Om kesana yuk?”


“Mau ngapain?”


“Mau dengar sendiri penuturan dari Bapak itu. Siapa tau ada yang bisa saling ingat kejadian dulu. Jadi kita bisa tahu siapa pelakunya.”


“Ide bagus itu. Papa juga ikut.” Tiba-tiba Andi muncul dan menyatakan keikut sertaannya untuk mengunjungi Kirman.


“Ya sudah, tunggu aku selesai makan dulu. Papa dan Om sudah makan belum?”


Tanpa menunggu perintah, kakak beradik itu kemudian mengambil piring beserta isiannya.


***


“Permisi!” Bagi berbicara dengan keras agar kedatangan mereka terdengar oleh penghuni rumah. Bagi juga membawa tentengan kresek berisikan kudapan untuk keluarga Kirman.


“Sebentar…” Suara perempuan terdengar menyahut sapaan Bagi.


Bunyi cantelan pintu gerbang terdengar beradu tanda seseorang telah berusaha membuka pintu yang terbuat dari besi itu.


Satyawati berusaha mengingat siapa gerangan orang-orang yang mengunjungi rumahnya.


“Saya Bagi, Bu. Mahasiswa yang tempo hari mengantarkan Ibu Kantin pulang.” Bagi mengerti akan kebingungan yang ditunjukan oleh mertua dari Ibu Kantin.


“Oooh! Iya betul! Maaf kalau sudah usia segini pasti mudah lupa. Maaf ya, Nak Bagi. Mari-mari masuk, maaf lo sayanya kurang sopan barusan.”


“Enggak apa-apa kok, Bu. Ibu Eranya sudah baikan, Bu?” Bagi mencoba berbasa-basi sambil melangkahkan kakinya melintasi garasi serta halaman mungil milik keluarga Kirman.


“Sudah jauh lebih baik. Tapi kakinya masih agak sakit katanya. Keseleo itu memang yang paling susah sembuhnya. Silahkan duduk bapak-bapak.” Bagi, Andi, dan Deni duduk di teras depan rumah Kirman.


“Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan.” Andi menyampaikan rasa tidak enaknya kepada Satyawati.


“Ah, kok repot? Malah saya yang terima kasih sudah mau mampir lagi kemari. Tunggu saya panggil Mamak Bayu dulu ya.” Satyawati beranjak ke dalam rumah, namun dengan segera Bagi menahannya.


“Bu! Kalau Pak Kirmannya ada?”


Satyawati mengurungkan diri untuk bangkit dan kembali duduk.


“Bapak belum pulang. Kemana ya tadi, saya juga kurang tahu. Ada perlu dengan Bapak?”


“Iya, Bu. Ada yang mau kami diskusikan. Kalau boleh tahu, nomor telepon genggamnya ada tidak, Bu?”


“Tunggu sebentar ya, saya ambil nomor kontaknya dulu.”


Satyawati lalu beranjak ke dalam rumahnya.


Beberapa saat kemudian dia datang dengan membawakan nomor telepon Kirman.


***


Bagi dan Kirman bertemu di dekat arena sabung ayam.

__ADS_1


"Waduh! Ramai begini, gimana caranya ketemu sama Pak Kirman?" Bagi mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil.


"Coba telepon. Bilang kalau kita di minimarket belanja minuman." Andi menyuarakan pendapatnya.


Kirman menerima panggilan yang dilakukan oleh Bagi dan menyetujui untuk bertemu di minimarket.


“Maaf ya menunggu lama, lagi seru banget tadi itu.” Kirman berjalan cepat menuju Bagi yang sedang duduk di emperan mini market.


“Pasang taruhan, Pak?” Bagi berbasa-basi menanyakan kegiatan yang sedang dilakukan oleh Kirman.


“Ah, enggak! Cuma nonton saja. Mana ada saya modal untuk itu hahaha.” Sahutnya sambil terkekeh.


“Ada yang perlu dibahas lagi?” Kirman terlihat tidak sabaran.


“Tunggu sebentar.” Bagi melambaikan tanggannya ke arah mobil.


Andi dan Deni membuka pintu dan bergerak turun.


Kirman terpaku menatap keduanya.


“Anak-anaknya Dira, ya?”


Andi mengangguk dan tersenyum.


“Kita mau bicara di sini?” Deni kemudian bertanya.


Kirman menaikkan pundaknya.


“Di mana saja boleh.” Sahutnya santai.


“Atau di rumah saya saja, ya? Sudah terlalu lama saya pergi. Takutnya Yang Mulia Ratu berubah menjadi singa betina yang sedang lapar.”


***


“Silahkan diminum. Maaf hanya kopi saja.” Satyawati menyuguhkan kopi sesuai dengan perintah dari suami.


“Kami yang minta maaf seharusnya, Bu. Sudah bertamu, malah harus disuguhkan kopi segala.” Bagi meringankan aktivitas Satyawati dengan menerima nampan berisikan empat gelas kopi. Asap mengepul di antara gelas-gelas yang tidak berisikan penutup di atasnya.


Deni dan Andi menganggukan kepala dan tersenyum.


“Dan saya cucunya, putranya Andi, anak sulung Kakek.” Bagi kemudian menjelaskan identitas dirinya.


"Berarti adiknya ini yang sering nongkrong di kantin ya?"


"Iya, Bu. Masih ingat saja Ibu ini." Deni menjawab cengengesan.


"Kakinya kenapa Nak Deni?"


"Dulu kecelakaan, Bu."


"Wah, berarti lumayan parah ya, karena harus menggunakan tongkat penyangga."


Deni hanya tersenyum dan tidak menjawab pernyataan dari Satyawati.


“Ya sudah, saya tinggal dulu ya. Silahkan diminum.”


“Terima kasih, Bu.” Sahut Deni.


Mereka telah mendapatkan masing-masing gelas kopi dan menyeruputnya perlahan.


“Jadi, apa ada hal penting yang harus dibahas?” Kirman membuka pembicaraan dengan keluarga Dira Nugraha.


“Sampai-sampai kedua putra Dira datang berkunjung menemui saya.” Kirman melanjutkan lagi ucapannya.


“Sebenarnya saya yang mau bertanya banyak hal dengan Bapak. Tapi tadi Kakak saya berkeinginan ikut serta.”


Deni melirik Andi yang masih bergeming tanpa kata.

__ADS_1


“Saya sebenarnya penasaran. Selama Bapak mengikuti, ya bisa dibilang memantau pergerakan saya dan Asih, apakah ada hal yang mencurigakan?” Deni akhirnya mengutarakan isi hatinya tanpa ragu.


Kirman diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan dari Deni.


“Saya sudah pikirkan terus menerus sampai saya mumet. Tidak ada sesuatu yang aneh. Hanya ketika Nak Andi mengantar Asih ke asrama saja yang menurut saya sesuatu yang baru. Karena biasanya Asih kan perginya dengan Nak Deni.”


“Atau Bapak sengaja menutup-tutupi semua fakta karena perintah dari bapak saya?” Andi mulai menginterogasi Kirman.


“Untuk apa saya menutup-tutupi segala? Emangnya ini urusan saya?” Kirman pun terpancing emosinya.


“Ya jelas. Bukannya Bapak ini suruhannya bapak saya? Siapa tahu bapak saya memerintahkan untuk membunuh Asih.” Entah mengapa Andi menjadi sedikit sentimentil dan mengungkapkan pertanyaan begitu.


Kirman terbahak mendengar pertanyaan Andi.


“Saya membunuh Asih? Coba saja kalian tanyakan sendiri kepada bapak kalian itu. Apa pernah memerintahkan saya untuk membunuh?” Kirman kembali terbahak.


Andi mendengus kesal karena kesabarannya sedang tidak stabil.


“Sebenarnya salah jika saya harus menyela pembicaraan kalian.” Tiba-tiba Satyawati muncul dari balik pintu.


Andi dan yang lain menoleh ke arah sumber suara.


“Suami saya bukan pembunuh. Coba tanyakan dulu ibu kalian. Apa yang sudah dilakukannya kepada perempuan yang meninggal itu?”


“Maksud Ibu apa?” Kirman penasaran dengan penuturan istrinya.


“Iya, Pak. Tiba-tiba Ibu ingat. Dulu. Dulu sekali, Istrinya Pak Dekan pernah berbicara dengan nada keras kepada seorang mahasiswi.” Satyawati kemudian meletakkan bokongnya di samping Kirman. Dia bergabung dalam pembicaraan penting itu.


“Sore hari saat saya akan menutup kantin. Waktu itu mungkin sekitar pukul lima sore. Saya biasa menutup kantin sore hari semenjak ada pekerja yang mengerjakan bangunan kampus. Sebelumnya sih siang hari.”


“Entah mengapa istri Pak Dekan menggandeng tangan seorang mahasiswi primadona yang sering Nak Deni jemput. Saya tidak lupa loh, kalau Nak Deni sering menunggui mahasiswi itu untuk mencari tahu informasinya.”


“Istrinya Pak Dekan menarik Asih ke arah gedung yang direnovasi. Entah ke lantai dua atau ke kantornya Pak Dekan, saya juga tidak tahu pasti. Saya takut hari semakin gelap, jadi saya bergegas untuk memasukkan dagangan ke bawah meja. Tidak sempat memerhatikan aktifitas yang mereka lakukan. Tapi yang pasti suami saya bukan pembunuh. Saya percaya sama dia.” Satyawati berbicara dengan penuh keyakinan.


“Kalau seandainya saya tahu bahwa ada konflik antara keluarga Pak Dekan dengan mahasiswi itu, pasti saya ikuti. Apalagi kalau ternyata mahasiswi itu berakhir tewas mengenaskan seperti itu.”


Tidak ada satupun dari para tamu mampu menyahuti fakta baru yang terungkap. Mereka diam mencerna kata demi kata yang disampaikan oleh Satyawati.


“Saya memang orang kuno yang tidak makan bangku sekolah setinggi kalian, tapi saya bisa bedakan mana orang yang sedang marah atau senang hanya dengan melihat wajahnya. Lalu, ya itu, ibu kalian terlihat sangat tidak senang.”


“Jadi saya harap berhenti menganggap suami saya pembunuh!” Kata-kata Satyawati benar-benar mengandung ketegasan.


***


“Lalu bagaimana?” Bagi membuka pembicaraan di dalam mobil saat berkendara menuju rumah.


“Seandainya kamu tidak pacaran dengan Asih, dia pasti masih hidup, Den.” Andi mengeluarkan pernyataan pahit untuk mereka berdua.


“Kalaupun begitu, Kakak yang akan mendekati Asih, begitu? Kakak pikir aku rela Asih meninggal dengan cara begitu?”


“Coba saja kamu menuruti perkataan Bapak untuk menjadi Dekan di Kampus Sastra, tidak mungkin begini. Aku lebih rela dia menjadi istrimu dibandingkan dia meninggal tidak tenang seperti sekarang.”


“Hei hei! Kenapa Papa dan Om jadi bertengkar? Apa kalian tidak malu kepada mendiang Asih? Karena kalianlah nyawanya hilang. Karena dekat dengan keluarga kita dia harus mempertaruhkan nyawa. Entah siapa pelaku sesungguhnya. Apakah Nenek atau Kakek, kita harus segera menemukannya.” Bagi menengahi pertengkaran kakak beradik yang kini diam tanpa kata.


“Aku berencana untuk melaporkannya semua ke polisi. Biarlah ini menjadi urusan yang berwenang saja. Mereka lebih berkopeten dalam hal begini.” Bagi menambahkan penuturannya.


“Tapi kalau sampai benar Kakek atau Nenek pelakunya, bagaimana?” Andi menjadi was-was jika harus memiliki orang tua narapidana apa lagi seorang pembunuh. Karirnya sebagai seorang dosen pengajar akan sangat tergolak.


“Ya bisa bagaimana? Ditahanlah! Walaupun aku pasti akan malu jika memiliki keluarga pembunuh, aku akan lebih malu lagi kalau pembunuh itu tidak ditangkap. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.” Bagi menegaskan kembali prinsip yang akan dilakoninya.


“Om. Kenapa diam?”


“Om tidak habis pikir seandainya memang Kakek atau Nenek yang membunuh Asih, apa yang akan mereka pikirkan jika tahu bahwa Asih sedang mengandung.” Deni kembali menjadi melankolis. Namun perkataannya yang halus dan menyayat hati barusan membuat Andi terkejut bukan kepalang.


“Mengandung? Anak kamu?”


“Iya, Kak. Asih sedang hamil saat itu.”

__ADS_1


Andi diam menatap Deni tak percaya. Kemudian dia menyugar rambutnya kasar.


Tidak ada satu hal baikpun dirasakan Andi saat ini. Hanya satu hal yang ingin dilakukannya, yaitu bertemu dengan Ibunya.


__ADS_2