
Kampus Horror
Part 26
Rasa menyesal tiba-tiba memenuhi keseluruhan hari Dira Nugraha.
Setelah tiga puluh tahun lebih, segala kejadian di kelas lantai dua terputar lagi dengan jelas.
Memang, hari itu Dira mengajukan pertemuan setelah jam kerja paruh waktu Asih habis. Sedikitpun Dira tidak menyangka, bahwa saat itu merupakan hari terakhir gadis itu bernapas.
'Ah, entahlah! Aku pun tak yakin jika gadis itu meninggal hari itu. Tidak ada saksi, bukan?'
Semua berawal dari tingkah laku Deni yang jarang berada di rumah selepas wisuda. Beberapa kali pula Dira melihat mobil putra bungsunya terparkir di area kampus.
Rasa kecewa karena Deni enggan menyetujui rencananya untuk menjadikan Deni sebagai penerusnya untuk menjabat sebagai seorang Dekan, menggantikan dirinya.
'Dengan menghubungi beberapa pejabat rektorat, pasti akan lebih mudah menjadikan Deni seorang Dekan. Semua bisa diatur. Tapi anak itu malah asik dengan urusan tak pentingnya. Ditawari untuk mengajar saja tidak mau. Heran sekali rasanya.'
Berbekal laporan dari satuan pengaman kampus, Dira memutuskan untuk mencari informasi lebih banyak tentang kegiatan putra bungsunya itu. Apa saja yang dilakukan Deni di Kampus Sastra. Padahal anak itu sudah tamat.
Seperti sindiran banyak orang, bahwa Deni sedang berupaya memberikan Dira Nugraha seorang menantu yang cantik.
"Pak Dekan, akan segera mantu nih?" Tanya Pak Karta, Pembantu Dekan di bidang akademik. Rival yang selalu berusaha untuk mencapai posisinya kini.
"Mantu bagaimana maksudnya, Pak Karta?
"Dengar-dengar, Nak Deni akan menikah dengan mahasiswi penerima beasiswa untuk keluarga kurang mampu. Apa benar begitu, Pak Dekan?"
"Wah.. Sepertinya Pak Karta ini perhatian sekali dengan keluarga saya. Terima kasih ya, Pak, atas perhatiannya. Malah saya sebagai orang tuanya belum tahu kalau Deni sudah memiliki pasangan."
"Hati-hati lo, Pak Dekan. Dinasehati anaknya agar mencari pasangan yang sepadan. Jangan-jangan dia cuma mencari harta keluarga Pak Dekan saja."
Dira Nugraha hanya membalas kata-kata Pembantu Dekannya dengan senyuman.
Perkataan seperti itu banyak terlontar dari bibir pejabat kampus disekitarnya. Hal tersebut sangat mengganggu, namun menghasut Dira menjadi benci kepada perempuan yang bahkan namanya saja dia belum tahu.
__ADS_1
Dalam keadaan penuh ketidaksukaan, Dira memerintahkan sahabatnya, Kirman, untuk mengikuti segala kegiatan putra bungsunya.
Dari laporan-laporan yang diberikan Kirman, terkonfirmasi bahwa gadis yang sedang digauli oleh putra bungsunya itu adalah Asih Prabandari. Seorang mahasiswi Fakultas Sastra penerima beasiswa, yang kini tinggal di asrama universitas.
Beberapa kali Dira memergoki Deni menjemput Asih di luar area kampus. Sepertinya Deni takut kegiatannya diketahui oleh Dira.
Perintah kini berganti. Kirman bukan lagi ditugaskan untuk membuntuti Deni, namun semua kegiatan Asih.
Sampai pada puncak, saat Kirman menelpon melalui pager untuk menginformasikan tentang keberadaan Deni dan Asih di villa milik Dira.
Tanpa tedeng aling-aling, Dira segera menuju villa. Dira tidak berani membayangkan kegiatan apa saja yang bisa mereka lakukan di villa sepi seperti itu.
Sekali lagi rasa sesal memenuhi hati Dira. Apakah yang dia lakukan dulu menjadi penyebab kematian Asih secara mengenaskan?
***
Dewi membuka pintu gerbang setelah mendengar bunyi bel ditekan.
Dewi memasang senyum manis saat mendapati pria asing berdiri di depan gerbang rumahnya.
"Bapak ada di dalam. Dengan siapa kalau boleh saya tahu?"
"Saya Kirman. Bilang saja kawannya, Kirman."
"Silahkan duduk dulu, Pak Kirman." Dewi mempersilahkan Kirman untuk duduk di kursi taman dekat dengan garasi mobil, sebelum masuk mencari bapak mertuanya.
Beberapa menit Kirman menunggu sampai kedatangan Dira dengan wajah cemas mengejutkannya.
"Ngapain ke sini sih, Kir?!" Dira bertanya secara gusar menandakan ketidak sukaannya akan kedatangan Kirman.
"Jangan gitu dong, Bos. Kan sebagai teman kita harus sering menjaga relasi. Gue kebetulan lewat kok."
"Ada perlu apa lo ke sini?"
"Kita ngobrol di sini nih?"
__ADS_1
"Iya di sini aja. Yang cepet! Mumpung anak-anak gue belum pada pulang."
"Ok! Gue enggak akan sungkan lagi. Pertama, dari mana lo tahu dan yakin bahwa korban yang ditemukan tengkoraknya adalah anak itu? Gue sudah ubek-ubek seluruh koran yang memberitakan tentang kasus itu. Tapi enggak ada satu pun yang menyebutkan identitas korban."
Dira menatap Kirman heran.
"Jadi lo masih curiga bahwa pelakunya adalah gue?"
"Gue cuma memastikan, Bos. Gue ngerasa enggak tenang, seolah terlibat dengan kematian anak itu. Sekarang jawab gue, kenapa lo bisa tahu nama korban?"
"Sebenarnya gue enggak ada urusan untuk meladeni rasa curiga lo ke gue, Kir. Tapi untuk membersihkan nama gue sendiri, gue akan cerita ke lo."
Kirman memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman mencermati kata-kata yang akan disampaikan oleh Dira.
"Beberapa waktu lalu, polisi datang mencari informasi ke gue. Gue rasa pihak kampus yang menginformasikan bahwa gue adalah dekan yang menjabat saat hilangnya mahasiswa di Kampus Sastra. Dari mereka gue tahu."
Kirman tidak menyahut dan semakin erat menelisik mimik wajah Dira.
"Gue serius, Kir. Untuk apa gue membunuh dengan tangan gue sendiri, sementara gue bisa bayar lo untuk melakukannya."
Kirman menghembuskan napas kasar tanda tidak puas dengan jawaban dari Dira Nugraha.
"Sudah selesai? Kalau lo pulang sekarang, bisa?"
"Sebenarnya masih banyak yang mau gue tanya. Tapi perut gue bergejolak ngelihat muka lo. Ngeselin dan menyebalkan!"
Kirman bangkit dari duduknya dan berjalan pelan menuju sepeda motornya yang diparkirkan di depan gerbang rumah Dira.
Kirman sudah menghidupkan mesin sepeda motornya, namun dia tiba-tiba ingat sesuatu yang harus disampaikan.
"Oh iya, entah informasi ini ada hubungannya sama keluarga lo atau enggak. Gue lupa, apakah pernah gue sampaikan atau belum. Dulu yang berinteraksi dengan anak itu bukan hanya si bungsu. Tapi anak sulung lo pernah gue lihat mengantar anak itu ke asrama. Kalau tidak salah ingat, setelah lo memergoki bungsu di villa."
Dira seperti tersengat lebah. Lidahnya mendadak kelu. Seluruh persendiannya menjadi kaku. Fakta apa lagi ini?
"Karena setelah kejadian di villa, lo memerintahkan gue untuk mantau bungsu lagi, jadi gue rasa enggak perlu melaporkan tentang anak lo yang satu lagi."
__ADS_1
Sama dengan Dira, Bagi merasa aliran darah dalam tubuhnya mendadak berhenti. Hadiah untuk Bagi karena berhasil mencuri dengar percakapan kakeknya dengan seseorang adalah kecurigaan yang semakin besar ditujukan kepada Papanya, Andi.