Kampus Horror

Kampus Horror
Part 48


__ADS_3

48


Kampus Horror


Part 48


“Stev, ada dress code enggak diacara anak Teknik?” Agia menghubungi Stevina melalui telepon genggam.


“Enggak ada sih gue lihat ditiketnya. Bebas saja lah, yang santai. Kan acaranya juga bukan formal, Gi.”


“Ya sudah. Gue pakai celana jeans sama baju kaos saja kali, ya?”


“Gue juga. Mau kaos warna apa? Biar samaan kita.”


“Hitam?”


“Nanti dikira panitia, warna identitas Fakultas Teknik kan hitam, Gi.”


“Ya sudah kuning deh sesuai Fakultas Sastra.” Agia terkekeh geli karena membayangkan orang-orang menganggap mereka panitia acara.


“Warna kuning diantara warna hitam, kok bayangan gue kayak?” Kini Stevina yang tertawa karena pikirannya sendiri.


“Apa dong?”


“Abu-abu yuk?”


“Boleh!”


“Nanti kita jemput jam lima ya, Gi. Sudah harus siap.”


“Iya, iya. Ya sudah, gue tutup dulu ya. Bye Stevina.”


***


Mereka kini tengah bingung mencari tempat parkir, karena pengunjung yang ingin menikmati acara Fakultas Teknik sangat membludak.


“Widih ramai amat!” Stevina menyerukan kekagumannya saat melihat antusias anak-anak muda yang membentuk barisan ular, saat hendak memasuki Kampus Fakultas Teknik.


“Memang begini kalau anak Teknik yang bikin acara. Pasti ramai! Bintang tamu yang mereka undang memang selalu keren-keren.” Damar memberikan sedikit informasi karena Damar lebih senior dari Stevina dan Agia.


Setelah mendapatkan tempat untuk memarkirkan mobil, mereka berempat segera memasuki pintu utama Fakultas Teknik. Bagi dan Damar segera menyapa kenalan saat melihat keberadaannya di dekat pintu masuk.


“Makasih sudah datang ya, Mar. Sama siapa kalian datang?”


“Nih, sama ciwik-ciwik kece kepunyaan Kampus Sastra!” Damar memang senang bergurau.


“Mantap! Double date nih?”


“Bisa aja lo. Kalau lo sendiri gimana? Gak diajak kecengannya?” Bagi menambahkan percakapan mereka.


“Apaan! Susah nemu yang kece di Fakultas Teknik. Batangan semua! Kalau pun ada, jarang nemu yang kece. Seandainya ada yang kece, pasti sudah punya gandengan! Nasib, nasib.”


Mereka terbahak bersama mendengar celotehan Mahasiswa Teknik itu.


Setelah berbasa-basi, mereka berempat mulai memasuki area Kampus Fakultas Teknik. Ada banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan di sini.


Di pintu masuk terlihat stand sticker. Agia tertarik dan terlintas ide dibenaknya. Dia lalu mendekati sekumpulan mahasiswa di sana.


Sementara Stevina menghentikan langkahnya sebentar untuk melihat stand popcorn dan minuman segar. Dia memesan empat gelas jus jeruk, dan dua kotak popcorn.


Damar dan Bagi asik bertegur sapa dengan teman-teman seangkatan mereka. Berbagai komentar dan pujian mereka berikan kepada temannya, Mahasiswa Fakuktas Teknik yang tidak pernah gagal dalam membuat acara kampus.

__ADS_1


Terdengar MC sibuk berbincang di atas panggung, karena acara memang sudah dimulai sejak tadi. Terlihat alat-alat musik tertata rapi di atas panggung sebagai fasilitas pengisi acarayang diadakan beberapa hari itu. Beberapa band telah bersiap di belakang panggung, begitupun penari yang memastikan lagi tata rias dan kostum mereka sebelum melakukan pementasan.


Agia dan yang lain menempati posisi yang tidak terlalu jauh dari panggung.


Satu, dua, dan beberapa pengisi acara telah selesai mementaskan pertunjukannya masing-masing.


Terdapat jeda beberapa saat entah karena kendala apa. Namun, panitia mulai bergegas ke belakang panggung.


Sementara menunggu panitia membereskan masalah, pengunjung asik berbincang.


Tiba-tiba suara teriakan terdengar dari arah panggung. Seorang panitia terjatuh dan tidak sadarkan diri di atas panggung.


“Yoga!”


“Ga! Bangun, Ga!”


Suara riuh terdengar membangunkan panitia yang bernama Yoga.


Damar segera mendekat dan merangsek naik ke atas panggung. Dia memeriksa sepintas keadaan Yoga yang terkapar di dekat stop kontak tanpa alas kaki. Damar menyadari bahwa Yoga sedang mengalami kecelakaan tersengat listrik.


“Jangan sentuh! Dia kesetrum!” Damar berteriak mencegah orang-orang menyentuh Yoga. Dengan cepat Damar meraih stick drum dan menggunakannya untuk menekan tombol OFF pada stop kontak itu. Dengan stick drum juga dia segera melemparkan stop kontak itu menjauh dari sekumpulan mahasiswa yang kini bergerombol menyaksikan keadaan Yoga.


Damar lalu meraba pergelangan tangan Yoga. Denyut nadinya terlalu cepat.


“Gotong! Gotong! Tolong bantu angkat!” Damar meneriakkan kepada panitia lainnya yang masih terlihat panik. Segera beberapa orang membantu Damar mengangkat Yoga.


“Ayo cepat! Mana Seksi Kesehatan?” Seorang panitia berusaha sadar dari kepanikan awal. “Siapkan ruang kesehatan! Cepat!” Semua orang yang berada di Kampus Teknik terlihat begitu panik.


Damar dan beberapa orang mahasiswa Fakultas Teknik menggotong Yoga dengan cepat menuju ruang Seksi Kesehatan.


“Cepat hubungi ambulance!” Perintah Damar lagi kepada siapapun yang berada di sekitarnya ketika berjalan di lorong yang tidak memiliki penerangan baik, menuju Ruang Kesehatan. Karena merasa keadaan sangat genting, tidak ada perdebatan dalam hal ini. Siapapun rela memberikan bantuan, hal kecil sekalipun.


Damar mengecek lagi denyut nadi Yoga. Masih cepat, dan napas mulai melemah.


“Ada yang bisa resusitasi jantung di sini?” Damar bertanya kepada anggota Seksi Kesehatan yang kebanyakan perempuan itu. Anggota Seksi Kesehatan menggeleng dengan cepat. Damar lalu menghela napas kasar.


Dengan segera Damar memberikan resusitasi jantung paru atau yang sering disebut dengan CPR.


Damar menyentuh tubuh Yoga. Tubuhnya sangat dingin sekarang.


“Tolong ambilkan selimut.” Damar memberikan perintah kepada siapa saja yang mau membantunya. Setelah menerima selimut, Damar segera membungkus Yoga agar hangat.


Damar lalu menoleh ke salah satu dari mahasiswa Teknik, “Coba pastikan, berapa lama lagi ambulance tiba?”


“Sudah saya hubungi, Kak. Tadi sebelum sampai ruang Kesehatan, mereka bilang akan sampai dalam dua puluh menit.”


Damar berpikir dengan cepat, karena dalam dua puluh menit bisa menyebabkan hal yang fatal bagi Yoga.


“Siapa tadi namanya dia?” Damar memastikan kepada rekan panitia lainnya.


“Yoga, Kak.”


“Yoga, Yoga. Lo dengar gue enggak? Bangun, Yoga.” Damar mengguncang tubuh Yoga. Namun tidak ada respon. Tubuh Yoga semakin dingin. Anggota Seksi Kesehatan dengan tanggap membalur tubuh Yoha dengan minyak penghangat.


Keadaan Yoga semakin buruk. Denyut jantung yang tadi sangat cepat tiba-tiba melemah dan tidak terasa. Dengan panik Damar memberikan CPR dan napas buatan.


Stevina, Agia, dan Bagi tiba di Ruang Kesehatan.


“Ambulance sudah datang!” Bagi menyerukan informasinya.


Tanpa menunggu tim medis, Damar memerintahkan mahasiswa Teknik yang berada di ruang Kesehatan untuk mengangkat Yoga menuju mobil ambulance.

__ADS_1


Damar menghela napas lega, karena tim medis datang tepat waktu.


Dua orang teman Damar dari Fakultas Teknik datang menghampiri ke Ruang Kesehatan.


“Mar, terima kasih banyak atas bantuan lo tadi.” Satu diantaranya adalah panitia pembimbing atau dialah yang akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi, selain ketua panitia.


“Sama-sama, Sob. Coba cek lagi arus listriknya. Ada apa sebenarnya?” Damar penasaran dengan kejadian tadi.


“Masih dipastikan oleh mahasiswa jurusan Elektro. Entah apa yang dipikirkan oleh Yoga. Padahal dia itu jurusan Elektro. Untuk anak Elektro, alas kaki lebih berharga dari pada alas tidur. Tapi bisa-bisanya dia melakukan oenanganan terhadap listrik bertelanjang kaki.” Sobri sangat menyayangkan perilaku yang dilakukan oleh Yoga.


Orang-orang mulai meninggalkan ruang Kesehatan untuk melihat keadaan Yoga yang sedang dibawa kedalam mobil ambulance. Begitupun niatan Stevina dan Agia. Stevina ingin melihat langsung bagaimana tim medis memberikan pertolongan kepada Yoga, walaupun mereka tahu, pertolongan itu akan dilakukan dalam perjalanan menuju UGD.


Stevina berjalan lebih dahulu keluar dari ruang Kesehatan. Diikuti oleh Agia dan Bagi dibelakangnya. Sementara Damar masih berbicara dengan panitia tadi di dalam ruang Kesehatan.


Entah Stevina yang berjalan terlalu cepat, atau Bagi dan Agia yang lambat, membuat Stevina memiliki jarak dengan mereka. Lorong yang sepi dan kurangnya lampu penerangan, membuat Stevina ragu melangkahkan kaki. Tapi, untuk berhenti menunggui Bagi dan Agia seorang diri pun membuatnya enggan.


Sepanjang lorong itu, terdapat dua kelas di sisi kanan dan kiri dengan pintu tertutup rapat. Stevina sempat melirik jendela kelas, namun sayang di dalam gelap gulita.


Stevina memutuskan untuk berjalan dengan pelan, berharap Bagi dan Agia segera mendekatkan diri.


Lalu Stevina merasa suatu keberuntungan berpihak padanya, karena ada seorang mahasiswa yang sedang berdiri di depan kelas sisi kanan. Stevina mempercepat langkahnya dan memutuskan untuk menyapa mahasiswa itu.


“Halo! Kok sendirian di sini?” Stevina menoleh ke arah mahasiswa itu. Namun, tiba-tiba Stevina berteriak histeris karena mahasiswa itu tidak memiliki wajah. Dengan kaki lemas, Stevina berusaha lari dari lorong itu.


Pekikan keras dari Stevina membuat Bagi dan Agia berlari menuju posisi Stevina.


Stevina terlihat jongkok dengan tubuh gemetar di ujung lorong yang terhubung langsung dengan halaman kampus.


Stevina menangis. Tubuhnya terguncang. Beberapa mahasiswa segera mendekati Stevina untuk memastikan keadaannya.


“Stev! Stevina! Kenapa?” Agia dengan panik memeluk sahabatnya itu. Bagi dengan sigap menerima air mineral dari tangan seorang mahasiswa yang berusaha untuk membantu mereka.


Damar dan dua orang panitia yang tadi bersamanya berlari tergopoh-gopoh karena mendengar teriakan seseorang dari luar ruang Kesehatan.


Dirinya terperangah saat mendapati Stevina menangis sampai sulit bernapas.


***


Setelah tenang, Stevina mulai menceritakan tentang pengalamannya melihat sosok mahasiswa tanpa wajah yang berada di lorong.


Damar dan Bagi terlihat khawatir. Sedangkan Agia bersikap lebih tenang.


Agia memeluk tubuh sahabatnya lagi. Setelah melihat kondisi Stevina yang tidak membaik, mereka memutuskan untuk pulang.


Sobri dan teman-temannya mengucapkan terima kasih sekali lagi atas bantuan dari Damar dalam memberikan penanganan kepada kecelakaan yang terjadi di Fakultas Teknik.


***


Setibanya di rumah Stevina, dia kembali berteriak histeris saat melihat ke layar televisi yang khusus memperlihatkan tangkapan kamera pengawas di rumahnya.


Seluruh keluarga Stevina berhamburan panik saat mendengar Stevina berteriak ketakutan.


“Kenapa Stev?” Damar segera memeluk erat tubuh Stevina.


“Itu…” Stevina menunjuk layar televisi sambil bersembunyi didada Damar dan menangis lirih. Semua orang pun ikut melihat arah tunjuk dari Stevina.


“Kenapa? Ada apa di sana?” Damar mencoba mencari tahu, mengapa Stevina kembali ketakutan.


“Dia ada di depan gerbang. Dia ikut ke sini.” Stevina kembali menangis setelah menjelaskan pengelihatannya.


Agia heran, dirinya tidak melihat apapun di lorong, bahkan di layar yang ditunjuk Stevina tadi. Apa sebenarnya yang mengikuti Stevina ini?

__ADS_1


__ADS_2