Kampus Horror

Kampus Horror
Part 51


__ADS_3

Kampus Horror


Part 51


“Apa-apaan sih polisi itu. Bagaimana bisa polisi tahu kalau aku dan perempuan kotor itu berbicara? Mana mungkin polisi sampai mencari informasi ke tukang-tukang rendahan itu. Apakah mungkin?” Anisa membuat pikirannya bekerja sendirian. Lalu dia meletakkan tubuhnya di pembaringan.


“Tiba-tiba kepalaku jadi sakit karena memikirkan hal ini.”


Kemudian dengan tiba-tiba Anisa bangkit dengan wajah panik. “Andi juga, tahu dari mana dia kalau aku pernah berbicara dengan Asih? Akan aku tanyakan sekarang.” Dengan cepat Anisa bangun dan mencari keberadaan Andi.


“Andi! Andi!” Anisa memanggil-manggil anak sulungnya. Namun tidak ada jawaban. Dia memutuskan untuk mencari ke kamar Andi dan Dewi.


“Dewi! Andi mana?” Tanya Anisa setelah melihat keberadaan menantunya sedang fokus menatap layar televisi yang menayangkan drama Korea.


“Tidak tahu, Bu. Dari tadi tidak ada di kamar.” Sahutnya santai tanpa menoleh Anisa yang berdiri di dekat pintu kamar.


“Nonton melulu! Suami hilang saja tidak tahu.” Sungut Anisa pelan sambil melangkah meninggalkan kamar anak sulung bersama istrinya.


“Suami sudah tua begitu untuk apa dijaga-jaga seperti bayi, Bu. Biarkan saja dia bebas mau kemana.” Dewi mendengar ucapan pelan ibu mertuanya.


Bibir Anisa mencebik, enggan menyahuti menantunya itu.


Anisa tidak bisa membicarakan kejelakan menantunya jika mulai terbius oleh euforia drama kesukaannya itu. Bagaimana bisa mengatakan hal jelek jika semua urusan rumah tangga habis dilahapnya sejak pagi. Masakannya pun beragam dan semua enak. Sejak Andi menikah dengan Dewi, Anisa menjadi santai. Tidak perlu memusingkan hal-hal yang berbau rumah tangga.


***


“Terima kasih atas kesediaan waktunya untuk mau berbagi informasi dengan kami, Pak Andi dan Pak Deni.” Andre membuka pembicaraan antara penyidik kepolisian dan anak-anak Dira Nugraha.


Andi hanya menganggukan kepala mendengar penyampaian Andre.


“Saya memerlukan lebih banyak lagi informasi seputar Asih Prabandari selaku korban kerangka yang kami temukan. Jujur saja, ini merupakan hal yang mustahil bagi kami untuk menuntaskan dalam waktu singkat. Dari kondisi kerangka, kami simpulkan kejadian berlangsung sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Sulit sekali untuk membuktikan alibi orang-orang yang terlibat. Jadi kami mohon bantuannya untuk memberikan informasi dan tentu saja hubungan antara Bapak-bapak dengan korban.” Andre masih menuturkan panjang-panjang mengenai keluhannya karena selalu mengganggu keluarga Dira Nugraha. Bahkan setelah keluar dari rumah Dira Nugraha untuk memberikan surat pemeriksaan kepada Anisa, mereka segera menghubungi Deni untuk bertemu di cafe dekat rumah Dira Nugraha.


“Tidak apa-apa, Pak. Saya pun mengharapkan agar pihak kepolisian bisa segera menuntaskan hal-hal yang harus diungkap. Kalau seandainya Asih memang kecelakaan atau ada hal lain yang terjadi, saya sebagai orang terdekat, akan menerima dengan lapang dada.” Andi melirik sinis adiknya saat menyebutkan kata orang terdekat dengan penuh penekanan.


“Saya juga menyertai pertemuan ini dengan membawa kakak saya, Andi.”


Jimmy dan Andre menunggu Deni menyelesaikan ucapannya. Karena sejujurnya, mereka pun heran, padahal mereka hanya menghubungi Deni saja. Tapi Andi turut serta hadir siang itu.


“Sebenarnya kakak saya ini memiliki motif untuk menghilangkan nyawa kekasih saya, Pak.” Semua orang tanpa terkecuali, terkejut mendengar ucapan Deni.


“Apa maksud lo? Hati-hati ya sama ucapan lo.” Napas Andi memburu tidak terima dengan ucapan Deni.

__ADS_1


Jimmy dan Andre mendapati bahwa hubungan kakak beradik ini sedang tidak baik. Atau memang tidak pernah baik?


“Baik, baik. Coba biarkan Pak Deni menyelesaikan dulu ucapannya. Setelah itu kami akan dengar sanggahan dari Pak Andi.”


“Saya tidak mau berbicara apapun, saya hanya perlu pengacara untuk menuntut bocah ingusan ini.” Andi nampak tidak terima dengan penuturan adik yang duduk tepat di sebelahnya. Deni memalingkan muka ke arah jendela saat mendengar Andi akan menuntutnya.


“Saya pikir orang ini mengajak saya ke suatu tempat untuk hal lain. Ternyata bertemu dengan penyidik. Baik, akan gue ladeni. Karena gue punya Tuhan yang percaya bahwa gue bukan pembunuh!”


Deni melengos pasrah dengan tuduhan yang dia lemparkan kepada kakaknya.


“Baik, silahkan Pak Deni.”


Deni menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan sebelum memulai penuturan.


“Dia ini tidak terima jika saya bahagia. Apapun kesenangan yang saya lakukan, dia selalu ingin mendapatkannya juga. Saya yakin seratus persen, jika Asih telah menolak kakak saya. Maka dari itu dia marah dan membunuhnya. Bukan begitu, Kak?” Kini Deni menoleh dan menatap tepat kemata Andi dengan garang.


“Apapun yang gue punya, lo juga menginginkannya. Apapun yang gue mau, lo juga mau. Lo harus mendapatkannya, walau dengan cara apapun. Bahkan tangisan gue, enggak akan menurunkan niat lo untuk mendapatkannya. Iya, kan?”


“Gue lebih dulu kenal Asih dari pada lo! Lo jangan sok tahu, ya! Gue ketemu Asih saat dia sering berkunjung ke perpustakaan Fakultas Parwisata. Gue sering duduk berdua dan menghabiskan waktu di perpustakaan!” Andi tersulut emosinya.


Begitu juga dengan Deni yang mendengar bahwa Andi sering menghabiskan waktu dengan kekasihnya terpancing untuk meledakkan emosi.


“Berarti lo sudah tahu, kan, kalau Asih itu pacar gue? Kenapa lo tetap mendekatkan diri? Lo sengaja, kan?”


Deni kehabisan napas mendengar makian kakak laki-lakinya itu.


“Bukannya lo lebih punya motif untuk membunuh Asih?”


“Gue? Ya enggak mungkinlah! Asih itu segalanya untuk gue.”


“Bukannya Asih mengandung anak lo?”


Jimmy dan Andre terperangah mendengar perdebatan mereka. Fakta baru kembali mereka dapatkan tanpa harus bersusah payah.


“Lantas kalau memang dia mengandung anak gue, kenapa? Bukannya itu membuktikan kalau hubungan kami serius?”


“Lo sengaja membunuh Asih karena tidak mau bertanggung jawab. Iya, kan?”


“Jaga ya mulut lo! Gue enggak tahu Asih hamil! Gue juga tahunya karena Agia yang bilang, Kak. Kalau gue dulu tahu, dengan segera akan gue nikahi Asih! Gila ya mulut lo rusak, Kak!”


“Siapa yang tahu isi hati dan pikiran, Den? Bisa saja karena lo merasa belum sanggup menerima hadirnya seorang anak, lo jadi nekat. Bekerja saja belum, bagaimana mau memberikan kehidupan untuk seorang anak? Untuk diri sendiri saja lo minta sama orang tua. Bahkan sampai saat ini pun, lo itu masih tetap jadi manusia enggak berguna!”

__ADS_1


Sebuah tinju melayang dari Deni menuju pipi Andi.


“Gue selalu sabar ya selama ini menghadapi orang gila kayak lo. Sekarang gue pasrah. Silahkan pihak penyidik saja yang membuktikannya. Alibi saya hanya satu. Setelah Bapak dan Ibu mengetahui hubungan saya dan Asih, saya dipenjara oleh mereka di rumah. Tidak diizinkan keluar sama sekali. Bahkan Bapak menyewa seorang penguntit untuk mengikuti saya. Namanya Kirman, silahkan Bapak-bapak menghubungi orang itu.” Deni beranjak meninggalkan mereka dengan tertatih.


Andi terdiam dengan bara api didalam dadanya yang terus bergemuruh menahan api itu agar tidak keluar. Kesakitan rahangnya karena tonjokkan dari Deni tidak seberapa dibandingkan dengan tuduhan Deni di depan penyidik. Nama baiknya pasti akan tercoreng dengan segera.


***


“Lantas, apa yang harus kita lakukan, Pak?” Andre terdiam mematung setelah melihat kepergian kakak beradik meninggalkan mereka di cafe.


“Gue merasa buntu. Seandainya gue bisa berkelana waktu. Supaya tahu kondisi sesungguhnya puluhan tahun lalu seperti apa.”


***


Jimmy dan Andre kini berkunjung menemui Dj di rumahnya. Jimmy merasa perlu menukarkan isi pikirannya dengan orang lain.


Mereka duduk melingkar di teras rumah Dj.


“So, apa yang sudah kita punya?”


Dj menulis dikertas kosong untuk membuat skema hasil penyelidikan.


“Kita punya korban penemuan kerangka manusia, bernama Asih Prabandari.” Dj menuliskan nama Asih di tengah bagian atas.


“Deni, kekasih Asih. Alibinya nyaris sempurna karena mengaku dipenjara di rumah, bukan?” Dengan segera Dj menuliskan nama Deni. Jimmy dan Andre diam memerhatikan skema yang dibuat Dj.


“Andi, laki-laki yang menginginkan Asih untuk menjadi kekasihnya. Mereka adalah anak-anak dari Dira dan Anisa.”


“Dewi, teman sekolah Asih yang juga menjadi istri Andi.”


“Semua memiliki motif untuk menyelakai Asih. Dewi, motifnya bisa saja persaingan merebutkan laki-laki. Bisa itu Deni, atau juga Andi. Kita harus menanyakannya langsung dengan mereka tentang hal ini nanti.”


“Pasangan suami istri Dira dan Anisa. Motif mereka pun sangat kuat. Mereka tidak mau Asih masuk menjadi bagian keluarga. Bahkan kita memiliki saksi yang membuktikan jika Anisa pernah menarik paksa Asih untuk diajak berbicara.”


“Bagian mana yang masih kurang?” Dj menyudahi pemikirannya.


Jimmy lalu menarik kertas yang berisikan skema. Lalu menuliskan nama Ari dibawah nama Dewi.


“Ada Ari yang bekerja saat pembangunan gedung di kampus. Ari ini kakaknya Dewi. Bisa saja Ari ini kaki tangan Dewi saat melakukan kejahatan. Terbukti dari ucapan rekan kerjanya, bahwa Ari yang membuat lubang tempat penemuan kerangka itu. Kita belum sempat berbicara dengannya.” Jimmy memandang lagi hasil penyelidikannya yang telah mereka lakukan tiga minggu belakangan ini.


“Kirman, ya Kirman. Bisa saja dia memiliki informasi yang kita perlukan. Siapa Kirman ini? Ndre, cari tahu Kirman ini dari Deni. Hubungi dia dan minta nomor kontaknya.”

__ADS_1


“Baik, Pak Jim.”


***


__ADS_2