Kampus Horror

Kampus Horror
Part 60-End


__ADS_3

Kampus Horror


Part 60


Hari yang mendebarkan untuk Ari Setiawan. Pemeriksaan tidak berpihak padanya, bahkan tuduhan pun tidak bisa dielak lagi. Dirinya kini hanya bisa berpasrah saja. Tidak ada siapapun yang bisa membelanya.


“Entah apa maksud dan tujuan Tole sebenarnya menjadikan gue pesakitan seperti ini. Dengan jelas dalam ingatan kalau dia yang memerintahkan untuk membuat lubang di taman karena akan ditanami pohon bunga. Tapi kenapa sekarang malah seperti ini?” Ari berbicara dalam pikirannya.


Mau membantah pun tidak bisa. Tidak ada saksi yang bisa membuktikan alibinya petang itu. Sayang sekali dia justru pergi keluar sore hari saat rekan-rekannya baru pulang kerja. Hal ini menambah kesialan yang Ari dapatkan, karena sebagian pekerja menyetujui keterangan tentang tidak adanya Ari di rumah temporari selama masa pembangunan.


Dia kini dituduh membantu Dewi dalam usaha menghilangkan nyawa korban karena dendam beberapa kali ditolak cintanya.


Alasan klise yang sering kali menjadi latar belakang timbulnya dendam pada diri manusia. Cinta.


Ari menghembuskan napas dengan berat.


***


Sidang lanjutan digelar lima hari setelah sidang pertama.


Agenda sidang kedua ini akan membahas tentang dakwaan kasus pidana penemuan kerangka di Fakultas Sastra.


Kasus ini telah berkembang dari pelaku tunggal menjadi dua pelaku.


Hakim Ketua memulai pertanyaan untuk mencari keterangan yang diperlukan dari terdakwa.


“Ari Setiawan, apa benar tuduhan yang disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum?”


“Tidak benar, Yang Mulia. Saya tidak melakukan apapun.”


“Bagaimana cara saudara membuktikan dengan akurat pernyataan anda?”


“Tidak tahu, Yang Mulia.”


“Jaksa Penuntut Umum telah menghadirkan lagi saksi untuk memberatkan anda dalam kasus ini. Untuk saksi kami persilahkan.”


Petugas kembali mendampingi Tole untuk membawanya duduk dikursi pemeriksaan.


“Apa benar saudara saksi mendengar pembicaraan terdakwa dengan korban?”


“Benar, Yang Mulia. Saya mendengar Ari mengajak korban untuk menikah. Tapi segera ditolak oleh korban karena pekerjaan Ari tidak menarik minat korban. Korban mengatakan bahwa percuma Ari jauh-jauh datang ke kota jika hanya menjadi tukang bangunan.”


“Apa benar begitu, terdakwa?”


“Benar, Yang Mulia.” Sahut Ari sedih.


“Lantas, apakah itu yang menjadi motif terdakwa dalam usaha menghilangkan nyawa korban?”


“Tidak, Yang Mulia. Benar adanya bahwa saya sangat mendendam amarah kepada Asih, tapi saya tidak akan sampai hati menyakitinya, apalagi membunuhnya. Saya tidak tahu menahu tentang kematian Asih. Saya hanya tahu bahwa adik saya telah menusuknya lalu pergi meninggalkannya seorang diri. Itu pun saya tahu karena pengakuan darinya. Setelah itu saya tidak tahu apa-apa. Semua yang dikatakan mandor ini bohong, Yang Mulia.”


“Saudara saksi, apakah anda memiliki motivasi untuk berbohong dalam kasus ini?”


“Tidak, Yang Mulia. Saya tidak mengenal korban ataupun terdakwa secara personal. Kami hanya rekan kerja. Itu saja. Untuk apa saya harus berbohong? Saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat atau dengar. Itu saja.”


***


“Dewi Laksmita dan Ari Setiawan ditetapkan sebagai terpidana kasus menghilangkan nyawa orang dengan cara menusukkan pisau keulu hati korban. Kemudian kakak beradik ini menyembunyikan jazad korban di dalam tanah beserta alat bukti kejahatan berupa pisau.


Motivasi sesungguhnya tidak pernah disampaikan oleh pelaku. Dugaan kejaksaan, ada unsur cemburu dan dendam dibalik terjadinya tindakan kriminal yang direncanakan ini. Pelaku akan menghabiskan waktunya untuk menyesali perbuatan di jeruji besi selama dua puluh lima tahun. Sekian Berita Cepat kami sampaikan dari pengadilan negeri. Saya Ines, melaporkan.”


Bagi dan seluruh keluarga berkumpul di rumahnya dengan penuh penyesalan.


Tidak ada satupun yang berkomentar tentang berita yang disiarkan barusan. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing, tindakan apa selanjutnya yang harus mereka lakukan.


Agia menggenggam erat tangan Bagi yang sangat terpukul karena harus menerima kenyataan pahit mengenai perbuatan Mamanya dimasa lalu.


“Aku malu, Gi.”


Agia tidak menyahuti perkataan Bagi. Dia hanya mengeratkan genggamannya.


“Tapi aku akan lebih malu lagi kalau misalnya Mama tidak mempertanggung jawabkan kesalahannya. Ini bukan sekedar menghilangkan jepit rambut atau helm atau bahkan sepeda motor. Tapi menghilangkan nyawa manusia, Gi. Sedikitpun aku tidak menyangka.”


“Kak, aku enggak mau merespon apapun yang Kakak sampaikan. Aku hanya mendengarkan saja, ya, Kak.”


“Kalau seandainya kamu jadi aku, apa kamu akan membantu kepolisian seperti yang aku lakukan?”


“Memangnya kapan Kakak memberikan contoh rambut kepada tim forensik?”


“Beberapa waktu setelah aku berantem sama Papa.”


“Sebesar itu rasa curiga Kakak?”


“Iya, dan ternyata terbukti kan? Padahal aku berharap supaya semua hasilnya negatif.”


Dari kejauhan, Anisa tersenyum penuh kemenangan. Dirinya tidak menyangka bahwa akan tetap bisa bersembunyi lebih lama.


Wajahnya menyeringai menatap televisi yang memberitakan tentang menantunya itu.


***


“Aku kesal sekali, Mas! Berani-beraninya perempuan kotor itu mengancamku bahwa akan menyebarkan aib kemasyarakat. Aku harus bagaimana?”


“Kamu maunya aku bagaimana?”


“Bunuh dia!”


“Ih mana berani aku. Sudahlah, biarkan saja dia.”


“Biarkan bagaimana? Dia itu sedang mengandung benih cucumu, Mas. Memangnya kamu mau punya cucu dari rahim perempuan rendah macam dia?”


“Sudah diam, sini biar aku tenangkan emosimu itu.” Tole merangkul Anisa erat menenggelamkan wajah Anisa di dalam dadanya.

__ADS_1


Sudah menjadi kebiasaan mereka menghabiskan waktu dengan cepat dan tergesa untuk melampiaskan panggilan alam antara dua manusia dewasa berlainan jenis itu. Bisa di mana saja, di dalam mobil, di hotel, dan kali ini di dalam kelas Fakultas Sastra.


Tanpa sengaja Asih berjalan melewati kelas itu selepas jam kerja paruh waktunya habis, dan mendengar suara orang dewasa berlomba merebutkan oksigen. Asih menghentikan langkahnya terkejut mendapati suara itu begitu lirih dan dekat.


Asih kemudian melongokkan kepala di jendela kelas. Betapa terkejutnya Asih mendapati dua orang dewasa sedang menyatu di atas meja dosen.


Keadaan kelas tidak lagi seterang saat siang hari. Namun cahaya sore itu tidak menyarukan pengelihatan Asih. Asih memfokuskan diri untuk melihat siapa pelakon adegan orang dewasa yang sedang menistakan pendidikan dengan melakukannya di dalam ruang kelas, bahkan di atas meja dosen.


Asih menutup bibirnya menggunakan tangan saat menyadari bahwa kedua orang itu adalah istri dekan dengan salah satu pekerja bangunan.


Kesialan Asih hari itu, Anisa melihat keberadaannya di jendela.


Asih bergegas pergi meninggalkan kelas itu.


Di pintu keluar, Asih mendapati Dewi sedang duduk dengan wajah masam.


Asih lalu menyapa Dewi.


“Lama amat kamu, Sih!”


“Kamu nungguin aku?”


“Iya dari tadi!”


“Ada apa?”


“Aku mau ngomong.”


“Ya ngomong.”


“Benar anaknya dekan menghamili kamu?”


Asih menaikkan alisnya terkejut. Dia langsung menoleh kanan dan kiri memastikan tidak ada orang lain, apa lagi Anisa sedang berada di kampus saat ini. Dirinya khawatir jika Anisa mengetahui kalau Dewi memiliki informasi ini.


Kemudian Asih menarik tangan Dewi menuju kelas di lantai dua.


Sementara Anisa dan Tole mempercepat kegiatannya untuk mencapai *******. Anisa kehilangan akal sehatnya, dalam pikirannya hanya satu, yaitu mencari Asih.


Setelah selesai memperbaiki penampilan, Anisa bergegas keluar dan menuju parkiran meninggalkan Tole yang masih kelelahan. Tujuannya mengejar Asih ke asrama. Dia yakin Asih pasti akan pulang ke asrama.


Dalam perjalanannya menuju tempat parkir, Anisa justru melihat seorang perempuan berjalan tergesa-gesa dari lantai dua. Namun ada yang salah dengan kakinya. Anisa menduga kaki perempuan itu sedang terluka.


Anisa heran dan urung melanjutkan tujuannya. Dia memutuskan untuk naik ke lantai dua. Dia ingin mencari tahu apa yang tadi perempuan itu lakukan di atas?


Hati-hati Anisa menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Sampai atas, Anisa terkejut mendapati Asih yang berjalan pelan keluar dari kelas dengan memegangi perutnya.


Asih menegang memandang Anisa. Ketegangan menguasai diri Asih. Meringis Asih menahan rasa sakit akibat tusukan kecil yang dilakukan oleh Dewi.


“Halo Asih, sedang apa di sini?” Anisa menyeringai ngeri menatap Asih.


Asih bergerak secepat mungkin berusaha meninggalkan Anisa.


“Loh? Kamu berdarah?” Anisa lalu tertawa mengaitkan kejadian yang dilihatnya tadi.


“Ternyata kamu banyak memiliki musuh ya? Jelas saja! Kamu itu memang perempuan sialan!” Anisa lalu menarik Asih memasuki ruang kelas.


“Apa yang kamu lakukan tadi di bawah? Kamu kurang kerjaan mengintip saya?”


Asih tersenyum sinis, “untuk apa saya menggunakan waktu yang sangat berharga untuk mengintip pasangan kotor yang tidak memiliki tempat lain untuk melakukan hal itu.”


“Apa kamu bilang?”


“Bisa-bisanya mengata-ngatai orang lain, padahal dirinya jauh lebih kotor. Apa yang akan Pak Dekan lakukan jika mengetahui hal ini? Apa yang akan wartawan beritakan jika mendapatkan informasi ini?” Asih terus menahan nyeri pada luka diperutnya. Tidak dia pedulikan lagi keadaan janin yang terus mengharapkan pertolongan dari tenaga medis, karena darah ibu sebagai sumber kehidupannya terus mengalir keluar dari tempatnya berlindung.


Anisa meradang mendengar ancaman Asih.


“Coba saja kalau berani. Memangnya ada yang akan percaya sengan omongan perempuan miskin macam kamu?”


“Mungkin tidak ada orang yang percaya, tapi kemungkinan besar orang bergunjing sudah pasti. Setiap hari orang-orang akan membicarakan tingkah murahan istri dekan dengan seorang tukang bangunan.” Asih menahan senyum mengejek.


“Lama-lama pasti berita itu akan sampai ditelinga Pak Dekan. Memangnya beliau bisa sesantai itu kalau sudah mendengarnya?”


Anisa bergemuruh menahan amarah, namun sedikitpun dia tidak mampu menyangkal ucapan Asih.


Asih sebenarnya memiliki ketakutan yang amat besar jika berhadapan dengan Anisa. Ditambah saat ini fisiknya sedang tidak baik-baik saja.


“Sudah dulu ya, Bu. Saya pergi dulu.” Asih bersiap meninggalkan ruang kelas.


“Apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Menyebarkan kepada semua orang?”


Asih berhenti dan membalikkan tubuhnya.


“Saya belum tahu. Ibu bisa memilih, yang mana sebaiknya saya sebarkan? Anak dekan menghamili seorang mahasiswa? Atau istri dekan berhubungan intim dengan tukang bangunan di ruang kelas Fakultas Sastra?”


“Jangan macam-macam ya, kamu! Kamu pikir saya tidak berani bertindak? Kamu pikir nyali saya kecil?”


“Memangnya Ibu bisa melakukan apa? Semua kunci kehidupan Ibu ada pada saya!”


Satu kali gerakan, Anisa menerjang Asih. Dengan kuat Anisa menekan leher Asih hingga Asih tak sadarkan diri.


Anisa memastikan keadaan Asih. Masih ada denyut nadi dan napasnya pun beraturan. Anisa lalu membekap hidung dan mulut Asih dengan tangannya beberapa detik.


Dengan keadaan tubuh yang lemah, disertai dengan luka akibat tusukan, kehabisan napas mampu membuat jiwa Asih terangkat dari raganya.


Anisa diam. memandang tubuh Asih yang terbujur di atas lantai ruang kelas. Senyumnya mengembang.


“Kamu pikir dirimu itu hebat? Kalau sudah mati begini, memangnya bisa menyebarkan informasi apa?”


Tiba-tiba Anisa sadar, apa yang harus dia lakukan dengan tubuh Asih.

__ADS_1


Dia bergegas turun dan mencari Tole.


Tidak ditemukannya Tole di manapun. Kampus yang gelap dan sepi membuat Anisa kebingungan.


“Sayang!” Anisa menoleh ke arah parkir kampus tempat dia memarkirkan mobilnya.


Ternyata Tole sedang duduk bersantai di samping mobilnya dengan menggengam segelas kopi dan sebatang rokok.


Anisa berlari mendekati Tole.


“Sayang, ada masalah. Bantu aku!”


“Kamu dari mana saja?”


“Ayo ikut aku.”


***


Tole mematung saat Anisa menunjukkan tubuh Asih di ruang kelas.


“Kamu apakan dia?”


“Aku mencekiknya.”


“Apa?”


Hampir saja gelas itu mengenai wajahku. Begitu tega dia melemparkanku dengan gelas karena fakta yang aku ungkapkan.


“Siapa bilang kamu boleh melakukan hal itu?” Keras sekali dia saat berbicara dan menanyakannya kepadaku.


“Aku begitu kan karena membela diri. Apa salahnya aku mempertahankan harga diri. Dia mengancam akan menyebarkan tentang kita, Mas!”


“Kamu tidak perlu sibuk melakukan pembelaan diri macam itu. Dengan kamu melakukan hal itu, sama saja melemparkan air comberan kewajahmu sendiri. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?”


“Ya enggak tahu. Sudah terlanjur mati juga. Mau bagaimana lagi?”


“Sekarang aku minta kamu diam saja. Tidak perlu berbicara apapun dengan siapapun. Biar aku yang membereskan semuanya. Paham?”


Anisa menganggukkan kepala lemah.


Tole berpikir dengan cepat lalu berjalan menuju jendela. Dilihatnya lubang yang telah digali oleh Ari pagi tadi. Kemudian kepalanya menoleh ke sana kemari.


Tole kemudian menatap langit-langit yang belum dipasangkan plavon. Dia tahu, minggu ini adalah jadwal pemasangan plavon dan lantai keramik di ruangan ini.


Tole lalu berlari menuruni tangga dengan cepat dan meninggal Anisa seorang diri di dalam kelas.


Tak berapa lama Tole datang membawa gulungan kabel berdiameter sepuluh milimeter dan dua buah plastik berukuran satu kilo yang didapatnya dari warung depan kampus.


Tole lalu memasukkan tangannya ke dalam plastik, dan mengangkat tubuh Asih agar lebih dekat dengan jendela.


Tole lalu mengikatkan tubuh asih menggunakan kabel listrik pada ujungnya, karena kesulitan akibat menggunakan plastik ditangannya, dia mencopotnya sebentar. Lalu dia melemparkan ujung satunya ke arah plavon. Kabel itu berhasil melewati kayu sesuai rencana Tole.


Tole memastikan jika kabel dan kayu itu kuat menahan tubuh Asih. Dia mencoba menarik kabelnya sedikit dan tubuh Asih terangkat.


“Kamu berani dorong dia supaya jatuh, tidak?”


Anisa menatap Tole. Dengan cepat Anisa mendekati tubuh Asih. Menggunakan kaki, Anisa mendorong tubuh Asih.


Perlahan Tole mengulur kabel sampai tubuh Asih berhasil mendarat di lantai satu.


Bergegas Tole menuruni tangga dan mengambil sekop pasir dan celurit.


Tole melepaskan kabel listrik terlebih dahulu dari tubuh Asih memggunakan celurit. Lalu memanggil Anisa yang masih berada di atas.


“Sayang!”


Anisa melongokkan kepalanya dari arah jendela.


“Kenapa?”


“Coba kamu bawa turun plastik yang tadi, cepat!”


Sigap Anisa meraih plastik untuk membantu kekasihnya itu. Karena hari sudah petang keadaan kelas menjadi cukup gelap, namun dengan penerangan dari bulan dan juga lampu dari kantor dosen di sebelah, Anisa melihat sebuah pisau kecil di dekat jendela. Dia menduga pisau ini milik Asih atau orang yang menusuknya tadi.


Tidak lupa melapisi tangannya dengan plastik, Anisa mengambilnya dan membawa pisau itu turun.


“Sayang, ini ada pisau.”


“Punya siapa?”


“Tidak tahu.”


“Ya sudah, buang ke dalam lubang itu.”


Anisa menuruti perkataan Tole.


Anisa lalu memberikan plastik kepada Tole yang disambut cepat.


Tole mengangkat tubuh Asih lalu membuangnya ke dalam lubang tanah.


Tole segera menimbun tubuh Asih dengan tanah. Merasa lubang itu sudah tertutup dengan tanah, Tole kemudian membuat adonan semen dan pasir. Dia lalu meratakan adonan itu diatas tanah tadi, untuk menjadikan beton.


“Besok kamu usahakan agar dekan mengizinkan menaruh sesuatu di atas ini ya.”


“Ini enggak akan bau?”


“Enggak. Sudah dikubur cukup dalam kok. Sudah kamu pulang sekarang. Suami kamu pasti sudah menunggu.”


“Terima kasih ya, Sayang.” Anisa tidak lupa mengecup pipi Tole mesra.


Tamat

__ADS_1


Cukup sampai di sini? Atau lanjut?


Komen ya pembaca.


__ADS_2