
Kampus Horror
Bonus - Part 5
“Enggak perlu nunggu lama-lama, Bro. Sebentar lagi Nenek lo akan viral di media sosial.” Damar sangat prihatin melihat sahabatnya yang duduk dengan wajah sendu di kursi penumpang bagian depan.
Bagi tidak mampu menanggapi ucapan Damar.
“Lalu sekarang bagaimana? Kita tetap ikuti Nenek?”
“Menurut lo bagaimana?”
“Gue penasaran sama laki-laki itu sebenarnya. Kita lanjut ya? Lo kuat?”
Bagi hanya menjawab Damar sengan suara lemah.
Mobil Anisa melaju dengan kecepatan sedang di depan mereka. Tempat pemberhentian mereka selanjutnya di sebuah rumah makan dengan konsep gazebo. Masing-masing gazebo disekat dengan menggunakan tanaman, sehingga privasi bisa terjaga.
Bagi dan Damar memilih duduk di belakang gazebo yang dipilih Tole dan juga Anisa. Walaupun tidak bisa melihat, namun, percakapan mereka terdengar jelas dari sini.
“Ikan bakar satu, sate cumi satu, cah kangkung satu, kroket kentang satu, dan nasi putih dua.” Anisa menyebutkan pesanan kepada pramusaji.
“Minumnya, Bu?”
“Es teh saja dua. Oh, dan air mineral dingin satu, ya.”
“Mohon ditunggu sebentar, nggih.”
“Banyak amat pesan minum. Haus ya?”
“Aku perlu dinginkan otak dan hati yang panasnya tidak terkontrol hari ini.”
Tole tertawa ringan.
“Sayang, nanti kita cari lagi dukun yang lain ya.”
“Memangnya masih ada? Mas carinya yang pasti bisa membantu kita dong. Jangan yang seperti tadi. Untung saja aku enggak kelepasan bicara yang aneh-aneh.”
“Aku kan enggak tahu kalau dukun itu ternyata orang baik.”
“Lantas, aku ini orang jahat?”
“Kamu itu bukan jahat. Hanya terlalu gegabah saja. Coba kamu biarkan perempuan itu hidup dulu, kan enggak rumit begini.”
“Kalau dia dibiarkan hidup, memangnya kamu rela berpisah sama aku?”
“Ya enggak lah, Sayang.”
“Ya sudah. Kalau dia tetap hidup, aku yakin dia akan mengadukan semuanya ke Dira. Lalu aku didepak dari kehidupannya. Mana sanggup aku.”
“Sudah sering aku tawarkan untuk hidup denganku saja. Tapi kamu selalu menolak.”
“Siapa sih yang mau hidup susah, Mas. Sudahlah, ngomong sama kamu malah bikin aku makin pusing.”
“Kalau sudah bahagia, pasti hidup jadi terasa mudah.”
“Mana ada rasa bahagia kalau ke salon saja aku harus berikir dulu. Ih tak sudi lah!”
Tole melengos pasrah.
“Begini saja sudah senang kok. Enggak usah diubah lagi.”
“Lalu rencana kamu bagaimana dengan Asih?”
“Aku mau dia benar-benar musnah dari dunia ini. Dalam wujud apapun. Sudah mati tapi kok masih menyusahkan saja. Heran aku, Mas.”
***
Damar dan Bagi diam bergeming menahan perasaan masing-masing. Mereka akan mengatur rencana untuk memergoki Anisa dan Tole pada hari berikutnya.
Anisa dan Tole terdengar merencanakan keluar pulau untuk mencari seorang dukun yang konon bisa menjadikan arwah penasaran menjadi pesuruh. Anisa pun menyiapkan alasan kepada keluarganya bahwa dia akan pulang kampung.
Bagi sangat geram saat mengetahui fakta sesungguhnya dari keluarganya. Memalukan, memuakkan dan menjijikkan. Apa lagi saat mengetahui bahwa laki-laki yang bersama neneknya itu adalah pria simpanan. Begitu rendah Anisa dimata Bagi kini.
“Gue penasaran, Mar. Apa Kakek gue tahu tentang hal ini?”
“Masak iya selama ini enggak pernah ketahuan, Bro? Sebaiknya bagaimana?”
“Kepalang tanggung, gue beberkan saja sekalian semua. Nonsen lah sama yang namanya menjaga keutuhan keluarga. Malah tetua yang harusnya memberi contoh, ini malah hancur. Sudah selingkuh, membunuh pula. Bahkan nyokap gue dijadikan kambing hitam.”
“Lo tenangin diri dulu. Kalau kita bergerak tanpa rencana yang matang, malah nanti jadi bumerang buat lo.”
“Ya sudah. Lo bantu gue ya.”
“Siplah.”
***
Setibanya Bagi di rumah, mobil Anisa belum terlihat di garasi rumahnya. Bagi melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh sore.
“Mungkin Nenek masih asik dengan kekasihnya itu.” Ucap Bagi di dalam hatinya.
Bagi lalu berjalan pelan menuju kamar.
Bagi memutuskan untuk membersihkan diri sebelum melakukan ritual persembahyangan di tempat suci.
Berbagai masalah yang muncul mampu diredam dengan berdoa.
Belum selesai Bagi menuntastan kegiatan spiritualnya, terdengar deru mobil Anisa yang memasuki garasi.
Tidak sampai berapa lama teriakan Dira Nugraha memenuhi rumah. Bagi bergegas keluar dan mencari keberadaan kakeknya.
Dira Nugraha terlihat menampar Anisa dengan keras, hingga menyebabkan Anisa jatuh terduduk.
“Tidak tahu kapok ya kamu! Sudah berapa kali aku bilang kalau sudahi hubunganmu dengan gelandangan itu!”
Bagi menahan Dira yang hendak melemparkan hantamannya kepada Anisa.
“Kek, sudah, Kek. Tenang. Ada masalah apa ini?” Bagi mencoba menenangi Dira.
Andi dan Deni mendekati mereka.
__ADS_1
Dira duduk di kursi makan dengan tatapan garang.
“Kamu sedang apa di rumah dukun?”
Anisa dan Bagi tercengang mendengar pertanyaan Dira.
“Maksud Bapak apa?”
“Tidak usah berlagak begitulah. Bosan aku melihat wajah pura-puramu itu. Aku tanya, kamu ngapain ke rumah dukun?”
Anisa diam menundukkan kepala.
“Kek, apa Kakek melihat sesuatu di media sosial?”
“Benar. Nenekmu ini sedang viral karena dituduh sebagai orang jahat yang membunuh seseorang.” Sengit Dira.
“Membunuh siapa, Bu? Apa benar yang Ibu bilang kemarin tentang membunuh Asih itu?” Deni mengintrogasi Anisa.
“Tidak perlu berkilah lagi. Dengan siapa kamu pergi ke rumah dukun itu?”
Anisa tetap dengan taktiknya, diam tanpa asa.
***
“Kir, gue ada kirim video dan foto. Tolong cari tahu itu siapa dan tinggal di mana.” Ucap Dira ditelepon kepada Kirman.
“Memangnya siapa itu, Bos?”
“Feeling gue selingkuhannya bini gue.”
“Sudah umur segitu masih selingkuh?” Kirman mengejek dugaan Dira.
“Sudah. Lo cari tahu dulu. Berapa lama lo perlu waktu?”
“Secepatnya!”
***
Setelah beberapa hari usaha dan upaya Kirman dalam mencari tahu informasi tentang Tole, kini Kirman dan Dira berhasil menemukan tempat tinggalnya.
“Permisi…” Kirman berteriak di depan gerbang kos. Dira memutuskan untuk tetap di dalam mobil. Kebetulan Tole keluar untuk mengecek siapa yang berkunjung.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Pak, apa benar bisa mengerjakan proyek bangunan?”
Tole menaikkan mata terkejut karena membayangkan seseorang datang dengan membawa rejeki.
“Benar, benar. Saya bisa, Pak.” Sahutnya mantap.
“Boleh ikut saya ke sini?” Kirman menarik paksa Tole.
Tole mencoba melawan, tapi kekuatannya kalah dari Kirman.
Kirman membekap Tole dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil dengan kasar.
***
Kirman menyiram Tole dengan air untuk membangunkannya dari ketidak sadaran diri.
Terbatuk-batuk Tole karena air memasuki hidung dan tenggorokannya dengan paksa.
Setelah sepenuhnya sadar, Tole terkejut mendapati Dira sedang menatapnya dingin. Sadar betul bahwa dirinya kini dalam bahaya.
“Lo siapa? Lo merasa hebat selama ini?” Dira tidak merasa perlu untuk berbasa-basi.
“Maafkan saya, Pak.”
“Kenapa meminta maaf? Sebegitu enak tubuh istri gue sampai-sampai lo tidak takut untuk mencurinya?”
“Tidak begitu, Pak. Maafkan saya. Saya hanya mengikuti kemauan Anisa saja.”
“Kemauan Anisa?”
“Iya, Pak.”
Dira melirik Kirman.
Kirman menghentakkan tongkat baseball ke punggung Tole.
“Ampun, Pak. Ampun. Saya salah karena berhubungan dengan istri Bapak.”
Dira melirik Kirman lagi. Hantaman kedua berhasil dilepaskan Kirman dipunggung Tole.
“Ngapain lo sama istri gue ke rumah dukun?”
“Saya hanya mengantarkan istri Bapak saja.”
“Ngapain?!” Dira berteriak keras.
“Ada hantu yang terus mengikuti istri Bapak. Jadi dia meminta tolong saya untuk mencarikan dukun agar bisa membantu mengusir hantu itu.”
Dira tersenyum getir. “Lalu? Kenapa video kalian sampai viral?”
Tole diam dan menatap Dira.
“Saya tidak tahu, Pak. Mungkin ada yang merekam dan mengunggah di media sosial.”
“Jadi apa benar Anisa yang telah membunuh orang baik seperti yang terekam pada video itu?”
“Saya tidak tahu, Pak.”
Dira kembali melirik Tole.
Hantaman tongkat baseball kembali menyentuh punggung Tole.
“Ampun, Pak. Ampun. Benar, benar. Istri Bapak yang membunuh Asih.”
Dira dan Kirman saling lirik tidak percaya.
“Berani-beraninya kamu menuduh dan menyalahi istri saya!”
__ADS_1
Dira kembali melirik Kirman.
Tole menyadari dan segera memohon ampun sebelum Kirman menghantamkan tongkat baseball kepunggungnya lagi.
“Saya tidak bohong, Pak. Saya hanya membantu istri Bapak untuk menguburkan mayat Asih saat itu. Istri Bapak yang melakukannya sendirian.”
“Bohong!”
“Benar, Pak. Benar.”
“Untuk apa istri saya melakukan hal itu. Pasti kamu yang mendalangi semuanya.”
“Bukan, Pak. Saya hanya membantu saja.”
“Lalu apa alasan istri saya menghilangkan nyawa mahasiswi itu?”
Tole ragu untuk menjawab pertanyaan Dira.
“Sebenarnya, Asih melihat saya sedang bercumbu dengan istri Bapak.” Sahutnya takut-takut.
“Kir. Habisi dia, jangan sampai mati. Telanjangi, lalu buang di pulau seberang. Gue tidak mau makhluk kotor ini berada satu pulau dengan gue.”
“Siap, Bos!”
“Ingat! Jangan sampai mati.”
Dira tidak lupa mengambil beberapa gambar keadaan Tole yang babak belur dihajar oleh Kirman.
***
Dira pulang dengan keadaan tidak lebih baik dari Tole.
Berbagai macam penyesalan berkecambuk saling tumpang tindih menguasai hatinya.
Dirinya sedang berpikir? Apa yang harus dia lakukan kepada Anisa. Apa yang harus dia katakan kepada anak-anaknya, juga cucu-cucunya.
Sesampainya di rumah, Dira mendapati Anisa sedang berusaha untuk menghubungi seseorang melalui telepon genggamnya di dalam kamar.
Dira memanggil istrinya keras, “Bu!”
Anisa terkejut dan meletakkan telepon genggamnya di atas meja dalam keadaan terbalik.
“Sedang apa? Menelepon orang itu?”
“Tidak, Pak. Ibu mau ke salon, jadi buat janji dulu dengan Marimar.” Kilahnya cepat.
Dira mencebik tidak mempercayai ucapan istrinya itu. Dira lalu mengambil telepon genggam dan menggerakkan jarinya lincah.
“Buka HPnya. Bapak ada kirimkan sesuatu untuk Ibu.” Perintahnya, lalu Dira berjalan keluar kamar meninggalkan Anisa.
Anisa menggerakkan tangannya lihai memeriksa apa yang dikirimkan oleh Dira. Betapa terkejutnya Anisa melihat foto Tole terbujur dengan wajah memar dan mata terpejam. Anisa menutup mulut dengan tangan. Napasnya tertahan dan air mata berjatuhan deras.
Anisa bergegas mengejar Dira.
“Pak! Pak! Apa yang Bapak lakukan dengannya?”
Dira membalikkan menoleh Anisa yang tengah membelalakkan mata garang.
“Bapak jahat!” Teriak Anisa.
Mendengar teriakan Anisa, Bagi keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Anisa berhamburan bergerak menuju gudang penyimpanan.
Bagi dan Dira memandang tingkah laku Anisa dengan heran. Anisa lalu datang dengan stick golf ditangannya.
“Kalau Bapak mau, sekalian bunuh Ibu, Pak.” Anisa melemparkan stick golf ke helaman rumah. Anisa menangis meraung-raung meratapi kesedihan yang dianggap rendah oleh Dira.
“Untuk apa Ibu menangis dan bersedih seperti itu?”
Anisa tetap menangis tidak mempedulikan omongan suaminya itu. Sedetik kemudian Anisa tertawa dan berbicara pada angin di sudut rumah.
“Puas kan kamu? Perempuan ******! Sudah mati pun kamu masih saja menyusahkan. Kamu harus pergi dari sini!” Anisa bangkit dan memukul sudut rumah dengan stick golf yang dilemparnya tadi. Tembok pada sudut rumah menjadi retak. Dengan brutal Anisa memukuli sudut itu.
“Mau kemana kamu sekarang? Walaupun kamu menjadi hantu, aku tidak takut. Akan aku habisi kamu!” Anisa kembali memukul-mukul arah lain dengan stick golf itu.
Anisa menangis tergugu dan terus menyampaikan tentang kesedihannya atas kematian Tole.
“Mas! Jangan mati! Jangan tinggalkan aku.”
Sedetik kemudian dia kembali tertawa dan menunjuk Dira untuk berdansa dengannya.
Bagi dan Dira saling tatap bingung harus bertindak apa kepada Anisa.
Dira lalu menghubungi ambulance untuk membawa Anisa pergi dari rumah.
Biarlah Anisa menanggung segala kesalahannya sesuai dengan kehendak alam.
Belenggu keserakahan telah membunuh hati nuraninya. Penghianatan bukan hanya dilakukan kepada Dira Nugraha, suaminya, juga kepada anak-anak yang tidak bersalah, serta keturunan yang tentu saja akan menanggung segala beban akibat ulah buruknya.
***
Pihak kepolisian mengizinkan Deni mengambil kerangka Asih Prabandari dengan tujuan kremasi yang akan dilakukan oleh Deni, karena tidak ada pihak keluarga yang mengkonfirmasi kepemilikan kerangka tersebut.
Ditemani oleh Bagi, Agia, Stevina, dan Damar, mereka berhasil mendaftarkan Asih untuk proses kremasi.
Tangis haru menyelimuti raga Deni yang dengan tulus melarung abu kerangka Asih di lautan luas. Deni meminta bantuan Robi untuk menyewakan perahu bermotor agar bisa melarung abu Asih di tengah laut.
“Asih. Asihku yang cantik, selamat jalan. Tunggu aku di sana. Damai lah bersama anak kita. Bahagia lah di sana, tunggu kedatanganku segera. Kelak kita akan bersama bertiga. Sampai akhir, cintaku padamu akan terus aku simpan disini, dihati ini. Maafkan aku, juga keluargaku.”
Wangi bunga jempiring melintas melewati indera penciuman kelima orang di tengah laut. Agia tersenyum haru melihat Asih Prabandari melambaikan tangan kepada mereka semua dengan wajah berseri sangat cantik.
***
Terima kasih Mbak Asih, sudah izinkan saya untuk menjadikan kisahnya sebagai hiburan para pembaca. Semoga Mbak Asih tenang dan bahagia dalam kedamaian.
***
Terima kasih pembaca yang saya hormati. Kisah Asih Prabandari saya akhiri sampai disini. Semoga berkenan untuk menikmati karya pertama saya.
Berikutnya akan ada sekuel dari kisah Agia dan bagi. Semoga berkenan untuk membaca karya-karya saya berikutnya.
__ADS_1
Salam sejahtera dan keselamatan, juga kebahagiaan untuk kita semua.
Salam, Intan Pandan.