
Kampus Horror
Part 38
Andi terlihat begitu frustasi belakangan ini. Segala fakta mengenai pelaku pembunuhan terhadap perempuan yang sangat diinginkan di masa lalu mengarah kekeluarganya.
Andi merenung dengan beberapa potongan memori yang terus muncul dalam kepalanya. Bukan. Bukan hanya dalam pikirannya semata, dada bagian kirinya beberapa kali terasa nyeri karena perasaan yang dulu begitu menggebu, kini kembali menyeruak menyesakkan dada.
Andi menepikan mobilnya yang bertujuan mengantarnya pulang ke rumah.
Alunan lagu mengalun merdu menambah rasa rindu yang tak akan pernah bisa tersampaikan kepada pemberi obat rindu itu.
Tanpa disadari sebutir bening air menyentuh kemeja biru yang digunakan Andi mengajar hari ini.
Perlahan butiran tersebut mulai deras hingga menimbulkan rasa sesak didada.
Alunan lagu berganti suara merdu penyiar radio perempuan yang terdengar sangat menenangkan. Berbagai informasi disampaikan oleh penyiar radio. Sampai suatu ketika topik pembicaraan penyiar membuat darahnya berdesir dari ujung kepala menuju ujung kaki.
Nama Asih Prabandari disebut dengan jelas oleh penyiar. Pembahasan korban pembunuhan yang rangkanya ditemukan di sebuah tempat lembaga pendidikan tertinggi telah menyentil relung hati Andi.
“Tempat yang seharusnya menjadi tujuan untuk mengembangkan kelimuan, membentuk kepribadian dan kemandirian, serta keterampilan sosial dan karakter, malah menjadi tempat terakhir bagi korban dalam melalukan pertukaran oksigen dengan karbon dioksida.”
“Hingga kini pihak kepolisian masih menyelidiki kasus penemuan kerangka dengan identitas Asih Prabandari. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Asih, seorang mahasiswi penerima beasiswa untuk kalangan keluarga kurang mampu, berujung tragis dengan berkalang tanah di tempat dia ingin mengubah hidupnya lebih baik secara ekonomi dan status sosial sebagai orang yang terdidik.”
Andi menahan napas saat mendengar penyiar menyatakan Asih ingin mengubah status sosialnya sebagai orang yang terdidik. Tidak. Andi ingat betul tujuan Asih melanjutkan kuliah adalah untuk mempertahankan hidup. Asih tidak peduli kepada status sosialnya yang sedari dulu tidak pernah dipandang oleh siapapun termasuk keluarganya.
Maka dari itu Andi ingat saat Asih mengutarakan keinginannya untuk bekerja di luar negeri adalah agar dirinya tidak lagi merepotkan orang lain. Asih ingin mandiri tanpa menggantungkan dirinya kepada orang lain.
Dengan mendengar penuturan yang disampaikan Asih, Andi memberanikan diri untuk melamarnya dan menjadikannya sebagai seorang istri. Namun sayang, seseorang yang lain telah tertambat dihati Asih yang lembut. Tanpa disangka dan diduga, orang itu adalah adik kandungnya. Deni.
“Kita doakan bersama ya pendengar semua, semoga mendiang Asih dapat beristirahat dengan tenang setelah kerangka tubuhnya ditemukan. Juga, semoga petugas kepolisian segera menemukan titik terang, apakah kasus ini murni kecelakaan biasa, ataukah ini kasus pembunuhan? Entahlah, mari kita tunggu kelanjutan informasinya dari pihak kepolisian yang lebih berwenang.”
Andi lalu mematikan radio yang menjadi salah satu hiburan di dalam kabin mobil, dan mulai melajukan mobilnya menuju rumah.
***
Andi membuka pintu gerbang dan menoleh kepada dua orang laki-laki yang sedang duduk di kursi taman dekat garasi mobil. Andi tersenyum dan mengganggukkan kepala. Dengan bergegas Andi kembali ke dalam mobil dan memarkirkan mobilnya dengan lihai ke dalam garasi.
Setelah mematikan mesin mobil dan juga mengambil barang-barang pribadinya, Andi menemui Jimmy dan Andre.
“Selamat siang, Bapak-bapak.” Sapa Andi, “Ada yang bisa saya bantu, sedang menunggu siapa, ya?” Tanya Andi melanjutkan.
“Siang, Pak.” Jimmy berdiri memperkenalkan diri. “Saya Jimmy dari kepolisian. Saya tadi sudah bertemu dengan Bagi dan hendak membawa Ibu Dewi Laksmita untuk diperiksa.
Andi menaikkan alisnya terkejut. Ada apa gerangan pihak kepolisian mencari istrinya, bahkan untuk diperiksa.
“Kalau boleh tahu, hal apa yang perlu diperiksa dari istri saya?” Andi tidak dapat menahan keinginannya untuk menanyakan kepada petugas polisi itu.
“Oh! Jadi bapak adalah suami dari Ibu Dewi?” Andre pun ikut masuk dalam percakapan yang sedang terjadi antara atasannya dengan suami dari terduga pelaku yang akan diperiksa.
“Benar. Saya Andi. Ada apa ya, Pak?”
Andre melirik Jimmy untuk minta izin persetujuan tentang penjelasan kepada Andi.
“Begini, Pak. Identitas istri Bapak kami temukan saat pemeriksaan kerangka di Kampus Sastra. Deoxyribonucleic Acid atau DNA Ibu Dewi ditemukan dalam bentuk bercak darah yang tertinggal pada pakaian korban.” Andre menjelaskan sepintas kepada Andi.
“Hah? Bagaimana bisa istri saya mengenal korban?”
__ADS_1
“Maka dari itu kami datang ke sini dengan surat resmi guna membawa Ibu Dewi untuk diperiksa. Saya mohon bantuannya kepada Bapak agar mau bekerja sama.” Andre menambahkan lagi informasinya kepada Andi.
“Lalu, di mana istri saya sekarang?”
“Dari penuturan Bagi, istri Bapak sedang tidak ada di rumah. Tapi kami akan tunggu di sini sampai beliau datang.”
Tanpa menjawab perkataan dari Andre, Andi segera mengambil telepon genggamnya dan menghubungi seseorang berbarengan dengan kakinya melangkah cepat menuju ke dalam rumah.
“Ma! Kamu di mana?” Andi bertanya dengan gusar saat Dewi berhasil menerima panggilan dari suaminya.
“Di rumah, Pa. Kenapa?” Sahutnya santai.
Andi yang berjalan tergesa-gesa hampir menubruk ibunya yang sedang mengutip bunga cempaka di halaman rumahnya.
“Ngapain kamu baru pulang sudah tergabas begitu?”
Tanpa menyahuti ibunya, Andi berusaha dengan cepat menuju kamarnya.
“Ma! Kamu ada urusan apa sama korban yang di Kampus Sastra?” Andi menanyakan istrinya tanpa basa-basi.
Dewi yang sedang asyik menikmati acara drama korea yang berlangsung ditelevisi, menoleh dengan cepat.
“Maksud Papa apa?”
“Mama kenal dengan korban yang sedang diberitakan itu?”
“Siapa sih yang Papa maksud? Korban apa?”
“Kenapa polisi bisa ke sini untuk memeriksa Mama?”
“Polisi? Ngapain?”
“Ma! Jangan berlagak tidak tahu begitu. Ayo sekarang keluar ikut Papa bertemu petugas polisi itu!”
“Papa mau Mama dipenjara?” Tiba-tiba Bagi masuk ke dalam kamar orang tuanya.
Andi dan Dewi seketika menoleh.
“Kalau Papa biarkan Mama dibawa untuk diperiksa, kasihan Mama. Mama pasti akan ditahan, Pa.”
“Kenapa harus kasihan. Kalau memang Mamamu bersalah, pantaslah dia untuk ditahan. Tapi kalau tidak bersalah, pihak kepolisian pasti akan membebaskannya.”
Bagi dan Andi kini melihat ke arah Dewi yang berdiri dengan santai dari posisi awalnya di sofa.
“Sebenarnya ada apa, sih? Kenala polisi harus menahan Mama? Memangnya ada apa?” Dewi mulai bingunh dengan perdebatan antara suami dan anaknya.
“Di depan ada polisi yang datang untuk menjemput Mama. Kata polisi itu, DNA Mama ditemukan pada pakaian korban yang kerangkanya tertanam di Kampus Sastra.” Andi menjelaskan kepada Dewi tentang informasi yang diperolehnya tadi.
“Apa?” Bagi dan Dewi terkejut dengan penuturan dari Andi.
“Siapa yang bilang begitu, Pa?” Bagi tidak sabar mendengar jawaban dari Andi. Dia mendekat sengan wajah panik. Tidak rela rasanya jika ibunya harus diserahkan kepada polisi walaupun hanya untuk diperiksa.
“Tadi polisi di depan yang menginformasikan ke Papa. Sekarang Papa mau dengar jawaban dari Mama.”
“Mama enggak tahu harus menjelaskan apa. Mama saja tidak mengerti dengan yang ada. Ya sudah, biar Mama temui dulu polisi itu. Di mana mereka?”
“Jangan, Ma!”
__ADS_1
“Enggak apa-apa sayang. Mama enggak pernah melakukan hal tercela dari dulu. Apa lagi membunuh. Amit-amit deh. Kamu tenang saja, Nak.”
***
Dira, Anisa, Andi, Deni, dan Bagi, sedang berkumpul di meja makan setelah usai makan malam.
Mereka membahas kejadian siang tadi tentang petugas polisi yang membawa Dewi untuk diperiksa.
“Jadi bagaimana bisa Ibunya Bagi menjadi sangkut paut dalam kasus itu?” Dira membuka pembicaraan setelah menerimab potongan buah yang disiapkan oleh Anisa.
“Saya juga belum tahu, Pak. Penjelasan yang pasti, DNA Dewi ditemukan pada pakaian korban.” Andi menjelaskan yang diketahuinya walau hanya sedikit informasi.
“Memangnya dia kenal dengan korban?”
“Kurang tahu, Bu. Besok saya ke kantor polisi untuk mengunjungi Dewi.”
Wajah Deni terlihat sangat tidak bersahabat.
“Om, Om kenapa?”
“Kalai benar Mamamu yang membunuh Asih, Om enggak akan pernah memaafkan dia. Bisa-bisanya seorang pembunuh masuk kekeluarga ini tanpa rasa bersalah sedikitpun.”
“Mamaku bukan pembunuh, Om. Jangan menuduh tanpa bukti!” Bagi tidak terima jika ibunya dituduh sebagai pembunuh.
“Sudah, jangan meributkan yang belum pasti. Pihak kepolisian pun belum yakin kalau kasus ini penyebabnya apa. Bisa saja ini murni kecelakaan kan. Tidak usah meributkan yang para ahli saja belum yakin.” Dira menengahi anak dan cucunya itu secara diplomatis. Tidak ada rasa memihak diantara salah satunya.
“Kalau sampai benar Mamanya Bagi terbukti membunuh korban itu, mau ditaruh dimana nama baik keluarga kita, Pak?” Anisa terlihat gelisah jika membayangkan keluarganya akan menanggung malu atas perbuatan menantunya dimasa lalu.
Tidak ada sahutan yang terdengar dari suami, anak, dan cucunya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
***
“Luar biasa sekali teamnya Pak Sangtu ini. Bagaimana bisa Pak Sangtu dan teman-teman menemukan DNA pada pakaian korban?” Andre sedang duduk berdua dengan Sangtu menikmati makan siang di kantin kantor polisi.
“Awalnya saya juga tidak yakin, apakah itu hanya sekedar kotoran atau noda lain. Tapi setelah diuji dengan tes presumtif atau bisa dibilang tes membuktikan apakah bercak tersebut adalah bagian dari cairan tubuh makhluk hidup.” Sahut Sangtu seraya mengaduk gado-gado yang telah ditambahkan banyak sambal.
“Memangnya kita tidak bisa langsung tahu ya, kalau bercak tersebut adalah darah?” Andre menjadi tertarik dengan cara kerja team forensik dalam mengindentifikasi bukti pada TKP atau Tempat Kejadian Perkara.
“Noda yang kita temukan bukan lagi darah segar, karena perubahan waktu bercak darah akan mengalami pengeringan dan perubahan warna. Hal ini terjadi karena molekul didalam darah teroksidasi menjadi methemoglobin atau bentuk dari hemoglobin yang mengandung besi. Jadi tidak mudah memutuskan jika noda pada celana korban adalah darah.”
“Kemudian diperlukan lagi tes berikutnya yaitu tes konfirmatif. Tes ini pun dilakukan dua kali. Pertama tes dilakukan untuk melihat adanya pembentukan kristal hemoglobin yang ditemukan didalam sel darah merah. Tahu kan hemoglobin?” Tanya Sangtu kepada Andre.
“Tahu dulu saat sekolah. Tapi sekarang sudah lupa.” Sahut Andre seraya menyengir menunjukkan deretan giginya malu-malu.
“Hemoglobin itu adalah protein yang berada didalam sel darah merah. Protein inilah yang menyebabkan darah berwarna merah. Hemoglobin ini yang mengangkut oksigen dari paru-paru keseluruh tubuh.”
Andre menganggukkan kepala sambil mengingat pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam saat duduk di bangku Sekolah Dasar.
“Jadi, jika ditemukan hemoglobin pada noda yang ditemukan, selanjutnya dilakukan tes untuk memastikan apakah noda tersebut adalah darah dari manusia atau hewan.” Sangtu memberi jeda pada penjelasannya karena mulai sibuk memasukkan sesuap gado-gado pedas kedalam mulutnya.
“Setelah yakin bahwa darah itu adalah dari spesies manusia, baru dilakukan penggolongan darah dan tes DNA.” Sangtu menutup penjelasannya.
“Sudahlah, jangan tanya-tanya lagi, mending kamu dan Pak Jim segera menemukan pelaku, ya!”
“Siap laksanakan!”
***
__ADS_1