
Kampus Horror
Part 27
"Maaf, Pak. Saya datang terlambat."
Dira Nugraha hanya mengangguk melihat kedatangan Asih diruangannya.
Dua bulan setelah kejadian di villa keluarga Deni, Dira memang meminta Asih untuk menemuinya setelah kerja paruh waktunya usai jam lima sore.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Langsung saja. Apa benar kamu sedang menjalin hubungan dengan anak saya?"
Asih hanya menatap Dira tanpa ekspresi.
"Kenapa kamu hanya diam?"
"Karena apapun jawaban saya, Bapak pasti tidak suka."
Dira mengehela napas kasar.
"Kenapa saya harus tidak suka? Kamu bukan siapa-siapa bagi saya dan keluarga saya."
Dira memperhatikan perubahan mimik wajah Asih menahan emosi, namun Dira mengakui bahwa usahanya agar terlihat tenang sangat patut diacungi jempol.
"Sepertinya kamu paham betul dengan respon saya sebagai orang tua Deni terhadap hubungan kalian. Dan saya yakin kamu tahu tujuan saya memanggil ke sini. Saya minta kamu untuk menjauhi anak saya."
Dira berhenti untuk memberikan jeda pada kata-katanya.
"Bersikaplah biasa seperti layaknya seorang mahasiswa penerima beasiswa. Datanglah ke kampus hanya untuk belajar. Bukan untuk hal lain. Apalagi menggoda anak saya."
Dira mendengus kesal jika mengingat perempuan dihadapannya ini mencoba memasuki keluarganya.
Asih masih terdiam tak ingin percaya jika seorang dekan yang sangat dia hormati ternyata ayah dari kekasih serta kakek dari janin yang dikandungnya kini.
"Saya akan usahakan pengajuan beasiswa tambahan untukmu. Tingkatkanlah nilai akademikmu semester ini. Beasiswa prestasi sepertinya cocok untukmu. Bila perlu diakhir perkuliahan nanti, saya akan coba mengatur agar indeks prestasimu menjadi cumlaude. Itu akan memudahkanmu dalam mencari pekerjaan selepas tamat."
"Sudah tidak ada lagi yang ingin saya bicarakan. Kamu bisa pulang sekarang. Terima kasih."
__ADS_1
Asih tetap bergeming memandang orang nomor satu di Kampus Sastra yang kini sedang duduk dihadapannya.
Seluruh persendian dalam tubuhnya mendadak kaku. Lidahnya menjadi kelu. Padahal, ada banyak sekali yang ingin disampaikannya.
Perlahan Asih memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruangan dekan.
***
Di luar ruangan dekan, Asih meraba perutnya yang terasa mengeras. Usia kandungan yang terus bertambah dan pengaruh hormonal, Asih menjadi sangat mudah lelah. Ditambah kata-kata kakek dari janin yang dikandungnya kini sangatlah menyakitkan, membuat moodnya menjadi terjun menuju angka dasar.
Asih menghembuskan napas kasar. Dalam diam dia berjalan meninggalkan area kantor dekan.
Tanpa sadar, Asih diikuti oleh sepasang mata yang tanpa sengaja kedua telinganya mendengar pembicaraan yang baru saja terjadi di ruangan Dekan Kampus Sastra.
***
“Hai!” Andi menyapa Asih yang berjalan pelan menuju area parkir kampus.
Asih terlonjak kaget melihat ke arah Andi yang sedang bersandar dimobilnya.
“Pak Andi? Kok bisa ada di sini?”
“Iya, Pak. Tadi saya juga ada urusan sebentar.”
“Mau pulang sekarang? Saya antar ya?”
“Enggak usah, Pak. Asrama juga dekat dari sini. Terima kasih tawarannya. Saya duluan ya, Pak.” Asih melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Andi.
“Saya sekalian mau pulang. Kan kita searah juga. Yuk!”
Mengingat keadaan perutnya yang kini tidak dalam keadaan baik-baik saja, Asih mengiyakan tawaran Andi untuk diantarkan pulang.
Andi membukakan pintu untuk Asih. Setelah yakin Asih duduk dengan nyaman, dia bergegas menuju kursi kemudi dan menghidupkan mesin mobil.
Sebelum kendaraan melaju, Andi mengingatkan Asih untuk memasang sabuk pengaman. Asih hanya membalas perhatian Andi dengan anggukan yang disertai senyuman.
***
“Terimakasih atas tumpangannya, Pak. Maaf kalau saya merepotkan.”
__ADS_1
Andi tersenyum melihat wajah cantik milik Asih yang selalu dirindukannya setiap hari.
“Kalau harus antar dan menjemput setiap hari juga saya sanggup. Kalau mau, sih,”
Asih hanya tertawa renyah mendengar godaan yang dilempar Andi.
“Sekali lagi, terima kasih ya, Pak. Hati-hati di jalan.”
Asih melepas kepergian Andi dengan senyuman hangat.
Tanpa disadari sikap ramah dan hangat yang diberikannya untuk Andi barusan, menciptakan api membara dari hati kekasih yang sangat dicintainya. Dari jarak beberapa kilometer, Deni sedang memperhatikan senyuman cantiknya dengan rasa cemburu yang berlebihan. Hingga tujuan awal Deni mengunjungi Asih untuk memperbaiki semua rajutan cinta mereka, berubah arah menjadi kisah cinta yang tak pernah usai.
Deni tak pernah tahu, bahwa sore itu adalah senyuman cantik terakhir yang bisa dia lihat dari Asih.
***
“Ma.. Siapa yang datang?”
“Mama enggak tahu, Gi. Katanya sih kawan Kakek. Namanya Kirman. Tapi setelah Mama beritahukan Kakek, enggak perlu bikin minum katanya.”
Bagi diam menyimak informasi yang diberikan mamanya.
Rasa penasaran tentang pembicaraan yang dicuri dengar tadi dari Kakek dan temannya membuat Bagi seperti kehilangan semangat.
Entah apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalu. Mengapa semua anggota keluarganya seperti terhubung dengan Asih.
‘Apakah Kakek dan Papa ada hubungannya dengan kematian Asih?’
Bagi menyandarkan tubuhnya di sofa ruang keluarga setelah bertanya perihal tamu yang datang kepada Mamanya.
‘Kirman. Siapa Kirman itu? Kemana harus aku cari informasi mengenai Kirman?’
Banyak sekali pertanyaan yang ingin dilontarkannya sekarang. Namun apa daya, hanya di dalam dirinya saja mampu dia curahkan saat ini.
Bagi tidak ingin kecerobohannya karena rasa penasaran, membuat segala daya dan upaya yang telah dilakukan Agia dan teman-temannya menjadi percuma.
‘Kirman. Aku harus mencari tahu dulu siapa itu Kirman.’
***
__ADS_1