Kampus Horror

Kampus Horror
Part 30


__ADS_3

Kampus Horror


Part 30


Walaupun dalam keadaan tidak enak badan, Asih tetap berjualan nasi kuning sampai pukul tujuh lebih tiga puluh pagi. Karena, perkuliahan dimulai pukul delapan. Biasanya tak perlu menunggu hingga pukul tujuh, dagangan telah habis. Begitupun pagi itu.


"Asih, masih dapat enggak lagi sebungkus?"


Seseorang datang tergesa-gesa. Asih menoleh dan mendapati Dewi sedang berdiri di depan meja dagangan.


"Eh Dewi, masih nih lagi sedikit. Bisa dapat tiga bungkus sepertinya." Asih menjawab seraya merogoh baskom nasi kuning.


"Wah, syukurlah kalau begitu, tolong dua bungkus ya. Kamu sudah makan, Sih?"


"Sudah tadi subuh, Wi. Mau dikasihkan kesiapa satunya, Wi?" Asih menjawab tanpa menoleh ke arah Dewi karena sedang menyiapkan bungkusan nasi kuning.


"Ada. Ada orang, hehehe." Dewi menjawab cengengesan.


"Pacar kamu, ya?" Asih berusaha menggoda Dewi.


"Ah kamu pengen tahu saja, Sih. Sudah ah, aku berangkat duluan, ya."


"Kamu mau berangkat ke kampus, Wi?" Asih bertanya serayaenyerahkan tas plastik berisikan dua bungkus nasi.


"Iya, mau ke perpus dulu." Jawabnya singkat dan dengan cepat memberikan Asih uang.


Asih hanya membalas dengan senyuman.


"Duluan ya, Sih." Dewi berjalan cepat meninggalkan warung Mbah.


Asih memandang punggung Dewi. Teman satu desa yang memiliki nasib sangat berbeda dengannya.


Anak bungsu yang dilimpahi kasih sayang secara batin dan materi. Walaupun orang tuanya hanya petani, tidak mengurangi pemberiannya untuk Dewi.


Asih dan Dewi berkuliah di kampus yang berbeda. Dewi lebih memilih berkuliah di Kampus Pariwisata.


Walaupun mereka satu desa, bukan berarti Dewi memilih tetap akrab dengan Asih.


Asih memilih untuk menutup diri. Berbeda dengan Dewi. Parasnya yang cantik dan hati yang sangat baik, memudahkan Dewi mendapatkan teman.


Sesekali Dewi bertemu dengan Asih di Perpustakaan Kampus Pariwisata. Atau seperti pagi tadi, Dewi sering datang membeli nasi kuning di warung Mbah.


***


Tanpa menunda tujuan awal, Bagi segera bangun pagi-pagi sekali. Dia tahu, hari itu akan dilaluinya cukup panjang. Jadi, setelah mandi dan berganti pakaian, Bagi menyempatkan diri melakukan sarapan.


Ditemui Mamanya yang sedang mengolah bahan makanan menjadi hidangan enak.


"Ma, sudah boleh sarapan, belum?"


"Mau kemana pagi begini?"


"Ke kampus, Ma. Cari referensi buku."


"Nasinya sudah mateng, tapi belum ada lauk yang jadi. Habisnya kamu enggak kasih tahu Mama semalem. Kan Mama bisa belikan nasi bungkus di pasar. Jajanan juga Mama enggak beli. Mama gorengin telur aja ya, Gi?"


"Boleh, Ma. Lagian enak kok sarapan pakai nasi anget dan telur goreng."


"Tambahin bawang merah dan cabai, ya?"


"Boleh, Ma."


Bagi menikmati sarapan sederhana buatan Mamanya dengan cepat.


***


"Permisi..!" Bagi bertetiak di depan pintu pagar rumah Kirman.


Lagi-lagi alam bekerja dengan baik untuknya. Kirman sendiri yang membuka pintu.


"Adik yang antar menantu saya kemarin, kan? Apa ada yang tertinggal?"

__ADS_1


Bagi tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Enggak, Pak. Saya mau ketemu dengan Bapak."


"Saya? Ada apa ya?"


"Bapak kenal dengan Dira Nugraha, kan?"


Kirman nampak terkejut.


"Saya Bagi, cucunya."


Rasa terkejut Kirman kini berubah menjadi was-was.


"Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" Kirman menjawab, berusaha terlihat tenang.


"Boleh kita berbincang, Pak?"


"Saya pamit dengan istri dulu. Tunggu sebentar.


Selama menunggu Kirman yang kembali masuk ke dalam rumah, Bagi duduk di atas sepeda motornya. Jaket dan helm masih dia kenakan.


"Yuk! Di dekat sini ada yang jual es buah enak banget! Kita ngobrol di sana saja, ya?"


"Boleh, Pak."


***


"Gak sangka saya kalau Dira punya cucu segede ini. Bentar lagi punya cicit dia tuh!"


Bagi hanya membalas gurauan ramah Kirman dengan senyuman.


"Memangnya Pak Kirman sudah lama sekali ya kenal dengan Kakek?"


"Lumayan. Dulu saya diajak Kakekmu kerja jadi supir di kampus. Tapi saya enggak betah. Jadi saya minta tempat jualan saja di kampus. Istri saya sih. Kalau saya mendingan di rumah. Nonton sambil santai."


"Oh.. Jadi sekarang menantu yang menggantikan ya, Pak?"


"Iya. Biar ada kegiatan dia. Biar enggak bosan di rumah."


"Jadi, kamu mau ngobrol apa sama saya?" Kirman mulai membuka inti pembicaraan seraya mengaduk mangkok es buah di hadapannya.


"Enggak sengaja saya dengar pembicaraan Bapak dengan Kakek beberapa waktu lalu."


Kirman berhenti mengaduk mangkoknya lalu menatap Bagi.


"Saya dengar hampir seluruh isi pembicaraan Bapak dengan Kakek. Apa itu benar, Pak?"


"Apanya yang benar?"


"Sepertinya Bapak mencurigai anggota keluarga saya. Kakek misalnya?"


Kirman menyendokkan potongan buah melon ke dalam mulutnya.


"Tapi Kakek kamu itu pintar berkelit. Lagi pula, saya tidak punya bukti. Motifnya sih ada. Dira itu enggak mau orang tidak jelas masuk ke keluarnya."


"Tidak jelas bagaimana, Pak?"


"Ya itu. Seperti yang ditemukan tertanam di kampus itu. Kasihan sekali anak itu. Orang tuanya sudah bercerai. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang mau menjaga dan merawatnya. Dari informasi yang saya kumpulkan dulu, anak itu dijadikan pembantu oleh Bibinya sendiri. Bibi kandungnya! Coba kamu bayangkan. Keluarga apa mereka itu? Tega sekali menjadikan keponakan sebagai pembantu."


Bagi diam menyimak informasi baru yang sedang dijabarkan oleh Kirman.


"Sebenarnya saya janji sama Kakekmu untuk tetap diam dan mengaku tidak kenal dengannya. Tapi karena kamu cucunya. Ya mau bagaimana lagi?"


"Kenapa Kakek seperti itu, Pak?"


"Mungkin supaya enggak tercium oleh polisi. Entahlah."


"Lalu, bagaimana dengan Papa saya, Pak?"


"Papa kamu, Andi ya?"

__ADS_1


"Benar, Pak."


"Saya pernah melihat Andi mengantar anak itu pulang. Ya walaupun tidak jelas wajah Andi. Karena hari mulai gelap saat itu. Tapi saya lihat mobilnya."


"Berarti tidak pasti, kan? Bisa saja orang lain yang menggunakan mobil seperti Papa."


"Iya kalau dia menggunakan mobil pribadinya saat itu. Sayangnya, Andi menggunakan mobil dinas Kakekmu. Plat berwarna merah. Memang siapa lagi yang menggunakan mobil sesan hitam dengan plat merah?"


Bagi diam tidak sanggup menjawab keterangan dari Kirman.


"Kenapa? Kamu sepertinya tertarik dengan kasus ini."


"Ini menyangkut keluarga saya, Pak."


"Apa kamu tidak curiga kepada Pamanmu? Bisa jadi ini perbuatan dia."


"Enggak, Pak. Asih itu kekasih sejatinya Om Deni. Enggak mungkin Om Deni tega melakukan itu."


"Kalau memang kekasih sejati, masak iya perempuannya diantarkan oleh orang lain? Apalagi yang mengantarkan kakaknya sendiri."


"Tunggu! Apa paman kamu enggak tahu kalau yang mengantar kekasihnya itu Papamu?"


Bagi menggeleng lemah.


“Kalau saya boleh tahu, apa saja kegiatan Asih yang Bapak ketahui?”


“Tidak banyak. Saya pun heran kenapa bisa ada rutinitas membosankan seperti yang dilakukan anak itu.”


Kirman diam sebentar.


“Pagi hari dia membantu orang sini berjualan nasi. Lalu ke kampus. Siang harinya ke perpustakaan. Lalu pulang. Menunggu anaknya Dira datang menjemput. Setelah itu, mereka bisa ke taman kota, atau ke pasar malam. Pernah juga ke bioskop. Begitu terus setiap hari.”


“Karena saya harus memantau paman kamu, jadi semua kegiatan mereka saya tahu. Bahkan kegiatan terlarang yang mereka lakukan di bioskop pun saya tahu, hahaha.”


Kirman tergelak mengingat aktivitasnya dimasa lalu.


Bagi masih diam mendengar cerita Kirman dengan seksama.


“Saya rasa, paman kamu banyak mengubah kehidupan anak itu. Menurut keterangan dari Dira, anak itu bagaikan lintah yang akan siap menggerogoti kehidupan keluarganya. Tapi bagi saya tidak begitu. Anak itu polos. Biar kamu tahu saja, paman kamu itu beberapa kali ditolak oleh anak itu. Siapa namanya tadi?”


“Asih, Pak.”


“Ya, itu Asih. Paman kamu beberapa kali di tolak. Saya tahu dari istri saya. Paman kamu sering nongkrong di kampus. Apa lagi kalau bukan menunggu Asih pulang kuliah.”


“Tidak bisa dipungkiri pesona Asih itu luar biasa menarik. Anaknya cantik, terlihat lugu, walaupun penampilannya sangat sederhana. Sayang sekali karena faktor ekonomi dan latar belakang, dia dipandang sebelah mata oleh Kakekmu. Coba seandainya Dira itu lebih terbuka cara pandangnya. Mungkin dia masih hidup. Ah lagi-lagi saya mencurigai Kakekmu.”


“Saya juga sempat mencurigai Kakek, Pak. Bahkan sekarang bertambah satu lagi. Papa saya.” Bagi mulai terbuka kepada Kirman.


“Andi? Kenapa? Kenapa kamu bisa mencurigai dia?”


Bagi terdiam sebentar.


“Beberapa waktu lalu saya dan teman-teman melakukan penyelidikan terhadap latar belakang dan identitas Asih. Pada titik tertentu saya menemukan bahwa Asih sering kali mengunjungi perpustakaan di Kampus Pariwisata. Saat itu Papa saya sudah menjadi dosen di sana. Saya menelusuri buku-buku yang telah dibaca oleh Asih. Saya menemukan buku catatan terselip disalah satu buku tersebut.”


Bagi menghela napas pelan sebelum melanjutkan ceritanya.


Kirman masih menatap Bagi, menunggu dengan rasa penasaran.


“Buku catatan itu berisi tulisan tangan Papa saya, Pak.”


Kirman membelalakan mata tanda terkejut tak percaya.


“Memang terdengar tidak masuk akal dan banyak kemungkinan. Tapi kebetulan yang terjadi juga tidak kalah aneh, bukan? Apalagi setelah saya mendengar percakapan antara Bapak dan Kakek beberapa waktu lalu di rumah. Semakin menambah rasa curiga saya terhadap Papa. Dan juga Kakek tentu saja.”


Kirman mengalihkan pandangannya ke sebuah kebun di sebelah warung es buah seraya mencerna ucapan demi ucapan dari Bagi. Tiba-tiba Kirman teringat sesuatu.


“Tunggu! Sepertinya Andi memang pernah datang lagi ke asrama Asih setelah malam itu. Tapi sayang saya tidak tahu kemana mereka pergi. Karena tugas saya setelah kejadian di villa, hanya mengikuti paman kamu saja.”


Bagi terlihat gelisah dan enggan mengakui jika kasus Asih pasti berhubungan dengan keluarganya.


"Selama tidak ada bukti apapun, polisi tidak akan bisa mengendus keluarga kamu. Hanya saya saja saksi yang bisa mengurai semua kejadian diwaktu lalu itu. Kamu tidak perlu gelisah seperti itu.”

__ADS_1


Bagi diam. Dia cemas dan ragu. Disatu sisi, nama baik keluarga pasti akan tercoreng jika sedikit saja ada yang menyentil dan menghubungkan kasus itu. Tapi disisi lainnya, Bagi tidak bisa terima jika memang salah satu anggota keluarganya adalah seorang pembunuh. Dia tidak akan tinggal diam dan tidak akan melindungi seorang pembunuh keji yang tega tetap hidup tanpa rasa bersalah, setelah menghilangkan nyawa seseorang.


***


__ADS_2